[Two shoot] This is My True Feeling (Chapter 1)

uri-sehun

This is My True Feeling

 

Tittle                    : This is My True Feeling (Chapter 1)

Author                 : Jellokey

Main Cast            :

Oh Sehoon (Se Hun of EXO)

Shin Min Young (OC)

Support Cast        :

Lu Han (Lu Han of EXO)

Kim Jongin (Kai of EXO)

Byun Baekhyun (Baekhyun of EXO)

And others

Length                 : Two shoot

Genre                  : Romance, School Life, Friendship

Rating                  : PG-17

 

FF baru, aku mau balikin karakter cool Sehun ^^

 

“Lu Han.. Lu Han..” Seorang yeoja menggerutu kesal karena orang yang ia panggil tidak mendengar panggilannya.

“Chogi..” Yeoja itu memanggil namja yang baru saja memasuki kelas II-A. Namja yang tadi ia panggil berbalik, wajahnya menyiratkan kesenangan begitu mengetahui siapa yang memanggilnya.

“Shin Min Young?” Namja itu bertanya, meyakinkan dirinya kalau yeoja yang berdiri di hadapannya bernama Shin Min Young.

“Ne. Dari mana kau tahu namaku?” Ia merasa takjub, salah satu namja terpopuler di sekolah mengenalnya. Namja itu terkekeh. ‘Dia terlalu merendahkan diri. Apa dia tidak tahu kalau dia cukup dikenal di kalangan namja?’

“Byun Baekhyun.” Ia mengulurkan tangannya dengan senyum yang bisa membuat semua yeoja terpana.

“Shin Min Young imnida. Baekhyun-ssi, bisa tolong panggilkan Lu Han?” Min Young melupakan pertanyaan dari mana Baekhyun tahu namanya.

“Ne. Senang berkenalan denganmu, Young-ah.” Baekhyun menghampiri Lu Han yang bersama Sehun dan Kai.

“Lu Han, kau dipanggil Min Young.” Suara Baekhyun membuat tawa di antara ketiga namja itu berhenti. Kai menepuk bahu Lu Han, mengisyaratkan Lu Han untuk menemui Min Young. Lu Han beranjak menghampiri Min Young. Candaan mereka yang tadi terhenti berlanjut karena datangnya Baekhyun. Tapi Sehun tidak menanggapi kelakar kedua temannya. Matanya memperhatikan Lu Han yang berbicara dengan Min Young.

“Kenapa susah sekali memanggilmu?” Min Young menatap Lu Han kesal membuat Lu Han tertawa kecil.

“Ada apa?” Min Young memasang senyum terbaiknya begitu ingat apa tujuannya ke kelas Lu Han.

“Beritahu aku semua tentang Oh Sehoon.” Bisik Min Young di telinga Lu Han. Entah apa yang Lu Han rasakan saat ini. Ia berusaha terlihat biasa saja di depan Min Young. Ya, Lu Han menyukai yeoja yang menjadi temannya sejak kecil. Mereka bertetangga.

“Kenapa kau tidak bertanya di rumah saja?”

“Kau selalu tidak ada di rumah.” Min Young mengerucutkan bibirnya.

“Masa kau tidak tahu apa-apa tentang Sehun? Dia anak pemilik sekolah ini.” Ucap Lu Han tidak percaya.

“Aku tidak tahu, Lu Han. Sulit sekali mencari tahu tentangnya.” Benar. Sulit mencari tahu tentang Sehun. Bahkan tak satu pun dari fans Sehun yang tahu tentangnya. Dia dingin dan tertutup. Hanya bisa tertawa di depan ketiga temannya ini, Lu Han, Kai, Baekhyun. Beruntung sekali yeoja yang sekelas dengannya, bisa melihat tawa dan senyum Sehun.

“Kau.. menyukainya?” Tanya Lu Han ragu.

“Ne. Beritahu aku, jebal.” Mohon Min Young dengan puppy eyesnya.

