If You Were a Superhero

yixing

story by sleepingpanda (@cheeksoo)

Zhang Yixing-OC | Fluff ! fluff ! | vignette | general

//

If you were a superhero, what do you wanna do ?

Fly home and everywhere I wanna go –Zhang Yixing

 

 

“Kalau kau menjadi superhero, apa yang ingin kau lakukan ?”

 

Aku mengambil gelas latte instant yang barusaja Yixing letakkan di meja kaca ruang tengah apartemenku, membuat suara mug dan permukaan kaca yang beradu terdengar nyaring. Asap putih masih mengepul dari sana dan butuh beberapa lama bagiku untuk menghilangkan setiap kepulnya.

Entah apa yang membuat Yixing masih betah untuk tinggal barang sebentar di flat kecil milik gadis setengah hiperaktif sepertiku padahal schedule nya dalam sehari bisa seperti kereta pagi di hari senin, padat dan sedikit menyebalkan. Mungkin besok ia harus bangun jam 4 subuh untuk persiapan acara musiknya. Ditambah setelah apa yang barusaja aku lakukan terhadap pria ini.

Oh sungguh, ini bukan sepenuhnya salahku, pria itu yang melesat masuk duluan tanpa ijin ke dalam flat ku dan memamerkan beberapa kaset film horror yang barusaja ia pinjam dari Zitao. Sungguh aku akan menendang pantat pria tengil yang sudah meminjamkan barang seperti itu pada Yixing.

Yixing tahu aku takut dengan hal-hal seperti itu dan ia tetap memaksa, jadi jangan salahkan aku jika sepanjang film diputar, kami tak sepenuhnya bisa berkonsentrasi menonton karena teriakanku yang bisa dibilang tidak manusiawi.

 

“Superhero ?” Yixing menjawab tanpa mengalihkan matanya padaku.

 

Pria itu terlalu sibuk dengan gitar akustiknya, mencoba memperbaiki beberapa senar yang putus akibat ulah Baekhyun. Aku tak pernah tahu bagaimana cara Bakhyun bermain sehingga bocah itu berhasil membuat beberapa senar gitar Yixing putus.

Percayalah, baru empat hari yang lalu ia mengeluh tentang kebiasaan Luhan yang gemar menendang pantat, dua hari untuk kebiasaan tidur Kris yang tidak beradab dan sekarang ia kembali mengeluh tentang tingkah Baekhyun yang lebih mirip bocah umur lima tahun sepagian ini. Sungguh, ocehannya berhasil membuatku bertanya-tanya sebenarnya makhluk-makhluk macam apa yang tinggal seatap dengan Yixing.

“Yah, semacam Superman dengan mata lasernya atau Flash mungkin ? sehingga kau bisa mengerjakan semua hal secepat kedipan mata.”

“Superman ? Flash ?” Matanya menatapku lekat, seolah itu adalah pertanyaan teraneh yang pernah ditujukan padanya.”Sepertinya kau sangat butuh tidur, nona.”

 

Sialan.

 

“Hei tuan, siapa yang lebih dulu debut dengan kekuatan-kekuatan aneh sehingga bisa membuat orang-orang di luar sana menganggap kalian semua gila dan unicorn ? Siapa yang masih percaya bahwa binatang itu ada ?” Ada sedikit nada tidak terima dari suaraku dan aku rasa sebentar lagi aku bisa terbatuk-batuk dengan kencang, seolah ada ribuan semut yang berjalan-jalan di sana.Yah, efek film horror tadi sepertinya membuat tenggorokanku terluka cukup parah.

Ia hanya terkikik dan aku akan dengan senang hati lebih memilih menyesap latte yang sedari tadi menganggur di atas meja. Kepulan asapnya sudah menghilang, menyisakan rasa hangat yang menyebar di kerongkongan. Sebenarnya aku benci mengakuinya, bahkan sebungkus latte instant bisa menjadi seenak ini jika Yixing yang membuatnya.

“Jangan salahkan aku untuk masalah itu, nona. Bahkan aku hampir tertawa saat kami mendiskusikan konsep debut itu kalau saja Kris ge tidak membekap mulutku.” Jemarinya mengikat senar dengan sedikit frustasi. “Atau aku akan memutarkan film horror lagi dan meninggalkanmu sendirian.”

 

“Oh, coba saja dan setelah itu aku akan menghajarmu.”

 

Cairan dalam mug itu sudah agak dingin ketika aku kembali menyesapnya. Sepertinya aku terlalu banyak mengoceh sehingga melupakan ada secangkir minuman yang harus segera di sesap di sana, atau mungkin udara dingin musim gugur membuat uap panasnya menghilang dengan cepat.

Sebenarnya latte dingin bukan gayaku, kenikmatannya agak berkurang jika sudah berubah dingin. Tapi toh tangan ajaib Yixing yang membuatnya, jadi aku tak terlalu mempermasalahkan hal ini.

“Untuk pertanyaanmu tadi,” Ia sedikit membetulkan letak duduknya dan menatapku. Gitar yang senarnya belum sepenuhnya terpasang ia geletakkan begitu saja, entah sudah bosan atau sudah pasrah. Aku yakin seratus satu persen ia akan memaksa Baekhyun untuk membetulkan gitar itu sesampainya di dorm. “Sebenarnya aku punya satu jawaban.”

 

“Oh ya, apa itu ? Ku kira kau sudah tak tertarik dengan topik pembicaraan konyol ini tuan Zhang.”

