Aku…

Aku…

Title : Aku…

Author : ChyaloveEXO

Twitter : @Charisa_E_M

Cast :     – Kris EXO

                – Choi Heera (OC)

Main cast : Member EXO

Genre : romance, dll. *cari sendiri genre yang lainnya

Length : One shot (<1000)

Rated : 13+

Note:

*Cerita ini murni dari otak author yang author tumpahin ke dalam FF ini (?), jika ada kesamaan cerita dengan FF yang lain, maaf, author tidak tahu. Park Chanyeol dan Byun Baekhyun milik tuhan dan orang tuanya, sedangkan OC adalah milik author. Dan JANGAN SEMBARANGAN COPAS NI FF! Izin dulu! #plak..*

*WARNING! TYPO #mungkin bertebaran di FF ini!*

Annyeonghaseo! Ini adalah first fanfict yang author buat. Mian kalo ceritanya rada ancur dan feelnya kurang dapet. Plus, maaf tidak ada posternya._.Kalo readers pernah nemu ff yang persis kaya gini, itu memang authornya yang juga ngepost di web lain._. Selamat membaca. Jangan lupa RCL ya.. ^^

-Aku…-

“SELAMAT ULANG TAHUN KRIS HYUNG!” teriak para member EXO dengan membawa kado dengan hiasan pembungkus kado yang berbeda-beda.

“SELAMAT ULANG TAHUN Kris-ssi!” teriak gadis ber-dress hijau selutut sambil memberikan sebuah kue tart berbentuk kotak dengan krim cokelat yang tak terlalu tebal dengan hiasan yang tak terlalu mencolok untuk seorang pria di hadapannya, yang sedang berulang tahun sekarang.

“Hahaha.. ternyata kalian ingat hari ulang tahunku, aku kira tidak.” Kata pria bernama Kris yang sebelumnya sibuk dengan sebuah game yang ia gemari, ‘Angry Bird’. Pria itu biasa memainkannya di ruang tengah.

“Hehe.. sebenarnya sih kami juga lupa, hyung.” Kata Sehun sambil menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

“Ini semua berkat Heera. Kalau tidak ada dia, mungkin hari ini Kris hyung tidak akan mendapatkan hadiah dan sebuah kue.” Jelas Tao yang diikuti senyuman dari Kris.

Tiba-tiba Tao mendekatkan bibirnya menuju ke telinga Kris. Tao berbisik “Hyung, kue ini khusus buat hyung dari Heera. Heera sendiri yang membuatnya.” Kemudian Tao menjauhkan kepalanya.

Kris tersenyum melihat tulisan yang tertera di atas kue itu.

-Heera POV-

‘I LOVE YOU KRIS’

Itulah tulisan yang tertera pada kue yang kubuat itu. Aku senang bisa melihat senyumnya yang jarang dia sebarkan kepada orang lain. Kuharap dia tau maksud dari tulisan itu. Aku ingin dia membalasnya. Aku harap dia berkata ‘Aku juga mencintaimu’ kepadaku secepatnya.

“Aku—“ suara berat itu memecahkan lamunanku. Aku melihat wajahnya yang tenang dengan senyuman yang manis sambil mata elangnya yang melihat tajam ke arahku.

“Ada apa?” kuharap lanjutan katanya adalah—

“Aku butuh pisau untuk memotong kue ini.” Katanya. Okay. Perkiraanku salah.

“Tunggu sebentar ya!” Aku tersenyum ke arahnya dan berlari menuju ke dapur. Aku tidak ingin dia menunggu terlalu lama.

“Di mana ya pisaunya?” aku mengacak-acak isi dari laci-laci yang ada di dapur. Aku menghela nafas lega. Akhirnya ketemu juga. Aku segera berlari menuju ruang tengah.

“Ini Kris-ssi.” Kuserahkan pisau itu dengan hati-hati. Aku tidak ingin dia terluka.

“Thank you!” katanya sambil memotong kue itu.

“Iya.”

“Oh iya, Aku—“ lagi-lagi dia berkata ‘Aku’ dengan cara terputus dari kalimat yang akan dia ucapkan. Lagi-lagi aku mulai berharap dia akan mengatakannya.

“Ada apa? Ayo lanjutkan kata-katamu itu, Kris-ssi.” Pintaku. Dia masih terdiam sambil menatap mataku tajam. Aku semakin deg-degan.

“Emm, aku butuh piringkecil dan garpu untuk memakannya.” Katanya santai. Tidak seperti yang kuharapkan.

“Okay. Tunggu ya.” Kataku sedikit lesu. Kulangkahkan kakiku menuju dapur, lagi.

Aku tahu kalau kata ‘Aku juga mencintaimu’ hanyalah sebuah mimpi yang mungkin lumayan tinggi dan sulit untuk dicapai. Kau tau? Di kampus tempat Kris kuliah, dia adalah salah satu dari 5 namja terfavorit di sana.

Setelah sampai di dapur, aku langsung mengambil beberapa garpu dan piring kecil yang sudah tersedia di atas meja. Aku tahu kalau Kris pasti akan membagikan kue itu kepada teman-temannya yang lain juga, karena dia orang yang baik.