“Apa imbalanku?”

“Kenapa kau jadi tidak tulus begini, Hannie?” ‘Kenapa kau memanggilku Hannie di saat seperti ini, Young?’

“Jangan memanggilku seperti itu. Jadi, apa imbalanku?”

“Aku akan mentraktirmu es krim. Kalau kau mau, sepulang sekolah nanti.”

“Kita sudah tidak anak-anak lagi, Young.”

“Dulu kau selalu mau kuajak makan es krim. Jadi kau mau apa?”

“Cium aku.” Lu Han mencium pipi Min Young lalu berbisik.

“Di bibir.” Min Young terkejut. Ia menghapus bekas ciuman Lu Han di pipinya.

“Mwo?” Min Young mencubit perut Lu Han.

“Aauw.. Young, appo!”

“Kenapa kau jadi mesum? Pasti akibat berteman dengan namja yang bernama Kai itu kan? Dia menyebarkan virus yadong padamu. Kau harus menjauh darinya, Lu Han.”

“Itu normal, Young. Aku namja, tujuh belas tahun. Dan aku ingin..”

“Cukup. Aku tidak menyangka efek berteman dengan namja hitam itu bisa membuatmu mesum. Cepat beritahu aku, Lu Han.”

“Kenapa kau menyukainya?”

“Molla. Jantungku selalu berdetak kencang setiap melihatnya. Aku ingin dia selalu ada dalam pandanganku. Kau mau memberitahuku kan? Kau pasti tahu banyak tentangnya.”

“Aku mau hari minggu ini kau menemaniku seharian.”

“Ke mana?”

“Ke mana saja selama itu menyenangkan.”

“Jadi apa yang Sehun sukai?” Lu Han tidak jadi mengatakan tentang Sehun karena bel berbunyi.

“Nanti saja aku beritahu. Aku akan ke kamarmu.”

“Aku akan mengunci jendela kamarku. Kau harus lewat pintu kalau mau menemuiku. Sopan sedikit. Sampai nanti.” Min Young menuju kelasnya. II-B

“ Apa yang kalian bicarakan? Lama sekali.” Tanya Kai. Lu Han yang baru saja duduk, menghadap ke belakang. Mr. Lee, guru matematika kelasnya belum masuk.

“Dia ingin aku memberitahunya sesuatu.”

“Kau kenal Shin Min Young, Lu Han?” Tanya Baekhyun. Ne.

“Kami berteman. Dia juga tetanggaku. Rumahnya tepat berada di sebelah rumahku. Aku sering masuk ke kamarnya.”

“Mwo?!” Kai dan Baekhyun kompak. Sehun yang tadinya tidak tertarik, menoleh pada teman sebangkunya.

“Kamar kami berhadapan. Aku melompat dari balkon kamarku ke balkon kamarnya. Buat apa aku melalui pintu kalau aku bisa cepat menemuinya.”

“Kenapa kau tidak bilang dari awal? Nanti aku ke rumahmu. Ah.. Aku juga menginap di rumahmu.” Kata Baekhyun.

“Ada apa denganmu? Kau menyukai Min Young?” Tanya Lu Han. Ia, Kai, dan Sehun, menatap Baekhyun.

“A.. ani. Aku hanya.. Ah.. Sudahlah. Kalian tidak perlu tahu. Pokoknya aku menginap di rumahmu nanti.” Jawaban gugup Baekhyun jelas mengatakan kalau ia menyukai Min Young.

 

—————-

 

“Lu Han!” Min Young terkejut mendapati Lu Han yang tiduran di ranjang begitu membuka pintu.

“Hai..”

“Dari mana kau masuk?” Min Young meletakkan tasnya di sofa. Ia menghampiri Lu Han, duduk bersila di atas tempat tidur.

“Dari jendela.”

“Lain kali dari pintu. Sekali saja, bersikaplah normal, jangan seperti maling.”

