Mission To Save You

Judul : Mission To Save You

Author : Seu Liie Strife

Cast: Choi Siwon (Super Junior)
Nagisa Miyaki (OC)
Jung Ji Hoon / Rain
Kim Jongin / Kai
Jung Yong Jae (OC)
Ginger Alexa (OC)
Grondy Meoni (OC)
Genre : Action, Thriller, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Choi Siwon, kau adalah agent rahasia yang paling bisa diandalkan. Kau akan ditugaskan untuk mengawal kedatangan Kojiro Miyaki beserta anaknya, Nagisa Miyaki. Ingat, kawal mereka dengan ketat. Karena Kojiro Miyaki adalah menteri lingkungan dari Jepang, kau harus melindunginya dengan baik.”, ujar seorang pria yang duduk di kursinya dengan bersandar. Rain, adalah seorang pemimpin dari dinas rahasia yang memiliki banyak agent rahasia yang berbakat.

“Ne. Saya akan melakukan tugas sebaik – baiknya.”

Choi Siwon, salah satu agent rahasia terbaik yang dimiliki Rain. Keahliannya dalam bela diri, akurasi tembakan, dan kecerdasan sudah tidak diragukan lagi. Karena itulah Rain mengutus Siwon untuk mengawal kedatangan keluarga Miyaki dari negeri matahari terbit tersebut.

Keluarga pria itu sendiri pun tinggal di Busan. Lelaki itu memiliki seorang adik perempuan yang masih berkuliah menyelesaikan pendidikan S1 nya di Inha University, tempat dulunya lelaki itu menimba ilmu. Karena ingin mandiri, adiknya yang bernama Choi Seo Ran tinggal di asrama kampusnya. Sudah beberapa bulan ini, Siwon belum mengunjungi kedua orang tuanya dan adiknya tersebut karena tugasnya. Sesekali ia menelpon Seo Ran atau pun orang tuanya.

“Kau akan bertugas dengan 50 anak buah. Bertugaslah sebaik – baiknya!”

“Ne, sajangnim! Saya akan bekerja dengan baik!”

“Sajangnim? Berapa kali aku harus mengatakannya padamu? Jangan panggil aku ‘sajangnim’. Dan, kenapa kau masih menggunakan bahasa formal seperti ‘saya’? Kau sudah 7 tahun bekerja di sini, Siwon.”

“Ne, sa…ah! Maksudku, hyung.”

“Bagus. Sekarang, pergi lah ke bandara.”, ujar Rain yang kemudian mengeluarkan sebuah koper dari bawah mejanya, “Semua yang ada di sini adalah perlengkapan mereka semua.”

Tlek! Lelaki itu mengeluarkan sebuah kartu yang ia letakkan di atas koper, “Dan itu, key card dari ruang senjata.”

Lelaki yang memiliki tubuh dengan tinggi 183 cm itu tersenyum pada atasannya, “Gomawo, hyung.”, ujarnya yang kemudian pergi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ukh! Kenapa harus aku lagi yang berkorban untuk papa? Kenapa aku tidak boleh kuliah S2 di Jepang saja?!! Aku dan ke sini hanya karena untuk mendaftar kuliah di Seoul ini! Haish!

“Nagisa…doushite (kenapa)?”, aku menoleh pada papa di sampingku sambil melepas earphone-ku.

“Iie (tidak). Daijoubu (aku baik – baik saja).”, jawabku.

“Nanti, kau harus lepas benda kecil berkabel itu.”, ucapnya.

“Why?”

“Kau memakai rok yang elegant bagaikan putri raja. Tidak pantas kau memakai itu dengan pakaianmu seperti ini.”

“Tenang saja, …ini masih di pesawat.”, jawabku acuh melihat kumpulan awan dari jendela pesawat.

“Sir, we will arrive in 5 minutes.”, tiba – tiba ada salah satu dari bawahan papaku memberitahu keadaan.

Kalau aku bisa melompat keluar dengan parasut dari pesawat ini, aku sudah melompat! Aku malas berada di dalam pesawat ini. Kenapa? Karena yang bisa kulihat dalam pesawat khusus ini, hanyalah bodyguard, bodyguard, dan bodyguard! Dan hanya aku wanita di sini! Bisa dibayangkan kan?! Cih, menyebalkan!

“Lepas earphonemu, sayang.”, ujar papa.

“Hai, wakatta (ya, aku mengerti).”, jawabku menuruti papa.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Pesawat pun tiba. Kojiro Miyaka beserta anaknya, melewati pintu khusus dengan penjagaan ekstra ketat.

“Annyeonghaseyo…”, ujar seorang pria yang merupakan pimpinan dari beberapa agent bawaannya. Ya, Choi Siwon.

“Ah, annyeonghaseyo…”

“Choneun Choi Siwon imnida. Mannaseo bangapseumnida.”, ujar Siwon membungkuk memberi hormat.

“Ah, bangapseumnida Siwon-ssi. Siwon-ssi, i buneun je tal-imnida. (Siwon, ini anak perempuan saya).”, ujar Kojiro.

“Nagisa, cepat beri salam.”, bisik ayahnya.

Dengan malas, Nagisa memperkenalkan dirinya, “Annyeonghasimnika? Choneun Nagisa imnida. Bangapseumnida.”, ujar Nagisa sopan meskipun dirinya malas beramah tamah dengan orang baru.

“Annyeonghaseyo, Nagisa-ssi.”, jawab Siwon lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Silahkan ikut dengan saya, sajangnim..”, ucapnya pada papa.

What?!! Lihat apa yang kulihat ini! Apa ada parade? Banyak sekali mobil yang mengawal kedatangan kami. Dan semuanya ada 5 mobil belum termasuk mobil si Siwon ini! Ada beberapa orang berjas hitam memasukkan barang – barang bawaanku dan papa di mobil lain.

Saat mobil berjalan, suasana hening pun melingkupi mobil yang dikendarai Siwon sendiri. Aku dan papa duduk di belakang.

“Chotto matte(tunggu sebentar)….papa, earphoneku di tas.”, ucapku.

“Yang benar saja, Nagisa. Mobil sedang berjalan.”

“Pokoknya aku mau ambil!! Ambil earphone itu!!”, ujarku. Aku tidak peduli dengan usiaku yang sudah menginjak kepala dua ini. Bahkan lebih!

“Nagisa, jangan seperti anak kecil!”

“Ambiiilll!!!”, papa pun mengatakannya pada Siwon untuk berhenti. Ya. Memang ini yang kuharapkan. Mobil berhenti, dan aku bisa mengambil tasku, dan pulang ke Tokyo!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hentikan mobilnya sebentar di depan.”, ujar Siwon. Lelaki itu memakai communicator di telinganya juga jam tangan yang merangkap sebagai kompas dan obat bius yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.

Seorang wanita pun keluar, melenggang dengan santainya menuju mobil belakang. Ia mengeluarkan tasnya berpura – pura mencari earphonenya. Di dalam kesempatan kecil itu, wanita itu berlari kencang dan membuat ayahnya panik.

“Nagisa!!! Nagisa!!!”, ayahnya ikut mengejar.

“Sajangnim, tolong anda jangan bergerak jauh dari saya.”

“Tapi, Nagisa…!!”

“Nona Nagisa akan disusul yang lainnya.”, ujar Siwon menenangkan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hosh..hosh..hosh..aku harus segera pergi! Harus! Untung saja aku memakai celana lagi. So, tidak masalah jika aku berlari dan rokku tersibak. Bye, semuanya! Hahahaha~~

“Aa! Shit! Ada mereka!”, batinku yang langsung bersembunyi.

“Nona Nagisa…”

“Oh man! They got me!”, rutukku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nagisa! Astaga! Kenapa kau pergi??”, ujar ayah dari gadis itu.

“Aku…aku…”

“Sudahlah, ayo ke hotel. Kita akan di sana sampai kita sudah dapat apartment untukmu.”

“Ah, jeosonghamnida. Sudah ada apartment untuk nona Nagisa.”, ujar Siwon lagi.

“Jeongmalyo?”, Siwon pun mengangguk.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa hari kemudian, Kojiro Miyaki kembali ke Jepang sementara anaknya, Nagisa Miyaki melanjutkan pendidikannya di Seoul. Untuk tempat tinggal, Siwon sudah disewakan apartment yang bersebelahan dengan . Kamar apartment sendiri pun tak luput dari penjagaan.

Sementara itu, tanpa mereka sadari, seseorang mengintai mereka. Namun, dengan santainya berjalan. Dia sudah tidak peduli lagi dengan para bodyguardnya yang selalu mengikutinya kemana saja.

“Yaaaa!!! Berhenti mengikutiku terus!!”

“Bagaimana bisa? Ini sudah prosedurnya.”

“Aaaaarrrgghhh!!!!”, gadis itu berlari.

“Hey !”, Siwon memanggilnya dengan tidak formal. Ayah dari gadis itu lah yang menyuruhnya. Kojiro juga menyampaikan alasan kenapa dia lebih memilih untuk kuliah di negeri orang. Untuk membuatnya mandiri dan tidak manja lagi. Itulah alasannya. Dan Kojiro juga berpesan untuk perlahan mengajarkan anaknya untuk tidak bertingkah manja.

Tiiiiinnnn!!!!!!

“Kyaaaaaaa!!!!”

“See?! Lihat apa yang kau lakukan!”, Siwon dengan cepat menarik gadis itu yang nyaris tertabrak mobil.

“I’m still alive…”, batin gadis itu.

“Aku tidak butuh bantuanmu!”, mendorong pria itu.

Siwon menangkap sesuatu yang aneh, “Lampu untuk pejalan kaki berwarna hijau. Dan lampu untuk kendaraan semuanya berwarna merah. Seharusnya tidak ada satu pun kendaraan yang melintas. Tapi, kenapa mobil itu…”, Siwon membatin memperhatikan sekitar. Dan ternyata mobil itu memutar balik di ujung jalan. Jalan mobil itu kian lama semakin cepat. Sebuah senapan laras panjang keluar dari salah satu jendela itu. Siwon pun segera mengejar gadis itu.

“Plan B, plan B…do it now!”, ujar Siwon mengejar . Dia pun mengeluarkan pistol yang sedari tadi disembunyikannya dibalik jasnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Run!”, what?!! Ada apa ini?!!!! Siwon menarik tanganku sambil menembaki ke satu arah. Saat aku menoleh, ternyata…mobil?!! Semenjak kapan mobil yang tadi nyaris menabrakku kini bersenjata? Seluruh warga lari tunggang langgang menghindari tembakan. Dan ternyata banyak mobil yang mengejar kami. Apa ini film action?!! Kami bahkan tidak membawa apa – apa. Bahkan tidak mengendarai apa pun. Bagaimana bisa aku hidup seperti ini?!

“Yaa! Siwon-ah! Chakkaman…hosh..hosh..hosh..”

“Tidak ada waktu!”

“Siapa mereka?”, tanyaku.

“Mollayo. Ah! Sial! Habis!”, ujarnya yang sudah tidak bisa menembak lagi.

“Lalu bagaimana kitaa?!!”, ucapku panik. Dia kemudian menarikku berlari lagi.

“Thunder A..Zeus G..”, tidak ada jawaban dari mereka semua.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Semua kelompok Siwon tewas. Tidak ada yang menyahut satu pun ketika Siwon berusaha memanggil mereka.

Tiba – tiba terdengar nada yang masuk dari communicator yang terpasang di telinga lelaki itu, “Kau menunggu seseorang, Siwon-ssi? Sayang sekali…kelompokmu tewas. Hahahaha…bukankah kau agent yang paling berbakat? Bagaimana kelompokmu yang berjumlah 50 orang tewas begitu saja? Pukulan yang sangat menohok, bukan?”

“Nugu ya!!!”

“Kau penasaran denganku? Hahaha baiklah, kita akan bermain – main. Jaga nona manis itu untukku ya.”, tak lama sambungan pun terputus.

“Brengsek!!”, lelaki itu meninju dinding di dekatnya. Wajahnya memerah menahan marahnya dan rasa sesalnya.

Dengan ragu, bertanya, “A-ada apa..?”

“Kau…kau ikut aku!! Situasi ini bahaya untukmu!”, gadis itu pun menurut padanya. Untuk menghilangkan jejak, mereka berdua keluar dari apartment yang mereka tinggali. Dan kini menyewa sebuah rumah di suatu daerah pedesaan.

“Dia adikku. Jangan khawatir.”, ujar Siwon pada pemilik rumah yang akan mereka sewa.

“Annyeong, ahjussi…”, sapa . Beruntung bahasa Korea sangat jelas dan baik.

“Annyeong…baiklah. Beristirahatlah kalian.”, ujarnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aaaaa!!!! Bagaimana bisa aku hidup seperti ini?!!! Tidak ada salon, tidak ada mall, tidak ada baju bagus…!! Aaaaaa!!!!”, teriakku.

“Berhentilah mengeluh. Lagi pula, apa kau gila? Lihat isi kopermu! Masih banyak baju yang kau pakai. Dan lihat persediaan uangmu di rekening. Kau bisa bertahan berbulan – bulan dengan saldo uang itu.”

“Tapi kan tidak ada salon, dan bagaimana bisa aku tidak shopping?!!! Aaaaa!!! Ini membuatku gilaa!”

“Ah! Aku tahu! Aku bisa keluar dari desa ini dan ke..kotaaaa!!”, ujarku kemudian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Mana buku tabunganmu?”

“Untuk apa?”

“Mana?”

“Untuk apa? Aku tidak akan memberikannya padamu!”

“Aku mau lihat.”, sedikit ragu aku menyerahkannya.

“Dompet?”

“Apa itu juga?”

“Cepat…”, ujarnya lagi. Tak lama dia keluar dari ruang tengah dengan dompet dan buku tabunganku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Siwon memiliki junior yang dikenal bisa meretas apa pun yang ia mau. Kai namanya. Lelaki itu merupakan junior didikkan Siwon di tempat kerjanya.

Latar belakang Kai sendiri sangat kelam. Pria itu pernah masuk ke dalam kelompok yang bernama Black Clouds. Dulunya pria ini sering berkelahi dengan sesama rekannya dalam kelompok tersebut lantaran perselisihan pendapat. Namun, setelah bertemu Siwon yang tanpa sengaja menolongnya saat perkelahian, lelaki itu memutuskan keluar dari Black Clouds. Dan ini juga berkat dorongan Siwon yang secara tidak langsung mendoktrinnya.

Siwon pun merekomendasikan Kai masuk ke dalam dinas rahasia pada Rain. Namun karena melihat latar belakang Kai buruk, Kai pun ditolak. Siwon berani menjamin Kai agar lelaki itu bisa diterima oleh Rain. Meskipun diterima, lelaki itu masih sering tidak diperbolehkan menjalankan misi berbahaya. Hanya misi ringan lah yang boleh dikerjakannya. Dan hingga kini, Kai adalah tanggung jawab Siwon sepenuhnya.

“Kai, listen to me.”, ujar Siwon saat menelponnya.

“Hyung?! Yaaa..kau dimana hyung? Kau tahu, aku membusuk di sini karena tidak ada tugas!”

“Dengar aku. Aku butuh bantuanmu.”

“Mwo? Kau kenapa hyung? Kenapa bicara denganku bisik – bisik?”

“Nanti kujelaskan. Sekarang aku memintamu meretas rekening tabungan seseorang.”

“What?!!! Kau mau merampok, hyung?!”

“Annio. Kau bisa tidak?”

“Tapi itu kan sama saja merampok!”

“Tidak. Ini situasi darurat. Rekening ini milik seseorang yang harus kulindungi sekarang.”

“Dan kau ingin mengambil semua uang yang ia miliki?”

“Kai, 50 anak buahku tewas. Aku dalam pelarian dengan anak ini sekarang. Dan aku terpaksa menggunakan uangnya untuk kami bertahan hidup.”

“Aku turut berduka, hyung. Tapi, apa Rain hyung tahu?”

“Tolong kau beritahu dia. Dan ini…aku akan mengirim nomor rekening dan nama anak ini.”

“Ne, hyung.”

“Oh ya, satu lagi. Jangan beri bantuan sebelum aku minta.”

“Geundae…bagaimana bisa kau seorang diri…”

“Itu akan percuma. Aku tidak mau semakin banyak korban berjatuhan.”

