What Is Love_Sequel War, Love, You

Judul : What is Love?

Author : Seu Liie Strife

Main Cast :Wu Yi Fan /Kris(EXO-M)
Kinara Lyvia (OC)

Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Nggh~~”, aku terbangun di suasana pegunungan di kawasan Puncak, Jawa Barat.

“Ehhmm…”, aku mendengar gumamannya. Siapa lagi kalau bukan suamiku, Yi Fan. Oh! Dulu aku memanggilnya Kris. Tapi entah kenapa dia menyuruhku memanggilnya Yi Fan oppa. Hey! Bahkan dia bukan orang Korea kan? Issh!

“Astaga..aku tidak bisa bangun. Aku kan mau mandi..tangannya berat sekali!”

Oh ya, kami baru saja menikah kemarin dan dia mengatakan ingin berbulan madu di Indonesia, negaraku. Tanah kelahiranku. Tapi, berhubung aku menyukai suasana pegunungan yang sejuk, aku merekomendasikan Puncak ini.

“Sayang…kau mau kemana sih? Dari tadi kau gerak – gerak terus.”, suaranya terdengar serak.

“Aku mau mandi, oppa…awas..”

Dia menggaruk – garuk kepalanya, “Hhngg…nanti saja mandinya..masih dingin..”, dia mempererat dekapannya. Rambutnya yang mengenai tengkukku sedikit membuatku bergidik geli.

“Yaah! Tanganmu!”, aku memukul tangannya yang ada di pinggangku yang mulai bergerak nakal.

“Why? Kau tidak mau melanjutkannya?”

“Tidak. Badanku sakit.”, jawabku.

Aku merasa dia mulai menggeser tubuhnya dan bergerak di belakangku.

“Badanmu…sakit?”, tanyanya yang kemudian sedikit menaikkan tubuhnya. Ya, dapat kulihat jelas tubuhnya yang bertelanjang dada.

“Uhm…”, jawabku menarik selimut hingga ke dada. Kyaaa!! Bahkan aku masih naked!

“Kalau begitu, akan kubuat tidak sakit lagi.”, dia mulai menciumiku. Mencium bahuku, leherku, pipiku, beralih ke tulang selangkaku, bahkan kini di bibirku.

“Oppa…sudah…mandi saja…sana…”

“Ayo kita mandi berdua.”, ajaknya.

“Isshh! Dasar mesum! Sana mandi sendiri!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Villa ini sangat nyaman.”, ujarnya yang memelukku dari belakang saat aku selca di taman villa ini.

“Oppa, kau mengagetkanku!”, aku berbalik dan melihatnya yang hanya memakai celana selutut dan t-shirt putihnya. Hey! Dia bahkan bertelanjang kaki menghampiriku yang duduk di atas rumput hijau ini.

“Ayo kita berfoto.”, ujarnya.

“Sejak kapan kau suka selca?”

“Ini semua karena kau, sayang. Kau yang menularkannya padaku.”

“Ck! Kau ini….”

Dia kemudian mengambil ponselku dan mengarahkan camera ponsel itu pada kami.

“Eh, waaiit! Smartphone? Ponselmu yang satu lagi mana?”, tanyanya.

“Hehehe, lowbatt, oppa. Aku tidak bawa chargernya. Aku hanya bawa charger ini…”

“Sigh! Kau ini…”, dia kembali mengarahkan camera ponselnya. Awalnya kami hanya saling menempelkan kepala saja, tapi tiba – tiba beberapa detik sebelum camera itu berbunyi, dia mencium pipiku.

“Oppaa~!”

“Hahaa, nice!”, ujarnya saat melihat hasilnya.

“Mau coba yang lebih ekstrim?”, tanyanya.

“Maksudnya?”

“Lihat cameranya..”, aku pun menurut.

“Sudah nih?”

“Iya, ppali!”, ujarku.

Dia kemudian mengalihkan wajahku dan mencium bibirku.

Klik!

“Yaaa!!”, aku mengambil ponselku dan mengacak – acak rambutnya hingga dia berguling di atas rumput hijau. Di daerah ini, aku masih bisa merasakan embun. Rumput di sini agak basah walau pun tidak hujan.

Saat aku mengelitiki perutnya, dia menggamit pinggangku serta hingga aku terjatuh di atas tubuhnya. Sejenak kami terdiam beberapa detik saling menatap. Tapi kemudian, dia membalikkan tubuhku hingga berada di bawahnya dan menciumku kembali.

Aku kemudian menahan dadanya mencegahnya berbuat lebih, karena ini di luar rumah. Meskipun ini di halamannya, tetap saja aku merasa tidak enak.

“Oppa, aku lapar..cari makan yuk!”

“Kajja, aku juga lapar.”

Dengan mobilku yang aku beli di Indonesia, kami pergi.

“Chagi, mobil ini terasa aneh untukku.”

“Kenapa?”

“Pengemudinya di sebelah kanan. Biasanya kan sebelah kiri.”

“Pabbo! Itu kan di luar negeri. Ini kan di negaraku, Indonesia.”

Sepertinya Yi Fan memang sedikit bingung. Saat mau menyalakan lampu sen, justru yang ia nyalakan malah wiper mobil.

“Asshhh…!! Chagii…!!”, aku hanya tertawa kecil.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa…oppa…kita ke situ sebentar.”, ujarku menunjuk sebuah tempat. Warung kecil yang terbuat dari bambu – bambu.

“Ini tempat apa??”

“Sudah belok sajaaa…”, ujarku.

Hhm, untuk berbelok, Yi Fan harus berhati – hati. Karena, tahu sendiri kan, jalanan di Puncak itu berbelok – belok, tanjakan, dan juga turunan. Warung itu juga terletak setelah tikungan. Jadi, cukup menyulitkan.

Piik! Piik! Mobil pun sudah terkunci. Udara sejuk di sini sangat nikmat untuk dihirup. Meskipun memakai sweater, udara di sini masih saja dingin.

“Kau dingin tidak?”, tanyaku.

“Bagaimana menurutmu kalau tanganku seperti ini, eoh?”, dia memegang tanganku dengan telapak tangannya.

“Kau harus minum – minuman ini. Pasti tubuhmu hangat.”, aku menariknya masuk.

“Aww!”, aku langsung menoleh mendengar bunyi itu. Kulihat Yi Fan yang memegangi keningnya.

“Aduuh..oppa…hati – hati dong…”, ujarku mengusap keningnya yang terantuk pintu yang lebih rendah darinya.

“Ibu, bandreknya dua ya..”, aku memesan minuman.

“Kau pesan apa?”

“Bandrek.”, jawabku.

“Apa itu?”

“Minuman jahe..”, jawabku lagi. Aku duduk di dalam warung tersebut.

“Oppa, sini deh.”, aku memanggil Yi Fan ke belakang.

“Kenapa?”

“Lihat itu…”, aku menunjuk arah bawahku dimana kebun teh terhampar.

“What?! Te..tempat ini…tempat ini di pinggir…”

“Keren kan, oppa!”

“Apanya yang keren?! Kalau jatuh bagaimana?? Sigh! Kau ini..”

“Yaa! Tempat ini kuat kok! Dan ini sudah ada sejak aku SMP, oppa!”

“Zhēn de ma (benarkah)?”, aku mengangguk menanggapinya.

“Permisi..ini pesanannya…”

“Terima kasih..”, ucapku mengambil dua gelas itu.

“Coba deh, oppa.”, ujarku memberikan gelas itu pada suamiku.

“Sini duduk.”, ujarku menepuk bangku di sebelahku yang menghadap ke perkebunan teh.

“Kau pintar memilih tempat dan…kau benar..minuman ini enak.”, ujarnya merangkulku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ayo, oppa…kita cari makanan.”

“Kajja…”

Mereka berdua mencari sebuah restaurant. Dan ternyata ada restaurant yang sudah buka jam sepuluh pagi itu.

“Oppa, kita di sini saja ya…”, ujar Kinara.

“Baiklah..”, mereka berdua memilih tempat saung-semacam beberapa bangunan rumah panggung kecil yang umumnya dibangun di atas kolam ikan yang lesehan, yaitu makan sambil duduk di atas tikar. Makanan biasanya disajikan di atas meja rendah, atau kadang diatas tikar.

“Chagia, aku tidak mengerti makanan – makanan di sini…”

“Kau mau makan ayam atau ikan?”, tanya Kinara.

“Ayam juga boleh.”, ujar lelaki berambut blonde.

“Mau ayam bakar atau goreng?”

“Fries.”, ujarnya.

“Nasi timbel ayam gorengnya satu, nasi timbel ayam bakarnya satu juga. Minumnya…”

“Chagi, aku mau jahe yang tadi.”, jawab Yi Fan cepat.

“Oppa, kau mengerti apa yang kukatakan barusan?”

“Maksudmu aku tidak mengerti bahasa Indonesia? Aigoo, chagia!”

“Baiklah, bandreknya 1, dan juice alpukat 1.”, ujar Kinara lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat menunggu makanan, aku melihat kolam ikan di bawah saung. Melihat ikan berenang kesana kemari. Tiba – tiba saja, Yi Fan yang duduk di depanku, meraih kedua tanganku untuk digenggamnya.

“Kenapa?”

“Tidak..hanya ingin memegang tanganmu saja.”, ucapnya yang kemudian mencium tanganku.

“Wo gaoxing ai ni (aku sangat mencintaimu).”