“Cerewet. Kau mau tahu tentang Sehun tidak?” Lu Han memiringkan tubuhnya menghadap Min Young. Min Young mengangguk antusias.

“Aku hanya tahu sedikit tentangnya karena aku belum begitu mengenal Sehun. Dengarkan baik-baik.” Min Young mengambil iPhone-nya. Berniat membuat note tentang Sehun.

“Sehun lahir tanggal 12 April 1994. Dia suka susu dan choco bubble tea, warna favoritnya hitam dan putih, suka sushi. Untuk sifatnya dia orang yang pemalu, Sehun hanya bisa berinteraksi dengan baik pada orang-orang yang sangat ia kenal. Childish. Aku hanya tahu itu. Jangan salah menganggap dia orang yang dingin karena wajah datarnya. Dia orang yang menyenangkan kalau kau kenal dekat dengannya. Ingat janjimu, Young. Hari Minggu.” Lu Han menatap Min Young yang terlihat tidak semangat. Seharusnya dia senang mengetahui sedikit tentang Sehun, namja yang ia sukai.

“Kau kenapa?”

“Aku merasa akan sulit mendekati Sehun. Sebelum bertatapan dengannya, pasti aku kabur duluan.”

“Haha.. Belum mencoba kau sudah seperti ini. Kenapa kau tidak mendekatiku saja?”

“Aku sudah nyaman seperti ini denganmu, Hannie. Teman.” ‘Apa aku tidak bisa mendapat lebih dari itu?’

“Young tidurlah di sebelahku.”

“Wae?” Min Young merebahkan dirinya.

“Kau pasti tidak punya waktu untukku kalau sudah jadian dengan Sehun.”

“Aku tidak yakin dia akan menerimaku. Aku yakin dia menerimamu.” Min Young menghadap Lu Han.

“Kenapa kau berkata seperti itu?”

“Kau sempurna, Young. Kau cantik, pintar, dan baik. Dia tidak mungkin menolakmu.”

“Eii.. Kau memujiku?” Goda Min Young.

“Ne. Aku memujimu. Kau senang?” Lu Han menatap Min Young sebal.

“Hannie, aku menyayangimu.” Min Young mencubit pipi Lu Han.

“Auww.. Kenapa kau suka sekali mencubit?”

“Kau menggemaskan.”

“Kau harus dihukum, Young.” Lu Han menggerakkan kesepuluh jarinya dan tersenyum.

“Andwae.. Hannie, ahahaha.. Geli.. Jebal, geuman..”

“Shirreo..” Lu Han semakin gencar menggelitiki Min Young.

“Ahahaha.. Hannie, jebal..”

“Buatkan aku cookies.”

“Ne.. Geumanhae..”

“Yang banyak.”

“Ne..” Lu Han berhenti menggelitiki Min Young.

“Kau akan menyatakan perasaan pada Sehun?”

“Ne. Aku akan segera menyatakan perasaanku.”

“Eonje?” Min Young berpikir.

“Dua hari lagi. Di hari ulang tahunnya. Semoga dia menerimaku.”

“Kau tidak melakukan pendekatan dulu?”

“Ani. Kami bisa saling mengenal saat sudah resmi pacaran.” Lu Han geleng-geleng kepala. Tadi Min Young begitu pesimis bisa menjadi yeojachingu Sehun, dan sekarang perkataannya menegaskan kalau ia pasti bisa menjadi yeojachingu Sehun.

“Pulanglah. Aku mau ganti baju.”

“Kau mengusirku?”

“Ani. Kau juga belum mengganti seragammu.”

“Aku mau membuat cookies bersamamu.”

“Ne, tapi ganti dulu seragammu. Nanti kotor.”

“Issh.. Kau cerewet sekali.” Lu Han beranjak dari tempat tidur, berjalan menuju balkon.

“Aku akan segera kembali.”

