DO YOU LOVE ME [2/3]

DOYOULOVEME

DALANG : ZULAIPATNAM

TITTLE : DO YOU LOVE ME?

GENDRE : ROMANCE | FAMILY | FRIENDSHIP | DRAMA

LEGHT : CHAPTERED [2 / 3]

CAST :

OH SE HOON | Sehun from EXO K

HAN GAYOON | Gayoon from 4MINUTE

KIM JUN SU | Xiah from J.Y.Y

RYU HWA YOUNG | Hwa Young Ex-TARA

WU YI FAN | Kris from EXO M

HWANG ZI TAO | Tao from EXO M

NB : jangan protes kalau pairing saya jelek [Sehun-Gayoon] saya lagi naksir sama mereka.

 

RESAPI & HARGAI FANFIC SAYA

 

…. STORY START HERE ….

Hwa Young tengah focus pada layar komputernya saat kudobrak kamarnya kasar.

“Tidak menemukan makanan?” tanyanya datar dan masih focus pada pekerjaannya sebagai designer bus.

Kuhempaskan tubuhku keatas ranjang, Hwa Young melirik sekilas lalu mendesah dalam.

“Aku dengar Jun Su akan menikah 3 minggu lagi.” Dia berujar, tapi tujuan utamaku mendatanginya bukan hal itu.

“Aku tidak peduli dengan pria tai itu. Yang kupedulikan sekarang adalah makanan yang kucari.” Kutarik bantal Hwa Young, membekapnya kewajah untuk antisipasi. Kudengar kursi Hwa Young mendekat, sampai yakin benar karena kurasakan ranjang bergerak dan seseorang rebahan disampingku.

“Kenapa makananmu?”

“Dia Oh Se Hoon.”

MWO?”

“Kami bahkan sudah berciuman.”

MWO?”

“Dia pria yang berbeda, Hwa Young.”

Ya, KAU GILA.”

 

++++++++

 

Kurasa aku memang gila, seharian bekerja yang kufikirkan bukanlah tumpukan arsip diatas mejaku, melainkan pemuda 19 thn itu. Wajahnya terus-terusan berkelebat di kepalaku, bahkan anehnya beberapa orang yang hampir memiliki kualifikasi seperti posturnya sekarang nampak persis seperti Oh Se Hoon itu. Argggg, aku bisa gila, cepat-cepat kututup aplikasi Ms. Exel di computer, kujauhkan kursiku dari meja dan berjalan cepat keluar kantor.

“Mau kemana kau?” panggil teman sekantorku.

“Bilang pada boss aku ada urusan mendadak.”

Kutekan tombol lift berkali-kali, sampai terdengar bunyi ping. Didalam lift aku terus menarik dan menghembuskan nafas secara tidak teratur.

Sekarang aku baru sadar. Aku sudah memuntahkan tai dalam perutku sampai kosong.

Kembali kutarik nafas dalam, memandangi layar lantai yang masih berkedip-kedip. Lantai 1 kenapa sangat lama.

Sampai dilantai 1, kulajukan langkahku cepat menuju pintu keluar, mencari taxi dan meluncur menuju alamat yang kuberikan pada si supir. Universitas tempat Sehun berada. Aku memang sudah gila untuk saat ini, beberapa mahasiswa memandangiku dengan aneh, apa gaya busanaku yang terlihat terlalu tua untuk ukuran mereka? Hello, aku tidak peduli dengan komentar kalian. Masa bodoh amat.

Omo, bukankah anda Han Gayoon, nuna?” seorang bocah sepantaran Sehun. Mungkin. Dia mendekatiku, membungkuk memberi salam dan aku tidak kenal bocah ini.

“Kau siapa?” tanyaku sedikit takut, dia tersenyum lebar, tapi sayang bocah ini jelek. Kau tidak masuk kriteriaku.

“Perkenalkan, namaku Hwang Zi Tao.” Dia kembali membungkuk, aku mengangguk faham.

“Lalu apa aku mengenalmu?” tanyaku lagi to the point. Bocah bernama Hwang Zi Tao ini memasang tampang bingung, dia memandangiku intens.

Wae?” sergahku akhirnya, Tao mengangguk tak apa, dia menggaruk tengkuknya kasar.

