Love Off Stage (Chapter 7)

Love off stage 7

|| Part 1|| || Part 2 || Part 3  || Part 4 || Part 5 || Part 6 ||

 Title: Love off stage (The last chapter)

Author: Crazyfinder (dulunya sih momo wu, tp ribet deh beda user name :3)

|Cast| Kris wu, Park chanyeol , Oh Sehun, Suho

|supporting Cast| Lay

|OC| Eunra, Rini, Octa, Vhie

Backsound: Goodbye summer F(x) ft. EXO

Genre: Romance, comfort, drama dll (?) ><

Disclaimer: Idea is mine, but EXO is yours lol

Length: Chapters

Note: di akhir FF ini 😀 karena agak panjang siapin balsem (?) ya chingu, kk~

Note 2: congratulation EXO 2ndWIN ^^

***

“walaupun aku merindukanmu pun, waktu tak akan berbaik hati untuk membiarkan semuanya kembali. Jadi cinta ini, akan mengkungkung kita dengan semestinya. Aku mencintaimu..”

~Gen PoV~

“Kemana para wolf itu ya? Bukankah sudah seminggu kita tidak melihat wajah mereka?”

Vhie rasanya ingin mencium Octa yang telah menyuarakan isi pikirannya yang berteriak-teriak penasaran sejak tadi. Rini yang masih membaca majalah menoleh dan ikut mengangguk semangat. Sepertinya mereka harus segera berterima kasih pada Octa sebagai juru bicara yang sangat jujur.

Eunra menggeser-geser kursor yang sejak tadi ia gunakan untuk mengecek blognya, hobi miliknya yang telah ada sejak bertahun-tahun yang lalu. Lalu tanpa aba-aba ia menjawab, “kalian tidak ada yang tau kalau SM sedang menyiapkan album repackage untuk XOXO? Kalian kemana saja sih selama ini?”

Ketiga member yang tadi masih berbaring di lantai segera berlari mendekati eunra dan melongok ke layar komputer yang masih menyala.

“Ap..apa? jadi mereka pergi berlatih tanpa memberi tahu kita??” Octa berteriak emosi, kepada sehun yang sedang tidak ada tepatnya.

yo Octa wake up! Kita ini kan bukan siapa-siapa mereka, jadi untuk apa mereka melapor? lagi pula jika kasarnya kita ini hanya orang yang sedang melancong di SM, bukan pegawai resminya.” Balas Rini tepat di depan hidung octa. Octa hanya menatap rini lama.

“rini, lama kelamaan cara bicaramu semakin mirip dengan Chanyeol, percayalah. Jintjja.” Octa berbicara dengan sok serius dan berlalu menuju dapur untuk mengambil beberapa cemilan.

Rini yang normalnya dan seharusnya membalas sewot kini hanya berdiri di tempatnya dengan wajah memerah. Benarkah?serius?  Ah aku harus bertindak biasa saja sebelum mereka memperhatikannya. Batin rini masih sambil tersenyum-senyum kecil.

Yang tidak ia ketahui adalah, semua orang di tempat itu ‘memang’ sedang memperhatikannya sambil menggeleng-gelengkan kepala.

***

“Kris hyung! Berhentilah melakukan kesalahaaan! Sudah jam berapa ini coba?” omel D.O melirik jam yang telah menunjukkan pukul tiga pagi. Mereka sedang membuat MV untuk lagu representative baru mereka, GROWL. Mereka menggunakan konsep one-take camera, jadi tidak boleh ada kesalahan karena tidak akan ada pengeditan untuk video ini.

Sayangnya kris terus saja salah timing dalam mengambil topi Kyungsoo, sehingga mereka harus mengulangnya beberapa kali. Tentu saja bukan hanya kris yang melakukan kesalahan, namun karena saat itu ia mendapat full-shot kesalahannya langsung saja terlihat.

ah nomu mian, aku tidak tahu apa yang sedang aku pikirkan. Serius.” Sahut kris sambil mengusap wajahnya. Chanyeol mendekat dan memberikan kris sebotol air minum yang sedang ia pegang.

gwenchana hyung, tak usah terlalu dipikirkan. Biar saja Kai yang mengurus Kyungsoo hyung  ini.” goda chanyeol sambil mengerling jenaka pada kyungsoo yang dibalas decakan olehnya.

“ohya, rasanya kita belum bertemu empat gadis itu dalam waktu yang lama. Bukankah begitu?” tanya Sehun yang entah sejak kapan sudah bergabung bersama kedua hyung-nya. Kris seketika mengangkat wajah dan menyadari sesuatu.

“sepertinya tanpa sadar sejak tadi aku sedang memikirkan mereka.” Gumam kris. Suho yang duduk di belakangnya tertawa kecil dan menyahut.

“mengingat mereka atau mengingat Eunra-ssi?” suho memperlihatkan senyum ala kakeknya itu.

Kris tidak mengelak dan tergelak kecil. “sepertinya begitu.”

“ayo setelah shooting ini selesai kita langsung mengunjungi apartemen mereka, waktu mereka di sini hanya tinggal seminggu lagi kan?” ajak sehun.

Suho yang mendengar ucapan sehun merasakan hatinya mencelos.

“kau gila? Lihat ini sudah pukul berapa? Bisa-bisa kita diusir oleh security.” Sahut chanyeol sambil menjitak rambut sehun yang telah berubah warna menjadi merah terang.

hyung, kau itu yang gila. Untuk apa kita di usir kalau kamar kita yang sementara ada di samping apartemen mereka?” jawab sehun dengan wajah datar. Chanyeol menggaruk kepalanya dan menunjukkan cengiran tanpa dosa.