 

——————-

 

“Kau yakin?” Lu Han dan Min Young sedang berdiri di depan kelas II-A. Min Young akan menyatakan perasaannya pada Sehun hari ini, tepat pada hari ulang tahun Sehun. Ia bahkan sudah menyiapkan kado untuk Sehun.

“Ne. Tapi aku tidak melihatnya dari tadi. Di mana dia?”

“Di atap sekolah. Itu tempat favoritnya. Dia tidak mau diganggu kalau sedang berada di sana.”

“Aku ke atap. Lu Han, doakan aku.”

“Young, chankkaman!” Lu Han mengejar Min Young yang menuju tangga.

“Dia bisa sangat membencimu kalau kau mengganggunya.”

“Dia sedang sendiri, Lu Han. Tidak ada yang melihatku menyatakan perasaan padanya. Sudah ya.” Lu Han menatap punggung Min Young. Dia tidak akan bisa memiliki Min Young sebagai yeojanya.

 

—————

 

Min Young membuka pintu atap sekolah perlahan. Ia melihat Sehun yang tiduran di lantai dengan kedua tangan sebagai alas kepalanya. Min Young menutup pintu atap lalu menyembunyikan kedua tangan di belakang tubuhnya, menyembunyikan kado yang akan ia berikan pada Sehun, sekalipun Sehun menolaknya nanti.

“Oh Sehoon..” Min Young memanggil Sehun saat jarak antara mereka kira-kira satu meter. Sehun membuka matanya. Ia langsung berdiri menyadari ada orang yang mengganggu ketenangannya. Ia masih bisa maklum kalau orang itu adalah Lu Han, Kai, atau Baekhyun. Tapi yang memanggilnya ini adalah makhluk Tuhan yang disebut yeoja. Orang-orang yang selalu bertingkah centil di depannya. Membuatnya jijik.

“Kenapa kau di sini? Kau tidak lihat tulisan ‘dilarang masuk’ yang ada di pintu?!” Min Young sudah menduga akan mendapat reaksi ketus itu dari Sehun. Tidak ada yang tahu seperti apa sifat Oh Sehoon.

“Aku mencarimu.” Min Young memberanikan diri menatap Sehun yang saat ini sedang menatapnya tajam. Padahal Sehun sangat senang mendengar itu.

“Mencariku? Buat apa? Apa kau juga ingin menyatakan perasaan seperti yeoja-yeoja centil itu?” ‘Bodoh. Kenapa kata-kata itu yang keluar dari mulutmu, Sehun.’ Batin Sehun. Wajahnya menyiratkan kalau Min Young tidak mempunyai harga diri.

“Ne. Aku ingin menyatakan perasaan padamu.” Sehun terkejut. Ia tidak menyangka Min Young akan menyatakan perasaan perasaan padanya. Iya. Sehun menyukai Min Young. Ia sudah sangat menyukai Min Young sejak pertama kali melihatnya di upacara penerimaan murid baru. Sudah lama Sehun ingin menyatakan perasaannya pada Min Young, tapi ia tidak mempunyai keberanian untuk itu. Ditambah lagi, saat mereka masih kelas satu, Min Young sangat dekat dengan Lu Han, membuatnya beranggapan kalau mereka pacaran. Saat kelas satu Lu Han sekelas dengan Min Young. Sehun sangat lega mengetahui kalau Lu Han hanya berteman dengan Min Young. Ingin sekali Sehun mencari tahu tentang Min Young dari Lu Han, tapi Sehun terlalu malu untuk melakukan itu.

“Aku menyukaimu, Oh Sehoon. Maukah kau menjadi namjachinguku?” Sehun merasa orang paling bahagia saat ini. Tapi apa kalian tahu bagaimana ekspresi Sehun saat ini? Wajahnya masih datar dengan tatapan tajam yang tidak berubah dari tadi. Apa Sehun tidak punya ekspresi lain selain itu? Dia punya. Tapi dia tidak bisa menunjukkan di depan gadis yang ia sukai. Ia juga tidak tahu kenapa ia tidak bisa seperti namja lain ketika mereka jatuh cinta.