“Apa nuna lupa?, aku yang yang mengantar nuna menemui Sehun saat di acara biro jodoh waktu itu.” Dia berucap penuh pengharapan jika aku akan ingat, kukembalikan memoriku pada beberapa minggu saat pergi ke biro jodoh bersama Hwa Young. Ah, aku ingat, dia pemuda yang menyodorkan kertas kualifikasi Oh Sehun padaku.

Tao terus bercerita padaku jika Sehun sangat menikmati kencannya, dia bercerita banyak saat mengantarku menuju kampus Sehun.

Nuna tidak pernah main kerumah Sehun?” Tao tiba-tiba bertanya, aku menggeleng.

Aish…, bagaimana bisa tidak saling berkunjung kerumah. Bukankah kalian sepasang kekasih?” kembali Tao bertanya dan hal itu terdengar sangat menggelikan.

Hey, dengar hah, jika aku pergi kerumah Sehun pasti ibunya akan berjingkrak-jingkrak melihat putra tampannya itu berkencan dengan wanita 28 thn.

Tao memandangiku berharap penuh, aku menggeleng kembali.

“Belum saatnya mungkin.” Jawabku enteng, Tao mengangguk mengerti.

“Jadi kapan nuna akan kencan kerumah Sehun?”

“Kenapa lama-kelamaan kau seperti wartawan saja.”

Mianhae…” tuturnya bersalah.

“Ah, baiklah. Cepat tunjukkan dimana Sehun berada!” titahku tidak memperdulikan tampang sok inocentnya.

Tao mendahuluiku, dia menuntunku kesuatu ruangan di lantai 2 kampusnya. Sebuah lorong panjang dengan 3 pintu kelas berjajar disana. Kupandangi Tao yang menghentikan langkahnya tepat disampingku.

“Mana ruang kelas Sehun?”

Tao menunjuk paling ujung. Aku mengangguk mengerti dan dia turun kelantai 1.

Saat berjalan mendekati ruang kelas Sehun, ponsel dalam sakku rokku berdering, kuambil dan melihat siapa si penelponnya. Nomor tidak dikenal, kukerutkan dahi dan menekan tombol penerima.

Yeoboseo?”

Mataku membulat.

“KIM JUN SU?”

Pekikku hampir beroktaf 4. Kujauhkan ponselku, memandangi nomor sialan yang tertera di layar, dari mana pria sialan ini mendapatkan nomorku.

 

++++++++

 

Jun Su duduk di salah satu kursi café, dia nampak tidak nyaman dan berkali-kali memutar kepala untuk memastikan sesuatu. Apa dia tengah memastikan kedatanganku? Ah, jangan GeEr begitu! Tidak mungkin Jun Su menunggumu dengan begitu tidak nyaman.

Kutarik nafas dalam dan mendekatinya.

“Hey.” Sapaku singkat, Jun Su menoleh cepat dan nampak kaget. Dia berdiri dan mempersilahkan padaku untuk duduk.

“Kau tampak ketakutan?” tanyaku saat Jun Su memanggil pelayan. Dia menoleh padaku, sambil menunjukkan senyum datar dan menggeleng, memastikan jika dugaanku adalah salah.

“Tapi kau begitu gugup, seperti ada yang akan menemukanmu.” Imbuhku dan Jun Su diam, dia menurunkan tangannya untuk memanggil pelayan.

“Kau terlilit utang?” tebakku dan Jun Su memekik sambil ingin meninjuku.

“Tutup mulutmu, Gayoon-ah!. Mana mungkin aku terlilit utang!” terangnya mematahkan pradugaku. Aku memangangguk mengerti.

Arasso, tapi tampangmu tidak meyakinkan. Kau ada masalah?”

Jun Su mulai bercerita, mengenai tunangannya Han So Woo yang adalah putri seorang konglomerat Korea Selatan itu.

“Ternyata appanya seorang mafia. Kau dengar itu?, MAFIA.” Aku beringsut ngeri.

“Lalu bagaimana dengan pernikahan kalian yang tinggal 2 minggu lagi?” tanyaku memastikan. Huh, aku berada diatas awan. Jun Su merenggut dan menggeleng lemah.