“Siapa pelakunya?”

“Aku belum tahu.”

“Siwon-ah, eodigaseyo??”, terlihat memanggilnya.

“Sudah dulu, okay? Ingat pesanku!”, ujar Siwon.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yaa! Kau mau kemana?”, hey! Kenapa dia malah meninggalkanku?

“Kau punya pemantik api?”

“Kau pikir aku perokok?”, kenapa dia butuh itu?

“Baiklah, aku akan membelinya. Kau, jangan keluar rumah! Ah tidak, lebih baik kau ikut aku!”

“Eoh? Kenapa harus ikut?”

“Kau mau mati dengan cara seperti tadi, euhm?”

“Haish!! Merepotkan sekali siiihhh!!!”, gerutuku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu dari kantor pusat, Rain memang tidak mengirim anggota untuk membantu Siwon, tetapi dia mengirim Kai untuk selalu mengawasi Siwon dan segera memberitahunya jika terjadi sesuatu.

“Aish! Hyung mau beli apa?”, batin Kai yang mengawasinya dari motornya yang terparkir cukup jauh dari mini market.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Pegang ini.”

“Kau menyuruhku? Kau tidak tahu siapa aku, eoh?”

“Tahu. Seorang anak menteri lingkungan yang sangat manja dan penakut dan yang hanya bisa berteriak dan melempar barangnya jika tidak suka..”

“Apa kau bilang?!”

“Am I wrong? Kajja, kita pulang sebelum nyawamu melayang.”, kenapa dia selalu mengatakan hal yang menyeramkan?!

DORR!! DORR!! DORR!!

“Kyaaaaa!!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Eoh?! Siapa tadi?!”, Kai kemudian memacu motornya sambil mengeluarkan pistolnya.

Dengan cepat, Siwon menarik Nagisa untuk bersembunyi di lorong antara dua gedung.

“Huuwwaaaa!!! Aku ingin pulaaaanggg!!!!”

“Ssstt!! Kau mau mati, eoh?!”, Siwon membekap mulut gadis itu.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
DORR!! DORR!! DORR!! DORR!! Baku tembak pun terjadi antara Siwon dengan orang yang mengenakan penutup wajah itu.

“Asshh!! Shit!”, Siwon segera mengisi peluru pistolnya sementara tangan kirinya masih tetap mencengkeram pergelangan tangan Nagisa.

“Naik!”, ujar Siwon pada gadis itu.

“Eoh?!”

“Naik tangga itu!”

“Itu kan atap rumah susun!”

“Naik, kubilang!”, ujar Siwon.

“Ta-tapi…”

“NAIK!!”, Siwon terus mendorong Nagisa mundur agar gadis itu naik ke tangga darurat samping rumah susun itu sambil terus menembaki orang yang mengejarnya.

Tapi ternyata jumlah mereka lebih banyak. Ada sekitar 6 orang yang kini sudah mendesak mereka berdua.

DORR!!

“Aarrghh!!”, gadis itu terjatuh saat menaiki tangga. Siwon yang ada di bawahnya, langsung menangkap gadis itu. Tapi sialnya pistol yang Siwon pegang tidak ada amunisinya.

“Ada kata terakhir yang ingin kalian ucapkan?”, tanya salah satu dari enam orang itu.

“Good bye for your own life!”, seiring dengan seseorang mengucapkan kata – kata itu, mereka berenam pun jatuh bersimbah darah.

“Kai?!”, ujar Siwon kaget.

“Need a help, hyung?”, tanya Kai membantu Siwon berdiri.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau bisa berdiri?”

“Kau lihat sendiri kan?”, ujarku ketus.

“Dia ‘anak’ yang hyung maksud?”, tanya lelaki yang baru saja menyelamatkan kami.

“Ya, begitulah.”

“Kok menyebalkan sih?”, tanyanya lagi.

“Yaa!! Apa kau bilang?! Kau berani denganku?!!”

“Sudah terluka, masih sombong juga kau, agasshi.”

“Yaaa!!! Aww…asshh..”, aaa!! Pergelangan kakiku!! Hyaaaa!! Darahnya banyaaakk!!!

“Aku mati…aku mati…”, gumamku.

“Dasar! Apa gadis ini punya gangguan jiwa, hyung?”, gaaahh!! Lelaki ini buat aku emosi!!

“Mungkin iya. Sedikit.”, ujarnya yang langsung menggendongku. What?! Gendong?!!

“Cepat Kai, panggilkan taksi.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Siwon dan Nagisa pun kembali ke rumah dengan taksi. Sedangkan Kai, mengikuti taksi itu dengan motornya yang berada tepat di belakang mereka.

“Siapa dia?”

“Kai, maksudmu?”

“Ya, yang tadi itu siapa?”

“Dia Kai. Dia bisa dibilang, tangan kananku.”

“Daebak! Orang seperti kau bisa memiliki tangan kanan rupanya.”, nada dari Nagisa terdengar seperti melecehkan. Siwon tidak membalasnya. Ia hanya melirik gadis itu dengan ekor matanya yang membuat gadis itu ketakutan seketika hingga menunduk dan kemudian memalingkan wajahnya ke jendela.

“Lebih baik pikirkan lukamu itu!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hey! Kenapa ke rumah?! Rumah sakit! Apa kau bodoh, eoh?!”, lagi – lagi Nagisa berkata dengan tidak sopan.

“Hey! Apa kau tidak diajarkan sopan santun, eoh?!”, Kai berteriak pada gadis itu.

“Neo!!!”

“Sebentar lagi akan ada tim medis yang ke sini.”, ujar Siwon menengahi.

Ya, tim medis. Tim medis khusus dinas rahasia yang juga merupakan utusan Rain. Dan benar saja, dua orang dokter dan tiga perawat datang dengan kawalan ketat dan perlengkapan lengkap.

“Hyung, mereka sudah datang. Van nya di depan.”

“Ne, arraseo.”, ujar Siwon yang kemudian menggendong Nagisa.

“Aku di luar saja, hyung. Berjaga dengan lainnya.”, ujar Kai pada Siwon sebelum membawa masuk Nagisa ke dalam van khusus medis.

“Ne…”, jawab Siwon.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Waaah!! Van ini kenapa lengkap sekali ya? Hebat! Seperti di anime kesukaanku, Gundam! Seperti van medis untuk perang saja.

“Pelurunya masih di dalam, Siwon-ssi.”

“Ya, tangani saja dia. Kuserahkan pada kalian.”, ujarnya beranjak pergi. Apa?! Dia mau keluar?!

“Aku tidak mau sendiri!”, ujarku.

“Sendiri? Kau pikir mereka siapa?”, tanyanya.

“Pokoknya tidak mauuu!!!”

“Ne, ne, arraseo…aku di sini.”, great! Bagus, kali ini dia kembali mengalah.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kyaaaaa!!! Huuwwaaaa!!! Papaaaa!!! Sakiiittt!!!”, jerit gadis itu.

“Berisik! Kau itu manja sekali!”

“Papaaaaaaaa!!!!!!!!”, kedua mata gadis itu terpejam dan memalingkan wajahnya. Tapi tangannya mencengkeram tangan Siwon dengan erat.

“Sudah…semuanya sudah selesai, kok.”, ujar seorang dokter.

“Kau dengar? Sudah selesai. Dasar cengeng!”

“Hiks…hiks…sakit…hiks…”

“Jangan manja!”

“Gamsahamnida, uisanim..”, ujar Siwon lagi pada mereka dan segera menggendong Nagisa keluar van.

“Sudah, hyung?”

“Yaa! Kau tidak lihat aku sudah di luar?!”, ujar Nagisa.

“Oh, kau masih bisa bersuara? Kupikir pita suaramu sudah rusak karena terus menjerit di dalam.”

“Ugh! Ingin kuhajar pria ini!”, batin Nagisa.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kai, thanks.”, ujar Siwon pada lelaki brengsek itu.

“Ne..anytime, hyung! Kalau begitu, aku pergi sekarang.”

“Ya, kau lebih baik enyah dari sini!”

“Sigh! Semoga kau selamat dengannya, hyung.”, ucapnya menepuk bahu Siwon.

“Gaaaaahhh!!!!”, kulempar saja gelas yang ada di nakas sampingku. Tapi sebelum mendarat di kepalanya, gelas itu berhasil ditangkap olehnya. Sial!

“Kau sebaiknya berhati – hati denganku, agasshi.”, ujarnya yang terlihat menakutkan. Hiii!! Makhluk apa dia?!

“Mianhae, Kai, aku tidak bisa mengantarmu keluar.”

“No problem, hyung.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mana pemantiknya tadi?”, tanya Siwon pada gadis yang terbaring itu. Dikeluarkannya pemantik api tadi dari saku celananya.

Siwon pun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dia meletakkannya di tempat sampah yang terbuat dari kaleng.

“Apa itu?”, tanya Nagisa.

“Buku tabungan dan kartu ATM milikmu.”, ujar Siwon sambil membakar keduanya.

“Yaaaaa!!!!! Apa yang kau lakukaaann?!!!!!”

“Kyaaaa!!! Kau gilaaa!!!”

Bruukk!! Gadis itu jatuh dari tempat tidurnya ketika berusaha menahan Siwon untuk tidak membakar kedua benda penting miliknya.

“Kita tidak perlu ini.”

“Neo micheoso?! Dari mana ambil uang?!!!”

“Itu soal mudah. Kau tidak perlu tahu.”, ujarnya yang kembali membaringkan gadis itu di tempat tidurnya.

“Istirahatlah.”, ujarnya kemudian duduk bersandar pada nakas samping tempat tidur gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Dia bisa tersenyum seperti itu? Dengan siapa? Kekasihnya?”, aku berkutat dengan pikiranku saat melihat Siwon tersenyum menatap ponselnya.

“Kau seperti orang gila, ahjussi!”

“Mwo? Kau panggil aku apa?”, dia memalingkan wajahnya dari layar ponselnya.

“Ahjussi. Waeyo? Kau senyum – senyum sendiri sambil menatap ponselmu. Apa itu namanya tidak seperti orang gila, eoh?”

“Pabbo! Aku sedang chating dengan adikku.”

“Kau punya adik?”

“Ne. Seo Ran. Chakkaman.”, dia kemudian sibuk menggeser – geser layar ponselnya yang touch screen.

“Ini. Ini appa, Seo Ran, aku, dan eomma. Ini saat kami liburan di Pantai Kuta, tahun lalu.”

“Yang di Bali itu?”

“Yup!”, wajahnya yang serius seperti hilang seketika saat menceritakan keluarganya.

Beda sekali denganku. Setelah mama meninggal karena melahirkanku, aku tidak pernah liburan dengan keluargaku. Hanya papa keluargaku. Tapi, papa tidak pernah mengajakku liburan karena sibuk.

“Kau enak ya….bisa liburan dengan keluarga di tengah – tengah kesibukanmu. Kau juga sepertinya sangat perhatian dengan keluargamu.”

“Ya, karena aku menyayangi mereka. Apa pun akan kulakukan demi mereka.”

“Kapan papa bisa bicara seperti ini, ya?”, batinku.

“Kau…kau kenapa, Na?”, tanyanya.

“Apa?”

“Kau…kau menangis?”

“Hah? Aku menangis? Aaahh! Memalukan sekali!”, batinku yang kemudian menghapus air mataku.

“Neo gwaenchana?”

“Ne…”, jawabku.

“Apa yang membuatmu tertawa, ahjussi?”, tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Aku belum tua untuk dipanggil ahjussi. Seo Ran, baru saja dapat mobil dari appa. Dan dia cerita katanya mobilnya itu harus dijaga baik – baik. Kalau bisa harus terparkir di samping ranjangnya. Hahaha, ada – ada saja dia.”, baru kali ini aku lihat Siwon tertawa lepas. Aku iri dengannya yang memiliki keluarga yang sangat erat.

“Geundae…aku tidak suka melihat appa terlalu keras bekerja.”

“Dimana appa-mu bekerja?”

“Appa….pemilik super market yang tersebar di Seoul. Hhm, sepertinya di negara lain juga.”

“Mwo?!! Kenapa kau bekerja keras seperti ini? Kau juga kan bisa bekerja di tempat appa-mu.”

“Tidak. Aku tidak suka bekerja di sana. Kau bertanya padaku, kenapa aku kerja keras? Tentunya untuk membiayai kehidupanku sendiri.”

“Kau kan orang kaya.”

“Yang kaya itu orang tuaku. Bukan aku. Aku ini masih miskin, kau tahu?”, hebat. Pikirannya benar – benar hebat. Hhh…berarti aku salah menilainya.

“Aku tidak mau menyusahkan orang tuaku. Cukup Seo Ran saja yang mereka perhatikan. Karena aku laki – laki, aku bisa mengerjakan semuanya sendiri.”

“Kenapa kau memilih dinas rahasia?”

“Karena aku ingin balas budi dengan Rain hyung. Dia sudah banyak membantuku saat aku memutuskan keluar rumah.”

“Sudahlah, lebih baik kau tidur.”, ujarnya lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat Nagisa tertidur, dengan cepat Siwon membuat makanan. Ya, karena hidup sendiri, lelaki itu terbiasa mengerjakan semuanya sendiri. Lelaki yang sangat religius itu hidup dengan teratur meskipun sendirian.

“Ngh~~Kok tidak ada siapa – siapa?! Aku ditinggal?!”, gadis itu baru bangun dari tidurnya sore itu, pukul lima. Dengan kaki terseok – seok, dia keluar kamarnya.

“A-astaga! Kenapa kau keluar kamar?”, Siwon memapah gadis itu kembali ke kamar.

“Annii…annii…aku tidak mau ke kamar.”

“Lalu?”

“Aku lapar…”

“Kau mandi dulu…baru makan.”

“Hhh…baiklah..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau yang membuat ini semua?”, tanyaku.

“Ne, tapi kemungkinan besar, kau akan mati lemas setelah memakannya.”, dia serius dengan ucapannya?!

“Aku bercanda, pabbo.”, ujarnya. Ini pertama kalinya aku sedikit merasa dekat dengannya setelah dia menceritakan keluarganya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Berbulan – bulan tak terasa aku sudah tinggal dengan ‘penjaga’ ku kini sambil berkuliah. Juga ahjumma yang membantu pekerjaan rumah. Dan perlu diketahui, ahjumma itu juga mantan dari dinas rahasia. Dengan kata lain, dia seniornya Rain oppa. Oppa? Ya, aku memanggilnya ‘oppa’ sama seperti Siwon kini. Yaa, aku banyak belajar dari mereka semua. Aku sadar kalau ternyata sifatku ini sudah benar – benar kurang ajar. Haish!

Dan satu lagi manusia yang tinggal di rumah ini. Kai! Kenapa aku tidak memanggilnya, ‘oppa’? Karena dia ternyata lebih muda dariku. Tapi wajahnya sangat terlihat dewasa seperti Siwon oppa saja. Setiap hari aku pasti bertengkar dengannya. Kalau sudah begini, pasti Siwon oppa yang melerai kami.

“Yaa! Kan aku duluan yang nonton!”, ucapku. Tiba – tiba saja Kai merebut remote tv dari tanganku.

“Haish! Tidak seru! Masa berita terus sih!”

“Tidaaakk~~ Tidak boleh!”, aku kembali merebutnya.

“Punyaku!!”

“Heh! Yang membiayai rumah ini siapa?!”, tanyaku.

“Kau dan Siwon hyung.”

“Yang beli tv itu siapa?”

“Kau.”

“Kau mengerti kan, jadi kekuasaan di tanganku!”, ucapku kembali merebut remote.

“Hey, sudah…sudah…kajja kita makan. Pagi – pagi kalian selalu bertengkar.”, ujar ahjumma.

“Nagisa yang memulainya!”

“Yaaa!! Aku lebih tua darimu!”, orang ini agent rahasia? Orang seperti ini? Apa semua misinya berjalan lancar? Aku meragukannya.

“Well, hey orang tua, harusnya kau mengalah denganku!”

“Kaaaiii!!!!!!”, sungguh aku ingin membunuh anak ini!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kalian ini…sehari saja tidak bertengkar bisa kan?”, Siwon kemudian keluar dari kamarnya.

“Tidak!”

“Yak! Kau mengikuti ucapanku, Nagisa!”, ujarnya.