“Kau tidak ada bedanya dengan mereka. Rendahan.”

Deg!

Hati Min Young sakit mendengar kata yang keluar dari mulut Sehun. ‘Bagus, Sehun. Ada apa denganmu? Kau jelas-jelas membuang kesempatan menjadi namjachingu Min Young. Pabo!’

“Aku memang rendah. Aku membuang harga diriku karena aku menyukaimu. Aku ingin berada di sampingmu, Sehun.” Min Young menatap Sehun dengan penuh keyakinan. Sementara di balik pintu atap sekolah, ada Lu Han yang menguping percakapan Min Young dan Sehun dari awal. Ia sakit mendengar kata-kata Sehun. Ingin sekali ia menarik Min Young, tapi kata-kata yang Min Young lontarkan membuat Lu Han mengurungkan niatnya. Min Young benar-benar menyukai Sehun. Mungkin ia harus melupakan perasaannya kalau Sehun menerima Min Young.

“Terserah.” Terserah? Min Young dan Lu Han bingung dengan jawaban Sehun. Apa itu artinya iya? Lu Han tersenyum. Tidak ada lagi alasannya untuk menyukai Min Young karena Min Young sudah jadi milik Sehun. Ia pergi dari tempat itu.

“Apa itu artinya iya?” Min Young tersenyum.

“Terserah padamu.”

“Aku anggap iya. Sekarang kita resmi pacaran. Mari kita saling mengenal satu sama lain.” Min Young mengulurkan tangan kanannya.

“Shin Min Young.” Sehun hanya melirik tangan Min Young.

“Kau sudah tahu namaku.” Sehun berjalan melewati Min Young.

“Chankkaman!” Min Young berbalik. Ia menghampiri Sehun.

“Saengil chukkae..” Min Young mengeluarkan kado yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Melihat Sehun yang tidak mengambil kotak kecil yang ia pegang, Min Young menarik tangan kanan Sehun, meletakkan kado itu di telapak tangan Sehun.

“Semoga kau suka. Aku harap kau mau memakainya.” Min Young tersenyum malu.

“Dari mana kau tahu ulang tahunku?”

“Dari Lu Han.” Tidak ada kata terima kasih. Sehun meninggalkan Min Young sendiri di atap sekolah. ‘Lu Han..’

 

——————

 

Hari-hari Min Young setelah menjadi yeojachingu Sehun tidak ada bedanya dengan hari-hari saat ia masih single. Sehun masih dingin padanya. Min Young tidak menyerah. Sehun memang namja yang sulit ditaklukkan. Itu pandangan para yeoja di sekolahnya. Kesabaran Min Young benar-benar diuji dalam menghadapi namjachingunya. Walaupun begitu Min Young tidak putus asa. Ia terus mengorek informasi tentang Sehun dari Lu Han, Baekhyun, dan tidak dari Kai. Min Young terlalu takut berhadapan dengan namja hitam nan mesum itu. Ia beruntung karena setiap ia berkumpul dengan Sehun dan teman-temannya, Kai tidak pernah ada. Kecuali kalau Min Young menghampiri Sehun ke kelas II-A. Seperti yang ia lakukan saat ini.

“Sehun-ah, ini cookies yang aku buat tadi malam. Aku mau kau mencobanya.” Min Young membuka penutup kotak bekalnya.

“Wah.. Makanan..” Kai dan Baekhyun langsung ke meja Sehun. Min Young langsung menepuk tangan Kai yang hendak mengambil cookies-nya.

“Sehun dulu yang coba.” Ucap Min Young.

“Iya. Kau ini. Biar Sehun dulu yang coba. Lagipula, apa kau tidak malu? Cokelat makan cokelat.” Ujar Baekhyun. Kai langsung men-death glare Baekhyun.