 

Pria itu sedikit berpikir sebelum matanya memicing jahil. Kedua tangannya ia rentangkan sampai hampir menatap vas bunga dekat sofa. Badannya sedikit meliuk-liuk dan senyum di bibirnya bak seorang bocah sepuluh tahun yang baru saja mendapat angka sepuluh di atas kertas ujian matematikanya.

 

Lima detik. Aku sempat menghitungnya.

 

Lalu hening. Tak ada jawaban. Kapasitas otakku yang hanya seluas toilet pesawat masih berusaha mencerna apa yang ia lakukan. “For God’s sake, apa yang kau lakukan Yixing.” Bisa aku lihat dia menghentikan aksi konyolnya, mukanya bersemu semerah tomat rebus.

Kadang aku benar-benar tak mengerti kelakuan pria berumur 22 tahun ini.  Dalam sehari ia bisa menjadi pengeluh yang hebat, menjadi pria annoying sampai-sampai kau ingin mencekiknya, menjadi pria gombal dengan kalimat-kalimat rayu atau yang paling menyebalkan adalah saat bisa menjadi pria super polos sedunia.

 

Tapi entahlah, ia selalu saja terlihat manis dengan semua kelakuannya. Aku benci ini.

 

Yixing menghela napas sejenak sambil sedikit meliuk-meliukkan tangannya. “Sebenarnya aku ingin bisa terbang.” Sinar lampu membuat bayangan tangannya lebih mirip cacing kepanasan daripada burung atau apapun yang bisa terbang.

Aku kira dia akan bercerita panjang lebar tentang Flash―tokoh favoritnya sepanjang masa. Aku ingat ia pernah mengeluh karena ia tak pernah sekalipun di ajak berkontribusi dalam acara olimpiade tahunan untuk para idol. Manajernya bilang kalau ia payah dalam berlari atau ia tak mempunyai kaki sepanjang kaki Sehun dan Yixing sangat sebal ketika manajernya masih sempat-sempatnya terkikik geli saat mengatakan hal itu.

“Terbang ? hanya terbang ?” Remehku. ”Kau tidak ingat kalau hampir setiap minggu kau terbang ke negara lain bahkan tak jarang tanpa menelepon terlebih dahulu ?”

Ia hanya tersenyum menampik kalimat-kalimat yang aku lontarkan.“Bukan terbang dalam artian itu, tapi coba bayangkan kalau kau bisa terbang tanpa harus memesan tiket atau menunggudelay ? Aku bisa pulang sesering mungkin atau pergi kemanapun yang aku mau. Oh, Itu akan sangat menyenangkan.”

“Aku bisa segera terbang ke flat mu jika kau ketakutan atau kalau-kalau lampu flat mu tiba-tiba mati.” Jemarinya menyentuh rambutku, mengacaknya perlahan.

Curang. Curang, ini curang. Seharusnya aku bisa tertawa terbahak-bahak mendengarkan alasannya yang sangat cheesy itu. Tapi aku bersumpah demi tendangan pantat Luhan kalau wajahnya saat ini terlihat begitu manis dan sentuhannya di kepalaku terasa bagaikan permen kapas. Lembut.

Ugh, kau dan rayuanmu.” Percaya padaku, sensasinya aneh saat kau merasakan rasa senang dan mual dalam satu waktu. Seperti naik komedi putar dengan kecepatan putar yang terlampau tinggi karena si penjaga sedang mengantuk. “Kau tak pulang ? Aku bisa  membayangkan muka manajermu yang memerah karena kesal.”

“Aku akan tinggal sebentar lagi.” Ia memijat bahunya pelan. “Aku tahu kau ketakutan karena film horror tadi.”

 

“Siapa bilang ?” Dengusku.

 

Mungkin ia lelah dengan jadwal super padatnya dan menghabiskan waktu untuk menemaniku bukan pilihan yang tepat aku rasa. Ia bisa saja tidur dengan tenang di kamar dormnya walaupun ada Baekhyun dan Chanyeol yang akan bermain game sampai tengah malam.

Tapi di saat seperti ini sisi egois ku selalu saja muncul. Hangat tubuh dan aroma vanilla yang menguar dari tubuhnya mau tak mau membuat kepalaku jatuh begitu saja di pundaknya.

“Ah, aku belum bilang. Aku harus terbang ke Bangkok besok pagi-pagi. Aku sudah memberitahumu, jadi aku tak mau mendengar ancaman untuk menggantungku di namsan towersaat aku pulang.”

 

God.

 

“Kalau begitu pulang sekarang juga, Zhang Yixing ! Atau kau mau aku tendang keluar.”

 

 

Baiklah tuan Zhang, terbanglah dengan cepat saat aku merasa ketakutan.

 

end

note : halo ! sumpah udah lama nggak post di sini HAHAHAHA

6 tanggapan untuk “If You Were a Superhero”

  1. Uuuh. Pertama-tama, salam kenal ya. Saya jarang komen emang, tapi, tapi, tapi, you are my favourite author. Yep. Seriously. Favourite. Aha.
    Don’t be scary.

    Saya suka fluffnya, kadarnya pas, enggak terlalu manis sampai bikin diabetes dan, iya, pas aja gitu. Pilihan diksinya juga pas–simple, but I love it ❤ Ide ceritanya juga sederhana jadi gampang dimengerti, intinya saya suka ❤ #udah

  2. “Tapi aku bersumpah demi tendangan pantat Luhan kalau wajahnya saat ini terlihat begitu manis dan sentuhannya di kepalaku terasa bagaikan permen kapas”
    Itu luhannya bikin ngakak lol 😀 sweeeeet! nice fic ^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s