“Eh, kalian mau kemana setelah ini? tidak langsung ke dorm?” tanya Lay yang ternyata sudah ikut bergabung.

“kami mau ke apartemen EXO-G itu, kau masih ingat mereka kan?” sahut Suho menjawab.

“Ah, boleh aku ikut? Aku ingin berkenalan dengan mereka.”

Kris merasakan ada yang mengganjal di dadanya dan juga lidahnya. “i..ya boleh… kenapa tidak?” tawa garing keluar dari bibirnya.

***

“haaa… kenapa kalian ini mengajakku bergadang cobaaa??? Aku ngantuk! Biarkan aku tidur gak? Aku teriak nih!” octa berteriak-teriak seperti anak hilang di ruang tamu kepada eonni-eonninya. Mereka duduk berhadapan karena membicarakan banyak hal sejak tadi.

YA!! Kita kan di sini hanya tinggal seminggu lagi, jadi kita harus memanfaatkan seluruh waktu yang tersisa.” Tegur Eunra sok dewasa. Mereka semua mengangguk kecuali octa tentunya. Sudah tiga minggu ini mereka berkeliaran di kantor SM dan juga berkeliling di sekitar kota Gangnam. Mereka dikawal oleh salah satu coordi dan manajer EXO yang akan dengan baik hati menjelaskan banyak hal.

Terkadang mereka bertemu member EXO, namun itu selalu di saat mereka akan menghadiri acara radio ataupun dalam perjalanan menuju Rusia-Cina dan kota lain. EXO juga memiliki banyak jadwal fansigning di berbagai kota sehingga dalam sebulan ini mereka hanya bertemu beberapa hari. Apalagi seminggu ini, mereka bahkan belum bertemu sama sekali.

Padahal minggu-minggu awal mereka di sana, EXO memiliki waktu agak banyak.

~Ding.Dong.Ding~

Tiba-tiba terdengar pintu bel depan apartemen berbunyi. Keempat  gadis itu serempak menoleh ke arah jam dinding dan bergidik ngeri karena sekarang masih jam setengah lima pagi. Orang seperti apa yang berkunjung pada jam segini?

***

Sehun mengelus bahunya yang tadi di pukul Octa tepat setelah mereka membuka pintu apartemen. Mengherankan gadis-gadis ini masih terlihat segar pada jam-jam ini dan tidak terlihat lelah sama sekali. Apa yang mereka lakukan? Jangan-jangan mereka sedang  menonton film…

“kami sengaja bergadang tadi.” rini yang mengantar coklat panas ke meja seolah menjawab pikiran aneh Sehun.

Sehun tersenyum malu dan mengangguk paham. “arasseo.” Ia mendapat pandangan heran dari semua orang di ruangan itu.

wae?” tanya Suho menatap wajah rini. Walaupun ia duduk berhadapan dengan Vhie, entah kenapa lehernya tidak mau menghadap lurus.

“karena kami harus menghargai waktu kami selama kami masih berada di sini.” Sahut Eunra dari arah dapur. Sepertinya ia tengah menggoreng sesuatu, tapi kelima member EXO tak yakin apa itu. oya, kelima orang itu adalah Kris, Suho, Sehun, Chanyeol dan juga Lay.

“jadi, kalian baru pulang dari lokasi pengambilan video? Apa kalian tidak lelah?” tanya Octa, matanya menatap sehun yang terlihat mengerikan dengan wajah putih pucatnya dan juga rambut merah menyalanya itu.

“berhenti melihat rambutku.” Gerutu sehun. Octa tertawa geli.

“iya tidak apa, biasanya kalau capek kami akan mandi dengan air hangat saja. Itu bisa menghilangkan lelah.” Jawab Lay manis. Semua mata memandangnya.

“itu hanya berlaku untukmu Lay.” Sanggah Suho dengan wajah datar, semuanya mengiyakan perkataan Suho antusias.

“EH itu berlaku juga padaku kok!” seru Eunra membela Lay yang di sambut lay dengan senyum senangnya.

Kris menaikkan kedua alisnya menatap kedua orang itu.

***

Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi dan mereka semua setuju untuk menyiapkan sarapan bersama. Chanyeol dan Rini lagi-lagi mendapatkan tugas untuk membeli perlengkapan dan bahan memasak di supermarket. Tidak seperti biasanya dua orang itu menyambut tugas mereka dengan semangat.

Sehun dan Octa memilih menuju ruang makan untuk beres-beres dan berbicara tentunya. Mungkin mereka berdua tidak sadar, namun semua orang di ruangan itu tahu ada yang terjadi di antara mereka.

Eunra yang sudah tau tugasnya sebagai koki segera menuju dapur untuk menyiapkan peralatan memasak dan berniat menanak nasi dulu. Lay yang melihat Eunra beranjak ke dapur menawarkan diri untuk membantu masak karena ia lumayan handal. Kris yang memerhatikan mereka berdua terlihat akrab itu buru-buru ikut berdiri dan berjalan di antara mereka berdua, sudah jelas, ia cemburu.

Pada akhirnya, Suho dan Vhie terjebak berdua di ruang tamu tanpa tahu harus melakukan apa.

