Amore

Poster - Amore

[Kalo aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada seorangpun yang boleh. ]

Length: One-shot – Rating: PG – Cast: Chanyeol, Baekhyun & Kris – Genre: Pshcyo]

[Author: Genie]

poster: nana

Siang itu bola cahaya besar bernama matahari bertengger manis di tengah-tengah bumi. Membuat siapun yang berada di bawah merasa gerah dan memilih berlindung. Tapi panas yang di pancarkan bola cahaya raksasa itu tidak menyurutkan niat para gadis di kampus Yonsei untuk bergerak dari pinggir lapangan basket.

 

Soalnya ada yang memotivasi mereka untuk berdiri di sana, berhadapan langsung dengan panas matahari, mengabaikan peluh keringat yang menetes.

 

Siapa lagi kalo bukan Park Chanyeol dan Kris Fan. Dua lelaki yang menjadi andalan tim basket kampus, Dua lelaki dengan tinggi menjulang seperti tower, dua lelaki dengan lukisan wajah Tuhan paling sempurna, dua lelaki yang bisa meluluhkan hati wanita dengan seulas senyuman.

 

Intinya mereka sempurna.

 

Dari segi fisik, finansial dan segalanya. Mereka target utama seluruh gadis yang ada di kampus, membuat para lelaki lain meringis iri. Lemparan bola Kris dari tengah lapangan lolos tanpa rintangan ke dalam ring bersamaan dengan bunyi peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan siang ini.

 

Kris segera menuju lapangan, menyeka keringat dengan handuk kecil dari dalam ranselnya sementara Chanyeol sibuk melambaikan tangan kepada para gadis dengan senyum lebar-lebar.

 

Tipikal Chanyeol, sesuai dengan panggilannya Happy Virus. Kontras dengan Kris berwajah dingin dan tidak banyak bicara. Orang-orang sering membicarakan bagaimana mereka bisa begitu akrab menilik dari kepribadiaan mereka yang bagai kutub utara dan selatan. Tapi bukankah di situ kelebihannya?

 

Mereka melengkapi  satu sama lain.

 

Hubungan keduanya melebihi sahabat, mereka sudah seperti keluarga. Di sini Kris yang mengambil posisi sebagai kakak. Selalu sabar dengan sikap ceroboh dan konyol Chanyeol, selalu mengingatkan Chanyeol dari hal kecil hingga yang paling besar dan selalu setia menemani Chanyeol kemanapun dia pergi.

 

Mereka seakan tidak butuh wanita, cukup hanya dengan memiliki satu sama lain. Kris kira Chanyeol memiliki pemikiran yang sama, cukup mereka berdua. Kris tidak pernah membayangkan kalo ada orang lain di antara mereka berdua, dia tidak juga tahu seperti apa rasanya hingga suatu hari, ketika dia sedang menunggu Chanyeol di dalam mobilnya laki-laki itu masuk dengan senyum lebar memenuhi wajahnya. Membuat Kris tanpa sadar menaikkan sebelah alis.

 

Mungkin orang berfikir itu senyum yang sama, tapi hey Kris sudah mengenal Chanyeol dari awal mereka membuka mata di dunia hingga detik ini. jadi Kris tau betul, di balik senyum itu ada hal menyenangkan tersimpan di sana.

 

Hal menyenangkan yang Kris harap tidak pernah datang.

 

Membuat  dia menyesali kebodohannya tidak bisa menemani Chanyeol ke toko buku kemarin. Karena semua berawal dari sana. Pertemuan Chanyeol dengan seorang laki-laki yang terus saja dia sebut manis.

***

 Langkah Chanyeol berderap cepat menuju deretan rak komik yang dia cari sesampainya di toko buku, dia tidak mau mengambil resiko kehabisan komik itu lagi seperti bulan lalu. Masih beruntung dia punya Kris, karena dua hari kemudian mendatanginya dengan komik itu.

 

Tapi tetap saja, Chanyeol tidak mau merepotkan Kris dengan hal-hal kecil seperti ini. Dia sudah terlalu banyak mengandalkan Kris dalam banyak hal seumur hidupnya.

 

Langkahnya berbelok cepat ketika melihat komik yang dia cari ternyata ada di tumpukan buku baru, dia baru mau menarik komik itu ketika tau-tau tangan lain ikut menarik komiknya.