“Aku bingung, apa pendapat orang tuaku jika berbesan seorang mafia. Mereka pasti mati berdiri.” Keluhnya memelas, aku tidak kuasa. Jun Su malang, sudah jatuh tertimpa tangga pula.

 

+++++++

 

“Ada yang mencarimu.” Omma menunjuk kearah pintu, hari ini omma sedang berkunjung kerumah, kuselesaikan menyikat gigi dengan cepat dan berjalan menuju pintu.

Anyeong, nuna…” mataku membulat lebar, bagaimana bisa dia pergi kerumahku, dijam segini.

“Apa yang kau lakukan disini?” desisku tidak percaya, dia tersenyum manja dan merangsek maju, melepas sepatu cats kotornya kemudian memandangi rumahku seperti tukang renternir.

“Tao bilang tadi nuna pergi ke kampus. Karena kita tidak bertemu jadi aku berinisiatif mengunjungi rumah nuna saja.” Dia berujar dengan santai, kedua tangannya diselipkan disaku depan celana. Ah, kebiasaan si Jun Su menular padanya.

Fikiranku jadi teralih pada Jun Su, aish.., bagaimana bisa?

Eoh, kapan-kapan nuna harus kerumahku, sudah kubilang pada omma jika yeoja chinguku mau berkunjung.” Terangnya penuh semangat, aku mendesis sebal dan hampir melempar sembarang yang bisa kujangkau. Bocah ini sungguh memalukanku saja, tahu begini akan kumakan muntahanku lagi. Aish…

Jadilah seperti ini, Sehun duduk didepan Tv, melihat acara talk show penuh komedy sambil terpingkal-pingkal tidak jelas, sedangkan aku?. Akibat meninggalkan kantor tadi siang boss menyuruhku lembur dirumah, menggarap semua kertas hasil print yang sangat kubenci. Huh, aku benci hidupku.

Omma menyiapkan pudding sebagai camilan dan dua gelas besar susu sapi. Berkali-kali kujejalkan pudding dengan kasar sambil mengeluh sebal saat rumus yang kumasukkan tidak cocok dalam table perusahaan. Dan hal itu ternyata menarik perhatian Sehun, dia merangsek mendekat, melongok kelayar laptop lalu mendecak.

Nuna hidup dengan cara seperti ini?” tanyanya penuh penghinaan, kutatap dia dengan kesal.

“Hya.., apa maksudmu, bocah?” sentakku penuh emosi, dia kira pekerjaanku apa coba.

Sehun menggelengkan kepalanya, berdecak, dan terakhir menyipitkan mata menelitikku. Sarat sekali dengan penghinaan tak kasat mata.

“Jika hubungan kita bertahan, kelak nuna tidak akan bekerja susah payah seperti ini. Tinggal diam dirumah, besarkan anak-anak kita dan tunggu aku pulang.”

 

+++++++

 

“Dia bilang seperti itu?” aku mengangguk tak kuat, masih otakku berjalan pada kejadian kemarin malam, dan Hwa Young nampak ikut shock mendengar penuturanku.

“Apa sekarang kau bisa merestui jika makanan yang kutemukan adalah Oh Se Hoon itu?” tanyaku datar, Hwa Young menggeleng masih terlihat shock.

“Kembali sajalah kau pada si Jun Su itu, telan lagi tai yang sudah kau muntahkan. Aku lebih ikhlas kau hidup seperti itu dari pada menjadi pedofil dan harus menghabiskan sisa hidupmu untuk mengasuh bocah bau kencur itu.” Terang Hwa Young tak dapat kupercaya. Aku terkekeh, dia ikut terkekeh, kami sama-sama duduk dihadapan meja rias di kamarku. Memandang refleksi pada cermin dan saling menertawakan hidup.

“Sehun sudah menciummu, dia pergi kerumahmu, dan terakhir mengatakan hal sedemikian rupa, lalu apa lagi kejutan yang akan diberikan bocah itu?” tanya Hwa Young sambil menyenggol perutku, aku menggeleng.

“Pernikahan Jun Su dibatalkan, calon mertuanya seorang mafia. Bukankah itu posisi yang pas bagiku untuk merebut pria sialan itu lagi?” Hwa Young menggeleng.

“Meski aku bilang kau lebih baik makan tai lagi, tapi jangan kau lakukan hal itu!. Memangnya kau yakin jika Jun Su mencintaimu apa.”