***

Love side: A

“jadi… seminggu lagi?” tanya Suho setelah mereka berdiam selama sepuluh menit lebih.

Vhie yang menunduk menelusuri ukiran ubin di kakinya mendongak dan hampir menangis karena mendengar suara suho. Ia pikir suho tak akan pernah ingin berbicara lagi padanya.

“iya… seminggu lagi.” jawab vhie. Lalu suasana kembali hening. Terkutuklah pendingin ruangan ini yang menambah rasa dingin di leher Suho. Ia mencari remota AC dan menemukannya sedang bersender manis di samping Vhie, bertambah lagi masalah Suho.

“Vhie-ssi, itu… boleh aku minta remote pendingin ruangan? Rasanya udara menjadi terlalu dingin.”

Vhie segera berdiri hendak menyerahkan remote namun malangnya kakinya tersandung gulungan karpet tebal di bawah meja dan ia jatuh dengan manis di pangkuan Suho. Mereka berdua terpana dengan apa yang terjadi.

Tak ada yang bergerak, bernafas pun sepertinya mereka lupa.

Vhie perlahan mulai menyadari posisinya yang seolah sedang memeluk suho dengan kaki berada di atas paha pria itu. mereka membuka mata dan saling menatap lebih lama lagi.

Aku tidak tahan lagi. batin vhie berteriak. Air mata menuruni pipinya dan ia segera memeluk suho dan sesenggukan dalam pelukan pria itu. ia mengalungkan kedua tangannya dan menenggelamkan wajahnya di bahu pria dengan senyum lembut itu.

Suho merasakan bajunya basah dan memilih tidak perduli dan mengelus rambut vhie yang terasa sangat halus. Aroma manis tubuh wanita ini membangkitkan rasa rindu yang entah muncul dari mana dalam hati suho. Mereka terus berdiam dalam posisi seperti itu seolah sudah bersepakat untuk tidak saling berbicara. Waktu, bisakah kau berhenti untuk kami?

***

Love side: B

Eunra mengambil salah satu apron berwarna biru muda dari gantungan di dinding dapur dan hendak memasangnya. Ketika tangannya meraih tali bagian belakang, ia merasakan sepasang tangan telah memasangkan kedua tali itu dengan pelan dan tenang. Eunra segera merasakan pipinya memerah ketika mengetahui orang itu adalah Lay, ultimate bias-nya di EXO.

“aku biasanya memasang apron seperti ini. apakah sudah pas di punggungmu?” tanya Lay dengan aksen koreanya yang terdengar lucu dan menggemaskan. Ia bertanya seolah itu adalah kegiatan yang SANGAT biasa untuk di lakukan.

“a..a.. iya tentu saja sudah pas. Kau bisa berbicara menggunakan bahasa mandarin kepadaku, aku menguasai bahasa itu.” ujar Eunra menutupi rasa gugupnya yang luar biasa. Rasa gamang mengalir di sekitar punggung hingga pinggangnya, sentuhan itu seolah menempel lekat.

“benarkah? Wah, syukurlah.” Lay menjawab sambil tersenyum dan menunjukkan lesung pipi-nya yang menawan, eunra tidak bisa merasakan di mana lututnya.

“t..tentu saja. Apa kau juga butuh bantuan memasang apronmu?” tunjuk eunra dengan perasaan berdebar hebat ke arah tali apron pinggang Lay yang menjuntai.

“ah iya, tolong.” Lay membalikkan tubuhnya.

“Masa ini saja kau tidak bisa? Sini aku yang memasangkan!”

Tiba-tiba saja kris sudah muncul di antara mereka lagi dan memasang tali apron Lay dengan kasar.

duizhang, bisa tidak kau memasangnya dengan lembut sedikit?” gerutu Lay masih dengan nada terkendali.

Entah dari mana asalnya, muncul perasaan lega di hati eunra ketika melihat tubuh tinggi itu muncul di hadapannya, seolah ia melepaskan suatu beban dan ia bisa tersenyum leluasa. Eunra tertawa melihat perdebatan dua member EXO-M itu di dapurnya.

“sudah kris ge, kau duduk di bar kecil itu saja, jangan mengganggu kami.” Ujar eunra dengan senyum kecil di wajahnya karena tetap saja tubuh pria itu memenuhi dapur apartemen yang berukuran mungil.

“O, kau memanggilku ge sekarang?” kris menoleh dan merasakan sesuatu menggelitik hatinya sehingga ia tanpa bisa ditahan tersenyum lebar.

“iya, kenapa? Kau lebih suka yang mana? Aku panggil oppa atau gege?” tanya eunra tanpa mengalihkan tatapannya dari papan pemotong sayur.

“apapun.” Kris menjawab lembut karena ia merasakan kehangatan menelusuri hatinya.

“Lay ge, coba tolong lihat panci sup kita, sepertinya itu sudah mendidih.” Eunra tidak menggubris ucapan kris dan kembali mencari Lay. Kris merasakan hatinya tersengat dan memilih keluar dari dapur dan memperhatikan Eunra dari bar mini dapur.

“seharusnya chanyeol dan rini sudah pulang sejak tadi, kemana saja sih mereka? Garam sudah habis, wortel dan bawang putih tidak ada, telur habis. Ckck. Apa mereka nyasar lagi?”