 

“Hey!” dia mengerang kesal.

 

“ini punyaku! Kau cari yang lain saja sana!” dengan satu sentakan keras, komik itu berhasil dia rebut. Chanyeol mengulum senyum penuh kemenangan tanpa menyadari seseorang di depannya berdiri kikuk sambil mengelus tengkuk.

 

“Oh maaf” katanya lalu menunduk, berusaha mencari salinan lainnya tapi nihil. Yang Chanyeol pegang adalah stok terakhir. Laki-laki itu mendesah. Membuat Chanyeol yang hendak melangkah menuju kasir menoleh dan tanpa sengaja manik keduanya bertemu.

 

Membuat Chanyeol seketika lupa caranya bernafas…

 

Laki-laki di depannya berpostur tubuh mungil, mengenakkan jaket berukuran lebih besar  dari tubuh mungilnya, kacamata bertengger di hidung. Lalu matanya, ah Chanyeol tidak pernah tau kalo seorang laki-laki bisa memiliki mata seindah ini.

 

Dia masih sibuk menganggumi ciptaan Tuhan di hadapannya ketika laki-laki mungil itu mengedarkan pandangan jauh keluar toko buku sambil bergumam sesuatu yang utnungnya masih bisa Chanyeol dengar jelas.

 

“aku harus mencari kemana lagi”

 

“Maaf, kau mencari komik ini?” laki-laki itu menoleh lagi pada Chanyeol. Mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali sebelum mengangguk pelan. Mungkin Chanyeol aneh, tapi dia merasa cara laki-laki di hadapannya ini mengerjapkan kelopak mata sangat lucu, mengingatkannya pada anak anjing peliharaa Jongin. Entah dia sadar atau tidak , sebelah tangan yang ada komik terulur ke arah laki-laki itu.

 

“untukmu” satu kata yang terlontar dari mulut Chanyeol mampu membuat bola mata laki-laki mungil yang terhalangi lensa kacamata itu membulat.

 

“Oh tidak usah, itu punyamu. Seperti yang kau katakan tadi” dia mundur satu langkah sebelah tangan melambai di depan dada.

 

“Aku berubah pikiran, ini milikmu sekarang. Aku juga baru ingat, aku bisa meminjamnya dari sahabatku besok”

 

Tangan Chanyeol masih menggantung di udara, sementara keduanya lagi-lagi bertukar pandangan.

 

“Kau yakin?” setelah detik yang berjalan begitu lambat bagi Chanyeol laki-laki mungil di hadapannya melontarkan sebuah pertanyaan dengan suara cempreng tapi malah terdengar begitu merdu memenuhi gendang telinga Chanyeol.

 

Dia mengangguk sebagai jawaban, kemudian kedua sudut bibirnya tertarik ke atas ketika tangan laki-laki itu terulur untuk mengambil komik dengan hati-hati.

 

“terima kasih, aku tidak tahu harus membayar dengan apa karena seharian aku sudah menghabiskan waktu hanya untuk mencari komik ini dari toko buku satu ke toko buku lainnya dan toko buku ini harapan terakhirku” dia mengulum senyum menggoyangkan sebelah tangan yang ada komiknya.

 

“bagaimana jika sebuah nama?”

 

“eh?”

 

“hm, maksudku bagaimana kalo kau memberitahu namamu sebagai ucapan terima kasih?”

***

“Byun Baekhyun. Dia tersenyum sebelum memberitahuku namanya. Aku fikir dia akan berteriak, mengatai aku ini sinting atau apa karena meminta nama sebagai balasan terima kasih tapi nyatanya dia tidak, Kris. Astaga, dia laki-laki paling manis yang pernah aku temui!”

 

Chanyeol masih sibuk berceloteh ini itu mengenai pria mungil bernama Byun Baekhyun yang dia temui di toko buku kemarin. Tidak menyadari ekspresi Kris di sampingnya, tidak juga menyadari genggaman Kris pada setir mobil semakin kuat.

***

Dan semenjak pertemuan itu Chanyeol berubah.