Aku membawa piring-piring yang bertumpuk itu. Aku melangkahkan kakiku agak cepat. Aku tahu kalau aku sudah terlalu lama di dapur tadi karena melamun. Mulai kurasakan piring-piring itu bergoyang tidak karuan. Sepertinya akan jatuh. Tapi aku tidak peduli. Kupercepat langkahku.

Tidak tahu karena apa, tapi piring itu tiba-tiba jatuh semua. Untungnya hanya piring plastik. Aku memunguti piring-piring itu. Tiba-tiba aku melihat sepasang kaki yang tengah berdiri di depanku.

“Apa kau memerlukan bantuanku?” tanya sang pemilik suara khas berat itu.

“Tidak Chanyeol-ssi. Aku bisa melakukannya sendiri.” Aku menolak tawarannya.

“Oh, ayolah! Aku tahu kau pasti butuh.” Katanya sambil berjongkok dan membantuku.

“Emm, mungkin iya.”

Aku berdiri bebarengan dengan Chanyeol. “Ayo!” katanya sambil membawa sebagian piring-piring itu ke ruang tengah. Aku berusaha menyamai langkahnya yang lumayan cepat itu sampai di ruang tengah.

“Gamsahamnida!” kataku sambil memberikan senyum tanda terima kasih.

“Ne, lain kali mintalah tolong kepada orang lain kalau kamu butuh ya.” Aku hanya membalasnya dengan anggukan.

Pandanganku kualihkan kepada si wajah tampan Kris. Dia sedang membagikan kuenya.

Miris. Bukan aku yang pertama kali dikasih kue itu. Sedih rasanya. Aku ingin sekali mendapat potongan pertama darinya.

Lalu dia membawa kue yang tersisa itu menuju ke kamarnya. Oh, baiklah. Rasanya aku mulai ingin menangis sekarang. Aku tidak mendapatkan sesuap kue itu sama sekali.

Kulangkahkan berat kakiku menuju keluar rumah mereka, memang Kris dan teman-temannya tinggal satu rumah. Aku duduk di bangku ayunan yang ada di halaman rumah mereka. Letaknya cukup terpencil untuk bisa menangis sembunyi-sembunyi. Kutumpahkan semua air mataku di sini. Aku menangis sampai tidak sadar kalau ada namja yang duduk di sebelahku. Dia menyodorkan sepotong kue dan sebuah kotak kecil di sampingnya.

Tapi, tunggu dulu. Potongan kue itu lumayang besar. Dan terdapat tulisan ‘I LOVE YOU KRIS’. Tapi tulisan ‘KRIS’ nya sudah disilang seperti dihancurkan oleh garpu. Dan tepat di bawahnya ada tulisan ‘HEERA’ yang sepertinya diukir dari garpu itu.

“Ini untukmu, chagiya.”

‘DEG’

Rasanya aliran darahku tiba-tiba berhenti mengalir. Jantungku berhenti berdetak. Air mataku berhenti mengalir. Apa katanya? Chagiya? Aku menatap wajahnya dalam. Dia tersenyum.

“Kris-ssi.” Aku masih tidak percaya.

-Kris POV-

“Kris-ssi.” Katanya lirih. Apa dia masih belum mengerti.

“Chagiya, harusnya kau memanggilku oppa.” Aku bisa melihat raut wajahnya yang kaget. Lalu aku merasakan kehangatan di tubuhku. Dia memelukku.

“Kris-ssi, emm, maksudku, Kris oppa. Aku masih belum percaya kalau kau belum mengatakan ‘Aku mencintaimu’ padaku.” Pintanya.

“Saranghae!”

-Heera POV-

“Saranghae!”

Akhirnya yang tadinya hanya sebuah angan-angan kini menjadi nyata! Dia mengucapkan kalimat itu dengan lembut.

“Bukalah kotak kecil itu.” Aku melepaskan pelukanku. Kuraih kotak itu dan membukanya.

Kalung, bertuliskan KrisRa di situ.

“Apa kau suka?” tanyanya. Aku mengangguk mantap.

“Akan kupakaikan.” Katanya sambil mengambil kalung itu dari kotaknya.

Dia melingkarkan tangannya di leherku. Kepalanya berada tepat di samping kepalaku.

Kukira setelah ini dia akan menjauhkan tangannya. Tidak. Dia malah memelukku dengan erat.

“Kau tahu? Sebenarnya aku ingin memberikan kalung ini kepadamu 3 hari yang lalu. Tapi kau tidak pernah muncul dihadapanku. Apa kau sibuk mempersiapkan ulang tahunku eoh?” bisiknya.

“Iya.” Memang 3 hari lalu aku tidak muncul dihadapannya.

Dia melepaskan pelukannya.

“KrisRa. Nama couple yang bagus.” Katanya. Aku spontan melirik kalung yang telah bertengger di leherku.

“Saranghae!”

-END-

7 tanggapan untuk “Aku…”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s