***

Love side: C

Chanyeol berdiri lama di depan rak supermarket yang menyediakan berbagai buah segar. Tangannya menyentuh buah-buah itu dan meletakkannya kembali. Begitu seterusnya seolah sedang memikirkan sesuatu, sangat bukan tipikal seorang chanyeol. (maaf/hha)

“kau sedang apa di sini Yeol? Kalau tidak salah tidak ada buah yang harus dibeli di list kita.” Tanya rini mendekat ke arah chanyeol setelah berkeliling di bagian bumbu. Chanyeol tersentak dan hampir menjatuhkan sekeranjang apel dari tempatnya, untung tangan lihai rini mampu menahan pembatas silver rak itu.

“ah iya, aku hanya suka melihat apel. Ya aku suka apel.” Chanyeol menceracau tidak jelas. Rini mengernyitkan dahi curiga namun memilih untuk mengabaikannya saja.

Mereka berdua berjalan beriringan di satu lorong antara rak-rak yang hanya cukup untuk dilewati oleh dua orang, dengan trolli belanjaan di tangan chanyeol. Keheningan melingkupi mereka seolah mereka ada dalam lubuk pikiran masing-masing. Rini menggigiti bibirnya pelan, kebiasaannya ketika berada dalam sebuah proses menduga-duga.

Baiklah, rini capek menabak-nebak. “Chanyeol, apa yang sedang kau pikirkan?”

Chanyeol menoleh dengan mata bulat besarnya menatap rini, menanyakan maksud pertanyaannya dengan sorot mata bingung.

Ya tuhan, kapan aku bisa melihat wajah tampan (tapi konyol) pria ini lagi?

“Maksudku, dari tadi kau tidak banyak bicara kecuali ayo naik mobil, kau mau ice cream, kenapa kasir itu cerewet dan tentang apel-apel tadi. Jadi aku bertanya apa yang sedang kau pikirkan?” jangan memaksakan diri untuk berpikir yeol, tambah rini dalam hati dengan jahil.

“oh,” chanyeol mengerjapkan mata seolah tersadar. “yah… aku hanya berpikir kapan kita bisa bertemu lagi.” sambungnya.

Rini tersedak air liurnya sendiri. Apa mungkin mereka memikirkan hal yang sama dari tadi? tapi yang pasti rini yakin ia tidak sampai salah menyebut  garam sebagai terigu. (percayalah chanyeol bersikukuh kalau garam yang ditangannya dinamakan tepung terigu, yeah, yang benar saja Park chanyeol). < maaf author error.

“kenapa?” tanya rini lagi.

“karena aku ingin bertemu denganmu Rini-ya, setiap hari kalau perlu.”

Rini terbatuk hebat oleh keterus terangan chanyeol. Tangannya yang tadi menyusuri tepian kereta belanja terantuk kaleng cabe instan dan ia menahan jeritan kagetnya sambil mengernyit kecil. Perkataan chanyeol tadi entah bagaimana terdengar sangat manis terdengar.

“eumm..” rini hanya bergumam sebagai tanggapannya.

Chanyeol merengut dan berhenti berjalan di belakang rini. Ia menghentak-hentakkan kakinya seperti anak kecil. Mendengar hentakan kaki itu rini menoleh dan menatap chanyeol heran.

“hanya itu? hanya itu tanggapanmu? Aku bilang aku ingin bertemu denganmu setiap hari dan kau hanya mengatakan hmm hmm??? Aku benar-ben—

“aku juga ingin terus bertemu denganmu. Setiap jam, menit, detik chanyeol-a.”

Giliran chanyeol yang tersedak. Ia membuka dan menutup mulutnya tanpa mengeluarkan suara dan mata tetap menatap rini. Ia bisa merasakan ada kehangatan mengalir di dalam dadanya dan menenangkan gemuruh yang sejak tadi mengganggu. Lalu tanpa sadar chanyeol tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi.

Rini balas tersenyum, rasanya tidak salah juga ia memilih belanja berdua seperti ini.

***

Love side: D

Jendela yang menghadap ruang makan memantulkan cahaya matahari yang mulai meninggi. Meja kayu berpelitur itu memiliki lapisan kaca tebal di atasnya, sungguh indah jika memilih makan di pagi hari seperti ini.

Sehun menatap semua cercahan sinar itu sambil mengelapnya dengan pembersih di tangan. Ia tak banyak bicara saat itu karena rasanya ia sangat lelah. Kepalanya cukup berat untuk dibawa berpikir jadi lebih baik ia diam saja saat ini.

“apa kau selelah itu?”

Sehun menemukan ada tangan yang juga sedang menggerakkan pembersih meja di depan tangannya hingga tangan mereka bersentuhan, dan orang itu tentu saja Octa, siapa lagi.

“tidak juga.”

“tapi kau diam saja dari tadi.”

Sehun menghela nafas dan melipat tangannya di depan dada dengan alis terangkat.

“sejak kapan kau melihatku sebagai orang yang banyak bicara?”

Octa membuat gestur Oops dan menunjukkan cengiran khasnya. Sehun otomatis mengangkat kedua sudut bibirnya dan menggeleng-gelengkan kepala. Ia kembali menunduk dan mencoba fokus terhadap meja dihadapannya namun sedetik kemudian ia membeku ketika merasakan kedua tangan octa  menangkup kedua pipinya dengan lembut.

“haah.. mukamu pucat sekali. Sudah biar aku saja yang membereskan ruang makan ini. kamu tidur di sofa itu saja.” Ujar octa sambil menunjuk sofa cokelat susu di samping pintu ruang makan. Sehun yang tidak tahu harus berbuat apa saking terpananya hanya mengangguk dan beranjak menuju sofa itu. ia menjilat bibir tipisnya lagi dengan gugup.