 

Dia jadi lebih sering menghabiskan waktu di luar kampus bersama Baekhyun. Tidak ada lagi makan malam bersama, tidak ada lagi waktu menginap bersama. Frekuensi kebesamaan mereka berkurang drastis semenjak kehadiran Byun Baekhyun.

 

Kris merasa di buang. Seperti mainan yang sudah ketinggalan jaman. Seperti itulah Chanyeol memperlakukannya. Saat ini Chanyeol sedang asik dengan mainan baru, tidak menoleh pada Kris sama sekali.

 

Awalnya, Kris mencoba bersabar. Dia pikir Chanyeol akan merasa bosan lalu hubungan mereka bisa kembali seperti dulu. Sayangnya, dia salah.

 

Chanyeol benar-benar asik dengan mainan barunya. Mengabaikan Kris seutuhnya.

 

Dia benci keadaan seperti ini, dia tidak mau Chanyeol di rebut siapapun. Chanyeol milik Kris semenjak mereka lahir. Jadi, sebelum Chanyeol semakin jauh pergi darinya, Kris membuat rencana. Rencana kecil untuk menjauhkan Chanyeol dari Baekhyun.

 

Kalo dia tidak bisa memiliki Chanyeol. Maka tidak ada seorangpun yang boleh.

***

Hari ini setelah kuliah berakhir Chanyeol mau mempertemukan Kris dengan Baekhyun. Well, Kris lah yang meminta untuk di kenalkan pertama kali, dia beralasan tertarik ingin bertemu Baekhyun setelah mendengar cerita Chanyeol selama ini.

 

Dia ingin tahu sosok seperti apa yang sudah berhasil mencuri perhatian Chanyeol sepenuhnya dari Kris.

 

Dan Chanyeol tentu saja tidak menolak permintaan Kris. Mereka bertiga bisa menjadi teman baik, Kris pasti langsung menyukai Baekhyun sama sepertinya. Kris hanya menarik sebelah sudut bibir kaku mendengar kalimat Chanyeol.

 

Andai saja Chanyeol mau memperhatikan senyum Kris lebih teliti, dia pasti tau senyum itu palsu. Bahwa ada rencana di balik senyuman itu.

***

Kris mengekor di belakang Chanyeol, mereka sekarang ada di sebuah mallMall terkutuk yang menjadi tempat pertemuan pertama Chanyeol dan Baekhyun. Langkah Chanyeol membawa keduanya masuk ke sebuah kafe kecil yang ada di lantai tiga mall.

 

Kris ikut berhenti ketika Chanyeol di depannya berhenti beberapa langkah tidak jauh dari pintu masuk kafe, dia sibuk menggulirkan bola matanya ke penjuru kafe ketika Chanyeol meneriaki sebuah nama yang akhir-akhir ini mendominasi pembicaraan keduanya. Dia tidak langsung mengikuti pandangan Chanyeol, dia masih nyaman di belakang Chanyeol sampai langkah mereka berhenti lagi.

 

“Halo Chanyeol”

 

“Baek, ini Kris” Chanyeol menarik lengan Kris untuk berdiri di sampingnya sekarang.

 

“dan Kris, ini Baekhyun” Kris menoleh. Mendapati sosok laki-laki mungil mendongak ke arahnya dengan wajah di hiasi senyuman. Oh dia benci mengakui ini, tapi Chanyeol benar.

 

Baekhyun memang manis…

 

Dia terlihat sedikit geek dengan kacamata besar yang bertengger di hidungnya tapi entah mengapa itu malah menambah kesan manisnya. Dia memaksakan seulas senyuman,

 

“Halo, Baekhyun”

***

Kris tidak tahu rasanya di abaikan bisa menyebalkan seperti ini. Dia tidak pernah di abaikan sebelumnya. Lagi pula siapa yang mau mengabaikan Kris Fan? Tidak ada, kecuali Pak Chanyeol tentunya.

 

Sahabatnya itu asik sekali dengan dunianya dan Baekhyun, melupakan keberadaannya di tengah mereka. Sesekali dia sengaja berdeham keras agara Chanyeol mau menoleh, menyadari keberadaannya tapi nihil. Dia merasa sepeti hantu. Tidak terlihat. Hanya Baekhyun yang  sesekali melirik ke arah Kris dari ekor matanya.