“Yaaa!!! Sopan sedikit kau, Kai!!”

Siwon dan ahjumma itu hanya menggeleng – gelengkan kepalanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu, di Busan, lebih tepatnya di rumah kediaman keluarga Choi, tempat dimana ibu dari lelaki yang kini bertugas menjaga Nagisa terjadi hal buruk.

“Permisi, apa ini benar rumah keluarga Choi? Choi Siwon?”

“Ya, ada apa?”

DORR!! DORR!! Seketika itu juga wanita paruh baya itu terjatuh bersimbah darah di dada dan kepalanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ponsel Siwon oppa kudengar berbunyi di kamarnya, “Oppa, ponselmu…”

“Ne, I know.”, ujarnya yang langsung beranjak ke kamarnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mwo?!! Ti-tidak mungkin!!”, Siwon tercengang mendengar berita buruk dari keluarganya. Pria itu langsung mengambil jaketnya dan kunci mobilnya.

“Hyung, mau kemana?”

“Aku keluar dulu. Tolong jaga Nagisa!”

“Oppa, mau kemana? Aku ikut!”

“Andwae! Kau di rumah saja!”

Tiba – tiba saja ponsel Kai berbunyi. Nama Rain tertera di layar ponselnya.

“Yeobseo, hyung?”

“Apa Siwon keluar?”

“Ne, baru saja.”

“Jeongmal?!”, Rain terdengar panik.

“Ne, ada apa hyung?”

“Ibunya…ibunya baru saja meninggal. Baiklah, aku akan kirim orang untuk mengawasi dan membantu Siwon.”

“Chakkaman! Ahjumma meninggal?! Waeyo?!”

“Pembunuhan. Kasus ini masih diselidiki. Dan rumah kalian juga rumah Siwon akan diperketat penjagaannya.”

“Ne, hyung. Gomawo.”

“Ne, cheonma. Dan kau, jaga Nagisa!”

“Ne, hyung. Arraseo!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Eomma….”, lirih pria bertubuh tinggi tegap itu di depan pusara ibunya di kala semua para pelayat telah memberikannya pengormatan terakhir. Di depan pusara itu hanya terdapat Siwon, Seo Ran, dan ayah mereka. Dilihatnya adik perempuannya, Seo Ran tak henti – hentinya menangis memeluk batu pusara tersebut dengan ukiran nama ibunya.

“Eommaaaa!! Hiks..hiks..eoommmaaaa!!!!! Aku ingin ikut eommaaaa!!!!”, jerit gadis itu.

“Ran…annio…biarkan eomma di sana..biarkan eomma istirahat dengan tenang.”, Siwon menarik tubuh adiknya.

“Andwaeee!!!! Aku mau sama eommaaa!!! Aku akan tetap disini!!!!”

“Ran…andwae yo! Jangan seperti ini…”

“Andwaeee!!! Sana pergi!! Pergi saja oppa!!!!”, gadis itu masih berteriak memeluk batu pusara ibunya.

“Choi Seo Ran! Jangan konyol seperti ini!”, ayahnya mulai membentak gadis itu.

“ANDWAE!!! PERGI KALIAN!!!!”, ujarnya mendorong ayah dan kakaknya bergantian.

“Ran..kajja, kita pulang…hari sudah semakin gelap.”, bujuk Siwon menarik lengan gadis itu perlahan.

“ANDWAE!!! Aku akan di sini!! Aku mau tidur sama eomma!!!”, dihentakkannya tangan pria itu dengan kasar.

“Appa, lebih baik appa pulang lebih dulu. Orang – orangku akan mengawal perjalanan pulang appa. Aku bersama Seo Ran nanti menyusul.”, ujar Siwon.

“Baiklah kalau begitu. Tapi, ajak dia makan dulu. Dia belum makan dari tadi siang.”

“Ne, appa..”

Setelah ayahnya pergi dengan pengawalan ketat, Siwon kembali membujuk adiknya, “Seo Ran, ayolah jangan seperti ini. Oppa tahu kau sedih…oppa juga. Dan bahkan appa pun mengalami hal yang sama. Kau tahu, rasa sedihmu tidak berarti apa – apa dibandingkan appa. Appa jauh sudah lebih lama bersama eomma darimu. Kau lihat appa, dia tegar bukan?”

“Hiks..hiks..hiks…eommaa~~”,ย gadis itu tidak menggubris ucapan kakaknya.

Pria itu kemudian ikut bersimpuh di samping adiknya, “Kajja, kita pulang..”, ujarnya merangkul adiknya.

“ANDWAE!!! KKAA!!!”, gadis berambut kecokelatan panjang itu mendorong pria itu kembali.

“Seo Ran, kalau eomma melihat seperti ini juga dia pasti sedih.”

“SEDIH KAU BILANG?!! EOMMA TIDAK AKAN SEDIH KARENA ADA AKU!! ADA AKU!!!”, teriaknya.

“Ran.. Terima takdir ini. Takdir yang sudah digariskan Tuhan.”

“ANDWAE!!!!!! Eomma masih hidup!! Kau dengar?!! Eomma tidak mau aku pulang!! Lihat! Eomma bicara!!”, ujarnya tidak menentu.

“Ran, annio…”, pria itu menatap adiknya sendu. Pria itu kembali memeluk adiknya seraya berkata, “Kajja..kita pulang..”

“Andwaaeee!!! Andwaeeeee!!!”, pemilik mata indah itu terus meronta memukul – mukul kakaknya, berusaha melepaskan dirinya.

“Andwaaaeeee!!! Eomma masih hidupp!!! Eomma hiduppp!!!”, ujarnya memberontak dari dekapan kakaknya.

“Ran..sadarlah..sadar..eomma sudah tenang…”

“Andwaee!!! Eomma masih hidupp!!!”

Lelaki itu mengguncangkan tubuh adiknya, “Yaaa!! Seo Ran!! Sadarlah, kau!!!”, Siwon merengkuh wajah adiknya dengan kedua tangannya berusaha memfokuskan pikirannya.

“Andwae..hiks..eomma..hidup..hiks…”, ucapnya melemah.

“Jangan terus bersedih, Ran…”, kini tangan besar itu menghapus air mata dari kedua mata indah Seo Ran.

“Eomma…eom…maa~~”, ujarnya kemudian pingsan dengan tubuh lemas.

“Ran! Seo Ran!”, Siwon menggendong tubuh adiknya ke dalam mobil.

Di dalam mobil, Siwon menjalankan mobilnya keluar dari kompleks pemakaman tersebut dan memarkirkannya di pinggir jalan dekat dengan restaurant. Dengan sabar ia menunggu adiknya hingga siuman.

“Bangunlah, Ran…kau jangan seperti ini…”, batin lelaki itu mengusap kepala adiknya, menyingkirkan anak rambutnya dari dahinya.

“Eommaaaa!!!!”, adiknya terlonjak kaget. Ia kemudian melihat ke samping dan dilihatnya sosok kakaknya yang menemaninya.

“Oppaaa…hiks…hiks…”, gadis itu memeluk kakaknya erat.

“Ne…uljimma…aku tidak suka kau menangis…”

“Tapi eomma..hiks..hiks..”

“Eomma sudah tenang di alam sana..”, ujar Siwon mengusap kepala adiknya menenangkannya.

“Uljimma…”, lagi – lagi pria itu mengusap air mata adiknya.

“Kita makan dulu ne? Kau belum makan kan…aku tidak mau kau sakit.”, ujar Siwon lagi.

“Biar saja aku sakit! Aku mau ikut eomma!”

“Jangan seperti itu, anak manja. Ayo, kau harus mandiri! Kajja, kita keluar.”, ujar Siwon yang menyentuh hidung adiknya dan keluar dari mobilnya, memutari mobilnya menuju pintu adiknya di sebelah kanan. Dibukanya pintu adiknya, namun gadis itu tetap tidak mau keluar dari mobilnya.

“C’mon~”, ujar Siwon menggandeng adiknya.

“Aku tidak lapar, oppa..”

“Kau belum makan, Ran. Kau harus makan.”, ujarnya lagi membawa gadis itu ke dalam restaurant.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ayolah dimakan…kau kan hanya memesan spagetthi. Dan kau hanya mengaduk – aduknya?”, tanya Siwon.

“Sudah kukatakan aku tidak lapar, oppa.”

Siwon kemudian mengambil garpu dan sendok dari tangan adiknya, dia mengambil alihnya dan mulai menggulung spagetthi dengan sendok pada garpunya, “Jebal, hanya beberapa suap…”, ujar Siwon mengarahkan garpu dengan gulungan spagetthi itu di depan mulut gadis itu.

“Haish, aku bukan anak kecil, oppa..”, tolaknya memalingkan wajahnya dan duduk bersandar.

“Ayolah…semakin lama kau makan, semakin lama kita pulang..aaa~~”

“Shireo..aku kan tadi sudah bilang..aku mau sama eomma..”

Siwon meletakkan garpu itu, menghela napasnya dan berkata, “Kau mau tinggal di sana? Di samping pusara eomma?”, gadis itu mengangguk.

“Tidak takut dengan setan dan sejenisnya? Itu pemakaman loh.”, gadis itu menggelengkan kepalanya kuat dan berkata, “Aku tidak takut, karena ada eomma. Aku tidak sendirian!”

“Well, apa kau mau eomma bersedih?”, gadis itu kembali menggeleng lemah.

“Kau tahu, dengan keadaanmu seperti sekarang, eomma sedih. Beliau sedih melihatmu menangis dan terlihat seperti orang depresi sekarang.”, gadis itu pun terdiam.

“Kau bisa selalu bersama eomma. Ingat, Ran. Eomma memang sudah meninggal, tapi jiwa eomma, masih tertinggal pada kita. Anak – anaknya.”, ujar Siwon menggenggam tangan adiknya.

“Geundae…”

“Yang perlu kau lakukan, hanya berdoa dan selesaikan kuliahmu. Aku sangat ingin melihat adikku menjadi sarjana!”, ujar lelaki itu lagi.

“Sekarang, ayo makan. Aaaa~~”, ujar Siwon kembali menyodorkan makanan adiknya.

“Aku bisa sendiri, oppa…kau tahu, dari tadi kita berdua diperhatikkan.”

“Dan seolah – olah aku lah penjahatnya yang memaksamu makan.”, sambung Siwon.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Apa Siwon baik – baik saja di sana? Bagaimana keluarganya??”, berbagai pertanyaan terus berputar – putar di pikiranku.

“Hey, Akane, makan malamnya sudah siap.”, aku menoleh dari tv yang kunyalakan.

“Yaa! Sopanlah sedikit! Kau harusnya memanggilku ‘noona’, pabbo!”

“Sighh! Merepotkan. Kau mau makan tidak”

“Ne…”, jawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat ini Siwon beserta adiknya Seo Ran dalam perjalanan pulang. Tiba – tiba ia mendapatkan telepon dari salah satu anak buahnya yang mengawal kepulangan ayahnya ke rumah. Lelaki itu langsung menginjak pedal rem mobilnya dalam hingga tubuh mereka berdua tertarik maju. Beruntung ada sabuk pengaman yang menahan kedua tubuh mereka.

“Oppa, waeyo? Gwaenchanayo?”, Siwon tidak menjawab pertanyaan adiknya. Hanya saja ponselnya yang sudah mati itu terlepas dari genggaman tangannya.

“Oppa…waeyo?”, sekali lagi adiknya bertanya. Dan lagi – lagi ia tidak menjawab. Hanya aliran air matanya lah yang menjawabnya. Dia memutar balik mobilnya ke arah rumah sakit.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, kenapa kita ke rumah sakit?”, tanya Seo Ran saat dipelataran parkir rumah sakit. Siwon hanya memeluk adiknya, menangis.

“Appa…appa….”

“Kau akan lihat…”, Siwon kemudian keluar mobilnya dengan langkah gontai menuju ruang jenazah rumah sakit itu.

“Waeyo appa, oppa? Dan kenapa kita ke sini?”, tanya adiknya saat kakaknya menggenggam tangannya.

Salah satu perawat rumah sakit pun membuka kain penutup jenazah. Dan Seo Ran pun menjerit ketika melihat tubuh ayahnya terbujur kaku. Siwon hanya bisa menatapnya dengan air mata yang berlinang, menggigit bibir bawahnya untuk tidak berteriak. Lelaki itu sangat merasa bersalah. Karena dia lah, ayahnya meninggal.

“Kalau saja aku tidak menyuruh appa pulang lebih dulu, pasti tidak terjadi seperti ini.”, batin Siwon yang sangat pilu melihat kejadian ini.

Baru saja ibunya dimakamkan, kini ayah mereka pun menyusul.

“APPAAAA!!!! Hikss..hikss..hiks…APPAAA!!!!”, Seo Ran mengguncang – guncangkan tubuh kaku itu yang sudah dengan bibir membiru.

“APPPAAAAA!!! Mianhae, appa…mianhae…kenapa appa juga menyusul eomma?!!!!!! Kenapaaa?!!!!!”, teriak Seo Ran.

Siwon pun ikut menghampiri Seo Ran di samping tubuh kaku itu. Menggenggam tangan ayahnya yang sudah mendingin dan berkata lirih dengan aliran air mata, “Appa, jeongmal mianhae, appa…jeongmal mianhaeeee!!!!”, Siwon terlihat kacau hari ini.

“JANGAN SENTUH APPA!!!! KARENA KAU APPA MENINGGAL!!!!”, Seo Ran mendorong Siwon.

“KALAU SAJA KAU TIDAK MENYURUH APPA PULANG, TIDAK AKAN SEPERTI INI!!!! TIDAK AKAN!!! KKAA!! AKU BENCI KAU!!!”, ujar gadis itu lagi.

“Seo Ran, oppa….”

“KAU BUKAN OPPA-KU!!! PUAS KAU, EOH?!!! PUAS??!!!!”, jeritnya. Siwon paham dengan adiknya yang kini membencinya. Lelaki itu keluar ruangan itu. Berdiri bersandar pada dinding sambil menengadahkan kepalanya meskipun menangis.

“Ya Tuhan, kenapa kau mengambil kedua orang tuaku begitu cepat?? Apa salahku, Tuhan?? Apaa?!!”, batin Siwon.

“Appa…huhuhu…bangun appa…kenapa appa meninggalkan Ran juga?? Hiks..hiks…appa…”, lirih Seo Ran menangis.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sajangnim…ini pesan dari ayah anda sesaat sebelum menghembuskan napas terakhirnya..”, salah satu rekannya menyerahkan sebuah kertas bertuliskan tulisan ayahnya yang sedikit tidak bisa dibaca.

“Jaga adikmu….”, baca Siwon dalam batin. Tubuh lelaki tegap itu pun serasa tidak kuat saat membacanya. Kini tubuhnya merosot dan terduduk lemas dengan mata terpejam dan kepala menengadah.

“Ya Tuhaaaannn!!!! Kenapa ini terjadiiii?!!!!!!!”, Siwon kalut saat ini. Dia tidak peduli dengan citranya sebagai ‘best agent’ rusak.

“KAU!!! KENAPA KAU DISINI??!! PERGI!!!”, Seo Ran menendang kakaknya. Siwon pun langsung bangkit dan berhadapan dengan adiknya.

“BUNUH AKU RAN JIKA ITU MEMBUATMU PUAS!!! BUNUH!!!!”, bentak lelaki itu.

Tidak ada ucapan yang keluar dari mulutnya. Hanya saja gadis itu berlari. Dua orang rekan Siwon mengikutinya berlari untuk menjaganya, “Agasshi!! Seo Ran-ssi!”, panggil mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mworago?!!! Ahjussi?!!”, kulihat Kai terhentak kaget.

“Waeyo, Kai?”, tanyaku. Dia hanya menyilangkan jarinya di depan bibirnya mengisyaratkanku untuk diam sejenak.

“Ah, ne..arraseo Rain hyung. Arraseo…”, ujar Kai kemudian memutus sambungan teleponnya.

“Wae?”, tanyaku lagi.

“Ayahnya Siwon hyung meninggal.”

“Mwo?!!! Me-ning-gal?”, tanyaku tidak percaya.

“Ne…kecelakaan. Saat hyung dan Seo Ran di pemakaman, hyung menyuruh appanya pulang lebih dulu dengan rombongan pengawalan. Tapi, di perjalanan, rem mobil yang beliau tumpangi tidak berfungsi. Hingga akhirnya mobil itu kecelakaan. Empat orang yang ada di mobil itu tewas semua, termasuk beliau.”