“Ini cookies yang kita buat bersama semalam, Young-ah?” Min Young mengangguk.

“Kau harus mencobanya, Sehun-ah. Cookies buatan Min Young benar-benar enak.” Kata Baekhyun antusias. Sehun melihat cookies buatan Min Young. Bentuk dan aroma cookies yang sangat menggugah selera itu, tidak membuat Sehun mengambilnya walaupun Sehun sangat ingin. Karena cookies itu Min Young buat bersama Baekhyun dan.. Lu Han. Kalian pasti mengerti apa yang Sehun rasakan saat ini kan?

“Aku tidak suka cookies.” Perkataan Sehun membuat Min Young, Lu Han, Kai, dan Baekhyun melihat bingung padanya. Sehun tidak bermasalah dengan cokelat atau pun makanan olahan dengan bahan cokelat. Ia suka cokelat.

“Tapi Lu Han dan Baekhyun bilang..”

“Aku tidak suka.” Potong Sehun. Ia bangkit dari duduknya, lalu berjalan keluar kelas. Min Young hanya bisa menatap punggung Sehun sedih. Lu Han yang melihat itu langsung menjejalkan cookies ke mulut Min Young.

“Apa yang kau lakukan, Hannie?”

“Makan. Daripada mubajir.” Ucap Lu Han. Padahal di kotak bekal hanya tersisa beberapa cookies lagi.

“Jangan terlalu dipikirkan, Young-ah. Aku rasa Sehun lebih suka vanila daripada cokelat.” Kai merangkul Min Young.

“Tapi aku belum pernah dengar ada cookies rasa vanila.” Ucap Min Young polos.

“Kau tahu kalau Sehun suka susu kan?” Min Young mengangguk.

“Mungkin kulitnya bisa seputih susu karena keseringan minum susu.”

“Kau meratapi kulitmu yang tidak seputih Sehun, Kai?” Cibir Baekhyun membuat Lu Han tertawa.

“Sorry ya. Aku selalu mensyukuri apa yang ada padaku. Dan untuk kulitku yang gelap ini, aku sangat-sangat bersyukur pada Tuhan. Aku sexy..” Perkataan Kai membuat Min Young melepas rangkulan Kai. Tapi Kai malah merangkulnya lagi.

“Mungkin kau harus membawa susu ke sekolah setiap hari agar Sehun bisa menyusu padamu, Young-ah.”

Pletak!

Satu jitakan dari Lu Han mendarat mulus di kepala Kai.

“Apa yang kau lakukan, Hannie?!” Kai meniru ucapan Min Young sambil mengelus kepalanya.

“Membersihkan otakmu.” Ucapan Lu Han membuat Min Young bingung.

“Ya! Bacon! Kenapa kau menarikku?!”

“Kau harus segera bertemu Jeo Rin. Sudah berapa hari kau tidak bertemu dengannya sampai otakmu miring begini?”

“Min Young, ingat kata-kataku. Bawa susu ke sekolah. Aku jamin Sehun pasti suka dan dia akan selalu memanjakanmu!” Teriak yang sudah di ambang pintu.

“Jangan dengarkan dia. Kai akan gila kalau dia tidak bertemu dengan Jeo Rin.” Min Young menduduki bangku Sehun.

“Lu Han, sampai kapan Sehun akan seperti itu padaku?” Lu Han menatap Min Young yang membolak-balikkan buku catatan Sehun.

“Sampai kau memutuskan hubunganmu dengan Sehun.” Min Young langsung menatap Lu Han yang menatap serius padanya.