“Oppa…malu ah…di luar…”, ucapku.

“Kau kan istriku…”

“Uhm…tapi kan…”, dia kemudian beralih ke sebelahku. Memelukku, menyandarkanku di dadanya yang bidang. Tiba – tiba dia menciumku. Ommo! Bagaimana bisa dia senekat ini mencium bibirku di tempat umum seperti ini?!

“Oppaa…sudah…hentikaann…”, aku mendorongnya pelan.

“Chagia…setelah ini kemana lagi?”, tanyanya.

“Hhmm…kemana ya?”

“Ke kamar?”, tanyanya. Demi Tuhan! Wajahnya sekarang benar – benar mesuuumm!!

“Isssh! Kau inii..kenapa kamar, kamar, dan kamar? Dasar muka bantal!”, aku mendorong wajahnya.

“Karena aku bersamamu, Nara..”, dia mendekapku dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu kananku.

“Permisi..pesanannya..”

Aku langsung mendorong Yi Fan dariku karena aku malu. Kyaaaa!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mana nasinya? Kau bilang tadi nasi…nasi..sambal?”

“Nasi timbel. Kau tidak lihat, itu nasinya?”

“Mana?”

“Yang terbungkus daun itu.”

“Mwo? Ini? Aigoo!”

“Wait..wait..wait! Kau tidak pakai sendok, Na?”, aku menggeleng.

“Susah kalau pakai sendok.”

“Asshh! Asin sekali! Ini apa sih?”, suamiku langsung buru – buru minum.

“Yaa! Itu alpukatku!”, aku menginterupsinya.

“Eoh? Sorry. Habisnya itu asin sekali.”

“Ahahaha…kau makan ikan asin? Ahahaha..pakai nasi, oppa..biar tidak asin! Ahaha…kau terlalu banyak protes sih…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selama seminggu ini aku akan menghabiskan waktu mengunjungi berbagai tempat dengan Yi Fan, suamiku. Seperti Taman Bunga Melrimba, Danau Lido, tempat kami akan bermain perahu bebek,Wisata Agro Kapol, tempat dimana kami akan berburu strawberry, buah kesukaanku.

Dan karena aku juga suka dengan suasana jungle, kami juga akan mengunjungi Pusat Pendidikan Konservasi Alam, Bodogol (PPKW) WW Bodogol. Di sana akan ada Jungle Treaking, Water Fall Track Gazebo, Jembatan Gantung. Pasti seru!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Liburan di Indonesia selama seminggu pun berakhir. Kinara dan Yi Fan kini tinggal di rumahnya. Semenjak gadis itu menikah, ia meninggalkan Sica eonni dan Taeng eonni. Tapi, bisnis butik mereka tetap berjalan.

Bunyi alarm waker di pagi hari pun memekakkan telinga. Seorang pria berusaha mengambil waker itu dari nakas dekat ranjangnya meski dengan mata terpejam.

“Hhhmm…jam lima…”, gumamnya yang kemudian memeluk erat wanita di sampingnya yang tidur memunggunginya.

“Chagia…”, tidak ada sahutan darinya.

“Chagia…”, pria yang selalu di panggil Kris itu menelusupkan wajahnya ke leher wanita, menggesek – gesekkan hidungnya yang mancung pada bahu wanita itu hingga tidurnya terusik.

“Uhhmm…oppa…kenapa?”, tanyanya meraih tangan yang melingkar di perutnya.

“Sudah jam lima….”, ujar lelaki itu dengan mata terpejam. Sepertinya ia masih malas untuk membuka kelopak matanya karena semalam ia pulang larut malam demi membayar kerjaannya yang menumpuk saat bulan madu.

“Uhm? Benarkah?”, tanyanya lagi yang kemudian berbalik badan menghadap suaminya.

“Ne..lihat saja di waker..”, jawabnya bergumam.

“Ne…”, jawab wanita itu kemudian.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kasihan sekali suamiku ini. Dia masih mengantuk sekali. Hhh..dia memang tipe workaholic, jadinya seperti ini. Dia pulang larut malam mengerjakan kerjaannya di kantor, lalu berangkat pagi – pagi sekali. Hanya simple alasannya, dia tidak mau di cap sebagai atasan tidak bertanggung jawab.

“Sekali ini saja, kubiarkan dia tidur satu jam lagi. Akan kubangunkan nanti jam enam.”, batinku mengusap wajahnya yang tengah tertidur pulas. Aku pun mencium keningnya sebelum aku mandi dan memasak di dapur. Kurapikan kembali selimutnya dan bantalnya agar dia bisa tidur dengan nyaman.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nah! Selesai!”, aku merapikan makanan yang sudah kumasak di meja makan. Jam enam lewat lima menit. Aku akan membangunkannya.

Aku pun membuka pintu kamar dengan hati – hati agar tidak berisik. Karena Yi Fan terkadang pusing jika ia bangun tiba – tiba. Aku pun membuka gordyn jendela, dan beranjak duduk di tepi ranjang kami.

“Oppa…”, dia masih tertidur karena dengkurannya terdengar olehku.

“Oppa….ayo bangun…”, aku mengusap pipinya.

“Oppa…”, aku kali ini menepuk pipinya pelan.

“Hhng..?”

“Ayo bangun..kau harus ke kantor kan?”

“Ne, chagi…”, dia kemudian berbalik badan. Issh..dia malah tidur lagi. Tapi, kasihan juga sih…pasti tidurnya kurang. Aku tidak mau matanya dia nanti akan seperti Tao!

“Oppa..ayo bangun..”, aku berbisik di telinganya.

“Chagia, geli…”, dia menutup telinganya dan berbalik padaku. Dipeluknya pinggangku yang terduduk di sampingnya. Dan kini malah ia memindahkan kepalanya di pangkuanku.

“Ayo bangun. Sudah jam enam lewat loh, oppa..”, aku menelusuri wajahnya berharap ia bangun.

“Mataku berat sekali, chagia…”, dia mengambil tanganku dari wajahnya dan mendekapnya erat.

“Cuti dulu ya..aku takut kau sakit..”

“Aaah..tidak…tidak..”, dia kemudian perlahan membuka matanya dan sedikit merenggangkan ototnya. Aku berinisiatif untuk memijat bahunya.

“Aaah..chagi..kau belajar memijat dari mana? Enak sekali pijatanmu.”

“Ck! Kau ini..sudah, sana mandi..”, ujarnya kemudian.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat Kinara beranjak dari ranjangnya, dengan cepat lelaki itu menahan tangan istrinya, “Cium dulu..”, ujarnya merajuk seperti anak kecil yang meminta permennya.

“Oppa, nanti kau terlambat..”

“Aku tahu…tapi cium aku dulu.”, ujarnya kemudian menahan pintu lemarinya saat Kinara ingin menyiapkan baju untuknya kantor.

“Yi Fan oppa..nanti kau semakin terlambat.”, lelaki itu tidak bergeming dan masih menunggu istrinya.

“Hhh..dasar pemaksa!”, ujarnya yang kemudian berjinjit untuk mencium bibir suaminya.

“Baiklah…kalau begitu, aku akan mandi.”

Saat suaminya mandi, Kinara menyiapkan bajunya juga sarapannya. Sewaktu menuangkan orange juice untuk suaminya, lelaki bertubuh tinggi itu keluar sudah rapi, namun masih belum memakai dasinya. Terlihat ia keluar sambil mengancingkan lengan kemejanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ayo makan.”, ujarku.

“Hhm..kelihatannya enak.”, dia kemudian meminum orange juicenya.

“Na, nanti malam aku…”

“Oppa mau lembur lagi?”, sahutku cepat.

“Ya..kau…apa kau mau ke tempat noona mu?”

“Tidak usah..aku di rumah saja, oppa.”, jawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selesai sarapan, aku kembali ke kamar berniat mengambil dasi suamiku. Tapi ternyata dia ikut masuk. Dan aku memasangkan dasinya walaupun aku harus naik ke ranjangku untuk menyamakan tinggiku dengannya. Ah, tidak! Kini aku lebih tinggi beberapa senti darinya. Hahaha.

“Kau tidak apa – apa sendirian di rumah?”

“I’m okay, oppa…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Wo ai ni…”, ujar Kris merengkuh wajah istrinya yang kini lebih tinggi darinya karena berdiri di atas tempat tidurnya.

Kinara hanya mengalungkan tangannya pada leher suaminya dan mencium keningnya.

“Kiss me, here..”, Kris menunjuk bibirnya. Kinara pun hanya mengecup singkat suaminya.

Wanita itu pun mengantar suaminya ke depan, melambaikan tangannya pada lelaki yang dicintainya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Waktu tak terasa berputar cepat. Usia pernikahan mereka kini menginjak tepat satu tahun. Namun, anak pun mereka belum punya. Tidak ada yang spesial diantara mereka. Bahkan saat anniversary pun Kris tampak sibuk dan hampir melupakan tanggal penting itu. Dia hanya memberi selamat bagi Kinara dan menciumnya. Kinara yang bosan di rumah, dia mulai mengerjakan hal lain di luar butiknya.

“Eonni..aku mau dong tawaran model itu.”, ujar Kinara yang menelpon Jessica. Wanita yang sudah berteman dengannya beberapa tahun lalu, saat dimana munculnya makhluk dari bawah laut. Wanita itu juga sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.

“Mwo?? Yang benar? Nanti Kris…?”

“Kalau Yi Fan, biar aku yang mengurusnya.”