“Astaga…pasti Siwon oppa sangat terpukul…”

“Pastinya. Dia itu tipe orang yang sangat menyayangi keluarganya.”, aku mengangguk.

“Dan sekarang, hanya Seo Ran yang ia punya.”, lanjutnya.

“Apa Siwon pulang malam ini?”

“Kurasa tidak. Kau jangan jauh dariku, noona.”

“Tumben sekali kau panggil aku ‘noona’…”

“Jadi aku salah lagi?”, aku hanya mengulum senyum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah pemakaman ayahnya di hari yang berbeda, Siwon berusaha membujuk adiknya, Seo Ran untuk tinggal bersamanya.

“NEVER!! Aku tidak mau serumah dengan pembunuh sepertimu!! Tidak akan!! Dan kau, juga bukan oppa-ku!!”

“Ran…kumohon…aku tidak tenang seperti ini…”

“Tidak tenang kau bilang?! Kau sudah membunuh appa, saat ini kau masih bisa tenang!”

“Aku…”

“Aku akan tetap tinggal di asrama!! Itu lebih baik karena aku tidak bertemu denganmu! Karena itu sangat MEMUAKKAN!!”, ujarnya menegaskan dan pergi dari hadapannya.

“Raaan~~!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hyung, bolehkah aku minta bantuanmu?”, tanya Siwon lirih menelpon Rain.

“Ne?”

“Aku mau minta pengawalan bagi adikku. Aku akan membayar berapa pun itu, hyung. Bila perlu, saham perusahaan super market appa kuserahkan padamu asal adikku selamat.”

“Tidak perlu Siwon. Aku membantumu meskipun tanpa bayaran. Kau sudah seperti adikku sendiri.”

“Gomawoyo, hyung.”

“Ne, cheonma. Berikan alamatnya padaku.”

“Ne, hyung. Sekali lagi, thanks, hyung..”

“Ne..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Siwon oppa kembali hari ini. Aku mendengar suara mobilnya di luar. Dia keluar dengan langkah gontai. Kedua matanya sembab, rambutnya berantakan. Sungguh ini bukan Choi Siwon yang kukenal!

“Oppa…”, aku menyapanya malam ini.

“Ran…”

“Eoh?”

“Ah, maaf…Nagisa…”

“Oppa, kau lebih baik istirahat.”

“Anni…aku tidak bisa. Aku harus menjagamu. Aku sudah banyak melimpahkan tugasku pada Kai.”

“Aku bisa jaga diri kok..”, dia hanya tersenyum. Itu senyum yang dipaksakan.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Malam ini, seperti biasa, sebelum aku benar – benar tertidur, Siwon oppa menungguiku. Dia bersandar pada nakas samping ranjangku. Dia membisu, hanya menatap layar ponselnya.

“Kau rindu mereka?”, tanyaku.

“Kok belum tidur? Tidurlah…”

Aku tidak mengindahkan ucapannya, “Kenapa tidak ajak Seo Ran di sini saja?”, tanyaku.

“Dia…tidak mau…dia membenciku..”, jawabnya tersenyum. Kenapa tersenyum? Apa dia tidak sedih, eoh? Pasti ini pura – pura!

“Wae?”, tanyaku.

“Karena aku lah yang membunuh appa…aku pembunuh…”, ujarnya dingin. Aku pun bangkit dan terduduk di ranjangku yang lebih tinggi posisinya dari ia duduk di karpet bergambar panda di kamar ini.

“Dia benar…aku pembunuh. Kalau saja appa tidak pergi saat aku menyuruhnya pulang…kecelakaan itu tidak akan terjadi…aku memang anak durhaka! Aku membunuh ayahku sendiri..”, entah dorongan dari mana aku memeluknya yang lebih rendah dariku. Aku merasa, bahuku basah. Dia menangis. Baru kali ini aku melihat Siwon oppa menangis. Ya, bagaimana tidak? Di hari yang sama kedua orang tuanya meninggal. Meskipun berbeda jam, tetap saja membuatnya sangat terpukul.

“Bagaimana kalau aku tidak bisa menjaga Seo Ran? Appa menitipkan Ran padaku…tapi anak itu malah…”, aku hanya menepuk – nepuk punggungnya menenangkannya.

“Kenapa tidak bilang dengan Rain oppa saja?”

“Sudah. Tapi, tetap saja aku tidak tenang. Aku sangat merasa bersalah, Na….bahkan appa tidak mengatakan langsung padaku untuk menjaga Ran. Dia menitipkan pesannya pada anak buahku.”

“Oppa, kau sudah melakukan yang terbaik. Aku yakin, orang – orang dari Rain oppa bisa menjaga Seo Ran…”, ujarku.

Dia kemudian melepaskan pelukanku, “Aku ini sangat memalukan ya. Menangis di hadapanmu.”

“Menangis itu diperlukan loh oppa. Itu lah yang akan menunjukkan ekspresi perasaan kita.”, jawabku.

“Rahasiakan ini dari Kai ya. Bisa – bisa dia mengolok – olokku karena aku menangis.”

“Kau berani bayar aku berapa?”

“Mwo?!”

“Hahaha, aku bercanda….”

“Dasar….tidurlah..”, ujarnya lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa minggu kemudian, Kai cuti karena harus trainning dari dinas rahasia. Dan itu berarti Siwon kini menemani Nagisa. Kehidupan Nagisa pun yang awalnya penuh dengan teror dan terbiasa hidup dengan letusan senjata api, kini mulai normal. Meskipun begitu, Siwon sungguh – sungguh menjalankan tugasnya walaupun itu membahayakan nyawanya demi terlindungnya Nagisa.

“Oppa, luka di dadamu sudah tidak apa – apa?”, tanya gadis itu. Ya, Siwon beberapa hari yang lalu tertembak di dada sebelah kiri. Sempat membuat panik karena nyaris mengenai jantungnya.

“Ne….hanya saja, masih perlu perban untuk ini.”

“Oppa, kau tidak mengunjungi adikmu itu?”, tanyanya lagi.

“Kau mau ke sana?”

Nagisa pun menggeleng, “Annio, oppa saja. Sesekali, lihatlah Seo Ran.”, ujar gadis berkebangsaan Jepang.

“Ne, tapi dia kan sangat tidak ingin melihatku.”

“Melihatnya dari jauh dan memastikannya tidak apa kan? Apa lagi dia bersama orang – orang Rain oppa.”

“Tapi kau harus ikut juga.”

“Waee??”

“Kau tidak boleh jauh dariku. Ayahmu menitipkanmu padaku, Na.”

“Hhh..baiklah..”, jawab Nagisa pasrah.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tiba – tiba ponselku berbunyi. Entah nomor siapa ini. Tapi kodenya, kode Korea.

“Yeoboseyo?”

“Nagisa?”, ujarnya. Pria? Dare desuka (siapa)?

“Hng? Nugu seyo?”, tanyaku.

“Yong Jae! Jung Yong Jae! Remember me?”, tanyanya. Yong Jae…Yong Jae..aaah!! Yong Jae!! Aku ingat!

“Yong Jae?!! Kau sungguh Yong Jae?! Yong Jae sunbae!!”, seruku. Dia tetanggaku dulu saat aku masih SMP, di Busan. Aku masuk ke SMA yang sama dengannya, makanya aku memanggilnya dengan kata ‘sunbae’. Dulu saat aku masih SMP kelas 1, dia sudah kuliah tingkat tiga. Nyaris lulus bukan? Hhmm, kurasa ia satu line dengan Rain oppa.

“Aaah~~ Syukurlah kau mengingatku. Kupikir kau lupa denganku.”

“Anni, oppa…bagaimana keadaanmu?”

“Baik kok. Kau? Sudah lama kita tidak bertemu. Kau masih di Tokyo?”, ah! Baka ya (bodohnya)! Aku sudah berapa lama tidak mengganti nomor Jepangku ini?!

“Anni, oppa. Aku di Seoul sekarang. Ayah menyuruhku melanjutkan S2.”

“Oh ya? Kau di Seoul? Bagaimana kalau kita bertemu?”

“Ah~ Mianhae, sunbae..hari ini aku tidak bisa.. Bagaimana kalau….besok? Atau..lusa kalau sunbae besok sibuk.”, tanyaku.

“Ah, begitu ya…”, dia terdengar kecewa.

“Hhmm, ya sudah besok saja. Aku akan meluangkan waktuku. Tapi, sedikit malam bisa? Mungkin jam tujuh? Aku akan mengantar-jemputmu, Na.”

“Tampaknya kau sibuk sekali, sunbae! Hahaha. Baiklah, jam tujuh. Geundae, aku bisa berangkat sendiri kok.”

“Hah? Hahaha, aku sudah mengenalmu lama, Na. Mana bisa! Kau itu wanita cengeng, Na. Hahaha..mana mungkin kau berangkat sendiri.”

“Aku tidak sendirian kok..”

“Lalu, dengan siapa?”

“Hhmm..”, harus kujawab apa status Siwon oppa ini? Bodyguard? Tidak mungkin kan? Secret agent? Lebih tidak mungkin!

“Aku dengan temanku, sunbae.”, jawabku lagi melanjutkan.

“Teman? Teman atau kekasihmu, euhm?”, ledeknya.

“Sunbae~ Kau sering sekali meledekku!! Huuh! Dasar, ahjussi!”

“Hey..hey..hey, aku ini baru 30 tahun. Kau menyebutku ahjussi?”

“Tiga puluh tahun itu usia untuk ahjussi, sunbae…hahahaha…”, kelakarku. Aku kemudian tersadar kalau aku tertawa terlalu keras. Aku menutup mulutku dan melirik Siwon oppa di kiriku saat menyetir mobilnya. Without expression! Haish!

“Baiklah, ahjussi. Nanti kita ngobrol banyak saat bertemu. Bye~”, ujarku mengakhirinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nugu?”, tanya Siwon kemudian.

“Nugu? What do you mean?”, tanya Nagisa.

“The man who called you before. Kelihatannya kau akrab sekali…”

“Dia bertanya seperti itu karena tugasnya yang harus melindungiku atau…cemburu? Hah?! Iie (tidak)! Tidak mungkin dia cemburu! Baka yaa bodohnya) kau Nagisa!”, batin Nagisa.

“Waee??”

“Aku kan harus memastikan kau bergaul dengan orang yang tepat.”

“Sunbae-ku saat di Busan, oppa.”

“Busan? Kau pernah tinggal di Busan?”

“Ne, saat SMP hingga SMA. Setelah itu aku pulang ke Tokyo, meneruskan S1 di sana, dan S2 kembali di Korea. Lebih tepatnya Seoul.”, terang gadis itu.

“Oppa, kau mau temani aku besok kan? Jam tujuh malam aku mau bertemu dengannya. Aku sangat rindu dengan Yong Jae sunbae!”, serunya.

“Sangat rindu?”

“Euhm. Sudah berapa tahun kita tidak bertemu. Berhubungan pun tidak. Benar – benar lost contact!”, ujar Nagisa kesal.

“Baiklah, aku akan menemanimu besok.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Syukurlah…dia baik – baik saja…”, ujarnya padaku saat kembali masuk ke dalam mobil setelah berbicara pada salah satu anak buahnya Rain oppa.

“Jinja? Syukurlah…apa yang kukatakan benar kan, oppa? Seo Ran baik – baik saja, kok.”

“Ne…tapi, sepertinya ia sedikit kurus…”

“Yang penting, dia sehat – sehat saja, oppa…”, jawabku lagi.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu di salah satu rumah mewah di kompleks perumahan mewah, tinggal lah seorang wanita hamil dengan ibunya.

Ginger Alexa, nama wanita hamil tersebut. Wanita itu teman dekat Siwon saat masih kuliah. Sayangnya, Alexa yang menyimpan perasaan terhadap Siwon, perasaannya tidak pernah terbalaskan oleh lelaki itu.

Hingga Siwon memutuskan bergabung di dinas rahasia, mereka hilang hubungan sama sekali. Dan Siwon sendiri pun menghindarinya agar wanita itu sadar kalau dia tidak menyukainya.

Saat mereka hilang hubungan, kehidupan Alexa semakin hilang arah. Mabuk – mabukkan, berjudi bahkan seks bebas sering dilakukannya. Hingga dia hamil pun, dia tidak mengetahui siapa ayahnya.

“Neo pabbo ya, Alexa!”, ujar ibunya, Grondy Meoni.

“Wae?!”

“Kau tidak berniat membunuh Siwon, eoh? Karena Siwon kan hidupmu seperti ini..”

“Siapa bilang? Aku memang berniat membunuh dia kok, eomma.”

“Bagus!”

Dari kecil, memang Alexa di didik untuk menyakiti. Karena itulah perlahan Siwon yang semulanya dekat dengannya, menjauh dari wanita itu karena tingkah lakunya.

“Aku sudah bekerja sama dengan seseorang, eomma. Untuk membunuh Siwon.”

“Mwo?!! Nugu?”

“Rahasia. Tapi, eomma mau membantuku kan?”

“Tentu saja!”, wanita hamil itu dan ibunya tersenyum licik.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, kau pernah suka dengan seseorang? Atau memiliki kekasih?”, celetukku.

“Eoh? Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Hanya bertanya. Pernah tidak?”

“Annio.”, jawabnya sambil membersihkan pistolnya. Kurasa tidak ada debu di sana, tapi dia terus mengelap pistol itu. Satu per satu bagian dilepasnya.

“Kau normal kan?”, tanyaku pada lelaki yang berdiri di meja ruang tengah ini yang memegang kain kecil membersihkan senjatanya.

“Hahaha, apa maksudmu, Na? Jelas aku normal.”

“Lantas, kenapa kau tidak pernah memiliki kekasih?”

“Belum ada yang tepat.”

“Aneh…”

“Kalau kau tidak suka, apa kau mau menjalani hubungan yang hambar, euhm?”, tanyanya yang asik dengan pekerjaannya.

“Hngg..tidak sih..”

“Tapi dulu pernah ada yang menyukaiku loh! Banyak malah.”

“Ternyata kau narsis juga ya. Nugu, oppa?”

“Kau serius ingin tahu? Aku saja malas mengingatnya.”

“Wae? Sangat menyakitkan kah untukmu?”

Dia menggelengkan kepalanya, “Hanya saja, sifatnya membuatku muak. Alexa. Ginger Alexa namanya.”, ujarnya yang kemudian meletakkan kain dan merakit pistolnya.

“Sifatnya?”

“Ya…kau tahu, aku tidak suka wanita sadis.”

“Lelaki mana pun juga begitu, oppa.”

“Geundae, ini berawal dari sifatnya yang suka menyiksa binatang. Dan bodohnya, aku baru tahu setelah kami dekat.”

“Menyiksa binatang?”, ulangku.

“Ya, menginjak kadal, mengikat dan menendang kucing, mengambil ikan dari akuarium dan melihatnya menggelepar hingga mati, memukuli anjing, menusuk bunglon hingga mati, semuanya pernah ia lakukan.”

“Ige mwoya?!!”, aku terkejut setengah mati. Sesadis itu kah wanita yang menyukai Siwon oppa.

“Ya, itulah yang pernah tertangkap basah olehku. Dia hanya bilang, ‘aku tidak sengaja, Siwon’..”, ujarnya meniru ucapannya.

“Tidak sengaja?”, ulangku.

Dia mengangguk, “Kemudian, dia juga bilang kalau hal – hal tersebut adalah hal yang lumrah bagi keluarganya. Bisa kau bayangkan pola didik keluarganya kan?”

“Hiiiii~~”, aku bergidik ngeri.

“Dan suatu saat aku menemukannya sedang latihan memanah dengan target seekor kucing yang terikat. Kau tahu dia bilang apa saat menegurnya saat aku keberatan dia menggunakan hewan sebagai target?”, aku menggeleng.

“Dia bilang, ‘hewan itu tidak berguna. Jadi pantas dijadikan target.’ Begitu katanya. Tapi, semakin lama, dia bosan menggunakan target hewan.”

“Mwo?? Apa dia berniat menggunakan manusia sebagai target? Dia pembunuh?!”, tanyaku kaget.

“Yup! Dia menggunakan manusia. ‘Manusia yang tak berguna’.”