“Kau tahu, Young? Aku tidak pernah lagi melihat senyum indahmu sejak kau jadian dengan Sehun. Kau terlalu sibuk memikirkan cara agar Sehun bersikap layaknya namjachingu padamu. Dan itu rasanya mustahil. Dia selalu menolak usahamu. Aku tidak tahu kenapa dia benar-benar menjadi pangeran es sekarang.” Mereka baru dua minggu pacaran, tapi tidak ada satu moment pun yang bisa Min Young ingat dari Sehun. Hanya Min Young yang selalu menemui Sehun. Dia tidak merasa menjadi yeojachingu Sehun walaupun satu sekolah sudah tahu mereka pacaran.

“Apa menurutmu aku harus putus dengan Sehun?” Lu Han mengangguk.

“Sebelum kau merasakan sakit yang lebih dari ini.” ‘Dan aku akan semakin sakit melihat Sehun terus mengabaikanmu.’

“Tidak, Lu Han. Sebentar lagi Sehun pasti jadi namjachingu yang manis untukku.”

 

—————

 

“Sehun-ah, ini bubble tea kesukaanmu.” Min Young duduk di samping Sehun yang baru saja selesai latihan basket. Nafasnya terengah-engah karena berlari dari cafe yang berada di depan sekolah mereka menuju lapangan basket.

“Young-ah, kau beli untukku juga kan?” Tanya Baekhyun yang melihat Min Young mengeluarkan dua gelas bubble tea dari kantong plastik. Min Young melihat dua bubble tea di tangannya bingung.

“Mian, Baek-ah. Satu lagi untuk Lu Han. Aku mau beli empat tadi, tapi yang tersisa hanya dua.” ‘Lu Han lagi.’ Batin Sehun.

“Gwenchana, Bacon. Kita bisa bagi dua.” Lu Han mengambil bubble tea dari tangan kanan Min Young.

“Aku bagaimana?” Kai menunjuk dirinya.

“Minta saja pada Jeo Rin.” Sahut Baekhyun.

“Bagaimana mau minta pada Jeo Rin? Lihat! Dia tidak ada di sini. Dia tidak pernah ada waktu untukku!”

“Salahkan dirimu yang gengsian. Giliran Jeo Rin punya waktu untukmu, kau sok sibuk.”

“Sehun-ah, igeo..” Min Young menyodorkan bubble tea pada Sehun.

“Aku tidak bisa minum bubble tea setelah olahraga.” Lagi. Perkataan Sehun membuat mereka bingung. Sehun tidak pernah menolak bubble tea.

“Kalau begitu ini..” Min Young menyerahkan sebotol air mineral pada Sehun. Bubble tea yang tadi Min Young pegang, sudah habis diminum Kai.

“Aku mau pulang.” Kata Sehun setelah menatap tajam Kai.

 

—————–

 

“Sehun..” Min Young duduk di sebelah Sehun yang sedang tiduran di lantai atap. Sehun membuka matanya, melirik Min Young lalu menutup matanya lagi.

“Sore ini apa kau ada waktu? Aku ingin jalan denganmu.” Min Young mengutarakan keinginan yang sudah lama ia pendam.

“Sekali saja, aku ingin kencan denganmu.” Sehun mendudukkan dirinya.

“Aku tidak bisa. Aku sudah punya janji.” Min Young tersenyum pahit.

“Dengan siapa?”

“Bukan urusanmu.” Min Young menahan tangan Sehun yang hendak berdiri.

“Kenapa kau tidak pernah memakai hadiah ulang tahun dariku? Apa kau tidak suka jam tangan yang kuberikan?” Min Young tidak pernah melihat Sehun memakai jam tangan hadiah ulang tahunnya.

“Aku lebih suka jam tanganku.” Min Young melihat jam tangan yang Sehun pakai di tangan kirinya. Jam tangan bermerek yang pasti sangat mahal. Tidak ada apa-apanya dibanding dengan jam tangan yang Min Young berikan. Min Young melepas tangan Sehun.

“Arra. Jam tangan yang kuberikan jelek. Kau pasti sudah membuangnya.” Sehun berlalu pergi, meninggalkan Min Young sendirian di atap. ‘Apa aku sudah salah menyukai orang?’