 

“Chanyeol, kau mengabaikan Kris”

 

“eh?” Chanyeol menoleh pada Kris yang tampak terkejut juga dengan kata-kata Baekhyun.

 

“Kris berkali-kali berdeham tapi kau seperti tuli.” kali ini Baekhyun tertawa kecil sambil membenarkan letak kacamatanya.

 

“jadi, Kris kau sudah mengenal Chanyeol sejak kecil?” Baekhyun memulai obrolan bersama Kris sambil menyesap minumannya.

 

Kris mengangguk.

 

“benar kan? seperti yang aku katakan padamu Baek, kami berdua sudah seperti kakak-adik” Chanyeol tersenyum lebar-lebar memamerkan deretan gigi putih rapinya bangga, sebelah tangan merangkul pundak Kris.

 

“senang bisa bertemu langsung denganmu, Baekhyun. Chanyeol tidak bisa berhenti membicarakanmu semenjak kalian bertemu”

 

“oh ya? Apa yang sudah dia katakan padamu?”

 

“segalanya. Aku sampai terabaikan akhir-akhir ini, dia terus saja bicara tentangmu, pergi bersamamu” Kris sengaja memasang ekspresi terluka. Membuat tawa laki-laki lainnya pecah.

 

“ah maaf, Kris sudah merebut sahabat baikmu” Baekhyun lagi-lagi membetulkan letak kacamatanya.

 

Dan obrolan mereka terus mengalir.

 

Kris jadi tau kalo selama ini Chanyeol juga selalu membicarakan tentangnya pada Baekhyun membuat Baekhyun pun ingin bertemu dengannya.

 

Hanya saja, bila Baekhyun terlihat benar-benar senang bisa bertemu dengan Kris maka Kris tidak. Melihat sendiri fakta bahwa Baekhyun memang manis, Baekhyun memang menyenangkan seperti yang selama ini Chanyeol selalu katakan membuat dia merasa risih.

 

Dia tidak mau mengakui kalo  Baekhyun memang terlihat sempurna untuk di jadikan teman oleh seorang Park Chanyeol. Dia seperti menikmati setiap tindakan Chanyeol yang terkadang cenderung memalukan.

 

Baekhyun malah tidak segan-segan melakukkan hal sama seperti Chanyeol, mengabaikan pandangan heran dan aneh dari orang-orang di sekitar. Kris semakin terusik. Dia pikir selama ini hanya dia yang mau meladeni kelakuan konyol Chanyeol. Lalu hatinya mulai berdenyut nyeri saat melihat Chanyeol menggoda Baekhyun dengan mencoba melepas kacamata yang Baekhyun pakai.

 

“Chanyeol, jangan” Baekhyun menjauhkan diri dari jangkau lengan panjang Chanyeol.

 

“sekali saja, Baek. Aku ingin melihat langsung matamu tanpa kacamata” suara Chanyeol merajuk, bibirnya melengkung kebawah.

 

“tidak mau. Aku buta tanpa kacamata”

 

“separah itukah?” kali ini Chanyeol berhenti mencoba menggapai kacamata Baekhyun.

 

“separah suara-suara aneh waktu kau tidur tidak?”

 

“Park Chanyeol!” Baekhyun mengerang. Sementara hati Kris terasa dua kali nyerinya. Bakhyun dan Chanyeol sudah pernah menginap bersama, padahal selama ini Chanyeol hanya mau menginap bersama Kris.

 

“suara-suara aneh waktu tidur? Kalian sudah pernah menginap bersama? Park Chanyeol, kau benar-benar keterlaluan. Bagaiamana bisa kau tidak mengajakku, huh?” sekali lagi ada ekspresi terluka memenuhi wajah Kris, yang ini benar-benar mewakilakn perasaan terlukanya dan sayang terlewatkan oleh Chanyeol.

 

“ah! Aku belum cerita ya? Baekhyun kalo tidur suka sekali mengeluarkan suara seperti anak anjing. Awalnya aku fikir dia mengigau tapi ternyata ­—“

 

YA! Chanyeol, berhenti mempermalukanku!” Chanyeol tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, Baekhyun sudah mengacak rambutnya ganas dengan muka merah padam. Namun alih-alih marah, Chanyeol malah tertawa geli.