“Maksudmu?”

“Gelandangan, pengemis, tuna wisma yang dia ambil dan dijadikan sasarannya hingga tewas.”

“Itu melanggar hukum! Kenapa kau diam saja?!”

“Aku diam? Anii, aku tidak diam. Aku masuk ke dinas rahasia juga sebenarnya ingin memenjarakan dia agar dia tahu hukuman yang setimpal.”

“Lalu, bagaimana dengannya sekarang?”, tanyaku lagi.

“Molla…aku tidak tahu dan tidak mau tahu.”, jawab Siwon mengangkat kedua bahunya dan meletakkan pistolnya.

“Seandainya dia bukan tipe orang penyiksa, apa kau menyukainya?”

“Kesalahan fatal.”

“Maksudmu?”

“Hahaha, sudah tidak usah dibahas lagi. Sudah malam, tidurlah…”, kenapa dia menutupinya? Apa dia pernah menyukai wanita itu?

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hoaaaahhmm~~~ Aku masih ngantuk sekali!

Tok! Tok! Tok! Aku menoleh saat pintu kamarku diketuk, “Na..kau sudah bangun??”

Tok! Tok! Tok!

“Na…Nagisa…??”

“Ne, oppa~ Aku sudah bangun…”, ujarku yang kemudian membuka pintu.

“Cepat mandi, lalu sarapan.”, ujarnya.

“Yes, Sir!”, ujarku hormat padanya.

“Haish! Kau ini!”, dia menutup wajahku dengan handukku.

“Ah! Aku mau hirup udara di luar dulu deh..”, batinku sambil menuju pintu luar dan menghirup udara pagi dalam – dalam dan menghembuskannya perlahan. Ah, nikmat sekali udara pagi ini. Terasa segaaarrr~~

“A-astaga! Nagisa, kenapa kau keluar tanpa sepengetahuanku?!”

“Kau terlalu khawatir ah, oppa!”, aku mendorongnya pelan.

“Kajja, masuk..aigoo~ kau iniii~~”, dia membawaku masuk ke dalam rumah.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tanpa mereka berdua ketahui, seseorang mengintai rumah mereka. Dari dalam mobilnya lah, orang itu memantau rumah yang kini hanya di tempati Siwon dan Nagisa itu.

“Aku sudah berada tepat di depan rumahnya. Rupanya dia tinggal bersama wanita?”, ujar orang itu sambil menelpon.

“Ne, aku akan masuk…untuk membunuh wanita jalang itu…”, ujarnya lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aaaahh~~ Professor bagaimana siih??”, rutukku saat menatap layar ponselku.

“Waeyo?”, tanya Siwon yang kemudian menyantap roti dengan selai kacangnya.

“Professor meng-cancel kelasku. Ugh!”

“Jinja? Nothing to do here…right?”, aku mengangguk.

“Aaah..buat apa aku bangun pagi? Lebih baik aku tidur lagi…”, ujarku berbalik badan.

“Hey, mau kemana kau?”

“Tidur lagi.”

“Makan…”

“Tidak ah~”, jawabku.

“Na…kau mau makan atau kutelepon ayahmu?”, ujarnya mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.

“Gaaahh!! Oppa selalu saja mengancamku dengan cara seperti itu!”

“Duduklah…”

“Shireo…”

“Okay…”, dia kemudian terlihat menekan beberapa nomor dengan roti yang digigitnya.

“Yaaa!! Yaa!!! Jangaaann~~~”, aku berusaha merebut ponselnya. Tapi sayangnya tangannya lebih cepat dariku.

“Mau berubah pikiran, nona Nagisa?”, tanyanya yang tersenyum penuh kemenangan.

“Ne, ne..tapi, berhentilah memanggilku ‘nona’!”

“Arraseo..”, ujarnya lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ting! Tong!

“Biar aku yang lihat, oppa.”, ujar Nagisa.

“Andwae! Kau duduk saja. Aku yang lihat.”, ujar Siwon yang kemudian langsung ke depan. Tak lupa ia mengambil pistol yang sudah ia isi dengan 5 butir peluru dari ruang tengah dan ia sembunyikan di belakangnya.

Ckrek! Ckrek! Lelaki itu membuka kunci pintu rumahnya.

“Siwon-ah!”, ujarnya langsung memeluk lelaki bertubuh tinggi tegap itu. Lelaki itu hanya terpaku dengan apa yang ia lihat, karena tidak menduganya.

“A…Alexa?!!”, ucapnya berusaha melepaskan tubuh wanita itu.

“Jeongmal bogoshipo…Siwon-ah!”, ujarnya masih memeluknya tidak peduli dengan perutnya yang sedang mengandung terhimpit.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kok oppa lama ya? Siapa ya di luar?”, batinku yang kemudian langsung menyusulnya ke depan.

“Lepaskan aku, Alexa!!”, Alexa?? Apa wanita yang diceritakan oppa semalam?

“Oppa…..”, sungguh aku tidak mengira kalau Siwon oppa sedang dipeluknya. Kok aku sakit ya? Kenapa aku ingin menjambak wanita itu sekarang?

“Na? Kenapa kau keluar? Masuk, Na!”

“Eoh? Dia kekasihmu? Atau..istrimu?”, ujarnya. Chakkaman! Perutnya…dia hamil?

“Siwon-ah, kenapa kau meninggalkanku? Demi dia kah?”, ujarnya mengusap perutnya yang membuncit.

“M-mwo?! Apa oppa lari dari tanggung jawabnya?”, batinku.

“Apa yang kau katakan, Sa?”

“Dia ini…”, ujarnya menunjuk perutnya.

“Cih! Kau gila… Kau hamil tapi menyalahkanku. Kita tidak pernah bertemu, Sa. Bagaimana mungkin dia anakku.”

“Aku tidak bilang dia anakmu…”

“Oppa, kau…”, entah kenapa aku seperti….entahlah. Kenapa aku kacau seperti ini?

“Demi dia kau meninggalkanku?!! Persetan dengan tugasmu, Siwon-ah!! Kau tahu, aku mencarimu selama ini!!!!”

“Dengar Sa, aku tidak pernah menyukaimu! Bahkan kebiasaanmu menyiksa hewan sangatlah buruk! Kau psikopat!!”

“Siwon, kau bisa bicara seperti itu padaku?!!”

“Ne. Wae, eoh? Menyakiti hewan adalah salah satu ciri dari seorang psikopat!”

“Baiklah…kalau itu yang kau inginkan…”, kini dia mendekatiku.

“Chukkae…kau sudah mendapatkan Siwon.”, ujarnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Wanita itu kemudian mengeluarkan pistol dari belakang kirinya dan mengarahkannya pada Nagisa.

“Na, masuk kamar!!!”

“Good bye, wanita jalang!

“Kau gila, Sa!!!”, Siwon langsung berlari menghampiri mereka berdua dan menarik tangan Nagisa lari.

DORR!! Sayang tembakan itu meleset.

“Oppa…”

“Diamlah, Na.”, ujar Siwon.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
DORR! DORR!! DORR!! Baku tembak antara Siwon dan Alexa pun terjadi. Siwon membawa Nagisa dari pintu samping yang langsung terhubung dengan garasi dan memasukkan Nagisa ke dalam mobilnya. Lelaki itu kemudian memundurkan mobilnya tidak peduli menabrak pagar rumah tersebut. Dia kemudian menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Beruntung mobil milik Siwon adalah mobil yang sudah di desain khusus untuk secret agent. Dari luar memang seperti mobil biasa. Namun, mobil itu terbuat dari baja dengan tingkat ketebalan khusus hingga tidak bisa tertembus peluru. Bahkan kacanya sangat tebal hingga tidak mudah pecah.

“Pasang sabuk pengamanmu!”, ujar Siwon. Nagisa pun menurutinya.

DORR!! DORR!! DORR!! Alexa masih tetap menembaki mobil Siwon.

“Oppa, awaaasss!!!!!”, Nagisa berteriak saat mobilnya hampir saja menabrak mobil lain. Siwon pun langsung membanting setirnya dan masuk ke jalur lain. Lelaki itu memakai earphone khusus yang tersambung pada Rain, kantor pusat dinas rahasia.

Sementara itu di belakang mobil mereka, tidak hanya mobil Alexa, tapi mobil anak buahnya juga yang ia dapat dari seseorang yang bekerja sama dengannya untuk membunuh Siwon.

“Kyaaaaa!!! Oppaaaa!!!”, Nagisa terus menjerit karena Siwon menyetir seperti orang kerasukan setan.

“Mayday! Mayday! I need backup!!”, ujar Siwon berusaha menghubungi dinas rahasianya.

Kini mobil Alexa yang berwarna merah tepat berada di samping mobil Siwon.

“Oppaaa!!!”, Nagisa kembali menjerit karena posisinya ada di sebelah kanan yang langsung bisa melihat Alexa yang terlihat dendam.

CIIIITT!! BRAAK!! Entah sudah berapa kerusakan yang ditimbulkan. Dan kali ini hydrant jalanan pun menjadi rusak karena Siwon membanting setir menghindari pengguna jalan.

“Opppaaaa!!!!”, Nagisa menjerit karena melihat sesuatu yang keluar dari ban mobil Alexa. Semacam pedang yang terus berputar seiring dengan berputarnya roda mobil merah yang dikendarai wanita itu.

Zzziinngggg!!! Pedang itu berputar mengenai sisi kanan tempat Nagisa berada. Jika terus begitu, maka mobil tersebut terbelah dan Nagisa yang akan menjadi korbannya.

“Opppaaaa!!! Mobil kita…mobil kitaaaa!!!!”

“I need help!!!!”, Siwon kembali mengulangi kata – katanya.

“Siwon, berikan koordinatmu!”, ujar Rain.

“Ne…”, Siwon pun mengirimkan koordinat pada Rain. Sesaat kemudian, Rain kembali berkata, “Belok kiri! Dan 500 m dari persimpangan jalan, ambil kanan. Di sana ada danau. Masuk ke sana, dan ikuti alurnya untuk ke sini.”

“Ne, hyung!”, Siwon pun menginjak pedal gasnya dan masuk ke jalan sempit.

“Tutup matamu dan pegangan!”, ujar Siwon yang kemudian menekan beberapa tombol dari mobilnya. Mobilnya pun berjalan miring, merayap diantara dinding saat jalanan semakin menyempit. Saat lelaki itu melihat ke belakang melalui spionnya, ternyata mobil Alexa bisa melakukan hal yang sama.

Siwon kembali memacu mobilnya dan fokus pada jalanan. Tidak peduli dengan teriakan Nagisa yang memekakkan telinga. Lelaki itu mengambil jalur kanan dan semakin menginjak pedal gasnya dalam. Dia kemudian mengatur beberapa tombol yang keluar dari atasnya.

Click! Click! Click!

“Yaaaa!!! Oppaaa!!! Apa yang kau lakukan?!!!!! Membunuhku?!!!!”, pria itu tidak mengatakan apa – apa dan memasukkan gigi mobilnya agar lebih cepat.

“Oppaaaa!!!!!”, Siwon kemudian menutup mata Nagisa dengan tangan kanannya saat dia menginjak pedal gasnya dalam yang membuat mobil itu meluncur cepat.

Byuurrrr!!! Mobil pun masuk ke dalam danau.

Click! Click! Click! Seketika mobil hitam yang hampir tenggelam itu berubah menjadi kapal selam yang melaju secara otomatis. Kedua orang itu pun bernapas lega.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku masih hidup…”, batinku saat tangan Siwon oppa yang menutup kedua mataku terlepas.

“Kau…baik – baik saja?”, tanyanya. Aku tidak bisa menjawabnya. Entah kenapa lidahku kelu. Mungkin aku masih shock?

“Na, kau terluka?”, tanyanya lagi menggenggam tangan kiriku.

“Nagisa…??”

“Hng? A-anni..”, jawabku.

“Syukurlah..mianhae, Na…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kenapa ini bisa terjadi?”, Rain bertanya pada Siwon kini. Sementara Nagisa, dia masih terlihat shock. Beberapa agent wanita memberikannya minuman dan berusaha menenangkan batin gadis berdarah Jepang itu.

“Itu…karena…Alexa. Alexa datang ke rumah dan tiba – tiba dia berniat membunuh Nagisa.”

“Kau ceroboh, Siwon!! Ada apa denganmu?! Baru kali ini aku melihatmu ceroboh!”

“Mianhae…”, sesal Siwon.

“Mianhae kau bilang?!! Nyawa Nagisa menjadi taruhannya!!”, bentak Rain.

“Annii…aku yang salah…”, ujar Nagisa.

“Aku yang salah. Karena aku keluar rumah tidak bilang padanya. Kalau saja aku tidak keluar, kami tidak seperti ini…”, ujar gadis itu lagi.

“Istirahatlah, Na di dalam. Dan kau, jangan pergi – pergi dulu.”, ujar Rain pada Nagisa.

“Geundae, aku ada janji jam 7 malam nanti, oppa.”

“Batalkan. Dan atur ulang lagi. Kau bisa pergi besok atau lusa, Na.”

“Geundae…”

“Keselamatanmu lebih utama, Na..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Dan akhirnya aku pun membatalkan janjiku dengan Yong Jae sunbae. Huuhh! Dan malam ini aku harus menginap di salah satu markas dinas rahasia ini. Aku langsung masuk ke dalam ruangan. Lagi – lagi ini benar – benar mirip di anime Gundam. Pintu otomatis, ruangan serba putih, bahkan ranjang single-nya yang aku duduki pun putih. Tidak ada lemari, hanya sebuah nakas kecil. Ruangan ini pun tidak besar. Memang, kamar mandinya ada di dalam kamar ini juga.

Zing~! Pintu otomatis itu terbuka. Kulihat Siwon oppa yang masuk.

“Ini pakaianmu. Sementara. Dan ini, keycard kamarku.”, ujarnya menyerahkan paper bag padaku. Aku tidak mengambil paper bag itu dari tangannya.

‘Kamarku’ dia bilang? Jadi ruangan ini kamarnya? Dia kemudian meletakkan keycard dan paper bag itu di atas nakas.

“Kau marah denganku?”, tanyanya yang ikut duduk di sebelahku. Aku tidak meresponnya dan memilih mengedarkan pandanganku ke arah sekitarku.

“Na…”, lagi, aku mengacuhkannya dan bangkit dari dudukku melihat kamar mandi ruangan itu. Cukup lengkap, karena ada ruang shower khusus.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Begitu gadis itu membalikkan badan, lelaki tegap itu tepat berada di belakangnya, “Berhenti mengacuhkanku, Na.”

“Waee?? Apa ada urusannya denganmu?”

“Tentu ada.”

“Oh, jinja? Oppa berhubungan dengannya pun aku tidak protes kan?”

“Jadi karena itu?”

“Assh, sudahlah.”, ujar gadis itu mengibaskan tangannya.

“Na, kau marah denganku karena Alexa?”, tanyanya meraih salah satu tangan gadis itu.

“Aku tidak marah.”

“You lied.”

“Annii..”, jawab Nagisa.

“Dia hamil bukan karena aku.”

“So?”

“Itu yang ada dipikiranmu kan?”

Gadis itu tersenyum, “Aku lelah oppa. Bisa kau keluar sekarang?”, lelaki itu pun menurutinya dan keluar dari kamar itu.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Malam ini aku makan malam di tempat yang asing bagiku. Dibilang kantor juga sepertinya tidak cocok. Karena tempat ini terlihat seperti markas besar. Dan aku serasa menjadi bagian dari mereka. Apa lagi pakaianku yang serba hitam begini. Tanktop hitam dengan cardigan ungu yang menjadi satu – satunya barang yang kubawa selain ponsel dan pakaianku sebelumnya, yang dipadukan dengan celana hitam dari sini menjadi penampilanku malam ini. Kurasa celana ini stock untuk secret agent wanita di sini. Aku keluar ditemani Siwon oppa menuju ruang makan khusus. Di sana kulihat Rain oppa sudah menungguku.

“Hei, Na. Kemarilah…duduklah di sini..”, ujarnya ramah. Aku menurut.

“Apa kamar itu nyaman?”, aku mengangguk. Kami pun menyantap makan malam dalam diam saat ini.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Rain oppa, boleh tidak aku jalan – jalan sekitar sini?”, tanya Nagisa.