“Kau bertengkar dengannya?”

“Anni, eonni…aku akan ke tempatmu besok. Besok kau ada pemotretan kan?”

“Ne..kau hanya boleh datang kalau Kris sudah mengizinkanmu. Arraseo?”

“Arra.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kudengar mobilnya datang. Aku pun menyambutnya. Dia terlihat lelah sekali saat turun dari mobilnya.

“Sudah pulang..”, sapaku.

“Ne..”, dia kemudian mencium keningku. Memang ini biasa dilakukan. Tapi entah kenapa hubungan kami terasa hambar. Apa karena belum memiliki anak? Pikiran itu selalu menjadi ganjalan bagiku.

“Oppa, kau mau mandi ya? Kusiapkan airnya ya…”

“Tidak usah…aku saja..kau istirahat saja.”, ujarnya.

Apa dia marah denganku karena kami belum memiliki anak? Apa dia memiliki…tidak..tidak! Aku tidak boleh memikirkan yang aneh – aneh.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selesai mandi, kulihat dia langsung naik ke ranjangnya. Apa dia tidak makan?

“Oppa, kau tidak makan?”

“Aku sudah makan di luar.”, aku kecewa mendengarnya. Benar – benar kecewa. Apa dia tidak mau makan masakanku lagi?

Aku pun ke ruang makan, membereskan semuanya. Semua makanan yang ada harus berakhir di kulkas untuk dipanaskan esok harinya di microwave.

“Oppa…makananku tidak enak lagi ya?”, tanyaku.

“Tidak…aku benar sudah makan di luar tadi..mianhae..”

“Ne..gwaenchana..”

“Uhm…oppa, aku…aku boleh melakukan hal lain selain di rumah?”

“Mwo?”, tanyanya.

“Aku mau mencoba dunia modelling bersama Sica eonni…boleh tidak?”

“Tidak.”, jawabnya cepat.

“Waee?? Aku bosan di rumah terus oppa..aku janji akan tetap mengurus rumah seperti biasa deh.”, dia hanya membisu.

“Lagi pula..kau juga selalu pulang larut malam..”, sambungku.

“Sesukamu lah.”, ujarnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kinar! Kau benar – benar ke sini..Kris mengizinkanmu?”, tanya Sica eonni pagi ini. Aku mengangguk.

Dan bersama Sica eonni, aku akhirnya bisa menjalani aktifitas baruku, di dunia modelling. Dan ternyata, aku bertemu dengan Kwangmin dan Youngmin juga. Karena ada satu wardrobe yang sama – sama kami pakai.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa bulan kemudian, tiba – tiba saja banyak berbagai merk baju yang ingin memakaiku sebagai modelnya. Dan aku tidak menyangka kalau jadwalku semakin padat. Masyarakat juga banyak yang mulai mengenalku. Oleh Sica eonni, aku dimasukkan ke dalam manajemen yang sama dengannya. Ini untuk memudahkanku menerima atau menolak pekerjaan. Tapi, ada satu persyaratan dari manajemen. Status pernikahanku harus disembunyikan. Publik tidak boleh tahu soal ini. Aku merasa bersalah karena aku harus tidak mengakui Yi Fan sebagai suamiku.

Gawatnya, aku kini pulang terlambat ke rumah! Aku pulang lebih malam dari Yi Fan, suamiku. Hyaaa!! Mobilnya sudah adaa!!

“Dari mana saja kau? Ponsel tidak aktif, kau juga tidak mengurus keperluanku!”

“Mianhae, oppa…ponselku mati..”, aku menunduk lesu menunjukkan ponselku yang mati.

“Sigh! Kau ini!”, dia kemudian masuk ke kamar.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku mau kau berhenti dari karirmu.”, Kinara melebarkan kelopak matanya.

“Wa..wae??? Aku bahkan baru…”

“Aku tidak mau tahu! Kau harus berhenti!”

“Oppa kan sudah mengizinkan aku…aku masih ada kontrak, oppa…masih tiga bulan lagi…”

“Putuskan kontrak itu.”

“Oppa…kenapa kau melarangku?”

“Karena kau tidak becus mengurus rumah! Mana janjimu untuk mengurus rumah, eoh? Semakin kau kerja, kau semakin sibuk dan tidak ada waktu mengurus rumah!”, entah kenapa Kris merasa emosinya tersulut.

“Aku tidak mau! Aku mau berhenti setelah kontrakku habis.”

“Nara!”

“O..oppa…kau…kenapa membentakku?”

“Ck!”, Kris hanya berdecak kesal dan tidur.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Seperti biasa, setelah Kris ke kantor, setelah itu aku ke tempat pemotretan baru hari ini di pantai. Kali ini aku akan dipasangkan dengan model pria di outdoor.

“Annyeonghaseyo…hhm..apa di sini lokasi pemotretan untuk majalah fashion itu?”, tanya seorang pria.

“Ne..benar..”

“Ruang gantinya dimana?”

“Oh, ada di van itu…”

Aku pun di make up oleh stylist dan rambutku pun ditata olehnya. Tiba – tiba lelaki yang tadi kini duduk di sebelahku. Rambutnya pun ditata oleh stylistnya.

“Oo? Kita bertemu lagi…”, ujarnya padaku melalui pantulan cermin di hadapan kami. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Jangan – jangan kau pasanganku ya?”

“Hng?”

“Chundoong imnida..Park Chundoong.”, ujarnya memperkenalkan diri.

“Kinara..Kinara Lyvia..”, ujarku.

“Rasanya…aku pernah melihatmu..tapi dimana ya?”, ujarnya yang terlihat berpikir. Huwaa!! Jangan sampai ia tahu aku yang sebenarnya!

“Perasaanmu saja, mungkin..”, jawabku.

“Kinara…Kinara… Kau bukan orang Korea?”

“Bukan..I’m Indonesian.”

“Tapi kau cantik.”, pujinya.

“Gamsahamnida…”, jawabku. Pujian itu sekarang mulai jarang diucapkan Yi Fan. Aku rindu dengannya.

“Kau masih kuliah?”

“Tidak..aku sudah selesai..”, jawabku.

“Bahasa Koreamu sangat lancar, kau sudah lama tinggal di Seoul?”

“Ne…”, jawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Mereke berdua pemotretan untuk baju musim panas tahun ini. Mereka harus berpose layaknya seperti seorang kekasih.

“Yi Fan, mianhae…”, batin Kinara.

“Lebih dekat lagi, Kinar, Chundoong.”, sang fotografer mengarahkan pose pada mereka.

Sementara itu, di kantornya, diam – diam Kris memantau kegiatan istrinya.

“Mwo?!!! Apa – apaan ini??!!”, Kris merasa emosi melihat foto istrinya dipeluk bahkan digendong oleh lelaki lain.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau kenapa, Kinara? Seperti ada masalah berat yang kau hadapi..”, Chundoong kembali mendekatiku tiap kali aku berusaha menghindarinya.

“Eopseo..”, jawabku.

“Hey, kita bekerja di satu bidang yang sama, di hari dan jam yang sama. Kalau kau ekspresinya tidak bagus, kau juga yang hancur, Kinara. Kau kenapa?”, dia kini menggenggam tanganku.

“Anni…gwaenchana..”, ujarku berusaha melepaskan tangannya. Seandainya saja tiap orang boleh tahu kalau aku sudah memiliki suami, aku akan beritahu lelaki yang dihadapanku ini!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku tahu kau memiliki masalah, Kinara. Setidaknya kau curahkan itu pada orang lain. Jangan memendamnya.”, Chundoong masih menggenggam tangan wanita berambut panjang bergelombang itu.

“Ge..geundae aku…”

Grep! Lelaki itu kini memeluk Kinara, “Menangislah jika kau mau…”

“Bagaimana bisa dia menebakku? Sejujurnya aku memang ingin menangis saat ini…”, batin gadis itu.

Tanpa disadari mereka berdua, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan geram.

Tiba – tiba…

Sreett!! BUAGH!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kyaaa!! Oppa!!”

Chundoong pun tersungkur ke tanah. Dengan heran dia melihat siapa yang menghajarnya. Seorang pria berambut blonde dengan postur tinggi tegap berdiri dengan menatapnya marah.

“JANGAN PERNAH KAU DEKATI DIA!!”

“Huh! Memangnya siapa kau, huh?!”, balas Chundoong yang kemudian berdiri dan menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya.

“DIA ISTRIKU!!!”, bentak Kris dan menarik tangan istrinya, tidak peduli wanita itu berkali – kali tersandung.

“Huh! Istri? Sejak kapan Kinara menikah, eoh?!!”, ucapan Chundoong menghentikan langkah mereka berdua.

Kris hanya menatap sinis, “Ini! Lihat ini! Dan juga ini!!”, Kris menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya, juga jari Kinara.

“O..op..oppa…pemotretannya..”, lelaki itu tetap diam tidak menyahut dan kini memasukkan gadis yang tengah memakai gaun untuk pemotretan itu ke dalam mobilnya yang segera ia lajukan menuju rumahnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Istri? Kinara sudah menikah?”

“Chundoong-ssi, mana Kinara? Ommoo!! Kenapa wajahmu?”, salah satu crew menghampirinya.

“Dia ada urusan mendadak. Dan gaun untuk pemotretannya, masih ia kenakan.”

