Triangle Twin Chapter 3

Triangle Twin (1)

| Title:  Triangle Twin |

|Length: Multi Chapter |

|Chapter: 3 |

|Rate: PG 15 |

| Author: Park Soera (@kurniya12) |

|Genre: Family, Friendship, School Life, Romance|

| Main Cast: Kim Jongin (Kai), Oh Hara (You), & Kim Taemin |

| Support Cast: Kim Haemi (OC), EXO (K), & Park Eunri (OC) |

 

“Sekarang kau resmi menjadi yeojachinguku. Kita memiliki perasaan yang sama” Ucap namja itu dengan tidak memperdulikan perkataan Hara.

 

Kai merasa kejadian didepan matanya itu sangat mengganggunya, kemudian ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.

“Kau membuatku muak Taemin-ah” Umpat Kai saat melalui namja itu dan ternyata namja itu bernama Taemin.

Taemin tidak mengerti dengan sikap Kai yang ia sebut sebagai Kkamjong itu. Taemin hanya menatap lekat punggung Kai atau Kkamjong yang semakin menjauh dari pandangannya.

Hara semakin tidak mengerti dengan situasi ini. Dan mengapa namja yang bernama Taemin itu terlihat mirip dengan Kai. Tanpa Hara sadari Eunri dan Baekhyun ternyata melihat kejadian tersebut dari awal. Mereka terlihat menyesal atas apa yang mereka perbuat terhadap Hara.

****

Ketika kamu akan tau apa itu cinta

Dia akan membuat pendengaranmu menjadi tuli

dan penglihatanmu menjadi buta

Hanya hatimu yang dapat mendengar dan melihatnya

 

Ketika tanganmu menyentuhnya

Belum tentu kamu dapat menyentuh hatinya

Ketika telingamu mampu mendengar suaranya

Belum tentu kamu dapat mendengar suara hatinya

Itulah cinta, kadang selalu bertentangan dengan apa yang dilihat dan dirasa

@Kai’s Home

 

Terdengar alunan musik dengan tempo cepat dan tegas disebuah sudut ruangan lantai 2 kediaman Tuan Kim. Suara hentakan kaki sedang beradu dengan lantai, mengiringi alunan musik yang berjalan selaras. Dipadu dengan liukan tangan dan badan yang sedang menyapu udara. Tampak lekukan tubuh Kai menari dengan penuh perasaan. Baginya menari adalah cara untuk mengekspresikan suasana hatinya. Ia berbicara melalui bahasa tubuhnya, menyampaikan pesan nurani yang mengikuti alunan lagu. Kai sangat menyukai tarian modern.

Tiba-tiba gerakan tubuh Kai terhenti saat musik yang mengalun juga berhenti.

“Jongin-ah, beristirahatlah. Ini sudah larut malam. Jangan terlalu berlatih keras, jaga kesehatanmu!”

Seru Tuan Kim yang selalu memanggil anaknya Jongin.

“Ah ne appa.”

“Kau tidak biasanya berlatih selarut malam ini. Apa pikiranmu sedang terganggu Jongin-ah? Ceritakan saja pada Appa.” Ucap Tuan Kim sambil berjalan mendekati Kai.

“Ah Ani. Eung… Appa, aku boleh bertanya sesuatu?”

“Tanyakan saja, kau tidak perlu meminta ijin seperti itu.”

“Taemin, ia juga sekampus denganku Appa. Ia satu jurusan denganku. Appa, mengapa mereka kembali ke Seoul lagi? Aku bahkan tidak menginginkan kehadiran mereka lagi.”

Sembari membenarkan tempat duduk, Tuan Kim berkata. “Jadi yang selalu mengganggu pikiranmu akhir-akhir ini adalah Taemin. Mungkin Eomma-mu ada urusan pekerjaan di Seoul, jadi mereka kembali kesini. Jongin-ah, biar bagaimanapun dia hyung-mu. Kau harus menganggap Taemin sebagai hyung-mu, ne?.”

“Andwe Appa, sampai kapanpun aku tidak akan menganggap dia hyung-ku. Ah satu lagi, aku sudah menghapus mereka dari masa laluku!” Seru Kai, kemudian berjalan meninggalkan Appanya.

Ingin sekali Kai meluapkan emosinya. Muak, kesal, marah, dan kecewa, semuanya beradu dalam pikirannya. Ia benci dengan dirinya sendiri dan ia benci dengan situasi yang membuatnya lemah. Sungguh kondisi keluarganya yang seperti ini membuatnya sangat lemah. Yaa, ia sangat ingin memberontak namun Kai sadar ia harus menahannya dan itu membuat Kai menjadi seorang pria yang dingin dan keras kepala.