“Boleh. Siwon, temani dia.”

“Gomawo, oppa..aku berhutang banyak denganmu..”

“Jangan kau pikirkan..”, ujar Rain tersenyum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sungguh tidak pernah kuduga kalau ada markas sebesar ini di dalam danau. Siwon oppa menunjukkanku sebuah jendela. Jendela dimana aku bisa melihat keluar. Bukan pemandangan malam yang penuh cahaya lampu yang kulihat. Tapi, beberapa ikan yang berenang. Aku serasa seperti ada di negeri bawah laut.

“Akan lebih banyak lagi jika siang hari.”, ujarnya. Sementara aku sibuk memperhatikan ikan yang berenang dan kemudian bersembunyi di balik batu – batuan.

“Kau bosan di sini?”, aku mengangguk.

“Kajja, aku tahu tempat untuk keluar.”, ujarnya menarik tanganku.

“Tapi kau…”

“Ini rahasia kita berdua.”, ujarnya pelan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tanpa sepengetahuan Siwon, Rain sudah tahu kemana lelaki itu membawa pergi Nagisa. Namun karena dia percaya, dia membiarkan lelaki itu membawa pergi Nagisa.

Di lain tempat, Siwon dan Nagisa berjalan menyusuri lorong yang akan bersinggungan langsung dengan tepi danau.

“Apa masih jauh?”

“Sebentar lagi…”, ujar Siwon.

Seberkas cahaya kekuningan pun terlihat terang di ujung lorong menandakan mereka akan tiba di luar.

“Cha! Sampai kan?”, ujarnya.

“Woaah! Kunang – kunang!”

“Kau suka?”

Nagisa pun mengangguk, “Dari kecil aku tidak pernah melihat kunang – kunang.”

“Aku juga. Tapi lima tahun yang lalu, aku menemukan tempat ini. Tempat ini, menjadi tempatku menghilangkan rasa bosanku di markas. Dan dulu masih tidak ada kunang – kunang di sini. Hanya ada cahaya bulan dan bintang. Entah dari mana kunang – kunang itu muncul.”, ujarnya.

“Kajja, kita ke sebelah sana…”, ujar Siwon menggandengku.

“Huwwaa!!”

“Ha..hati-hati! Banyak lumut di sini.”, ujarnya yang langsung mengeratkan genggamannya di tanganku.

“Nah, dari sini biasanya aku menikmati langit malam.”, ujarnya yang kemudian duduk di atas rumput. Aku pun mengikutinya duduk.

Dia kemudian menengadahkan kepalanya dan menatap langit dengan kedua tangannya ke belakang menopang tubuhnya, “Kadang aku juga bosan dengan kehidupanku. Tapi kalau aku ingat appa, eomma, dan Seo Ran, rasanya kebosananku menguap.”, dan aku kini hanya mendengarkannya sambil memain – mainkan rumput di hadapanku.

“Tapi kini, perlahan rasa bosan itu sepertinya kembali. Hanya Seo Ran yang kupikirkan saat ini. Tapi dia malah sangat membenciku.”

Wajahnya sangat terlihat sedih saat mengatakan itu. Bisa kurasakan perasaannya kini. Satu – satunya harta terpenting baginya adalah adiknya, Seo Ran.

“Hanya satu keinginanku untuk saat ini. Melihat Seo Ran lulus kuliah. Aku hanya berharap itu sebelum aku mati.”

“Apa yang kau katakan, oppa…??”

“Tugasku berbahaya, Na. Kau bisa lihat seperti tadi kan?”

“Kalau begitu, aku juga akan mati dong.”, ujarku.

“Hahaha, annio. Karena jika aku mati, masih ada Kai.”

“Pabbo.”, ujarku singkat.

“Waeyo?”

“Yaa, neo pabbo ya.”, ujarku merebahkan tubuhku di atas rumput, menautkan kedua tanganku di atas perutku, “Apa Seo Ran mau kehilangan sosok kakaknya? Apa itu bisa digantikan orang lain?”, tanyaku kemudian. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaanku.

“Untuk apa? Sementara dia tidak mau melihatku lagi.”

“Lalu kau juga tidak mau peduli dengan Seo Ran?”

“Aku selalu peduli dengannya. Hanya saja dia yang tidak mempedulikanku.”

“Dan kau mau hidup seperti itu terus menerus dengan adikmu?”, lagi, dia terdiam.

“Perbaiki hubunganmu dengan Seo Ran, oppa.”

“Sepertinya kau banyak berubah, Na..”

“Hng?”

“Ucapanmu itu loh. Belajar dari mana?”

“Dari kau…hahaha..”, tawaku.

“Dulu aku sangat manja, keras kepala, tidak mau toleransi, seenaknya saja kalau berbuat sesuatu. Tapi, adanya kau dan Kai sudah mengubah pola pikirku, oppa.”, tuturku.

“Baguslah. Jadi kalau ada lelaki yang menjadi suamimu, tidak susah mengaturmu. Hahahaha…”, kelakarnya. Aku pun hanya memukul lengannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Lusa ini, aku akhirnya bisa keluar dari markas dinas rahasia. Mobil Siwon oppa juga sudah dibetulkan dan terlihat seperti baru lagi.

“Kau jadi menemui sunbae mu itu siang nanti?”

“Uhm…kau menemaniku kan?”, tanyaku yang dijawab anggukkan kepalanya. Aku pun memasuki kelasku. Dan seperti biasa, Siwon oppa selalu menungguku di depan kelasku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Siang hari pun tiba. Siwon menemani Nagisa untuk bertemu Yong Jae di sebuah cafe.

“Sunbae!”, gadis itu yang sudah duduk bersama Siwon melambaikan tangannya untuk menunjukkan tempat duduk.

“Annyeong~”, sapanya.

“Annyeong sunbae…oh ya, ini temanku, Siwon yang waktu itu kuceritakan. Siwon, ini Yong Jae sunbae.”, ujar gadis itu bergantian bicara pada kedua pria itu. Kedua lelaki itu pun berjabat tangan dan bertegur sapa.

“Aah! Kau jadi manis sekali, Na!”

“Sigh! Kenapa aku kesal saat dia memuji Nagisa?”, batin Siwon.

“Oops! Sepertinya aku salah bicara. Lelaki ini bisa membunuhku.”, ujar Yong Jae kemudian melirik Siwon.

“Hah? Ahahaha tidak mungkin, sunbae! Bahkan untuk membunuh seekor semut pun dia tidak bisa”, ujar Nagisa.

“Kau salah, Na…aku bisa lebih sadis dari seorang psikopat sekali pun.”, batin Siwon.

“Hahaha, jangan bergurau. Untuk apa aku membunuhmu, hyung?”, ujar Siwon kemudian.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tiba – tiba saja ponsel dalam saku Siwon oppa berbunyi setelah perbincangan aku dan Yong Jae sunbae sudah lama. Aku menatap Siwon seolah bertanya, ‘siapa yang menghubungimu?’. Dia hanya menggidikkan bahunya.

“Yeoboseyo?”, ujarnya.

“Ra-Ran?? Wa-waeee??”, tanyanya. Seo Ran menghubunginya? Bagus lah.

“Mwoya?!!!!”, Siwon terbelalak kaget.

“Ne, aku akan ke sana!”, ujarnya. Mwo? Ada apa ini?

“Na…aku..kita…”

“Ada apa?”, tanyaku.

“Nanti kujelaskan. Bisa kita pergi sekarang?”, tanyanya.

“Ah, biar Nagisa aku saja yang mengantar pulang.”, ujar sunbae.

“Tidak bisa. Nagisa harus…”

“Ah, sunbae…mianhae…sepertinya aku harus pergi sekarang..”, potongku cepat.

“Begitu ya??”, ujarnya kecewa.

“Ne, mianhae sunbae…sampai ketemu lain waktu. Annyeong..”, ujarku pamit.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Huhuhu…oppa….”, Seo Ran menangis pada kakaknya kali ini. Petugas kepolisian pun datang setelah Siwon menelponnya.

Kini Nagisa dan Siwon berada di kediaman tante dari lelaki itu. Seo Ran juga berada di sana. Gadis itu meminum minuman yang dibawa oleh Nagisa untuk menenangkannya.

“Cerita padaku..Ran…kau sudah tenang sekarang?”, ujar Siwon yang ditemani petugas kepolisian untuk mencatat kesaksian Seo Ran.

“Ta-tadi…waktu aku di asrama, aku memutuskan untuk ke rumah ahjumma.. A-aku mengetuk pintu tidak ada jawaban…lalu aku mencoba masuk dari jendela…”

“Kenapa kau nekat masuk dari jendela?”, tanya Siwon.

“Karena kupikir di rumah ini pasti ada orang. Soalnya aku melihat mobil ahjumma di garasi dan pagar juga tidak terkunci.”

“Lalu? Saat kau masuk?”, tanya Siwon lagi.

“Rumah sepi sekali..a-aku mencari ahjumma ke belakang ternyata tidak ada juga. Dan saat aku melewati kamar ahjumma, aku mencium bau anyir. Saat aku buka, tidak ada siapa – siapa. Tapi, dari bawah pintu kamar mandi ahjumma, ada darah dan jejak kaki berdarah..sa-saat kubuka…a-ahjumma..ahjumma…ahjumma tergantung dengan posisi terbalik dan leher nyaris putus di atas bath tube. Huhuhu…”, Seo Ran kembali menangis menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sang kakak pun langsung memeluknya, membiarkan bajunya basah karena air mata adiknya.

“Lapor! Menurut identifikasi, korban belum meninggal saat di gantung dengan posisi terbalik.”, ujar salah satu petugas kepolisian pada kepala polisi yang saat itu berada di sebelah Siwon.

“Baik, laporan di terima! Segera bawa jenazah ke rumah sakit untuk otopsi lebih lanjut.”, perintahnya.

“Hiks..hiks..hiks…aku takut oppa..aku takut…”, Seo Ran masih menangis.

“Gwaenchana, Ran. Ada oppa..kau bersama Nagisa dulu ya. Di ruang tengah! Jangan kemana – mana.”, Nagisa pun membawa Seo Ran dengan merangkulnya.

Saat itu, rumah mewah milik tante dari Siwon dan Seo Ran sudah dipenuhi petugas kepolisian dan juga beberapa anak buah Rain yang bertugas menjaga Seo Ran selama ini.

“Eonni, hiks..hiks..chakkaman…Louis…Louis tidak ada…”, ujar Seo Ran.

“Louis?”, tanya Nagisa.

“Anak dari ahjumma! Oppaaa!!!”, Seo Ran kemudian kembali berlari pada kakaknya.

“Ada apa, Ran?”

“Louis…Louis, oppa!”

“Lapor! Kami menemukan bayi ini tersekap dalam kardus. Kondisinya…sangat kritis”, ujar petugas kepolisian menggendong bayi yang tengah menangis itu.

“Louis!!”, Seo Ran langsung mengambil bayi berusia tiga bulan itu dari gendongan polisi.

“Ran, berikan Louis pada polisi. Dia harus dibawa ke rumah sakit.”

“Tidak!”

“Percayakan Louis pada polisi, Ran.”, dengan berat hati, Seo Ran kembali memberikan Louis pada polisi untuk segera dibawa ke rumah sakit.

“Na…tolong ya…”, pemilik nama lengkap Nagisa Miyaki itu pun mengangguk dan kembali membawa Seo Ran menjauh.

Saat menyisir lokasi, ditemukan sebuah surat dengan darah sebagai pengganti tintanya.

KAU PENASARAN DENGANKU CHOI SIWON? AKU LAH ORANG YANG MEMBUNUH KEDUA ORANG TUAMU. JUGA TANTEMU INI. KELAK, SEO RAN AKAN MENJADI SASARANKU SELANJUTNYA!! CAMKAN ITU BAIK – BAIK CHOI SIWON!!! DAN PERLU KAU KETAHUI, AKU TIDAK SENDIRIAN! ANAK BUAHKU SELALU MENGAWASIMU..DAN JUGA GADIS YANG SELALU BERSAMAMU ITU..NAGISA MIYAKI.

“Brengsek!!”, batin Siwon meninju dinding di dekatnya.

“Kalau seperti ini, bukan Alexa pelakunya. Tapi siapa?!!”, batin Siwon lagi.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ran, kumohon, tinggal dengan oppa…”, Siwon kembali membujuk adiknya. Lelaki itu sengaja tidak memberitahu adiknya soal surat ancaman itu karena takut membuat gadis itu ketakutan. Begitu pun dengan Nagisa. Siwon menutup rapat soal surat ancaman itu dari kedua gadis itu.

“Annio, oppa. Jarak rumahmu dengan kampus jauh. Sedangkan aku sedang banyak tugas yang mengharuskanku mondar-mandir ke kampus.”, hubungan kakak-beradik ini pun membaik.

“Geundae…”

“Gwaenchana oppa. Kau tahu kan, jarak asrama dengan kampus itu sangat dekat?”

“Aku janji, akan selalu menghubungimu, oppa. Dan selalu menjawab teleponmu dengan cepat juga.”

“Yakseo?”, tanya Siwon.

“Yakseo.”, ujar Seo Ran.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Dan hari – hari yang kujalani pun kini penuh dengan terror. Kenapa kehidupanku yang sudah nyaris tenang, kini mulai terganggu lagi?!!

“Na, ayo pergi.”

“Eodi?”, tanyaku.

“Ke kantor appa.”

“Hngg….”

“Nagisa, awas!!!”, Siwon oppa langsung menundukkan kepalaku.

PRAAANNGG!!! Belum selesai aku bicara tiba – tiba kaca jendela samping pecah. Sebuah batu besar dan juga kertas. Astaga! Apa yang terjadi jika aku tidak menundukkan kepalaku? Mungkin kepalaku akan bocor.

I WATCH YOU!!

Aku bergidik ngeri membaca tulisan itu. Seketika itu pula aku merasa tubuhku membatu layaknya patung porselen.

“Ada aku…”, rupanya Siwon oppa menyadari ketakutanku. Dia menggenggam tanganku erat.

“Kita harus mencari tukang nih.”, ujarnya kemudian melihat jendela yang pecah.

Lantunan lagu terdengar dari kamarku. Lebih tepatnya pada ponselku yang berbunyi. Aku langsung ke kamar dan meraih ponselku. Mwo? Yong Jae sunbae?

“Yeoboseyo?”

“Na, kau senggang? Aku stress hari ini. Bisa menemaniku tidak saat ini?”

“Hari ini ya, sunbae..?? Hng.. Sebenarnya aku mau pergi. Tapi, coba nanti aku telepon sunbae lagi ya..”, ujarku.

“Baiklah, usahakan bisa ya…aku benar – benar butuh teman bicara.”

“Ne, sunbae….”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Andwae!”, Siwon langsung mengatakan satu kata itu ketika Nagisa mengutarakan keinginannya.

“Oppa, ayolah…toh juga hanya hari ini kan dia punya masalah…sunbae butuh teman cerita, oppa…”

“Aku katakan tidak, ya tidak…Na.”

“Oppa, apa kau tidak punya perasaan sedikit pun? Bagaimana perasaan tertekan yang kau alami jika masalah terus menerus menekanmu sedangkan kau tidak punya siapa – siapa untuk berbagi cerita?”, tanya Nagisa lagi.

“Tapi kondisimu sedang berbahaya, Na! Tidak kah kau mengerti?!!!”, nada bicara Siwon terdengar meninggi.

“Oppa…ada apa denganmu?? Kau….intonasi suaramu…kenapa seperti itu denganku??”, Nagisa menatap tidak percaya pada lelaki di hadapannya.

“Aku….”

“Kau jahat, oppa!! Kau jahat! Kau bahkan tidak mengerti perasaan seseorang!”, ujar Nagisa yang kemudian masuk ke kamarnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Apa – apaan dia? Kenapa sikapnya berubah – ubah saat ini? Sebentar lembut, sebentar kasar. Kenapa oppa?

“Aku pergi!!”, ujarku yang langsung melewatinya begitu saja. Terserah jika dia tidak mau mengantarku. Lagi pula aku tahu cafenya kok!