Dan akhirnya pemotretan untuk sementara dihentikan karena Kinara yang pergi.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku hanya bisa menangis tertunduk saat Yi Fan membawaku pulang. Tidak seharusnya aku seperti ini…hiks…hiks..

Mobil pun telah terparkir di garasi rumah. Ia segera keluar meninggalkanku di mobil.

BRAK! Pintu mobil ia tutup dengan keras. Aku pun langsung menyusulnya ke dalam rumah dengan sedikit menjinjing gaunku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Lelaki itu melonggarkan ikatan dasinya, mepasnya dan membuka kancing atas kemejanya. Menghempaskan dirinya di atas ranjangnya sore itu walau pun dengan kaki yang masih menggantung ke lantai. Menatap langit – langit kamarnya dan kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha menenangkan dirinya.

Cklek! Pintu kamarnya pun dibuka. Tanpa melihatnya, lelaki itu tahu siapa yang masuk. Istrinya.

“Oppa…mianhae…”, ucapnya terisak. Lelaki itu kemudian merubah posisinya untuk duduk di tepi ranjang.

“KENAPA KAU TIDAK MENGAKUI PERNIKAHAN KITA, EOH??!!”, bentak Kris yang kemudian berdiri di hadapan istrinya.

Kinara tidak bisa berkata apa – apa karena ia sadar kalau sikapnya salah. Dia hanya menunduk terisak. Demi menghilangkan rasa bosannya, ia mencari aktifitas di luar sebagai model, namun dengan status pernikahan yang disembunyikan.

“APA YANG KAU INGINKAN, EOH??!!! MENGHABISKAN WAKTU BERDUA DENGAN PRIA TADI??!!”

“Annio…oppa…aku..hiks…aku tahu…hiks..aku salah..hiks..hiks..”, jawabnya dengan air mata yang mengalir.

“AKU SUDAH MELARANGMU!! DAN KAU TIDAK MENURUTINYA!!”

“Ooh! Aku tahu! Kau ingin berselingkuh di tengah – tengah kesibukan kan?!”, tuding Kris.

“Annii! Aku tidak berselingkuh, oppa..”, ujar Kinara.

“Huh! Itu alasanmu kan? Kau bisa seperti ini saat aku sibuk, hah? Kelakuanmu..”

PLAK!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri lelaki itu.

“Aku tahu aku salah, oppa…tapi tidak ada sedikit pun niatan aku untuk berselingkuh di belakangmu!”, Kinara menatap lelaki itu dengan kecewa. Hatinya sakit setelah seorang yang dicintainya menudingnya berselingkuh di belakangnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau mau kemana?”, tidak kuhiraukan ucapannya. Aku tidak peduli dengan wajahku yang dengan riasan berantakan. Aku mengambil tissue dan menghapus semuanya. Lalu aku kembali lagi mengambil baju – bajuku.

“YAAA!! AKU BICARA PADAMU, NARA!!”, dia menutup pintu lemari dengan kasar dan nyaris membuatku terjepit.

“Tidak ada urusannya denganmu!”, aku menyeka air mataku dan mendorongnya.

Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Kalau mau hancur, hancurlah semuanya! Aku kembali membawa koperku dan menyeretnya.

“KAU MAU PERGI??!! PERGILAH SESUKAMU!!!”, ucapan itu menghentikan langkahku sejenak.

Aku hanya bisa menggigit bibirku menahan tangisku yang seakan – akan meledak. Lihat, bahkan dia tidak mencegahku kan? Mungkin di matanya aku sudah tidak berguna lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“AAAAARRRGGHH!!!”

PRANG!!

Lelaki itu mengamuk setelah melihat istrinya pergi.

“Kau laki – laki paling tolol di muka bumi ini, Yi Fan!!!”, umpatnya kesal.

“Dengan mudahnya kau mengatakan kata ‘pergi’ padanya. Laki – laki apa kau?!!!!”, batinya lagi.

Pria itu mencoba menelpon istrinya. Namun usahanya sia – sia. Ponselnya tertinggal di kamarnya. Di atas meja riasnya.

Setelah terdiam beberapa saat, dia kemudian menyambar kunci mobilnya dan menjalankan mobilnya menyusuri jalan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku harus kemana? Ke rumah Sica eonni dan Taeng eonni? Tidak mungkin…ah! Dompetku juga tertinggal…bagaimana ini?

“Menyedihkan sekali kau, Kinara!”, batinku.

Di sana sepertinya ada taman kecil. Apa aku di sana saja untuk malam ini? Semoga saja alergi malamku tidak kumat.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nara….dimana kau…”, batin Kris yang sudah mencari sekeliling kompleks perumahannya, juga jalanan besar yang dilalui transportasi umum. Bahkan beberapa shelter, stasiun, juga bandara, sudah dia datangi. Tapi, tetap tidak menemukan keberadaan istrinya.

“Nara….mianhae…jeongmal mianhae…”, batin lelaki itu memukul setir mobilnya.

Lelaki itu terus melajukan mobilnya. Merasa frustasi karena tidak kunjung menemukan wanita yang dicarinya, ia menghentikan mobilnya. Menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya, memejamkan kedua matanya, juga menghembuskan napasnya perlahan.

“Bagaimana kalau alerginya kambuh? Bagaimana kalau sampai ia pingsan?”, berbagai pikiran negatif terlintas di benak lelaki itu. Karena menurutnya, Kinara tidak diperbolehkan untuk berada di udara malam tanpa obat alerginya.

“Nara…”, lelaki itu berkali – kali membenturkan kepalanya ke belakang, pada sandaran jok mobilnya.

Tiba – tiba kedua matanya menangkap sosok yang tak asing baginya. Ia segera mengambil jaketnya di kursi belakang mobilnya, dan membuka savety belt mobilnya.

Piik! Piik! Mobil itu sudah terkunci.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku sudah benar – benar mengantuk. Aku sudah tidak peduli dengan tempat, dan bagaimana aku akan tidur. Saat aku benar – benar akan menjelajahi alam mimpiku, tiba – tiba aku merasa punggungku menghangat dan terasa ada sesuatu yang menempel di kedua bahuku juga berat.

Aku kembali terjaga dan menoleh ke belakangku. Aku langsung berdiri ketika melihat Yi Fan yang berada di belakangku, memelukku yang tengah terduduk di bangku yang terbuat dari semen di taman ini. Dengan kaget, aku mendorongnya menjauhiku.

“Kajjima…”, ujarnya menahan tanganku.

Aku berbalik dan kembali mendorongnya berusaha melepaskan tanganku.

“Lepaskaan!! Lepaskan akuuu!!”, tapi tangannya semakin menggenggam pergelangan tanganku erat.

“Lepaskaaann!!!”

“Tidak!”

“Apa maumu, eoh?! Aku sudah pergi darimu! Kenapa kau kembali mencariku?! Aku tidak mau menemuimu! Lepaasss!!!”

Sekilas, aku melihatnya menatapku dengan mengiba. Seorang Wu Yi Fan bisa seperti ini?

“Mianhae…jeongmal mianhae, Nara-ya…”, dia masih menggenggam tanganku meski pun aku meronta minta dilepaskannya.

Tiba – tiba saja kepalaku terasa berputar. Aku berusaha menjaga keseimbanganku. Oh Tuhan, ada apa denganku?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nara…maafkan aku…”, berkali – kali kata itu terucap dari Kris yang saat ini menjaga Kinara, istrinya di rumah sakit. Tangannya tidak terlepas dari tangan istrinya yang kini terpasang selang infuse.

“Aku mengkhawatirkanmu, Na…bangunlah..ada yang harus kusampaikan padamu…”, batinnya sambil merapikan rambut istrinya dan mengecup keningnya.

Karena kelelahan, lelaki itu tertidur dalam posisi terduduk dengan kepala yang direbahkannya di tepi tempat tidur rumah sakit. Tangannya masih menggenggam tangan istrinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku terbangun karena mencium aroma obat – obatan. Aku membuka kelopak mataku dan mendapati Yi Fan tertidur dengan tangan yang menggenggam tanganku.

Air mataku mendesak keluar saat melihatnya tertidur seperti ini. Tuhan…aku masih mencintainya..aku tidak mau berpisah dengannya…

Tiba – tiba ia terbangun. Aku segera menghapus air mataku. Mungkin ia terbangun karena mendengarku menangis? Entahlah. Kuharap tidak.

“Nara…kau sudah bangun, chagia..”, aku rindu dengan panggilan itu. Rasanya bahagia sekali bisa mendengar kalimat itu lagi darinya.

“Chagia…mianhae…maafkan aku karena aku membentakmu..”

“Ne..oppa…”, lirihku. Dengan mudahnya aku mengeluarkan kalimat itu karena aku masih mencintainya.

Dia tersenyum padaku dan menciumku, juga menciumi tanganku berkali – kali.

“Kau mau memulainya dari awal? Kita tutup itu semua, dan kita buka lembaran baru lagi.”

“Dengan aegi kita…”, tambahnya. Aegi dia bilang?

“A…e..gi..?”, ulangku dengan mengejanya.

“Ne…kau hamil, Nara..”

Hamil? Aku hamil?? Benarkah itu? Jika ini mimpi, aku berharap waktu akan berhenti sampai di sini saja.

“Nara..? Kau tidak senang dengan kehamilanmu?”, raut wajahnya terlihat kecewa.

“Apa…aku..bermimpi..?”

“Nara…kau tidak bermimpi, chagia..”, dia mencium punggung tanganku.