 

—————–

 

Walaupun Min Young tidak bisa jalan dengan Sehun, ia tetap bisa menghabiskan waktu Sabtu sorenya bersama Baekhyun dan Lu Han. Baekhyun jadi sering bergabung dengannya dan Lu Han karena Baekhyun sering menginap di rumah Lu Han. Rumah Lu Han sudah menjadi rumah kedua untuk Baekhyun. Mereka bermain cukup lama di taman bermain. Rencana Min Young makan es krim di kedai langganan gagal karena Baekhyun yang mengajak mereka ke mall. Apa kalian tahu tujuan Baekhyun ke mall? Membeli eyeliner.

“Baek-ah, kau yakin mau membeli eyeliner sebanyak itu?” Min Young takjub, baru kali ini ia melihat namja yang begitu menyukai eyeliner. Tapi ia tidak pernah melihat Baekhyun pakai eyeliner. Baekhyun hanya memakai eyeliner saat mau tidur. (-_-)

“Ini masih kurang, Young-ah.” Baekhyun sibuk memilih-milih eyeliner.

“Jangan heran. Dia maniak eyeliner. Tapi tidak percuma sih. Matanya indah memakai eyeliner. Kau bisa lihat jam sembilan malam nanti.”

“Buat apa dia memakai eyeliner kalau tidak ada yang lihat?”

“Molla.”

“Chogi, apa ada eyeliner yang tahan 24 jam? Aku hanya punya yang 12 jam.” Tanya Baekhyun pada penjaga toko. Min Young mengabaikan Baekhyun. Aneh menurutnya. Karena mereka sedang berada di toko kecantikan, Min Young pun mencari kebutuhan make up-nya. Lu Han setia menemani Baekhyun. Tujuannya ke mall karena ia ingin membeli pakaian. Mereka keluar dari toko kecantikan lalu bersiap berburu pakaian. Min Young terus saja memuji mata ber-eyeliner Baekhyun. Ia berhasil membujuk Baekhyun untuk memakai eyeliner.

“Baek-ah, kau makin tampan. Jinjja. Kenapa kau tidak pakai eyeliner ke sekolah? Pasti makin banyak yeoja yang suka padamu kalau kau memakainya ke sekolah.”

“Aku tahu itu. Aku hanya tidak mau menambah fans-ku. Tapi kau juga akan semakin cantik kalau pakai eyeliner, Young-ah. Aku akan mengajarimu pakai eyeliner.”

“Ne, kita akan jadi duo eyeliner.”

“Sehun…” Nama yang disebut Lu Han membuat Min Young dan Baekhyun menghentikan canda mereka. Langkah mereka terhenti tepat di depan sebuah toko pakaian. Begitu juga dengan Sehun. Di samping Sehun berdiri seorang yeoja yang mengamit lengan Sehun dengan beberapa paper bag di tangan kirinya. Mereka baru saja belanja. ‘Jadi ini alasan Sehun tidak bisa jalan denganku? Alasan kenapa Sehun bersikap dingin padaku? Dia sudah punya yeojachingu.’ Mata Min Young berkaca-kaca melihat Sehun yang hanya menatap datar padanya. Sehun sama sekali tidak berusaha menjelaskan pada Min Young siapa yeoja itu.

“Lu Han, aku mau pulang.” Min Young berbalik. Ia tidak peduli Lu Han dan Baekhyun mengikutinya atau tidak, ia hanya ingin pulang sekarang. Lu Han dan Sehun saling bertatapan tajam cukup lama.

“Oh Sehoon, neo jinjja.. Aku tidak menyangka kau meniru sifat player Kai.” Ucap Baekhyun tidak percaya.

“Aku akan buat perhitungan denganmu, Sehun!” Lu Han belum mengalihkan tatapannya dari Sehun.

 

TBC…

60 tanggapan untuk “[Two shoot] This is My True Feeling (Chapter 1)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s