“O, oh, apa kamu sudah mendapat album terbaru kami octa-ya?” tanya sehun mencoba mencari topik baru dengan tergesa. Kini tubuhnya sudah terbaring patuh di atas sofa dengan satu tangan menopang leher.

“Tentu saja belum, bukankah albummu rilis dua hari lagi?” tanya octa balik tanpa menoleh ke arah sehun. Tangannya masih sibuk menyusun beberapa serbet untuk sarapan mereka pagi ini.

“Ah iya, benar juga.” Sehun kembali menggigit bibirnya dan memejamkan mata erat-erat karena malu. Untung saja octa tidak melihat.

“kenapa sehun-a? Kau mau memberiku albumnya? Dengan tanda tanganmu ya?” octa menoleh cepat ke arah sehun dan menunjukkan senyum antusiasnya.

Sehun balas tersenyum. “iya iya, aku pasti berikan.”

Sehun menerawang sesaat setelah ia menoleh melihat octa untuk kesekian kalinya. Rambut gadis itu yang dikuncir kuda bergoyang ke sana kemari mengikuti rima gerakan sibuknya yang sedang membersihkan kaca.

Tunggu, apa?

“octa-ya! Untuk apa kau membersihkan kaca?? Ah tidak bisa, aku harus ikut bekerja sebelum kau mencuci semua tirai di ruangan ini!”

***

“Waaaaahhh!! Apa kita ada pesta kejutan? Kenapa kau membuat ayam turki ini Eunra-ssi? Wah kelihatannya enak.” Seru chanyeol ketika ia baru sampai ke meja makan. seluruh manusia yang ada di ruangan itu juga sudah duduk manis tepat ketika Kris mengatakan sarapan sudah siap.

ani, Lay ge banyak membantu dari tadi.” eunra tersenyum lebar mengatakannya.

“tidaak, ini semua pekerjaan Eunra. Aku hanya menolong sedikit-sedikit tadi.” Sanggah lay mengibaskan tangannya dengan senyum manis tersungging di bibirnya.

“Ah gege jangan malu-malu seperti itu, semua hidangan ini buatan Lay ge, percayalah.”

Kris berdehem tak suka. “kalian kenapa sih? Masakan siapapun asal enak akan kumakan.”

Semua mata seketika menatap kris.

wae? Ayo makan.” kris berkata cuek sambil meraih sendok nasi dan menyiduknya kasar.

Semua itu tak luput dari mata eunra. Ada apa dengan pria berambut kuning ini ya tuhan?

Acara makan-makan berlangsung seru karena mereka tak pernah kehabisan topik bicara, ada saja yang dibahas. Bagaimana suho menginjak kaki sehun saat pengambilan video, kris yang salah gerakan, rambut ungu Luhan (yang sekarang pasti tengah tidur di dorm), topi kai yang jatuh dalam MV dan lain sebagainya. Tak lupa juga mereka membahas keseharian EXO-G yang setiap harinya hanya melakukan perjalanan di sekeliling kota dan kejadian-kejadian seru di apartemen.

Semua mereka bicarakan, kecuali kepulangan EXO-G seminggu lagi.

***

Love side: B (encore)

Suasana bandara Incheon pagi itu terlihat lebih sibuk dari biasanya. Lalu lalang orang-orang terlihat sangat cepat dan agak mengerikan. Untung saja bandara itu sangat luas dengan beberapa lantai, kalau tidak mungkin akan banyak korban jiwa (?)

EXO-G sudah berderet dengan koper mereka menunggu di dalam lounge menunggu jadwal check-in. Ini adalah hari terakhir mereka di korea dan sepertinya mereka akan pergi sendiri tanpa ada seorang member EXO pun yang mengantar. Agak menyedihkan memang, tapi bagaimana lagi, hari ini adalah hari pertama live performance mereka di inkigayo, mau dipaksapun percuma.

Eunra menyeruput espresso dinginnya perlahan menghayati rasa pahit manis yang menyatu dimulutnya. Tapi sejujurnya pikirannya tidak ada di situ saat ini. ia mengingat pembicaraannya kemarin dengan kris di telepon.

“Yeobosseyo?” eunra bertanya ragu pada nomor tak dikenal yang masuk ke telepon genggamnya malam itu. terdengar suara berdehem kecil di seberang sana.

“Eunra-ssi?”

“ne, ini siapa?” tanya eunra lagi. namun sudut hatinya seolah mengetahui pemilik suara berat dan dalam itu.

“ini… Kris.”

“oh, hai. Ini nomormu?”

“hhaha, tidak mungkin, bunuh diri itu namanya. Ini nomor telepon manager hyung.”

“ah arasseo. Ada apa?

“kau sedang apa?”

“eumm, karena besok aku mau pulang yah… aku sedang packing. Wae? Kau sedang apa?” eunra merasakan hatinya berdentum cepat oleh percakapan mereka. Percakapan ini… terdengar sangat akrab.

“Oh, iya kau mau pulang. Tentu saja..aku masih latihan untuk performance besok.”

Lalu keheningan menyelimuti mereka. Eunra yang tadinya menjepit telepon di antara bahu dan kepalanya sambil melipat baju memilih untuk meraih telepon itu dan berjalan ke jendela apartemen, menikmati keheningan yang terjadi.