Sepertinya, mimpi ini terlalu nyata bagiku. Atau aku mengalami de ja vu?

“Kau masih tidak percaya kalau ini bukan mimpi?”, tanyanya.

Tak lama kemudian dia bangkit dari duduknya dan berdiri di sisiku. Sambil tetap menggenggam tanganku, dia mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Air matanya tidak terkontrol lagi. Keduanya keluar dari kedua pelupuk matanya, mengaliri sudut matanya dan menetes ke sisi kiri kanannya.

“Chagia, uljimma…”, lelaki itu menghapus air matanya.

Wanita yang kini bermarga Wu setelah menikah itu pun ingin duduk. Ia dibantu oleh suaminya sendiri, meski pun ia bisa melakukannya sendiri.

“Oppa…hiks..hiks…boleh aku…memelukmu?”, kedua tangan lelaki itu pun terbuka lebar untuk wanita di hadapannya.

“Peluk aku selama yang kau mau..”, bisik Kris pada Kinara yang kini dipeluknya.

“Tapi…”, Kris menggantungkan kalimatnya dan membuat Kinara melepas pelukannya.

“Jangan memelukku sambil menangis. Aku tidak suka. Karena…”, lagi. Dia menggantungkan kalimatnya.

“Mwo?”, Kinara bertanya dengan ragu.

“Kau jelek…kalau menangis.”, ujarnya lagi menghapus air mata gadis itu dengan ibu jarinya dan mengecup bibir istrinya.

“Yaahh~”, Kinara menepuk paha suaminya dengan kesal.

“Assh..sakit, chagia…”, tangisnya kini berganti dengan tawa saat melihat Kris merajuk padanya. Kinara kemudian memeluk suaminya dan membenamkan wajahnya pada dada suaminya yang bidang.

“Kau bertingkah manja, atau mau mengotori bajuku dengan ingusmu itu, hhm?”

“Oppa~ aku tidak sejorok itu!”, ujarnya mencubit pinggang Kris.

“Ouh! Kau berani mencubitku, chagia?”, dia melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah Kinara dengan telunjuknya. Menempelkan keningnya dengan kening istrinya.

“Apa kalau seperti ini, kau masih berani mencubitku, euhm?”, tanyanya lagi sambil menggesek – gesekkan hidungnya pada hidung Kinara. Seulas senyum tercipta dari bibir tipis istrinya yang terlihat menggoda bagi Kris untuk kembali menciumnya.

“Masih berani, euhm?”, tanyanya lagi setelah mencium Kinara. Lelaki itu kembali menciumnya, bahkan kini ia menggigit pelan bibir bawah istrinya, “Masih berani mencubitku?”

“Oppa..ini rumah sakit…”

“So? By the way, bibirmu sedikit kering. Mau kubasahi?”, tanyanya dengan senyum seduktif.

“Annioo..kau mesum!”, Kinara mendorong tubuh Kris menjauhinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Besok nyonya Wu sudah boleh pulang..tapi, ingat, jaga kandunganmu.”, ujar uisa-nim padaku dan Yi Fan yang menemaniku.

“Ne…gamsahamnida, uisa-nim..”, ucap Yi Fan padanya sambil mengantarnya keluar.

“Oppa…aku..aku..aku…”, aku ragu untuk kembali membicarakan masalah ini.

“Waeyo, euhm?”, ucapnya membelai kepalaku.

“Ta…tapi..kau..jangan marah…”

“Kenapa harus marah? Katakan saja…”, ujarnya lagi.

“A..ak..aku..kau…mau menemaniku? Aku..aku mau mengundurkan diri dari manajemen itu, dan aku ingin berhenti. Kau mau menemaniku ke sana?”

“Kau yakin? Aku tidak akan memaksamu kali ini.”

“Uhm..aku yakin, oppa…”

“Baiklah..aku akan mengantarmu..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa hari kemudian, setelah Kinara keluar rumah sakit, Kris mengantarnya ke kantor manajemennya. Pihak manajemen terkejut setengah mati mendengar keinginan Kinara untuk berhenti. Pasalnya, karir wanita itu sedang berada di puncaknya.

“Aku hamil. Jadi, aku tidak mungkin melanjutkannya. Dan juga…aku ingin berada di rumah, untuk suamiku.”

“Kalau begitu, baiklah..dan kau, harus mengadakan konferensi pers sekarang juga. Bawa serta suamimu.”

“Ne…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa…mau kan?? Sekali ini saja..kau harus muncul lagi di media…”, rajukku.

“Oh, astaga..kau tahu, kita pasti nantinya akan memiliki status yang sama seperti Kyuhyun hyung dan Keiko.”, ujarnya.

“Mwo?”, tanyaku.

“Super hero’s couple. Arraseo? Kau tahu kan wajah kita sudah di kenal di mana – mana. Dan kita…sama – sama menghilang dari perburuan media. Lalu tiba – tiba kau muncul lagi dalam keadaan kau hamil, dan juga pernikahan kita yang diam – diam? Astaga, Naraaa~~~”, dia memijat pelipisnya.

“Hhmfft..fu..fu..fuahaha..oops!”, aku kelepasan tertawa di tempat umum. Super hero’s couple katanya. Kkkk..istilah itu membuatku geli!

“Ayolah oppa…sekali iniiiiii saja…”

“Baiklah, jam berapa?”

“Nanti sore, oppa.”

“Well, ayo kita makan dulu.”, ajaknya. Aku mengangguk setuju dan sedikit berlari kecil.

“Yaah! Jangan berlarian. Kau kan tahu, kau hamil.”

“Arraseo, oppa.”, ujarku sambil berjinjit dan bertumpu pada bahunya untuk mencium pipinya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kinara..?”

“Chu..Chun..Chundoong..”

Lelaki itu kemudian menatap lelaki jangkung berambut blonde di sebelah wanita yang bernama Kinara itu. Kris pun menghampirinya.

“O…oh astaga! Apa mereka akan berkelahi lagi?!”, batin Kinara takut.

Tapi ternyata Kris mengulurkan tangannya mengajaknya bersalaman, “Aku minta maaf soal tempo hari.”, ujarnya yang terlihat ‘gentle’. Chundoong pun menyambutnya dengan ramah. Tapi kemudian…

BUAGH!! Tinjuan dilayangkan dari pria bermarga Park itu pada Kris hingga ia terjerembab. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Kyaaaa!!”, Kinara hanya bisa berteriak berlari pada suaminya.

“Permintaan maaf diterima. Dan itu, balasan karena kau telah merusak aset terpenting dalam hidupku tempo hari.”, ujar Chundoong mengulurkan tangan untuk membantu Kris berdiri.

“Huh! Gomawo, hyung.”, jawab Kris menyambut tangan Chundoong yang terulur membantunya.

“Ne..berbahagialah dengannya, dan jaga dia.”, ujar Chundoong lagi yang kemudian berlalu.

“Chundoong-ssi…”, panggil Kinara. Lelaki itu pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh.

“Mianhamnida…”, ujar Kinara.

Lelaki itu pun kemudian mengibaskan tangannya menandakan dia tidak mempermasalahkannya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

“Semoga kalian bahagia. Selamat tinggal, Kinara…”, batinnya yang jalan berlawanan arah dengan pasangan itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kilatan flash light, microphone yang sudah berjejer rapi di hadapanku, kamera yang siap meliput kami, sudah berada di hadapanku. Tepat jam dua siang ini aku mengadakan konferensi pers.

Di sebelah kiriku sudah duduk suamiku, Yi Fan, yang tentunya membuat pertanyaan besar bagi mereka. Di sebelah kananku ada managerku yang sebentar lagi publik akan tahu kalau ia hanya mantan managerku. Di sebelahnya lagi ada Jessica eonni karena secara tidak langsung dia terlibat dalam masalahku. Dan di sebelah suamiku, terdapat pemilik manajemen tempatku bernaung.

Aku pun menarik napasku panjang, dan membuangnya perlahan. Di balik meja, Yi Fan menggenggam tanganku seolah memberikanku ketenangan. Mungkin wajahku sudah menjadi tegang sekarang. Aku mengalihkan pandanganku padanya. Dan dia menatapku kembali seolah bicara dengan kedua matanya, ‘Semua akan baik – baik saja.’

Pemilik manajemenku membuka konferensi pers kali ini, “Maksud kami memanggil kalian semua ke sini, adalah untuk menginformasikan berita tentang Kinara. Seperti yang kalian ketahui, desas – desus tentang sudah menikahnya Kinara, telah beredar luas. Untuk itu, Kinara akan menjelaskan dan meluruskan masalah ini.”, keheningan pun semakin menjadi saat sajangnim secara tidak langsung, mempersilahkan aku berbicara.

Aku pun kembali menarik napasku panjang, “Aku, Kinara Lyvia…mengakui kebenaran berita itu.”, ujarku. Sontak saja semakin banyak flash light menerpa wajahku. Semakin banyak para wartawan yang berebutan bertanya padaku.