“Yang ada di kepalaku sekarang itu Oh Se Hoon. Kim Jun Su hanya ban serep.”

“Seharusnya Oh Se Hoon yang kau gunakan sebagai ban serep!” aku menggeleng.

“Dia itu makanan sekaligus obat dari muntah yang baru kualami. Tidak mungkin kugunakan dia sebagai ban serep.”

“TERSERAH KAU SAJA LAH.”

 

+++++++

 

Kencan ke-3 kami, untuk kegiatan Sehun kerumahku tidak termasuk dalam daftar kencan. Yah, seperti yang disarankan oleh Tao dan yang diharapkan oleh Sehun. Kami –aku dan Sehun berdiri dihadapan pintu rumah orang tuanya. Tangan besar Sehun tak lepas menggenggamku, dia melakukannya amat erat sampai kurasakan sedikit perih disana. Dadanya naik turun seperti gugup, kucengkram balik tangannya. Dia menunduk menatapku penuh tanya.

“Sudah sejauh ini yang kita lakukan. Kenalkan aku pada orang tuamu dengan baik dan sempurna, kajja!”

Kutarik Sehun semakin mendekati pintu, tapi saat itu terjadi dia menarik tubuhku kedalam pelukannya. Terjadi dengan cepat sampai aku baru sadar jika dia mendekap tubuhku amat erat.

Dia tumpukan dagunya di pundakku dan mulai berbisik begitu lirih.

“Apa nuna sudah tak membutuhkan pria berusia 25 tahun lagi?. Tidak pernah merasa mual saat bersamaku. Menghapus semua Kim Jun Su dari otak, nuna. Mengabaikan jika 9 thn adalah jarak yang panjang bagi kita. Siap untuk menjalani semuanya tanpa melihat usia masing-masing. Bersedia menungguku dirumah tanpa perlu susah payah bekerja. Apa nunai siap dengan semua itu?”

Kutarik nafasku dalam-dalam.

“Aku sudah memuntahkan semuanya, dan kau sekarang adalah makanan sekaligus obatku.”

Kujauhkan wajahku darinya, dia menatapku penuh intens, dan yah, ini seperti tersihir oleh ketampanannya. Aku ingin sekali lagi mencicipi bibirnya.

OMO….” Suara tertahan itu datang dari samping kami. Sehun mendorongku cepat sampai tubuhku terbentur tembok.

“Hya.., apa yang kalian lakukan didepan rumah, huh?” kutatap dia, seorang perempuan tua yang nampak begitu emosi melihatku.

Halmoni, bukan begitu, halmoni jangan berfikiran negative dulu!” kugerakkan kepalaku cepat menuju Sehun yang berjalan menuruni tangga untuk mendekati nenek tua itu.

“Dia halmonimu?” tanyaku tak percaya dan si nenek tua itu memelototiku. Seolah mencoba menunjukkan jika cucunya telah kunodai. Aish….

 

+++++++

 

“Dia mencoba menggoda Sehun, aku melihatnya dengan mataku sendiri, jelas-jelas mereka mau berciuman di depan rumahmu.” Nenek tua itu terus ngedumel sambil menunjuk-nunjuk wajahku dengan sumpit penuh nasinya. Sayang kau sudah bau tanah, jika tidak AYO KITA SPARRING SAAT INI JUGA!. Dalam hati kudoakan lidahnya akan terserang ENCOK sampai bisu total. Dengar hah, do’a orang teraniaya itu manjur.

Kumasukkan udang kedalam mulutku bulat-bulat, ayah dan ibu Sehun tak ambil pusing dengan celorot nenek tua itu, huh, kasihan kau.

“Ah.., omma, jangan kau khawatirkan hal itu, hem…! Mereka sudah dewasa, sudah jadi mahasiswa, jadi hal seperti itu wajar saja.” Ibu Sehun coba menengahi, beliau mengatakan dengan sehalus mungkin. Aku mendengus sebal dan memasukkan bibimbap kedalam mulutku secara kasar. Ide kencan kerumah Sehun adalah ide terburuk yang pernah kulakukan seumur hidup. Aneh sekali saat disebut kami sudah menjadi mahasiswa, bahkan kapan terakhir jadi mahasiswa aku sudah lupa. Apa aku setua itu?