****

@Seoul National University of Art

“Kyaaaa Park Eunri…. Jangan berlari dariku juga.Otthoke, berita mengenai Oh Hara dan Taemin sudah menyebar.” Langkah Eunri terhenti saat Baekhyun meneriakinya.

“Yaa kau hobi sekali meneriakiku.”

“Kalau aku tidak berteriak seperti ini, kau pasti sudah berlari. Palli jelaskan padaku, bagaimana bisa kertas itu ada di loker Taemin? Eoh? Ahhh.. biar ku tebak kau pasti salah menaruhnya dan apa kau melupakan nomor lokernya Kai? Sudah ku bilang, ingat nomornya 21. Berulang kali aku mengingatkan mu. Aissh, Hara tidak akan terjebak dan menjadi yeojachingu-nya Taemin jika kau tidak salah mengingat” Cibir Baekhyun panjang lebar yang semakin menaikkan nada bicaranya sampai oktaf paling tinggi.

“Sudah kubilang, jangan meneriakiku!Aiish kau sangat cerewet sekali. Kau benar-benar menyudutkanku.” Seru Eunri dengan kesal menutup mulut Baekhyun menggunakan kedua tangannya.

“Hmmm..hmmmm. Yaa lepaskaan tanganmu dari mulutku.” Protes Baekhyun dengan nada bicara kurang jelas, karna kedua tangan Eunri masih tetap menutup mulut Baekhyun dengan paksa.

“Baiklah, asal kau tidak berteriak lagi.” Kemudian selang beberapa detik, Eunri menyerah. Melepaskan tangannya dari mulut Baekhyun.

Palli, jelaskan padaku. Kau menghancurkan rencanaku Park Eunri. Kertas itu seharusnya berada ditangan Kai.”

“Ahh it..ituuuu molla. Sesuai perintahmu, aku meletakannya di loker Kai. Ah aku tau, apa mungkin ada makhluk lain yang memindahkan kertasnya. Apa kau pernah dengar Baekhyun-ah, ada makhluk lain selain manusia. Mwo, jangan-jangan kertas itu berpindah dengan sendirinya. Itu sangat menyeramkan Baekhyun-ah.”

Pabo, makhluk lain. Kyaaa kau pikir aku mempercayaimu, eoh? Penjelasanmu sangat tidak masuk akal.”

“Yaa tebakanku benar, sudah ku duka kalian lah penyebabnya.”

“Oh Hara, sejak kapan kau berada disini. Hara-ah, dengarkan aku. Aku tidak bermaksud untuk… percayalah aku bermaksud baik. Ini semua diluar dari rencanaku.” Ujar Baekhun berusaha menjelaskannya.

“Hara-ah, kau harus mendengar penjelasan dari kami.”

Hara tidak peduli dengan apa yang diucapkan Eunri. Ia pergi berlalu begitu saja tanpa menghiraukan perkataan dari kedua sahabatnya.

Oh Hara POV

 

Aku tidak memperdulikan penjelasan dari mereka. Semua terjadi begitu cepat. Apa yang harus kulakukan, bagaimana bisa aku menjalani hubungan dengan Taemin. Bahkan aku tidak mengenal siapa dia. Aku tidak bisa berfikir jernih, apa yang harus ku lakukan. Sedetikpun aku tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskannya kepada Taemin.

Aku berjalan menuju taman belakang, berusaha menjernihkan pikiranku. Ku pikir dengan melukis, mungkin akan lebih sedikit tenang pikiranku. Kemudian kuputuskan untuk duduk di sebuah kursi taman. Begitu damai tempat ini, namun tidak dengan hatiku. Ku ambil kuasku untuk mulai melukis sesuatu yang ada dipikiranku. Apa yang terjadi padaku, mengapa pikiranku selalu dipenuhi tentang Kai(?). Perlahan aku melukis wajah seseorang, aku begitu lihai melukis wajah itu. Setiap manik wajahnya, dengan detail kulukis sama persis seperti  wajah aslinya. Betapa tidak, entah sudah lukisan yang keberapa aku selalu melukis wajah Kai. Sesekali senyumku mengembang kecil, kupikir aku begitu tersihir dengan kekuatan magic-mu.

Derap langkah kaki perlahan namun pasti terdengar begitu semakin dekat ditelingaku. Ku alihkan pandanganku sejenak. Aku sontak menyelesaikan lukisanku dan memilih untuk segera pergi begitu melihat pemilik langkah kaki itu.

“Apa tidak ada hal lain lagi yang kau lakukan selain menghindariku?” Aku menoleh, kearah belakangku. Memastikan tidak ada orang lain selain aku.

“A..apa kau berbicara denganku?”

“Gadis ceroboh, kau pikir aku sedang berbica dengan siapa?”