“Tenang…tenang..semuanya tenang! Kinara akan menjelaskan semuanya dan kami akan memberikan kesempatan kalian bertanya.”, ujar managerku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku minta maaf dengan kalian semua…terutama untuk penggemarku yang telah kutipu. Bagi sebagian orang, wajahku tidak asing. Aku adalah orang yang terlibat dalam misi penghancuran Akrid bersama lelaki di sebelah kiriku ini, dan juga Jessica eonni. Aku…sudah menikah dengannya, setahun silam. Dengan lelaki yang akrab dipanggil Kris ini. Dan aku…bisa berada di dunia modelling berkat Sica eonni. Memang dia yang menawarkanku pekerjaan ini. Setelah aku berdiskusi dengan suamiku, ia mengizinkannya. Aku pun mulai bekerja di sini. Namun, karena suatu hal, aku harus merahasiakan status pernikahanku dari kalian semua. Dan aku mulai bekerja dengan status ‘single’ pada diriku. Aku…minta maaf pada kalian semua…aku minta maaf….”, ujar Kinara yang beranjak dari kursinya dan berdiri dengan membungkuk dalam pada media.

“Jangan menangis…jangan menangis…ini salahmu, Kinara. Kau tidak pantas menangis.”, batin wanita itu. Setelah beberapa detik kemudian, wanita itu mengangkat badannya, dan kembali duduk dengan wajah tertunduk. Sebagian rambutnya menutupi wajahnya.

Kris menyadari istrinya tengah menahan tangis. Dia meminta tissue pada crew untuk istrinya. Diberikannya tissue itu sambil berbisik, “Jangan menangis di sini, chagia…”

Sesi pertanyaan pun dibuka untuk para wartawan. Dan langsung ditujukan untuk Jessica, “Jessica-ssi, kenapa anda membantunya mengambil pekerjaan ini? Padahal kita semua tahu, kalau Kris-ssi adalah orang yang mapan. Tanpa Kinara-ssi bekerja pun dia bisa membiayai kehidupannya dengan sangat layak.”

“Itu karena dia hanya ingin mencari aktifitas di luar rumah. Dia mudah sekali bosan. Dan senang untuk mengeksplor dunia baru. Karena itu, aku mencoba menawarkan ini padanya. Dan aku juga memberikan persyaratan pada Kinar. Dia boleh ikut aku, asalkan sudah mendapatkan izin dari suaminya, Kris.”, tutur Jessica.

Pertanyaan berikutnya diberikan untuk Kris, “Kris-ssi, apa anda tidak marah ketika anda tahu kalau istri anda menyembunyikan status pernikahan kalian dari publik? Bukankah itu berarti anda membebaskan istri anda dekat dengan lelaki lain?”, pertanyaan itu benar – benar menohok bagi lelaki berwajah tegas itu. Karena sebelumnya, ia bertengkar dengan Kinara karena lelaki lain.

“Aku mempercayainya. Kalau kalian berpikir, apakah aku cemburu atau tidak? Jawabannya jelas aku cemburu. Tapi aku percaya padanya, karena aku mencintainya. Lagi pula, kami tidak akan terpisah karena Nara sedang mengandung. Anak kami yang pertama.”, ujar Kris.

“Mengandung? Kinara-ssi, apa kau akan melanjutkan karirmu atau bagaimana, Kinara-ssi?”

“Karena aku mengandung, dan kupikir aku pasti akan sibuk dengan anak kami, maka aku….memutuskan untuk mengakhiri karirku.”

“Berhenti? Apa anda tidak sayang dengan karirmu yang sudah cemerlang ini?”

“Annio. Aku memulainya dengan kebohongan. Itu tidak baik. Lebih baik diakhiri semuanya.”, jawab Kinara.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selesai konferensi pers, Kinara menangis pada Kris, suaminya.

“Oppa, aku salah ya??”

“Annio, kau sudah benar kok..”, ucapnya seraya mengusap kepala wanita itu.

“Lebih baik, kau bercermin sana. Wajahmu jelek sekali!”

“Oppaa~~”

“Ppali. Aku tunggu di sini. Depan toilet.”, ujarnya lagi.

Sambil menunggu istrinya, Kris membuka tabletnya dan menghubungkannya ke dunia maya. Dia melihat cyber news sore ini. Lelaki itu sungguh terkejut melihat headline news sore itu. ‘SEORANG MODEL TERNAMA TEWAS’

Kris pun membuka berita itu. Kedua kelopak matanya melebar membacanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Masa sih?? Yang benar saja! Masa meninggal?”

“Siapa yang meninggal?”, aku mendengarkan percakapan beberapa gadis di toilet wanita ini.

“Iya benar! Nih lihat beritanya!”

“Siapa sih? Kenapa aku penasaran sekali?”, batinku.

“Padahal aku baru melihatnya tadi pagi di sini…”, ujar yang lainnya.

Sigh! Mereka ini sangat membuatku penasaran! Tapi, dari pada Yi Fan menungguku terlalu lama, aku kemudian keluar toilet. Kulihat, wajahnya menegang saat melihatku.

“Oppa, wae? Neo gwaenchana?”, tanyaku.

“Cha…chagi…I..ini..”, ujarnya memberikan tabletnya padaku. Ada apa sih?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kedua mata gadis itu pun membaca artikel dari cyber news tersebut. Air matanya kembali mengalir.

“Chu..Chundoong-ssi…tidak mungkin!! Tidak mungkin dia meninggal, oppa! Apa berita ini bohong?!”, batin wanita itu benar – benar diuji. Baru saja masalahnya selesai, kini ada lagi masalah baru.

Menurut berita, Park Chundoong tewas bunuh diri. Ditemukan beberapa pil penenang di kamar apartmentnya oleh pelayan pribadinya saat akan bertugas membersihkan apartmentnya. Dan pelayan pribadinya, Chundoong sempat bercerita tentang wanita yang dicintainya. Namun, beberapa hari yang lalu, Chundoong kembali bercerita kalau wanita itu telah bersuami.

“Oppa…ini salahku!! Ini salahku, oppa!! Seandainya saja aku jujur dari awal padanya, dia tidak akan bunuh diri!!!! Ini salahkuuu!!!!”, Kinara menangis dan menjerit kencang menutup kedua telinganya berlutut seakan meminta ampun.

“Nara…Nara..ini bukan salahmu, Nara! Ini bukan salahmu!”, Kris memeluknya erat.

“Aku…aku yang membuatnya terbunuh…aku yang membunuhnya…”, ucapnya lagi.

“Tidak, Nara…tidak..kau tidak salah…”

“Hiks..hiks..hiks…Chundoong-ssi meninggal karena aku…”

“Tidak. Itu tidak benar, Nara…”

“Hyung, kenapa kau bertindak bodoh seperti ini?”, batin Kris yang juga turut berduka. Belum kering lebam di wajahnya akibat hantaman tinjunya, kini lelaki yang menghajarnya justru sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Baru saja ia berjabat tangan dengan orang tersebut, bahkan berbincang beberapa saat. Rasanya kejadian itu baru saja terjadi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa bulan kemudian, Kris dan Kinara baru menyambangi makan Chundoong. Kris dan Kinara memang tidak menghadiri upacara pemakaman Chundoong beberapa bulan yang lalu karena sibuk dengan pemulihan mental Kinara yang terus menerus menyalahkan dirinya akibat meninggalnya Chundoong. Wanita yang tengah hamil delapan bulan itu datang bersama suaminya, Kris.

Keadaannya, jauh lebih tegar dari sebelumnya yang hanya bisa menangis setiap harinya karena selalu dihantui perasaan bersalah.

“Chundoong-ssi, mianhae aku baru datang…mianhamnida…tidak seharusnya kau seperti ini, Chundoong-ssi. Seharusnya, kau bisa mencari gadis lain yang lebih baik dariku, Chundoong-ssi.”, batin Kinara.

“Semoga kau tenang di alam sana, Chundoong-ssi…”, Kinara meletakkan beberapa tangkai mawar di atas pusara bertuliskan Park Chundoong tersebut.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hati – hati, chagia…”, Yi Fan membantuku berbaring di kamar.

“Aku bisa sendiri, oppa…”

“Kau itu ceroboh. Mana mungkin aku membiarkanmu.”, ujarnya yang membetulkan posisi bantalku.

“Ish! Menyebalkan!”, gumamku.

“Kau bilang apa tadi?”, ommo! Aku tidak menyadari kalau wajahnya sedekat ini. Haish! Ada apa dengan jantungmu, Kinaraaa!!

“A..an….annio…”, jawabku.

“Ukh!”, aku mengerang kecil merasakan ada pergerakan di dalam perutku. Kedua bayiku ini sangat berat. Dua? Ya, anak kami kembar. Itu hasil USG dari dokter. Bahkan kami menyimpan foto bayi kami saat masih dalam kandungan. Menurut hasil USG, bayi kami ini kembar beda kelamin. Yang satu laki – laki, yang satu lagi perempuan. Ommonaa!!

“Ah! Chagia, kau belum minum susu ya?”

“Uhmm…sepertinya belum, oppa.”

“Baiklah, akan kubuatkan dulu.”, ujarnya.

Selama suamiku di dapur, aku masih memperdengarkan musik klasik pada kandunganku.

Tak lama dia kembali dengan susu cokelat di tangannya. Susu khusus ibu hamil, “Gomawo yo…”

“Ne..”, jawabnya singkat menyerahkan gelas itu padaku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sudah…”, ujar Kinara memberikan gelas kosong padanya.

Kris pun mengambil gelas itu dan kembali menatap istrinya, “Wae? Ada yang kotor di wajahku, oppa?”

“Anni, eopseo…but, your lips are tempting me, chagia…”, ujarnya mengangkat dagu wanita itu yang kemudian mencium bibir istrinya.

“Isssh..apa sih, oppa…!”, dengan wajah yang memerah wanita itu memalingkan wajahnya.