“eunra-ssi, aku mau bertanya sesuatu.”

“hmm?”

“apa kau menyukai Lay?”

Kedua alis mata eunra terangkat.

“tidak. Maksudku, iya dia adalah orang yang kukagumi, tapi ternyata jika ia mengajakku menikah, aku akan mengatakan tidak.” Eunra tergelak kecil sambil mengatakannya.

“jika seandainya aku yang mengajakmu menikah?

“… ha?” tawa eunra terputus tiba-tiba.

“uhuk, maksudku… mungkin ini tak layak untuk dikatakan ditelpon, tapi aku benar-benar tidak bisa ke tempatmu sekarang. Manajer hyung pasti akan membunuhku, sebelum Suho hyung pastinya..”

Eunra menunggu dengan dada berdebar.

“jadi, aku menyukaimu Eunra-ssi. Aku tak yakin alasannya kenapa tapi… aku benar-benar terus memikirkanmu hingga konsentrasiku menghilang dan, dan ketika kau pernah mengatakan bahwa kau juga mengagumi Lay, aku selalu tak tenang jika kau berbicara padanya. Aku sudah mencari segala alasan yang tepat atas semua itu, tapi itu malah membuatku frustasi. Aku orang yang dingin terhadap orang baru tapi, tapi kau berhasil masuk dengan sewajarnya. Seolah dengan dirimu di depanku segalanya normal.”

Terdengar helaan nafas di seberang telpon, sepertinya kris benar-benar berbicara dalam satu helaan nafas.

“eunra-ssi?”

“ya..?”

“kenapa… kau tidak berbicara? Apa aku terlalu lancang?”

“tidak, bukan begitu. Baiklah, kau terlalu berbelit kris-ssi.”

“eh?”

“akan kubuat simpel. Aku juga menyukaimu.”

“eunra-ssi, tunggu, aku harus menenangkan diri dulu. Dua jam lagi aku akan menelponmu. Jaljaa~”

Tuut..tuuut…

Eunra merasakan pipinya merona. Ini mungkin tidak mudah, tapi ia yakin kris adalah pria yang bisa di percaya. Walaupun mereka akan jarang bertemu, selagi kris dan dirinya mempercayai segalanya, mereka akan tetap bersama.

 

Love side:  D (encore)

“Ya!! Kenapa kalian tidak menunggu kami?”

Semua mata menoleh ke arah asal suara dan terkejut menemukan EXO di sana, tepatnya hanya kris, suho, sehun dan chanyeol. Mereka berjalan dengan terengah-engah seolah habis berlari beberapa kilo. Mata mereka di tutupi sunglasses hitam berbeda model dan juga hoodie penutup kepala. Octa yang duduk paling dekat dengan pintu lounge yang sepi segera berdiri. Dagunya seolah akan jatuh ke lantai saking tak percayanya.

ya pabo, tutup itu mulutmu. Dasar.” Sehun tertawa heboh menatap octa. Ia dengan polosnya menunjukkan senyum tampannya yang sangat membius.

“kau,.. konser,.. bandara,.. kenapa?” octa menceracau dengan tidak jelas sambil telunjuknya bergerak kesana-kemari. Ia sudah pasti sedang di atas puncak rasa takjubnya.

“Hahaha , tadi itu hanya pre-recording, jadi kami masih sempat kemari. Jam berapa jadwal check in-nya?” tanya sehun mendekat dan duduk di depan octa. di sisi lain meja tampak kris, suho dan chanyeo sudah duduk berhadapan dengan eunra, vhie dan rini.

“masih satu jam lagi.” octa masih menjawab secara otomatis namun matanya belum berkedip.

Sehun merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah Album kearah octa. album itu bersampul hitam dengan tulisan GROWL tercetak tebal-tebal di atasnya, terlihat berat dan mewah.

“ini janjiku.”

“janji? Apa?” mata octa membulat.

“album kami. Dan aku juga sudah menanda-tanganinya.”

“tanda tangan member lain?”

andwae, tidak boleh!”

“yah.. waeeee?” octa mulai memasang aegyo gagalnya.

“karena kau hanya boleh mengingatku saja.”

Octa terbatuk hebat mendengar ucapan sehun. Ia tak salah dengarkan? Apa maksudnya?

“octa-ya, aku serius. Jika kita bertemu lagi aku akan memeriksa folder laptopmu. Jika terdapat Fancam ataupun foto hyung aku akan membakar laptopmu.”

Apa? Apa tadi? jadi ia ingin bertemu denganku lagi? apa? Apaaaa? Untuk pertama kalinya octa tidak bisa mengeluarkan kata-kata dengan mulutnya.

“dan ini juga, karena aku akan di bunuh hyung-hyung ku jika menciummu,” sehun meraih album itu lagi dan mencium sampul depannya. “jangan hilangkan album ini kalau kau tak mau ku kejar ke rumahmu. Tapi kalau kau mau aku ke rumahmu aku akan datang sih.”

“Sehun-a, saranghae.”

Sehun mengerjapkan mata dan kemudian tersenyum.

arayo, aku juga, menyukaimu. Melebihi bubble tea.” Mereka berdua tertawa bersama.

Kapan kami akan bertemu lagi? entahlah, tapi kami berdua akan berusaha…

Love side:  C (encore)

Rini memperhatikan chanyeol yang sedang dengan cerianya meminum choco-brown latte milik rini. Tadi ketika muncul ia segera merampas minuman yang ada di tangan rini dan meminumnya dengan wajah kehausan.