 

Dia suka sekali menggoda Baekhyun, dia suka bagaimana warna merah mulai mendominasi wajah dan daun telinga Baekhyun ketika lelaki mungil itu menahan malu. Kris memutar bola mata, jengah dengan apa yang ada di hadapannya.Seiring kedua lengannya mengepal di atas pangkuan.

 

“Hei, bagaimana kalo kita menginap bersama? Di rumahku besok malam?” tawaran Kris menghentikan aksi brutal Baekhyun di rambut Chanyeol.

 

“a-apa?” laki-laki mungil itu tampak kaget.

 

“wah ide bagus, Kris! jadi kau bisa langsung mendengar suara-suara aneh Baekhyun!” Chanyeol tertawa lagi, kali ini lebih kencang sambil bersiap-siap menghadapi amukan Baekhyun selanjutnya.

 

Kris mengulum senyum, menyesap habis sisa minuman di gelasnya. Dia membiarkan adegan di hadapannya terus terjadi, toh ini akan jadi terakhir kalinya dia melihat. Dia pastikan dua laki-laki di hadapannya ini tidak akan bisa lagi bercanda seperti ini setelah besok malam.

***

Baekhyun sekali lagi memeriksa alamat rumah Kris yang tadi Chanyeol kirimkan lewat pesan singkat. Sebenarnya, dia berharap mereka bisa datang bersama ke rumah Kris, tapi Chanyeol bilang dia ada urusan, jadi dia akan tiba di rumah Kris duluan.

 

Setelah yakin kalo dia tidak salah alamat, Baekhyun menekan bel tiga kali berturut-turut, beberapa detik kemudian dia bisa mendengar ada langkah kaki mendekat di balik pintu.

 

Pintu mengayun terbuka dari dalam, menampilkan langsung sosok menjulang Kris yang terbalut piyama. Sebelah sudut bibir Kris terangkat ke atas.

 

“Baekhyun, ayo masuk”

 

Baekhyun mengangguk singkat, menjejakkan kaki masuk sementara sang tuan rumah di belakang mengunci pintu. Hal pertama yang Baekhyun lakukan adalah menggulirkan bola matanya kepenjuru sudut ruangan, dalam hati nya berdecak kagum.

 

Rumah Kris sungguh mewah.

 

“Chanyeol mana?” dia bertanya tanpa menoleh pada Kris, masih larut dengan apa yang di sajikan untuk matanya.

 

“dia belum datang” jawaban Kris membuat Baekhyun berhenti memandang sekitar.

 

“tadi Chan—“ dia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Karena baru saja mau menoleh ke arah Kris tau-tau ada benda keras yang menghantam bagian belakang kepala hingga tubuhnya terhempas jatuh ke lantai.

 

Hal terakhir yang dia lihat sebelum kehilangan kesadaran sepenuhnya adalah senyuman Kris dan sebuah tongkat di genggamannya.

***

Byun Baekhyun bermimpi.

 

Dia berada di ruangan minim cahaya dengan keadaan duduk terikat di sebuah kursi. Hampir di sekujur tubuhnya terasa sakit. Dia mungkin tidak bisa melihat jelas keadaan sekitar karena kacamatanya tidak ada.

 

Tapi Baekhyun bisa melihat jelas luka-luka di bagian lengannya. Di sana pusat sakit yang dia rasa. Bukan jenis luka akibat di tusuk berkali-kali, ini jenis luka karena benda tajam yang di gores berkali-kali. Meninggalkan bekas garis panjang di permukaan lengannya.

 

Dia meringis, mencoba melepas ikatan tapi malah rasa sakit itu semakin menusuk-nusuk. Baekhyun menggigit bibir bawahnya keras untuk meredam rasa sakit, dia mau bangun dari mimpi ini sekarang.

 

Mimpi yang sangat menakutkan dan juga terasa begitu nyata…

 

Dia berusaha melepaskan ikatan lagi ketika samar-samar pandangannya menangkap  sesosok bayangan mendekat. Tepat ketika dia ingin berteriak meminta pertolongan kepada sosok itu sebuah tusukan kali ini menghantam punggung tangannya.

 

“AH!” Baekhyun berteriak kencang. Suaranya menggema di seluruh penjuru ruangan. Nafasnya terdengar satu-satu dan peluh keringat mengalir hampir menyatu dengan kristal bening yang mengambang di kelopak matanya.