Ya tuhan, Kai berbicara padaku. Ya, yang kau lakukan hanyalah menjawabnya Oh Hara. Tapi bagaimana ini, hanya untuk mengeluarkan suara saja aku tidak mampu. Suaraku tertahan, tubuhku membeku. Seketika seolah-olah mematikan seluruh sistem saraf pusatku.

Errr ne, mi…mianhae.”

Tatapannya mendelisik, seperti berbicara apa yang sedang kulakukan. Tiba-tiba aku tersadar dan menyembunyikan lukisanku. Jangan sampai Kai mengetahui lukisan ini.

Omo, lagi-lagi aku sangat terkejut. Apa ini benar(?) ku harap aku tidak bermimpi. Ia kini duduk tepat disampingku. Seluruh ujung akralku mendingin dan tremor.

Ku pikir dengan pergi kesini aku akan menjadi lebih tenang dari pada sebelumnya, tapi apa yang kudapat. Kai, kau justru semakin membuyarkan ketenanganku dan benar-benar rabunkan mata hatiku. Bisa kupastikan tak ada seorangpun yang bisa menyuruhku mendongak untuk menatap Kai.

“Aku tidak menyuruhmu menggeser!”

Aku terdiam, tidak ada yang bisa kulakukan selain hanya tetap pada posisiku semula. Kehadirannya disampingku benar-benar menguasai seluruh oksigen yang berada disekitarku. Hingga membuatku kehabisan oksigen dan kesulitan bernapas.

Aku teringat, bukankah biasanya ini adalah jam dimana jurusan seni tari sedang ada kelas(?) Tapi mengapa Kai berada disini (?) Aku mengetahuinya karna memang  aku selalu memperhatikan Kai. Setiap kelasku sedang beristirahat, biasanya seni tari sedang ada kelas. Itulah yang menyebabkan aku hampir tidak pernah bertemu dengan Kai.

”A..aapa kau tidak mengikuti kelasmu?”

“Apa urusanmu. Diamlah!”

Deggg. Kau membentakku. Mengapa kau menjadi laki-laki seperti Kai (?)

****

“Taemin-ah, apa kau sering berlatih menari? Kau tau, tarian modern-mu sangat keren. Sekeren tariannya Kai.” Tanya Sehun di sela-sela kelas latihan menari.

“Ahh, kau hanya berlebihan Sehun-ah. Ku pikir tarian Kai lebih bagus.”

“Taemin-ahsebenarnya ada yang ingin ku tanyakan padamu sejak awal. Tapi aku selalu mengurungkan niatku.”

Waeyo?Tanyakan saja Sehun-ah.”

“Sebenarnya aku tidak enak menanyakan ini. Hmmm kau begitu mirip dengan Kai. Kalian seperti… ah ani maksudku, kalian meski agak terlihat beda tapi benar-benar mirip. Aish bagaimana aku menanyakannya ya? Benar-benar mirip, kamu tau maksudku kan?” Ucap sehun dengan menekankan kata benar-benar mirip.

“Kau sudah berteman dengan Kai sejak kapan?”

Aigoo bukannya menjawab pertanyaanku, kau malah justru bertanya balik. Kau meragukan persahabatanku dengan Kai? Aku, Kai, dan juga Chanyeol, kami bertiga bersahabat sejak masuk SMA.”

“Kalau begitu apa Kai tidak pernah mengatakannya padamu? Tanyakan pada Kai saja.”

“Apa mak…”

“Yaaa saya  tidak suka ada anak yang mengobrol saat jam kelas latihan.” Bentak songsaenim.

“Kami tidak mengobrol, hanya saling berbisik saja.” Gerutu Sehun pelan agar tidak terdengar oleh songsaenim-nya.

“Baiklah, untuk kelas hari ini saya rasa cukup.” Kata songsaenim yang kemudian meninggalkan kelas.

“Berbisik katamu? nada bicaramu bahkan terbilang tinggi Sehun-ah.” Kekeh Taemin pelan.

“Ya ya baiklah. Ah aku masih belum mengerti perkataanmu tadi.”

“Hey apa yang kalian bicarakan sejak tadi? aku lapar, kalian tidak berniat pergi makan?”

“Aiissh Chanyeol-ah, aku sedang berbicara serius dengan Taemin. Kau benar-benar pengganggu.”

Pletakk

Appo,kau hobi sekali memukulku. Jinja kau tidak mau makan? Ayolah Sehun-ah, kau bisa berbicara dengan Taemin lain kali. Benarkan Taemin-ah?”

Taemin hanya menjawab dengan senyum dan anggukan.

“Kau kenapa selalu tersenyum ramah Taemin-ah. Chanyeol sedang mengganggu kita, kau seharusnya kesal.”

“Bukan kita, lebih tepatnya mengganggumu Sehun-ah.” Kekeh taemin.

“Haahaahaaaa.. Kau dengar Sehun-ah? Apa yang dikatakan Taemin benar. Ahh ngomong-ngomong sejak tadi aku tidak melihat Kai latihan. Apa dia tidak ikut kelas lagi?”