“Hhh~ Well, ini waktunya tidur siang.”, ujar Kris yang kemudian ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya.

“Mwo? Memangnya kau tidak kantor?”

“Cuti untuk beberapa hari ke depan.”

“Hassh~! Kau leader yang aneh!”, Kris hanya menanggapinya dengan tertawa.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sudah sore, aku harus masak.”, batinku yang perlahan turun dari ranjangku agar Yi Fan tidak terbangun.

Hhm..masak apa sekarang? Di kulkas ada apa saja ya? Ooh! Lebih baik aku buat sayur lodeh saja. Yap! Itu sama saja seperti soup, hanya bedanya sedikit bersantan.

Aku pun langsung mempersiapkan bahan – bahan untuk membuat salah satu soup khas Indonesia tersebut.

“Labu, pepaya muda, kacang panjang, wortel, daun melinjo dan melinjonya, kol..huwaaa!! Tidak ada terong ungunyaa!!”, aku baru menyadari kalau tidak ada terong dalam kulkasku. Hash! Sudah lah. Semuanya juga bisa.

Aku pun mulai mengupas bawang merah beberapa siung. Dan langsung menyelupkannya ke dalam panci berisi air tersebut. Setelah bumbu – bumbu yang lain dan melinjo sudah kumasukan, aku mulai mengupas pepaya mudanya.

Kata mama, pepaya muda dan labu, harus dimasukkan terlebih dahulu supaya tidak keras pada saat dimakan. Setelah kupotong dadu, kumasukan pepaya muda dan labu tersebut. Kini aku mulai menyerut wortelnya. Kucuci lagi, dan kumasukkan ke dalam panci. Hiks! Berhubung terong ungunya tidak ada, aku mulai memotong – motong kacang panjang dan kol. Kumasukkan semuanya ke dalam panci dan tidak lupa dengan daun melinjonya.

“Chagia…”

“Huwaaa!”, aku tersentak kaget ketika ada sepasang tangan yang melingkari perutku yang buncit ini.

“Kau ini memang tidak bisa diam ya…”, dengan suara yang masih serak dia bergumam menelusupkan wajahnya di leherku.

“Apa aku membuatmu terbangun?”, tanyaku. Dia menganggukkan kepalanya walau pun masih diletakkannya di bahu kananku.

“Kau tidak ada di sebelahku. Makanya aku bangun.”

“Aku kan masak untukmu, oppa…”

“Harusnya kau bilang padaku.”

“Bagaimana mungkin. Kau kan tidur. Dan kalau kau sudah tidur, kau itu seperti pingsan. Susah dibangunkannya. Kkkk..”

“Aku langsung bangun jika kau menciumku.”

“Aissh~ Kau ini… Awas ah~”, aku sedikit menyikutnya hingga akhirnya ia melepaskan pelukannya dariku.

“Kau buat apa, chagia?”

“Soup untukmu.”

“Soup? Soup pakai santan?”

“Hahaha, ini makanan khas Indonesia.”, jawabku menjulurkan lidahku padanya.

Dia pun melongok ke panci, “Itu seperti pepaya. Tapi…masih putih.”

“Memang.”, jawabku yang kemudian menuang santan di panci.

“Nah! Tinggal menunggu matang.”, ujarku sambil mengaduk – aduk isi panci sementara aku menyiapkan makanan yang lain.

“Oppa, dari pada kau mempersulit gerakku di dapur, lebih baik kau mandi deh. Sana.”, ujarku.

“Kau tidak mau kubantu?”

“Anni..aku bisa sendiri..”, jawabku yang mengambil wadah yang terbuat dari batu.

“Aigoo! Apa lagi itu?? Kau ini hidup di zaman modern, kenapa masih pakai batu?”

“Sssstt!! Ini namanya cobek!”

“Bebek?”

“Cobek, oppaa…cobeeekk!! Dan ini, ulekkannya.”

“Peralatan apa lagi itu?? Astaga! Kau beli di manaa??”, Yi Fan memperhatikannya.

“Import dari Indonesia. Hahaha.”

“Astaga! Ini batu sungguhan, chagi! Ini berat!”

“Ya iya dong oppaaa~~”

“Kupikir ini dari semen atau semacamnya.”

“Anni, kalau semen, itu bahaya. Karena ketika kita mengulek ini semua, semen akan ikut tercampur.”

“Kenapa kau tidak menggunakan blender saja? Kau mau repot seperti ini.”

“Kata mama, kalau pakai blender, vitaminnya larut ke mesin blendernya. Beda kalau pakai ini..”

“Jadi ini ide mendiang mama mu?”, tanyanya yang kujawab dengan anggukan kepalaku.

“Kau tidak pegal?”

“Tidak..aku sudah terbiasa dulu saat di Indonesia dengan mama.”

Sepertinya dia benar – benar terkesima melihatku yang sedang mengulek bumbu – bumbu ikan ini. Terbukti berkali – kali aku memergokinya dengan menatapku dengan mulut yang sedikit terbuka.

“Yaah~! Tutup mulutmu itu, oppa. Bisa – bisa nyamuk bisa masuk ke dalam mulutmu.”

“Oo, aku hanya heran saja.”

“Ahaha…hey, oppa.. Kau tahu, dengan benda ini, aku bisa melakukan sexy dance loh! Aku pernah mencobanya waktu aku pertama kali belajar memakai ini sendirian.”

“Aaa! Jangan…jangan! Bahaya untuk anak kita, chagia!”

“Walau pun sebenarnya aku ingin melihatnya..”, lanjutnya dengan gumaman.

“Apa kau bilang?”

“Annii…anni..”

“Aku mendengarnya loh, oppa..”, dia hanya terdiam dan lebih memilih menghindari tatapanku.

“Well, aku akan melakukannya kalau anak kita sudah di dunia. Kkk…”

“Mwo?? Malam – malam ya.”

“Aku kan masaknya sore..”, jawabku.

“Siapa bilang saat masak? Kau tidak perlu masak. Pakai itu malam – malam dan….”

Haissh! Aku mengerti sekarang arah pembicaraannya! Issh! Dasar mesum!

“Dan apa, eoh?”, aku menarik kerah bajunya dan mengangkat wajahnya dengan gagang spatulaku.

“Wow! Wow! Wow! Kau bisa agresif juga, chagia…”, ujarnya dengan membuat smirk di wajahnya.

“Oppaaaa!!! Sana mandi ah!! Kau membuatku kesal di dapur sini!!”, aku mendorongnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Satu bulan sudah Kinara dan Kris suaminya menunggu kelahiran anak kembarnya. Nampaknya, malam ini adalah malam dimana kebahagiaan mereka berdua terlengkapi.

Rintihan dari wanita itu memenuhi suasana sepi, hening, di kamar yang gelap itu. Di sampingnya, Kris masih tertidur dengan lelapnya.

“Oppa…”, Kinara berusaha membangunkan suaminya. Tapi, sepertinya lelaki itu masih betah menjelajahi alam mimpinya. Ia tertidur pulas dengan terlentang dengan salah satu tangannya berada di bawah bantalnya.

“Oppaa…”, panggil Kinara lagi yang menahan sakit di perutnya. Tangan wanita itu ikut mengguncang – guncang tubuh Kris agar terbangun.

“Oppaaaaaa~~~”, tangan wanita itu mengguncangkan tubuh Kris dengan kasar.

“Hhmmhh…apa sih, chagia?? Masih malam..tidur lagi..”, gumam Kris.

Karena kesal, akhirnya Kinara melakukan sesuatu.

BUGH!!!

“Ukh! Chagia, waeee???”, Kris mengerang dan segera duduk memegangi perutnya yang ditinju istrinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau masih bertanyaaaaa????!!! Aku mau melahirkan, pabboooo!!!!”, aku menjambak rambut suamiku sendiri. Ashh! Mianhae, oppa. Itu bukan kemauanku. Akh! Rasanya sakit sekaliiii!!

“What?! Ka…ka..kau…mau…

Dia pun segera menyibakkan selimutnya dan keluar kamar setelah menyambar kunci mobilnya dari laci nakas.

“Yaaa!! Yaaa!! Yaaa!! Eoddiga yoo?!!”, ck! Sial! Dia tidak menjawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chagi, kajja…”, Kris kembali ke kamar dan menggendong istrinya ke mobil.

Setelah mengunci rumahnya, lelaki itu melajukan mobilnya membelah suasana heningnya malam menuju rumah sakit.

“Oppaa!!! Ppaliii yaaa!!”, Kinara menarik – narik tangan Kris yang memegang kemudi. Sontak saja mobil langsung keluar dari jalurnya.

“Yaa~~ Chagia..chakkamanyo…”, Kris langsung menstabilkan laju mobilnya. Beruntung tengah malam itu tidak ada kendaraan lain hingga mobil tidak menabrak.

“Kyaaaa!!! Oppa!!! Kau lama sekaliiii!!!”, Kinara menarik – narik tangan Kris yang tentunya membuat laju mobil tidak menentu.

“Yaaaa~~!! Chagiaaa..kau mau membunuh kita semua, eoh??”

“Sakiiitt oppaaaa!!!”

“Aku tahu…tunggu sebentar.”

“Hyaaa!! Koe wis tak kandani ora ngertiii!!”, karena rasa kesalnya memuncak, Kinara meracau dengan bahasa Jawanya yang tidak dimengerti suaminya.

“Chagi? Apa yang kau katakan? Bahasa mana yang kau pakai?”