 

Oh, dia tidak sedang bermimpi. Ini nyata.

 

“akhirnya kau sadar juga, Baekhyun” kepala Baekhyun harus mendongak untuk melihat sosok menjulang di hadapanya.

 

“Kris?!” suaranya terdengar serak dan bergetar pada bersamaan.

 

“kau bisa melihatku dengan jelas? Aku fikir tanpa kacamata kau akan buta” kali ini Kris berjongkok, membuat manik mata mereka sejajar.

 

“Kris, apa yang kau lakukan?”

 

“ini?” Kris menusukan pisau ke punggung tangan Baekhyun, membuat laki-laki mungil itu berteriak lagi.

 

“KRIS!!!”

 

“kau merebut Chanyeol dariku” Kris menatap tajam ke arah Baekhyun.

 

“Kris, ak—“ bukannya melanjutkan kalimat, Baekhyun malah menjerit lagi. Kris tidak memberinya kesempatan membuka mulut selain untuk berteriak. Laki-laki keturunan Cina itu terus saja menusuk-nusuk punggung tangan Baekhyun.

 

Kris seperti  mati rasa. Tidak merasa terganggu dengan erangan, jeritan, permohonan dari Baekhyun agar dia berhenti. Ekspresi wajahnya sendiri kadang tersenyum, kadang juga tampak terluka mengingat bagaimana Chanyeol mengabaikannya.

 

“mungkin salahku waktu itu membirakannya pergi ke toko buku sendiri. Tapi kalian tidak akan bertemu lagi kalo kau tidak meminta nomor ponselnya, Baekhyun”

 

Sebuah tusukan lain kali ini mendarat di paha Baekhyun. Meskipun tidak bersentuhan langsung dengan kulit pahanya karena tertutupi jeans yang di kenakan tapi tetap saja.

 

Rasanya sakit tetaplah sakit.

 

“dan tidak akan ada lagi pertemuan selanjutnya kalo kau tidak menyetujui ajakannya untuk bertemu, Baekhyun” lalu Kris menusukkan pisau itu berkali-kali di atas paha dan punggung tangan Baekhyun bergantian. Seperti dia sedang menusuk bantal dengan jarum.

 

Baekhyun terus merasakan sakit yang teramat sakit bertubi-tubi. Dia ingin berteriak seiring dengan tiap tusukan yang dia rasa, tapi rasanya suaranya sudah habis. Tidak ada juga tenaga yang tersisa untuk berteriak. Melakukan perlawanan rasanya pun tampak sia-sia.

 

Dia sekarat…

 

Perlahan-lahan kedua kelopak matanya menutup, tubuhnya sudah lelah. Baekhyun rela kalo kedua kelopak matanya tidak bisa terbuka lagi asalkan rasa sakitnya menghilang.

***

Baekhyun tidak tahu sudah berapa lama dia tidak sadar, tapi ketika dia berhasil membuka kelopak mata yang pertama kali di rasakannya adalah dingin dari ubin. Dia tidak lagi terikat di kursi kayu.

 

Membuat secercah harapan untuk melarikan diri muncul. Erangan-erangan kecil terdengar seiring dengan Baekhyun yang mencoba untuk duduk. Sekujur tubuhnya masih terasa sakit.

 

Dia menoleh kesekitar, berniat berdiri tetapi karena pandangannya yang samar tanpa kacamata Baekhyun memlih untuk merangkak, meraba-raba permukaan lantai sampai tanggannya menggapai sebuah benda.

 

Pistol.

 

Jantung Baekhyun di buat berdetak berkali-kali lebih kencang. Ini pertama kalinya dia menggengam pistol. Tanggannya bahkan gemetaran. Dia ingin menangis rasanya.

 

Tiba-tiba suara pintu di buka terdengar. Baekhyun mendapati sesosok bayangan menjulang berdiri di sana, ingatan tentang kejadian yang sama beberapa saat lalu membuat dia tanpa sadar menekan pelatuk pistol berkali-kali. Menimbulkan suara  memekakan telinga.