Aiissh molla,molla, molla. Tanyakan saja pada Taemin, siapa tau dia mengetahuinya.” Ucap Sehun kesal lalu meninggalkan mereka berdua.

“Ada apa dengan Sehun? Mengapa ia bertingkah seperti itu? Kau tau Taemin-ah?”

Molla.Sudahlah, bukannya kau lapar? Mau ku temani makan?”

“Hanya menemani makan saja? Bagaimana kalau kau membayariku sekalian?hhehee.”

“Kau ini, baiklah. Aku sedang berbaik hati sekarang.”

“Ahh, aku tau. Jadi berita mengenaimu itu benar? Oh Hara mengirimi surat kedalam lokermu, lalu kau menerimanya menjadi yeojachingu-mu? Pantas saja kau berbuat baik padaku. Sekedar informasi, meski aku tidak mengenal Oh Hara baik tapi ia teman SMA ku.”

“Kau ini mau makan apa tidak? Aku tidak menyuruhmu untuk mendongeng. Atau aku akan berubah pikiran.”

“Ahh kajja palli Taemin-ah, kita makan.”

****

Awan yang bergemelut cerah, kini seakan menyembunyikan sinarnya. Perlahan kemudian bersembunyi  dan membentuk suatu kegelapan. Seakan mempunyai tujuan yang sama, satu persatu merekapun dengan serentak turun berjatuhan dan membasahi bumi. Tetesan air itu tampak menghujam begitu deras. Langit menumpahkan seisinya ke dalam bumi.

“Hujan. Ottokheyo, pabo tidak seharusnya aku menolak tawaran mereka.”

“Aissh, mengapa tidak ada yang mengangkat. Appa apa kau tidak melihat anakmu Oh Hara sedang terjebak hujan sendirian.” Kata Hara yang terus menggerutu kebingungan.

“Ah bagaimana ini, kampus sudah sepi. Tidak ada orang lagi.”

Appa anggat telfonnya. Mengapa lama sekali menjemputku.”

“Ahh telfon rumah.” Tuutt tuutt tuut

“Kenapa salah satu dari mereka tidak ada yang mengangkat.” Terlihat raut wajah Hara yang semakin kebingungan.

“Hara-ah, apa yang kau lakukan disini? Kau tidak pulang?”

“Err eung, Taemin-ah kau mengagetkanku saja. A..ak..aku sedang menunggu Appa-ku.”

“Kenapa kau tidak menghubungiku? Seorang namja tidak boleh membiarkan yeojachingu-nya pulang sendirian. Apalagi dengan keadaan hujan yang seperti ini.”

“Chakkaman, dia bilang yeojachingu? Apa ia benar-benar mengganggapku sebagai yeojachingu-nya?” gumam Hara dalam hati.

“Hey Hara-ah,gwenchana ??apa yang sedang kau lamunkan?”

“Ah ani, gwenchana. Aku tidak melamun, aku masih memikirkan Appa-ku mengapa lama sekali.” Jawab Hara yang membohongi Taemin.

Hara melihat Taemin yang tiba-tiba melepas blazer seragamnya. Ia bingung, apa yang akan dilakukan Taemin.

Kajja, aku akan mengantarmu pulang. Berlindunglah dibawah blezerku. Jangan sampai kau kehujanan, kau bisa sakit.”

Hara hanya menatap Taemin. Mengapa ia begitu perhatian dengannya, dan tatapan matanya teduh. Berbeda dengan Kai yang terlihat dingin.

“Apa kau benar-benar menyukaiku Taemin-ah? Andai saja kau tau, ini semua hanya salah paham. Ah kenapa aku jadi tidak tega menjelaskan semuanya kepadamu? Apa yang harus kulakukan.” Ucap hara dalam hati.

“Kajja.”

Mereka berdua menerobos hujan dengan berlindung dibawah blezer Taemin menuju tempat parkiran mobil sport hitam milik Taemin.

Diam-diam Hara memperhatikan gerak-gerik Taemin yang seolah berusaha melindunginya. Bagi Hara ini adalah pertama kalinya ia diperlakukan seorang namja seperti ini.

“Sekarang aku tau, kau sama sepertiku. Apa kau akan terluka sepertiku? Ku rasa aku tau apa yang harus kulakukan. Cukup hanya aku saja yang terluka. Taemin-ah, saat hujan jatuh seperti ini, ku pikir aku juga harus terjatuh untuk melihat kedalam hatimu.”Gumam Hara dalam hatinya seraya memperhatikan Taemin dengan tatapan intens.

Dari jauh tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Kai, ia  melihat apa yang mereka lakukan sedari tadi.

TBC

9 tanggapan untuk “Triangle Twin Chapter 3”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s