“Cepaaaaaatttt!!!!!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Huwwaaaa!!! Oppaaaaa!!! Sakiiittt!!!”, saat ini Kris menemani istrinya di ruang persalinan.

“Uuughhh!!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tangis bayi yang terakhir pun terdengar olehku. Napasku terengah – engah saat ini. Aku tidak peduli dengan penampilanku yang kacau saat ini. Aku juga tidak tahu siapa yang lebih dulu lahir. Entah yang perempuan atau yang laki – laki. Tangan Yi Fan tetap setia menggenggam tanganku.

“Chagia, anak pertama kita laki – laki.”

“Jeongmal..hhh?”, tanyaku.

“Ne..dan baru si cantik keluar.”

“Oh..ne..”, jawabku lirih.

“Aku mengurus pembayaran dulu ya..”

“Uhm, oppa…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kilatan flash light banyak menerpa wajah Kris yang baru saja keluar dari luar persalinan saat hendak menuju administrasi rumah sakit.

“Kris-ssi, bagaimana Kinara-ssi? Bagaimana bayinya? Apa jenis kelaminnya?”, tiba – tiba saja sudah banyak media di hadapannya.

“Apa – apaan ini? Darimana mereka tahu? Bahkan aku dan Nara sama – sama tidak membawa ponsel.”, batin Kris.

Kris tetap berjalan dengan diam seribu bahasa. Sesekali ia tersenyum menanggapi mereka semua, “Jeosonghamnida..permisi..”, ucap Kris yang meminta jalan.

“Kris-ssi, apakah Kinara-ssi sudah dipindahkan ke ruang perawatan? Kris-ssi, minta komentarnya..”, banyak wartawan yang memburu beritanya.

“Kris-ssi…Kris-ssi..minta waktu sebentar saja…”

“Mianhamnida…”, ujar Kris tersenyum.

“Kris-ssi..Kris-ssi..”

“Haish! Baiklah, kulayani kalian!”, batin Kris kesal namun mencoba untuk tetap tersenyum.

“Bagaimana Kinara-ssi?”

“Nara baik – baik saja…bayi kami kembar..laki – laki dan perempuan..gamsahamnida..”, ujar Kris yang kemudian kembali berjalan.

“Bisakah kami melihat foto anak kalian?”

“Wah, aku tidak bawa ponsel. Jadinya aku belum memotret anakku…sudah ya..maaf, permisi…”, jawab Kris sambil berjalan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Waeyo?”, Yi Fan saat ini terlihat kesal, lelah dan malas.

“Anni..aku heran..dari mana mereka semua tahu berita ini?”, tanyanya padaku sambil menarik kursi di samping tempat tidur rumah sakit.

“Nugu? Berita apa?”

“Tentangmu yang melahirkan..”

“Hah? Jeongmalayo?”, tanyaku lagi.

“Hhm..bahkan aku tidak membawa ponsel.”

“Mungkin ada orang yang melihat kita lalu meng-update statusnya? Cyber kan cepat sekali menyebarnya.”, jawabku.

“Hhmm..mungkin..hoahmm..aku masih mengantuk sekali, chagia..”, dia menguap dan mengusap matanya.

Tak lama kedua anakku pun didorong oleh dua perawat di dua box bayi yang berbeda.

“Ini nyonya, anak kalian…”, ujar perawat itu ramah.

Aku pun segera menyusui kedua anakku bergantian. Saat aku menyusui bayi laki – lakiku, bayi perempuanku digendong oleh Yi Fan. Begitu pun sebaliknya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Pagi hari menjelang. Ketukan pintu ruang rawat Kinara diketuk seseorang dari luar. Kris pun memeriksanya keluar.

“Oo? Joon hyung?”

“Aku melihatnya di tv. Chukkae yo..”, ujar Joon menyalami Kris.

“Kajja, ke dalam.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mwoo?!! Joon oppaaa!!”, aku langsung menghentikan makanku saat melihatnya masuk. Dan merentangkan tanganku memintanya untuk memelukku. Aaah~~ Sebenarnya, pesonanya masih membuatku sedikit terpikat sih..kkkk..

“Chukkae yo, Ra…perempuan sepertimu bisa melahirkan normal juga ya?? Hahahaha.”, ujarnya yang membalas pelukanku.

“Ehem!”, Yi Fan berdeham di belakang Joon oppa dengan kedua tangan terlipat di dada.

“Aigoo! Anakmu lucu sekali~!”, serunya saat melihat kedua anakku di dalam box bayi.

“Uhm! Lucu kaaan?? Seperti aku..kkk..”

“Chagia, kau tidak melanjutkan makanmu?”, suamiku menginterupsi pembicaraan aku dan Joon oppa.

“Oh, ne yeobo…”, jawabku. Yeobo? Entah kenapa aku biasanya memanggil suamiku dengan sebutan ‘oppa’ kini menjadi ‘yeobo’.

“Joon oppa…mianhae, aku makan ya…”, ujarku.

“Ne, gwaenchana…oh ya, aku di sini mewakili Rain hyung, Siwon hyung, juga G.O hyung. Mereka semua tidak bisa datang karena sibuk. Mereka menitip salam untukmu.”

“Ne…gwaenchana, oppa… Salam saja sudah cukup kok.”, tuturku.

Tiba – tiba saja, pintu ruang rawatku kembali terbuka. Kulihat si Kyu evil dan istrinya, Keiko-chan masuk.

“Kyaaahh~~ Keiko-chaaann~~”

“Kinaar~~”, dia memelukku.

“Oh Kamisama (oh Tuhan)! Anakmu kembar!”, seru Keiko-chan.

“Uhm..hey, kalian tahu dari mana?”

“Tv, infotainment, cyber. Semua sedang membicarakanmu!”, ujarnya.

“Jeongmal?”

“Neeee~~~ Oh! Uhm..Sica eonni dan Taeng eonni ada pemotretan. Jadinya..dia tidak bisa ke sini. Tapi dia menitipkan ini…”, Keiko mengeluarkan paper bag.

“Apa ini? Woaahh!! Baju bayi? Ah! Aku harus mengucapkan terima kasih.”

“Pakai ponselku saja..ini..aku tahu kau tidak bawa ponsel kan?”, aku hanya terkekeh.

“Yeoboseyo~”, suara Sica eonni terdengar.

“Eonniiii~~~”

“Mwo? Kinar!”

“Ne, eonnii… It’s me!”

“Apa Keiko-chan di sana? Taeeengg~~ Sini! Kinar menelpon kita!”, Sica eonni terdengar berteriak.

“Manaaa??? Aku mau bicaraaa..aku mau bicaraaa~~”, itu Taeng eonni!

“Eonni, gomawo yoo hadiahnyaaa~~”

“Itu untuk anakmu, bukan untukmu..hahha.”, Sica eonni tertawa.

“Arra yo..gomawoo…gomawooo~~~”

“Cheonma, Kinar. Kami membelikannya sepasang karena tahu bayimu kembar. Tahu dari statementnya Kris. Hihihi…”

“Ne, eonni, memang kembar…terima kasih bajunya..”

“Ne..ah! Kinar, kami ada pemotretan..salam untuk yang lainnya ne..”, Taeng eonni kemudian menyambung.

“Ne…Sica eonni, Taeng eonni, gomawo yooo…”

“Neeeee~~ bye piee!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chukkae yo, pabbo yeoja! Kau melahirkan dua anak sekaligus. Hahaa.”

“Isssshh~~ Evil! Sembarangan mengataiku pabbo! Nǐ shǎle (kau bodoh)!”, ujarku. Dia hanya tertawa.

“Bye the way, siapa nama anak kalian?”, Kyuhyun mengusap pipi anakku yang digendong suamiku, Yi Fan.

“Iya nih..siapa?”, sambung Keiko-chan yang ikut mengusap anakku yang kugendong.

“Wu Xiurong, untuk si cantik, dan Wu Xiaoqing, anakku yang tampan ini.”, ujar suamiku.

“Woah! Apa artinya?”, tanya Joon oppa.

“Xiurong artinya kemuliaan yang indah. Xiaoqing artinya anak yang cerdas. Bagaimana menurutmu, hyung?”

“Sounds good! Hey, bagaimana kalau kita foto bersama?”, ujar Joon oppa. Kini ia meletakkan ponselnya di atas sebuah kaleng berisi biskuit sebagai dudukannya dan penyangganya.

Aku pun duduk bersandar di ranjangku menggendong Xiao, anak lelakiku. Dan di sebelah kananku berdiri suamiku Yi Fan dengan menggendong Xiu, anak perempuanku. Sementara Keiko-chan, duduk di tepi ranjang dengan suaminya Kyuhyun di sampingnya. Sedangkan Joon oppa, langsung berdiri di samping suamiku, Yi Fan setelah menyalakan timernya.

Kalau ada yang bertanya padaku, ‘What is love?’ Tentunya aku akan menjawab, cinta adalah sebuah perasaan suci yang mengajarkan banyak hal di dalam hidup seseorang. Karena hal itulah yang terjadi padaku saat ini.

Hidupku lengkap sekarang. Memiliki dua anak, suami yang baik dan perhatian padaku, juga teman – teman yang tidak meninggalkanku. Aku hanya berharap Xiao dan Xiu dapat tumbuh besar sesuai keinginan kedua orang tuanya.

THE END

3 tanggapan untuk “What Is Love_Sequel War, Love, You”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s