“haaa~ segarnya. Gomawo rini.” Senyum kembali menghiasi wajah chanyeol.

hmm, chonma. Benar tidak apa kau ada di sini?” rini kembali bertanya untuk kesekian kalinya kepada chanyeol. Ia khawatir jika seandainya ini akan memengaruhi image EXO.

“tidak apa-apa. Tenang saja. Manajer hyung kami sangat baik kok.”

Rini mengangguk saja dan kembali diam menatap wajah chanyeol. Kenapa anak ini tidak terlihat sedih sama sekali? Apa ia tidak tahu jika sekarang rini merasa ingin menangis?

“kenapa kau cemberut begitu?” chanyeol akhirnya menyadari perubahan wajah rini.

“apa kau tidak sedih chanyeol?” rini balik bertanya dengan mata disipitkan. Di mana pria yang seminggu yang lalu mengatakan bahwa ia ingin bertemu dengannya setiap hari? Ck.

“untuk apa?”

Rini kehabisan kata-kata dan memilih untuk berkutat dengan ipad-nya saja. Mungkin nanti di pesawat ia aka menangis, mungkin.

Lalu ia merasakan chanyeol berpindah duduk di sampingnya dan meraih wajahnya. Demi seluruh kupu-kupu yang berkeliaran diperutnya, rini yakin jika tangan chanyeol tak berpindah sekarang juga maka rini akan segera pingsan. Aroma tubuh pria ini sangat manis seperti wangi sabun cukur wajah ayahnya yang beraroma apel.

“untuk apa bersedih rini-ya, aku akan segera mengunjungi rumahmu sebentar lagi.”

“eeeeh? Maksudnya?”

“iya, beberapa hari lagi aku akan menuju rumahmu, jangan lupa menjemputku di bandara ya?”

“kau… tidak sedang bercanda kan?” rini meneliti sorot mata polos chanyeol dan menolak untuk berkedip.

“aku tidak akan berbohong untuk orang yang sangat aku sayangi rini. Tidak akan.”

Setelah berkata begitu chanyeol meraih tubuh rini dan merengkuhnya dalam pelukan. Rini awalnya membeku, namun perlahan membalas pelukan itu. ia merasakan segalanya sempurna, lengkap. Air mata tak akan bisa mendefinisikan betapa bahagianya mereka.

saranghae, gadis galak.” Chanyeol mencium puncak kepala rini dan kembali memeluknya.

Love side:  A (encore)

Pengumuman open check-in untuk penerbangan Seoul-Jakarta sudah diumumkan untuk kedua kalinya. Suho menatap vhie yang masih menunduk. Ini lah yang ditakutkan suho semenjak kemarin.

Vhie mencoba tersenyum dan mengangkat wajahnya.

“ah, sepertinya kami harus segera masuk Suho-ssi. Sampai jumpa.”

Vhie hendak mengambil kopernya namun suho dengan sigap menangkap tangan itu.

I’m gonna miss you.”

Vhie membeku dan menatap suho lebih lama. Apakah boleh sekarang? Apa ia boleh megatakannya?

“aku juga, akan merindukanmu.” Vhie dengan susah payah mengucapkannya. Wajah gadis itu memerah dan mengutuki dirinya dalam hati.

Suho tersenyum lega. Tak ada yang lebih membahagiakan ketika gadis yang kita sukai sudah mulai jujur. Ia berdiri dan mendekat ke arah vhie dan menggenggam tangannya.

gomawo.”

Setelah membisikkan kata itu ia segera memeluk vhie dan membiarkan mereka berdua terlena dalam posisi itu selama beberapa saat sampai pemanggilan ketiga terdengar.

kaja.” Ia melepas pelukan dan mengambil semua barang bawaan vhie dalam genggamannya.

Vhie menatap punggung suho dan berjalan di belakangnya. Bisakah ia menahan air matanya paling tidak hingga ruang tunggu nanti? Bisakah?

Suho menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Tanpa berkata apa-apa ia meraih tangan mungil vhie dan menggenggamnya erat.

“jangan berjalan di belakangku, berjalanlah bersamaku, di sampingku.”

Ya, aku akan selalu berjalan bersamamu, di sampingmu…

~*The end*~

Note: uwyeeeeeeeeee >< satu hutangku sudah selesaaiii *joget poco poco/abaikan*

Itu ada yang nanya kenapa konflik eunra dan lay waktu di chapter satu gak pernah keluar, nih udah keluar ^^ kk~ puaskan? ^^

Hhahaha, otte?? Bahagia? Memuaskan? Kurang memuaskan? Silahkan memberi komentar di kolom di bawah ini *nyengir*

Wah, mungkin ini cerita terlihat tidak masuk akal, tapi ada tidak FF yang masuk akal? (author memikirkan ini berjam-jam) hhahaha

Okay, ga nyangka sebenarnya ini FF akan sampai 7 chapter seperti ini -__- but i’m happy :))

Terima kasih untuk semua reader yang sudah rela meluangkan waktunya dan membaca sekaligus memberi komentar, kalian adalah yang terbaik (cium satu-satu/plak) 😀

Semoga bertemu di karya selanjutnya~ byeeee :*

28 tanggapan untuk “Love Off Stage (Chapter 7)”

  1. Kereeen…!!
    Aq bru baca..suka..suka..^^
    Ada sequel-a gak thor..??
    Tp..abang Umin kok gak ada..?? 😦
    Tp..tetep keren thor..
    Daebaklah pokok-a..hehe
    Tetap berkarya thor..fighting..!!