 

Dia terus menebak tanpa yakin benar apa yang sedang di tembak sampai tidak ada lagi peluru yang terlontar. Nafasnya semakin memburu, dia mundur beberapa langkah. Takut kalo tembakannya melesat.

 

Ada jeda hening cukup lama di sana, Baekhyun menggigit bibir bawahnya keras-keras. Mengutuki kondisi matanya saat ini, dia tidak bisa melihat jelas tembakan tadi tepat mengenai sasaran atau tidak.

 

“Baekhyun….” dia terlonjak mendengar namanya di sebut.

 

“Byun Baekhyun…” sekali lagi namanya di sebut di iringi dengan suara orang seperti batuk. Baekhyun mencoba menajamkan indera pendengarannya, dia kenal suara ini.

 

“Baek….”

 

“Chanyeol?” menyadari sedari tadi yang memanggilnya adalah Chanyeol, dia mulai bergegas merangkak kedepan melempar pistol kesembarang arah. Ada rasa takut bercampur lega menggerogotinya. Takut kalo malah Chanyeol yang terkena peluru tembakannya dan lega karena akhirnya ada Chanyeol di sini.

 

“CHANYEOL?!!!”

 

ketakutannya menang.

 

Chanyeol terbaring di lantai dengan nafas terdengar satu-satu, bagian sekitar mulut dan dadanya di penuhi bercak merah darah.

 

“Chanyeol, maaf aku tidak tahu kalo itu kau” di tariknya tubuh Chanyeol mendekat, air matanya sudah mengalir deras sekarang. Mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, mengabaikan bau pekat anyir darah Chanyeol, Baekhyun berteriak. Dia terus menggunjang tubuh laki-laki jangkung itu, memohon agar Chanyeol tidak menutup kelopak matanya. Memohon agar Chanyeol tetap bernafas.

 

Kemudian Baekhyun berteriak histeris, saat perlahan kedua kelopak mata Chanyeol menutup bersamaan dengan nafasnya yang semakin melemah.

 

Chanyeol tewas di pangkuannya.

 

“Bagaimana rasanya kehilangan orang yang kau sayang? Menyakitkan bukan?” Baekhyun mendongak, dia melihat Kris berdiri dengan posisi bersandar di pintu. Baekhyun tidak tahu sejak kapan Kris di sana, berdiri santai seakan tidak terjadi apa-apa.

 

“Kris….. kenapa….” Baekhyun bertanya di sela isak tangisnya, memeluk jasad Chanyeol semakin erat.

 

“karena kau, Baekhyun. Kalo saja kau tidak datang, merusak persahabatan kami yang sudah ada sejak dulu kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku sakit hati, kau tahu? Bagaimana bisa dia mengabaikan aku yang selalu ada di sisinya dan menggantikannya denganmu, seseorang yang baru saja dia kenal”

 

“tapi kami hanya berteman, kau dan aku juga bisa menjadi teman, Kris”

 

“TIDAK MAU! Tidak boleh ada orang lain! Hanya aku dan Chanyeol!” kali ini Kris berteriak, mengambil beberapa langkah mendekat pada Baekhyun dan Chanyeol.

 

“dan sekarang, kau membunuhnya. Bukankah ini adil? Kalo aku tidak bisa memilikinya, maka tidak ada seorangpun yang boleh” Kris menarik sudut bibirnya ke atas, ekspresi puas memenuhi wajahnya. Melihat itu cukup membuat darah naik ke kepala Baekhyun.

 

“KAU GILA KRIS!!!” Baekhyun berteriak dengan sisa-sisa tenaganya, membuatnya semakin sulit bernafas, menonjolkan urat-urat syaraf di sepanjang permukaan lehernya.

 

“bukan, ini pilihan terbaik, Baekhyun. Agar Chanyeol tidak bisa melihatmu lagi. Dan yang satu ini” Kris merogoh saku piyamanya.

 

“agar kau tidak mengacaukan persahabatan orang lain lagi” Baekhyun bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak melihat benda yang Kris arahkan ke arahnya.

 

Detik berikutnya, terdengar suara tembakan…

***

“Tuan?” Baekhyun tersentak. Lehernya berputar cepat mengamati lingkungan di sekitarnya. Di balik rusuk, detak jantungnya berdetak seperti habis lari maraton.