“Bagaimana rasanya, Gayoon-ah? Apa enak?” tiba-tiba ayah Sehun bertanya, pria berperawakan hampir sama dengan Sehun itu memandangiku penuh harap, kutelan bibimbap yang tersisa kemudian mengangguk tak nyaman. Bisakah kalian biarkan aku makan dengan nyaman?

“Sehun yang membuatnya.”

“UHUK”

Omo, kau tidak apa-apa?”

Sebuah gelas tersuguh dihadapanku, aku menggeleng dan menerima gelas pemberian tadi, meminumnya dengan terburu-buru. Kuletakkan gelas tadi disamping piring, mengusap bibirku kasar dan mengangkat wajah. Alangkah terkejutnya saat mendapati diriku ditatap intens dan penuh khawatir dari 3 pasang mata. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah si nenek tua itu, dia menatapku seolah aku akan mati, matanya menatap iba.

“Aku baik-baik saja.” Ucapku meyakinkan, nenek tua itu keluar dari kursinya, berjalan cepat mendekatiku dan memukul kasar punggungku.

“Sakit, nek!” pekikku kaget, nenek tua itu malah memukul punggungku lebih keras.

“Begini supaya kau cepat baikan.” Tukasnya membuatku melongo tak percaya.

“Sedakanku sudah sembuh, halmoni tak perlu memukul punggungku seperti tadi!” Belaku meralat ilmu kunonya. Gila, yang ada malah tubuhku akan semakin parah.

 

++++++

 

Usai sesi makan malam, kami berkumpul di ruang tengah, memandangi ibu Sehun yang asik ngobrol sambil merajut syal, ayah Sehun yang menanggapi obrolan istrinya dengan penuh perhatian. Sedangkan kami –aku, Sehun, dan si nenek tua hanya duduk di sofa dengan aku diantara mereka, memandangi televisi yang menampilkan berita malam. Aku menguap, bosan dengan situasi seperti ini, Sehun menyadarinya, dia menyentuh lenganku, kutatap dia cepat dan Sehun membungkukkan tubuhnya, dia berbisik.

“Kau mau pulang?” tanyanya lirih, Oh God, kenapa tidak dari tadi kau menanyakan hal itu Sehun-nie….

Aku mengangguk kecil, dia menarik lenganku untuk bangun dari Sofa, dan detik itu pula si nenek tua menarik lengan ku yang satunya. Oh, tubuhku sekarang jadi bahan rebutan.

“Ada apa, halmoni?” tanyaku mencoba lembut, nenek tua itu hanya diam, menatapku datar lebih tepatnya.

“Gayoon ingin pulang, sudah malam halmoni.” Terang Sehun semakin menarik tubuhku kearahnya, dan hal itu tentu saja membuat nenek tua ini semakin menarikku.

Wae, halmoni?” tanyaku sedikit terpekik, nenek tua itu bangun dari duduknya, dan yah, masih setia memegangi lenganku. Dia mendekat padaku, langkahnya pelan namun pasti, kulirik Sehun.

Halmoni kenapa?” tanya Sehun akhirnya. Dan sepersekian detik berikutnya, tubuhku terasa hangat, nenek tua itu memelukku. Erat.

Halmoni?” suaraku tertahan, nenek tua itu menepuk punggungku lembut, sangat lembut membuatku merasakan hal lain disaat itu.

“Jaga Sehun untukku.” Bisiknya membuat jantungku berhenti berdetak, bisikan amat lirih.

 

 

…. BERSAMBUNG ….

 

10 tanggapan untuk “DO YOU LOVE ME [2/3]”

  1. waahh kata” sehun so sweet,,g kebayang deh klo ada cwo yg blg gtu k aku pasti udah jingkrak” ,,apalgi klo cwo itu sehunn *plakk hhahaaa,,

    ditunggu chapter berikutnya 😀

  2. Huwaa…chap 2 publish

    suka bgt!
    Rasain buat xiah
    gagal nikah
    kkekeke..

    Suka karakter sehun yg begtU tlus cinta sama gayoon..
    Emm..oh family baik bgt ma gayoon!
    Ditnggu endingx
    huhuhu
    author daebak!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s