“Na! Nagisa! Yaa!”, tidak kuhiraukan panggilannya padaku. Untung saja kompleks perumahan ini dekat dengan akses jalan utama, hingga aku bisa dengan cepat menemukan halte bus. Tapi sialnya, bus juga tak kunjung datang!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di depan gadis yang tengah duduk sendirian di halte bus. Seorang pria pun keluar dari dalamnya.

“Na…kau di sini rupanya….”

“Sunbae…kok…”

“Aku baru saja mau ke cafe tempat kita sering janjian.”, ujar Yong Jae.

“Kau sendirian? Tidak bersama temanmu itu?”

“Annio. Aku juga mau ke cafe itu, sunbae. Sedang menunggu bus.”

“Kalau begitu bagaimana kalau kita ke lain tempat saja?”

“Ini pertama kalinya aku terlepas dari Siwon oppa. Tak apa lah. Toh juga aku bersama sunbae.”, batin Nagisa.

“Bagaimana?”, tanya Yong Jae lagi meminta persetujuan Nagisa.

“Baiklah.”, jawab gadis berambut panjang itu kemudian.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hasshh!! Kemana anak itu?!”, batin Siwon sambil mengemudikan mobilnya.

“Aaa!! Damn it! Ada apa dengan ponselnya?!”, Siwon lagi – lagi merutuk kesal.

Lelaki itu kemudian melajukan mobilnya ke cafe tempat biasa mereka bertemu. Tapi Siwon tidak menemukan kedua insan tersebut.

“Holyshit! Where is she?!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Pernikahan yang gagal, anak yang sedang kritis di rumah sakit, pekerjaan yang terbengkalai, semuanya keluar dari pria di hadapanku kini. Tidak kusangka berjam – jam aku bersamanya, dia menceritakan semua beban yang ada di bahunya. Ya, hingga pukul tujuh malam ini aku masih bersama sunbae.

“Sunbae…sudah dong sedihnya…”

“Bagaimana nasib anakku, Na? Kanker otaknya…”

“Optimislah, sunbae. Beri semangat anakmu, sunbae…”

“Na, boleh aku memelukmu? Kau seperti mendiang adikku dulu..”, ya, yang kuketahui memang Yong Jae sunbae memiliki adik yang seusiaku. Namun karena kecelakaan saat darmawisata, adiknya tersebut meninggal.

“Ne, sunbae…”, jawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Siwon, kau dimana sekarang?!”, Rain menelpon dengan cemas.

“Aku…aku…”

“Kau terpisah dari Nagisa?!”

“Aku…”

“Yaaa!! Cepat cari dia!! Dia dalam bahaya!!!”, ujar Rain kemudian.

“Yong Jae?!”

“Yaa!! Dia otak dari semua kejadian ini!”, bersamaan dengan itu terdengar bunyi ledakan yang sangat besar dari seberang sana dan suara Rain menghilang.

“Hyung!!! Yaaa!! Hyung!!”, tapi kemudian, dari mobil Siwon muncul sebuah koordinat. Koordinat markas dinas rahasia yang lain.

Lelaki itu pun menghela napasnya lega. Namun kemudian dia tersadar kalau kali ini Nagisa belum aman. Dia kembali mencari Nagisa.

“Siwon, kau bisa dengar aku?”

“Rain hyung! Ne, jelas!”

“Cepat jemput Nagisa sekarang!! Dia dalam bahaya!! Aku akan mengirimkan posisi Nagisa.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“NAGISA!!”, tiba – tiba saja Siwon oppa datang dan menarikku jauh dari Yong Jae sunbae. Ada apa ini?!

Buagh!! Aku melebarkan kelopak mataku terkejut saat melihat Siwon oppa yang langsung menghajar sunbae hingga tersungkur.

“Yaaa!!! Geumanhaeee!!! Yaaa!!!”, aku menarik – narik Siwon oppa yang hendak menghajar sunbae lagi.

“Jangan pernah kau dekati Nagisa!!”, Siwon oppa kini menunjuk wajah sunbae dengan geram.

“Cih! Seorang anak pengusaha mau berbuat seperti ini? Bagaimana rasanya menjadi anak yatim piatu, eoh?”, mwo?!! Apa maksud sunbae?

“Neo!!”

Tiba – tiba saja lenganku ditarik oleh sunbae, “Berani melangkah maju, kupastikan dia hanya tinggal nama.”, kini terdengar bunyi pistol dikokang tepat di sampingku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Perlahan lelaki itu berjalan mundur dari Siwon sambil menyeret Nagisa yang tetap ditondongnya dengan pistol.

“Su..sun..bae..”

“Geumanhae!!!”, teriaknya.

“Nagisa!!”

DORR!!! Sebuah tembakkan diluncurkan ke udara oleh Yong Jae yang membuat Siwon menghentikan langkahnya. Orang – orang sekitar pun berlari menyingkir.

“MUNDUR!! MUNDUR KALAU TIDAK INGIN DIA MATI!!”, ancam Yong Jae yang menekankan ujung pistolnya pada kepala Nagisa. Sementara gadis itu hanya menangis tanpa bisa melakukan perlawanan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hahahahaha…akhirnya kulakukan ini juga!!”, kudengar kelakarnya di sampingku.

“Kau…turuti semua keinginanku kalau kau ingin selamat, Na!”, ujarnya. Apa benar ini Yong Jae sunbae?

“Ka-kau…kau bu-bukan Yong Jae su-sunbae…”, ujarku terbata – bata.

“Oh, Nagisa..sifat polosmu belum juga hilang. Kau polos atau tolol?!”, sungguh baru kali ini aku ketakutan saat berada di samping sunbae.

Aku melihat dari spion sisi kanan, mobil Siwon oppa yang mengejar aku yang berada di mobil sunbae. Dibawa kemana aku ini?!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Gedung kantor appa?”, batin Siwon. Saat itu masih ada beberapa karyawan yang belum pulang dan security.

BRAAKK!!! DORR!! DORR!! DORR!!! Yong Jae menabrak dan menembaki siapa saja yang ia lewati.

“A-astaga!!”, Siwon membanting setirnya nyaris menabrak orang. Mereka terus menanjak di gedung parkir.

“Kau mau mati dengan cara apa, baby?”, tanya Yong Jae mengusap kepala Nagisa yang tengah menangis.

Yong Jae langsung membunuh dengan beberapa tembakan bahkan melempar granat pada gerombolan polisi yang berusaha menangkapnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu, di lain tempat, Seo Ran tampak sedang berjalan mencari tempat cuci mobil otomatis. Dia sama sekali tidak tahu berita tentang ini.

“Asshh!! Kok macet sih atapnya?”, rutuk Seo Ran yang terus menekan – nekan tombol agar atap mobilnya tertutup. Dan akhirnya atap itu tertutup.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Berani juga kau, Choi Siwon…! Kupuji keberanianmu!”

“Lepaskan dia!”, ujar Siwon dengan senjata yang mengarah pada Yong Jae yang sedang menyandera Nagisa. Dicengkeram kuat oleh lengannya dan dikepalanya tertempel ujung pistol yang siap kapan pun mengeluarkan proyektil peluru ke kepala gadis itu.

“Hahaha, hebat kau!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Please take the ticket.”, mesin pengambilan tiket otomatis untuk mencuci mobil otomatis pun dilewati oleh mobil Seo Ran. Gadis itu memastikan mobilnya terkunci rapat dan jendela yang rapat agar tidak masuk air.

Zuungg~~ Mobil pun mulai masuk ke tempat cuci mobil itu.

“Nah, aku bisa makan malam di sini..”, batin Seo Ran membuka burger-nya. Dilihatnya gadis itu beberapa sikat di sisi kiri kanan mobilnya telah berputar. Bahkan di atas mobilnya pun terdapat sikat yang berputar. Air dan sabun pun disemprotkan dari luar mobil.

Tapi tiba – tiba atap mobil gadis itu terbuka hingga air dari cuci mobil itu memasuki mobilnya sementara mesin dari cuci mobil itu terus masih berjalan. Berkali – kali Seo Ran menginjak pedal gas, tapi mobil itu tetap berada pada tempatnya.

“TOLONG!!!!! SIAPA SAJA TOLONG AKU!!!”, teriak gadis itu.

Dan sesaat kemudian, pipa penyalur air untuk disemprotkan pada mobil patah, hingga air memasuki seluruh isi mobil hingga Seo Ran harus berdiri di atas kursinya karena volume air yang sudah nyaris penuh di dalam mobilnya hingga lehernya.

“TOLONG!!!!! KYAAAA!!!!”, teriak Seo Ran ketakutan karena mobilnya terus berjalan menuju sikat di depan yang siap merusak wajahnya.

“TOLONG!!!! TOLONG!!!!!! OPPAA!!!!”, teriaknya lagi.

Dan saat itu juga atap mobil gadis itu perlahan menutup hingga akhirnya…

CRASSHHH!!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oh, coba kita lihat berita hari ini..ada kasus apa ya?”, ujar Yong Jae yang menyalakan tv dengan kakinya sementara kedua tangannya masih menempelkan pistol pada kepala Nagisa. Siwon masih mengacungkan senjatanya bersiap menembak lelaki yang sudah menyandera Nagisa.

“Berita malam. Ditemukan seorang gadis tewas dengan kepala terpenggal dan wajah yang rusak dari sebuah tempat mesin cuci mobil otomatis. Diduga gadis ini terjebak dengan mobilnya sendiri dan merupakan kasus human error.”, Siwon masih mengkonsentrasikan pikirannya pada lelaki yang ada di hadapannya ini. Dia sedang memutar otak, bagaimana menyelamatkan Nagisa sekaligus menangkap Yong Jae.

“Ah! Tidak seru! Coba ganti channel.”, ujar Yongjae.

“Anak bungsu dari seorang pengusaha terkenal ditemukan tewas tanpa kepala di sebuah tempat mesin cuci mobil otomatis. Choi Seo Ran diduga melakukan kesalahan fatal pada mobilnya hingga…”

Click! Yong Jae langsung mematikan tv-nya, “Itu baru seru!”

“Se-Seo Ran…”, Siwon menatap Yong Jae penuh amarah, kebencian, dendam.

DORR!! DORR!! DORR!! DORR!! DOORRR!! Kini Siwon menembak tak tentu arah berusaha mengarahkannya pada Yong Jae namun tak satu pun yang kena.

“MATI KAU JUNG YONG JAEE!!!!!!!”

Yong Jae membawa Nagisa keluar dan Siwon pun hanya terduduk lesu tidak bisa bergerak sama sekali. Nyawanya terasa hilang setelah mengetahui adiknya meninggal.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppaaa!!!! Siwon oppaa!!!!”, teriakku.

Plak!! “Diam kau, jalang!!!”, baru kali ini aku merasakan rasanya ditampar.

“Diamond formation!!”, kudengar derap langkah dan suara yang kukenal.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kai, periksa ruangan!”

“Ne!!”

“I found him, hyung!!”, ujar Kai yang menemukan Siwon yang masih memegang pistolnya terduduk lesu, menangis.

Sementara itu di tempat Rain berada yang ikut dalam penyergapan ini, berhadapan dengan Yong Jae yang kini memakai topeng menutupi identitasnya.

“Lepaskan dia!!!”

“Ah…Rain…atau kupanggil Jung Ji Hoon?”, tanya Yong Jae. Rain terkesiap mendengar ucapan lelaki dihadapannya yang masih menyandera Nagisa.

“Dari mana dia…”

“Heran karena aku tahu nama aslimu? Kita saling mengenal, Ji Hoon. Sampai jumpa lain waktu, Ji Hoon!”

Sreett!! Yong Jae melepaskan Nagisa dengan mendorongnya kuat hingga gadis itu terpental. Rain langsung menangkap gadis itu sebelum terjatuh.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku, Rain oppa beserta agent lain menghampiri Kai dan Siwon oppa yang masih di lantai delapan. Aku mengerti kondisinya saat ini. Keluarga satu – satunya pun meninggalkannya untuk selamanya.

“Oppa…”, aku berusaha mendekatinya.

“JANGAN DEKATI AKU!!!”, dia menghentakkan tanganku dengan aliran air mata dari kedua matanya.

“Oppa..kau…”

“KARENA KAU!! KARENA AKU MENCARIMU!!! KALAU SAJA KAU TIDAK EGOIS, RAN MASIH HIDUP!!! PUAS KAU?!!! PUAS?!!!”, bentaknya. Aku bisa merasakan perasaannya. Hingga kini aku merasakan panas di kedua mataku. Air mata pun terkumpul di pelupuk mataku.

“Oppa, aku…”

“TUTUP MULUTMU!!!”

Buagh!! Sebuah tinjuan pun dilayangkan Rain oppa padanya.

“Kau yang seharusnya menutup mulutmu, Siwon!!”

“Kau yang menyebabkan semuanya terjadi!! Apa yang kau katakan pada Nagisa hingga ia nekat keluar tanpamu?!! Tugasmu melindunginya!! Adikmu meninggal karena kesalahan kau sendiri!! Kau tahu?!!”, bentak Rain oppa.

Kulihat lelaki itu perlahan bangkit dengan rahang yang mengeras, mengepalkan kedua tangannya di sampingnya.

“ARGH!!!! PERSETAN DENGAN SEMUA INI!!!”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Semenjak saat itu, aku tidak pernah mendengar kabar Siwon oppa lagi. Bagaimana keadaannya selama tiga bulan ini??

“Na, sudah saatnya latihan.”, ya semenjak kejadian penyanderaanku, kini aku dibekali dengan ilmu bela diri oleh Rain oppa. Rain oppa sendiri yang melatihku.

“Oppa…bagaimana Siwon oppa? Kenapa dia tidak kembali?”, tanyaku pada Rain oppa.

“Jangan khawatir..”, hanya kalimat itu yang selalu ia ucapkan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Bruagh!!

“Aaaawww!!! Pinggangkuuu!!”, aku merintih saat tiba – tiba Rain oppa membantingku ke matras.

“Jangan lengah!”, ucapnya membantuku berdiri.

“Oppa tega sekali sih…”, ujarku memijat pinggangku pelan.

“Waee? Kau sendiri yang tidak serius. Fokuskan pikiranmu, Na!”

“Ayo, pukul aku.”, ujarnya.

“Pukul?”

“Ya, seperti yang biasa kau lakukan.”

“Dimana saja?”, tanyaku.

“Ne…”

“Well, kalau begitu…”

Buakh! Bruukk!! Aku mengecohnya dengan tendangan sampingku dan menarik tangan kanannya hingga aku bisa menjatuhkan Rain oppa yang jauh lebih tinggi dariku.

“Bagaimana kalau seperti ini?”, tanyaku kemudian mengunci gerakan Rain oppa dengan melipat kedua tangannya ke belakang.

“Huh, nice try!”, ujarnya kemudian menggunakan kakinya sebagai pijakan dan bersalto hingga tubuhku terangkat.

“Huwwaaaa!!!”, teriakku. Tapi sesaat kemudian dia menarik lenganku agar tidak terbentur lantai yang tidak dialasi matras.

“Sudah banyak kemajuan.”, ujarnya kemudian.

“Jinjayo?!”, aku melompat senang.

“Hyung!”, aku dan Rain oppa menoleh pada lelaki yang berada di ambang pintu. Kai.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Waeyo, Kai?”, tanya Rain pada Kai sambil menyeka keringatnya.

“Setelah aku melihat sketsa wajah Yong Jae, aku tahu siapa dia, dan aku juga tahu kenapa dia mengetahui nama asli hyung.”

“Mwo? Nugu?”

“Black Clouds. Kelompok yang pernah kumasuki dulu. Yong Jae lah pemimpin Black Clouds sekarang.”

“Kau ingat kenapa aku keluar dari Black Clouds? Karena perselisihan dalam Black Clouds yang melibatkan aku juga. Aku sadar kalau Black Clouds adalah kelompok buruk, karena itu aku menentangnya, dan aku mengalami perselisihan dengannya hingga aku keluar. Dan Yong Jae adalah… Jung Yong Jae, yang tidak lain adalah rivalmu saat kau kuliah.”, jelas Kai.

“Jung Yong Jae…anak itu…selalu saja membuat keonaran.”

“Dan masalah wanita itu…Alexa, Ginger Alexa, satu – satunya wanita yang dekat dengan Yong Jae saat Siwon hyung memutuskan meninggalkan wanita itu karena kesadisannya. Kau tahu sendiri kan track record pembunuhan yang dilakukan Alexa?”