 

Baekhyun ada di kafe, ternyata sedari tadi dia melamun…

 

“Tuan? Anda mau pesan sesuatu?”

 

“oh?” Baekhyun sedikit kelabakan membolak-balik menu cepat di ikuti tatapan heran sang pelayan.

 

“Ah, aku pesan coffe latte satu”sudut bibirnya terangkat kaku. Masih ada efek mengganjal akibat kejadian barusan.

 

“Baekhyun!” pandangannya menoleh ke arah sumber suara, ada Chanyeol di depan pintu kafe tengah tersenyum lebar-lebar sambil melambai ke arahnya.

 

Baekhyun balik tersenyum. Tapi kemudian dahinya berkerut, dia merasa familiar dengan baju yang Chanyeol kenakan, cara Chanyeol berjalan, cara Chanyeol melambai dan tersenyum padanya.

 

Dia seperti pernah melihat ini sebelumnya…

 

Dan entah kenapa rasa takut merasuki Baekhyun tepat ketika Chanyeol sudah berdiri di depannya.

 

“Baek, ini Kris. Dan Kris, ini Baekhyun.”

 

Bola mata Baekhyun reflek membulat seakan bisa keluar dari rongganya melihat sosok laki-laki menjulang yang tadi sempat memenuhi lamunannya. Detak jantungnya ikut berdetak tak karuan lagi.

 

“Halo, Baekhyun”

—END—

A/N: another random fiction ._. ) Maaf………. tapi ini ide mengganggu otak sampe ga bisa lanjutin tulisan yang laen ‘-‘)\ minta banget di tulis deh. Maaf lagi, eksekusinya juga kurang sempurna. Pokoknya ini ga jelas, random parah. Temanya brother complex, ada de javu gitu. Kalo masih kurang ngerti langsung tanya aja ya dan makasih sudah menyempatkan baca! – Genie.

19 tanggapan untuk “Amore”

  1. Tegang bacanya :O
    Penasaran, kok bs baek sampe ngelamun gitu, kayak final destination, dia dpt gambaran sblm kejadia sbnrnya terjadi.. hehe
    Good job! Keep writing cingu 🙂

  2. Hwaa thor! In epep bkin HEART ATTACK sumpah!

    Kris kejem bget lu!! Huft untng in cma mimpi..,
    gk tega chanbaek jd korban psyconya kris
    thor in epep CUKUP menggangtung BANGET!!
    jeball!! bkin squelx..

  3. omo, ceritanya keren..
    aku pikir kejadiannya udh terjadi beneran ternyata baru sekedar firasatnya baekhyun doang..
    keren banget thor 🙂

  4. uwaaah kereeen. Tapi pas kejadian tusuk menusuk itu di skip un wkwk maklum lah sekarang jam 12 malem T.T *terus apa hubungannya*

    Nah pas yg suka itu adegan terakhir. Ternyata baekhyun cuman ngelamun toh xD tapi chanyeol dateng sama kris. Nah itu yg buat deg degan lagi

    Pertama ngiranya kris bakal suka sama baekhyun, trus musuhan sama chanyeol. Dan salah besarrr -_____-

    Kris kok pantes bgt ya kalo dibuat sifatnya dingin2 gini (?)
    Suka yg pairing gini sih daripada di pairing sama artis cewek lain ihihi 😀

    Keep writing ya un ^^ idemu keren sumpah. Bahasa penulisannya juga bagus. Sukaaaaaa

    1. ah, padahal kan sengaja post malem2 biar dapet feelnya ;-;

      hihihi, iya Kris emang yg paling pas! dia juga setiap di foto atau live gitu kan jarang ngomong, tipikal cowok2 cool drama korea (ketauan kebanyakan nonton drama korea)
      sama! kalo one-shot aku lebih enak buat pairing sesama anak exo, tp kadang2 pake member GG juga sih hehehe ._. )

      yes! thanks by the way ^-^

    2. lah tega banget -___,- yang ada mah nggak berani ke kamar mandi sendiri un.

      nah iya satu pendapat yang itu. Bawaannya cool, keren gitu 😀 *cubiti kris*

      yang gg siapa un? jangan bilang baekyeon? ;___; oh aku terbakar

      yup! keep writing yaaa ^^

Tinggalkan Balasan ke arinicchi Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s