  2. Huaaaa eonniiii and this ff finally!!
    Sumpah kalo aku punya sayap aku bakal terbang ke langit ke 7 😀 ini ff sweet bgt dah eon. Pas bagian suho oppa sama vhie eonni itu jadi pengen nangis juga. Trus pengen bgt liat kris gege dgn wajah cemburunya 😀 Kalo Rini eonni sama Chanyeol oppa jadi kek Eunra eonni sama Kris gege chap sblmnya, belanja ala suami istri kkk~
    OH THEHUN berhasil bikin hati berbunga-bunga apalagi pas encore!^^ gaboleh itu cium2, masi kecil kkk~
    eonniii thanks bgt udh buat ff ini. Ditunggu ff eon yg lain ^^

    1. hhahaha 🙂 iya gomawoo juga udah mau baca FF ini dari beberapa bulan yg lalu 🙂 ga nyangka juga ya udah berakhir, kk~
      sekali lagi makasiiiih 😀

    1. demi apa kamu ga nge-bias kris?? kk~ baguslah, soalnya dia bias author 🙂
      makasiihh 😀 jadi bahagia (?) nih hhehe

  3. Thooorrrr -,- ko gue ngrasa lay nyamuk bgt ya d chap ini, kasian hha rasanya pas nemu dia ganggu kris-eunra gue lngsung pngen ngilang trus tba2 muncul d stu deh lol /lupakan/ tp kseluruhan kereeeennn >< terharu~~ ciye utangnya lunas, tp gue ttep akan tagih chakan namjanya loh ^^ saranghae authornya~~ :* /langsung karungin gege biar g jadi nyamuk/ :p

    1. hhahaa, abisnya ada yg nagih biar dia d keluarin lg d chapter ini sih 😥 ga tega juga. tp kan dia orangnya cool tuh :3 jd oke2 ajalaaah ^^
      XD mwo? masuk aja deh k dalam ngambil dia, ga di larang :3 kk~
      iyaa, chakkan namja bentar lagii~ *janji mulu dah, hha*
      gomawooo :*
      nado saranghaeee 🙂

  4. aaa, last chapter, finally..
    hikss~ aku berasa kayak mau nangis juga T.T
    ngebayangin kalo misalnya beneran kyk gni ceritanya . huaaaa, aku bakal kangen wajah tampan (dan konyol) Chanyeol ayeeaah . bener bnget itu –a
    aku envy bgian bagian Vhie- Suho yg mereka pelukan sambil vhie nangis itu. kyaa kyaaa
    trus yg Lay-eunra-Kris hahahaha gak kebayang wajah jeles nya Kris kayak gmana XD
    yg Sehun octa juga keren, seharusnya Sehun selipin surat cinta tuh d albumnya wkwkwk
    okedeeh, aku puas bnget sma endingnya.. so sweet~
    gomawo auhtor ~ akhirnya LOS lunas. 😀

    1. iya 😥 hhahaha ga kepikiran ya, seharusnya sih gitu. tp ntar kepanjangan lagi nunggu octanya buka surat cinta lah, ga jadi tamat deh.
      ntar dua-duanya author dan reader pada stress deh, kkk~
      ne sama-samaa, gomawo juga udah baca 🙂
      kk~ yeaaah lunas! >w<

  5. pagi-pagi aku bisa diabetes deh eonni gara-gara ini!!! ><
    sweetnya kebanyakan sampe ga bisa nafas *hhaha lebay*
    itu chanyeol, kenapa dia cute banget sih eon??
    huaaaaaaa, AKU JUGA MAU KETEMU TIAP HARI SAMA KAMU CHANYEOL!!
    bagus eon, banget malah. endingnya pas dan keren 🙂
    terus nulis ya eonni~

    1. halaaah jangaaannn, ntar penyakitan(?) loh, hhaha
      kk~ makasih uda baca dan komen yaaa 🙂
      siiip gomawoooo 😀

  6. “eunra-ssi, tunggu, aku harus menenangkan diri dulu. Dua jam lagi aku akan menelponmu. Jaljaa~”
    <<<< AKU NGAKAK GULING-GULING HHAHAHAHAAHAHHAHAHAHAA 😀
    apa maksudnya kris? apaa? hhahahahaaha
    dia menenangkan diri bagaimana thor? guling2 *mendadak kepo*
    baiklah baiklah, sumpah ini endingnya daebak,
    i'm gonna miss you thor (niru suho ceritanya)
    DAE TO THE BAK!!!

    1. hhhahahaha XD iya ya ga ngebayangin gimana >w<
      i'm gonna miss u too my lovely reader :3
      makasiiih gomawo thankyou xie xie ~~ 🙂

  7. Yah… serial keren ini selesai deh T.T
    aku senang sekaligus sedih eonni 😦
    tapi chapter endingnya kereeen bgt!! aku sampai terrharuu,
    feel-nya itu loh eonni!!!
    yang bagian kris sama eunra sumpah bikin blushing (kyaaa)
    karya2 yg lain d tunggu ya eon 🙂

    1. hiks hiksss :;( iya yaaa ^^
      uwaa makasiiih >w< itu nulisnya juga dengan berat hati ?*loh? hhaha
      kok kamu blushing? cieeh *kedip2* hha
      siiip gomawoooo 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s