Rain mengangguk, “Lalu?”

“Kedua orang tua Siwon hyung, Ahjumma, juga Seo Ran, dibunuh oleh Alexa dan ibunya, Grondy Meoni yang bertugas sebagai eksekutor dari otak kejahatan Yong Jae. Hal yang melatar belakangi mereka berdua mau melakukan pembunuhan dengan senang hati adalah dendam pada Siwon hyung. Sedangkan yang melatar belakangi perencanaan pembunuhan Nagisa yang dilakukan Yong Jae adalah perusakan citramu, hyung. Dengan terbunuhnya Nagisa, dinas rahasia akan tidak dipercaya lagi oleh negara. Dan kau, sudah pasti akan dijebloskan ke penjara.”, jelas Kai.

“Kau…”

“Itu yang kusimpulkan dari beberapa laporan yang masuk, hyung.”

“Tidak sia – sia aku mengirimmu untuk training. Hahaha..”, kelakar Rain.

“Bagaimana dengan Siwon oppa??”, tanya Nagisa.

“Hyung…hyung masih tidak ingin ditemui siapa pun kecuali aku. Bahkan dengan Rain hyung pun dia tidak mau.”

“Begitu ya…”, ucap Nagisa murung.

“Jangan khawatir..hyung hanya masih shock saja dengan kematian yang berurutan di keluarganya ini. Dia sedang dalam tahap pemulihannya.”, ujar Kai.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hyung, kita refreshing mau tidak?”, tanya Kai pada Siwon di kamarnya. Ya, kamar khusus agent.

“No way.”, jawab lelaki yang merebahkan dirinya sambil menutup matanya dengan lengannya.

“Ayolah…kau mau mengurung diri terus? Lama – lama kau bisa di brain wash oleh Rain hyung. Kau mau, eoh?”

“Kenapa tidak sekalian bunuh aku saja?”, ujarnya dingin.

“Yaa! Pabbo ya! Kajja, kita keluar!”, Kai menarik tangan kekar lelaki itu.

“Aku tidak mau, Kai.”

“Kajja, apa yang kau khawatirkan?”

“Ne, ne, baiklah..aku akan keluar. Supaya tidak ada lagi keluargaku yang dibunuhnya. Dia mengincar aku kan?”, Kai hanya menghela napas panjang.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
I-itu Siwon oppa! Ne, Siwon oppa! Dia sudah mau keluar? Tapi yang ada dia melewatiku begitu saja tanpa menegurku. Jujur, aku jadi merasa bersalah. Tapi, apa aku benar – benar sepenuhnya salah? Tidak kan?

Puk! Kai hanya menepuk bahuku ringan, “Kami mau keluar sebentar..”, bisiknya.

“Ne…”, jawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hidup Siwon kini penuh dengan kecemasan. Bahkan hanya melihat dua anak SMA yang tengah berbisik membicarakan sesuatu, Siwon langsung menatap mereka penuh curiga.

Bahkan seseorang yang berjalan dan tidak sengaja menumpahkan kopi ke bajunya pun langsung ditodongnya dengan sebuah pistol hingga orang tersebut lari tunggang langgang. Berkali – kali Siwon nyaris menghajar orang yang dicurigainya. Dan berkali – kali juga Kai meminta maaf pada mereka semua.

“Makan siang dulu hyung! Aku traktir deh.”, ujar Kai.

“Kau tidak bermaksud lain kan?”

“Eoh? Aku hanya ingin makan. Aku lapar. Apa kau tidak lapar? Kalau kau tidak lapar, baguslah..aku juga bisa menghemat uangku.”, ujar Kai tanpa jeda.

“Aku bisa pakai uangku sendiri.”, ujar Siwon.

“Ya, terserah deh…”, lanjut Kai.

Beberapa saat mereka menunggu pesanan datang, Siwon mencium bau sangit.

“TNT!! There is a bomb!!”, seru Siwon.

“Aaa!! Hyung!”, Kai membekap mulut Siwon. Terlambat, semua pengunjung sudah berlarian keluar. Dan pada akhirnya Kai lagi yang kembali berurusan dengan manager restaurant tersebut. Kai pun membawa Siwon ke sebuah taman kota. Mereka hanya membeli dua roti dan dua gelas cappuchino sebagai teman bercerita.

“Apa yang membuatmu seperti ini, hyung?”

“Aku hanya takut ada korban lain karena aku.”

“Maksudmu?”

“Komplotan Yong Jae, secara tidak langsung mengincar nyawaku. Karena aku bisa selamat, mereka mengincar keluargaku. Dan membuatku…”

“Kacau seperti ini?”, lanjut Kai.

“Oh, c’mon hyung..kau agent terbaik, kau memiliki kapabilitas tinggi. Dan kau terpuruk hanya hal seperti ini?”

“Kau bilang ‘hanya hal seperti ini’? Ini keluargaku, Kai! Keluarga kandungku, Kim Jongin!”, ujar Siwon dengan nada emosi hingga menyebutkan nama asli Kai.

“Pertama, eomma…eomma yang tidak tahu apa – apa, dibunuhnya…lalu, appa..appa juga dibunuhnya dengan seolah – olah kecelakaan.”, kedua mata Siwon tampak hendak mengeluarkan air matanya.

“Lalu ahjumma…yang dibunuh secara sadis…juga Ran…kau bisa mengatakan hal itu seperti hal kecil karena kau tidak mengalaminya, Kai! Seenaknya saja dia mengubur impianku dan Ran begitu saja!”

“Impian?”

“Ya! Cita – cita Ran untuk memiliki gelar S1 dan impianku melihat Ran wisuda!!”, lanjut Siwon.

“Aku paham…kau merasa kalau kau tidak becus melindungi keluargamu kan? Bahkan hanya tinggal Seo Ran saja kau tidak bisa melindunginya. Itu yang ada di pikiranmu kan, hyung? Coba kau pikirkan lagi bagaimana Louis, keponakanmu yang kini diasuh oleh agent wanita dari Rain hyung? Lalu bagaimana tanggung jawabmu untuk melindungi Nagisa noona?”, tanya Kai.

“Siwon hyung yang kukenal, adalah sosok pria bertanggung jawab yang tak pernah lari dari masalah. Kau…loser, hyung. Ya, loser! Kau tidak lebih dari seorang pecundang yang hanya bisa lari dari kenyataan.”, lanjut Kai yang membuat Siwon terdiam menatap lurus arah pandangannya.

“Nagisa noona, tidak kah kau lihat tatapannya padamu? Kau mengacuhkannya layaknya sampah. Apa kau pantas berbuat seperti itu, hyung? Misalnya kau menganggapnya bersalah dalam hal ini, tapi bagaimana caranya dia minta maaf padamu sementara kau mengacuhkannya seolah membangun dinding kokoh pembatas kau dan noona?”, Kai berceloteh kemudian menyesap cappuchinonya.

“Kau ingat surat ancaman yang ditemukan saat pembunuhan ahjumma? Siapa korban berikutnya setelah Seo Ran? Nagisa noona, hyung! Noona yang menjadi korbannya selanjutnya. Kau…apa kau benar – benar ingin Nagisa noona terbunuh?”, Siwon lagi – lagi hanya diam.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hari Minggu ini, hari wisudaku untuk S2. Akhirnya aku bisa menyelesaikan kuliahku dalam waktu satu setengah tahun. Lebih cepat enam bulan dari prediksi waktuku. Sayangnya, papa tidak bisa datang karena ada rapat untuk ASEAN di Indonesia.

Tadi, baru saja papa menelponku memberikan ucapan selamat untukku. Selama aku tinggal di Seoul dengan kejadian – kejadian menegangkan, papa sama sekali tidak tahu. Papa hanya menelpon Rain oppa sesekali untuk mengecek apa aku bohong atau tidak. Untungnya Rain oppa dan aku saling bekerja sama.

“Sudah?”, tanya Rain oppa. Ya, dia yang menemaniku pada saat wisuda ini.

“Ne, oppa…”

“Kajja…”, ujarnya lagi menggandeng tanganku. Siwon oppa dan Kai memang berdiri tak jauh dariku. Tapi Siwon oppa enggan melihatku dan lebih memilih melihat akuarium dengan ikan yang berenang kesana – kemari. Saat aku melewatinya pun aku kembali menoleh ke belakang berharap dia melihatku. Tapi ternyata, tidak. Dia sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari ikan – ikan itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau tidak lihat tadi, eoh? Dia terus memperhatikanmu, hyung…”, ujar Kai.

“I don’t care…”, jawab Siwon dingin yang kembali masuk ke kamarnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hey, kenapa wajahmu??? Ini hari wisudamu, Na. Kok murung?”, tanya Rain oppa sesaat sebelum kami turun dari mobil.

“Anii, oppa…”, ujarku kemudian yang kemudian menutup pintu mobil.

“Tersenyumlah…”, ujarnya menarik kedua sudut bibirku.

“Hash, oppa!”, aku memukul lengannya ringan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tiga jam aku harus duduk terpisah dari Rain oppa dan bergabung dengan teman – temanku. Setelah acara selesai, ponselku berbunyi.

“Ne, oppa?”

“Aku tunggu kau di pintu barat. Jangan sampai salah.”

“Ne, oppa. Arraseo.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat Nagisa sudah bertemu Rain, lelaki itu menyuruhnya berjalan di depannya sementara kedua tangannya berada di belakang.

“Kau menyembunyikan apa dariku, oppa?”, tanya gadis itu.

“Eopseo yo…”, jawab Rain menuju tempat parkir terbuka yang ramai bersama gadis itu.

Saat mereka sudah berada di dekat mobil, Rain mengeluarkan sesuatu dari belakangnya dan memberikannya pada Nagisa. Namun, sayangnya, gadis itu terkejut hingga gerakan refleksnya muncul, “Hiaaatt!!”, gadis itu menarik tangan besar itu dan berniat membantingnya. Namun, ternyata gerakan Rain lebih cepat darinya, “Yaa!! Apa yang kau lakukan?!”, ujar Rain setelah menghindar dengan melompat hingga orang – orang sekitar terkejut dan terkesima dengan gerakan Rain dan Nagisa itu yang tiba – tiba. Sorak sorai pun terdengar layaknya mereka menonton film laga secara live.

“Loh, oppa?”

“Memangnya kau pikir siapa, eoh?!”, ujar Rain membenarkan jasnya yang sedikit kusut.

“Mianhaee…mianhae, oppa…kupikir siapa…habisnya, tidak mengira juga kalau oppa memberikanku bucket bunga.”

“Baru kupungut dari tempat sampah…hahaha…”, kelakarnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Firasatku…kenapa aneh ya?”, batin Siwon.

“Hyung, kau benar tidak mau ke acara noona? Hhmm, tapi terlambat juga sih kita kesana. Pasti acaranya sudah selesai.”, ujar Kai.

Di luar dugaan, ternyata Siwon menarik Kai pergi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sssshhhh~~~ Tiba – tiba ada asap putih pekat di sekitar kami. Semua orang mengira ada bomb. Aku pun panik karena tidak melihat Rain oppa.

“Oppaaaa!!! Oppaaa!!! Eoddigaaa?!!!”, teriakku.

“Oppa!!!”, teriakku lagi. Aku merasakan ada sebuah tangan mencengkeram lenganku. Dengan mata menyipit menahan perih di mataku karena asap ini aku mengibas – ibaskan tanganku berusaha melihat.

“Naa~~!!! Nagisaaa!!!”, ini…bukan Rain oppa! Aku mendengar suara Rain oppa memanggilku dari arah lain.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kai, hubungi regu lain!! Ppali!!”, ujar Siwon. Kai pun melakukan perintah Siwon. Dan dia juga sibuk melacak posisi Nagisa yang tidak aman.

“Got it! Aku berhasil menyadap ponselnya.”

“Pantau dia, Kai!”, perintah Siwon.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hahaha, apa kabar, Nagisa?”, tanya wanita itu.

“A-Alexa…!!!”

“Kaget sekali melihatku, agasshi!”

“A-andwaeee!!! Lepaskan akuu!!!”, teriak Nagisa yang diseret olehnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hyung! Nagisa…mana Nagisa?!!”, Siwon datang bersama Kai dan regunya.

“Dia…”

“Hyung, aku dapat posisi noona!”, seru Kai yang mengotak – atik GPS-nya.

“Kau…kau ikut aku!!”, Siwon langsung menarik Kai.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Apa aku akan mati hari ini?!! Oh Tuhan!! Selamatkan aku!!

Dia kemudian menarik rambutku ke belakang hingga kepalaku ikut menengadah, “Ini akibatnya karena kau berhubungan dengan Siwon! Kau tahu, aku dengannya sudah lebih lama! Tapi kau..!! Kau datang dan langsung dekat dengannya!! Wanita jalang!!!”, teriaknya.

“Alexa-ssi…pi-pikirkan ka-kandunganmu..”, ujarku terbata – bata menahan sakit.

“Kandungan kau bilang?! Kandungan ini tak berarti tanpa Siwon!!!”, teriaknya memukul – mukulkan perutnya.

“A-Alexa-ssi..hentikan..”, ucapku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Mobil kami kemudian berhenti di suatu tempat, “Cha! Kita di sini saja!”, ujarnya. Saat aku menoleh kiri-kanan ternyata kami ada di…tepat di tengah – tengah rel kereta!!

Click! Dia pun mengunci mobilnya otomatis. Dan..a-astaga!! Tanganku!! Tanganku diborgolnya bersama tangannya!!

“Kita akan mati bersama, Nagisa-ssi. Tidak ada yang dipilih Siwon. Jika dia memilihmu, lebih baik aku mati saja! Tapi tentunya denganmu. Hahaha…”

“Andwaee~~~ Lepaskan aku, Alexa!!”, teriakku. Dia kemudian memasang borgol di tangan kirinya yang tersangkut pada pegangan.

“Lepaskan!!!”, teriakku lagi menghentak – hentakkan tanganku yang terborgol dengannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hyung! Itu mobil mereka!”, seru Kai pada Siwon.

Sementara itu, Rain dan regu lainnya beserta kepolisian juga sudah mengepung lokasi. Namun, sayangnya keberangkatan kereta tidak bisa dihindari karena kereta sudah dekat dengan pintu perlintasan.

“Hyung!!!”, teriak Kai pada Siwon yang berlari ke arah mobil mereka berdua yang berada di tengah – tengah perlintasan.

DOK!! DOK!! DOK!! Siwon menggedor – gedor pintu mobil itu.

“Hyung!!! Andwaeee!!!”, Kai terus berusaha meretas jalur kereta agar rel tersebut tidak tersambung.

Bahkan beberapa anggota regu menembaki mobil Alexa dari jarak jauh agar bisa tertembus peluru untuk mengeluarkan Nagisa. Karena mobil Alexa sendiri memang tidak bisa tertembus peluru.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hahaha, lihat dia..betapa sayangnya padamu…sangat mengharukan bukan?”, ujar Alexa melihat Siwon oppa di luar mobil merah ini..

“Neo!!!”, aku menggunakan tangan kananku yang terbebas dari borgol untuk berusaha meraih kunci otomatis di pintu Alexa. Aku tidak peduli jika dia menembakku detik ini juga!! Setidaknya aku tidak mati konyol tertabrak kereta!!

Click!! Berhasil!! Kunci terbuka!

“Oppa!!”, Seruku.

“C’mon, Na!”, dia menarikku.

“Anni, oppa..aku…”

“Malangnya kau, Siwon..kau tidak bisa pergi. Lihat tangan kami… Sangat akrab bukan?”, kulihat Siwon oppa hanya menatap geram Alexa. Di belakang oppa pun, kereta yang terus berjalan.

“Tidak!! Aku tidak mau Siwon oppa mati juga!!”, aku langsung menendang Siwon oppa menjauh.

“Na!! Andwae!!”, ujarnya.

“Mianhae, Na..jangan kau lihat ini…”, ujarnya kemudian mengalihkan kepalaku dan…

DORR!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Siwon menembaki borgol yang merantai Nagisa dan Alexa. Nagisa berhasil terlepas dari Alexa sementara Alexa masih di dalam mobilnya terperangkap karena borgolnya di tangan kiri yang masih menyangkut di salah satu pegangan.

“Andwaeeeee!!!!!!”

BRAAAKK!! Bunyi dentuman sebuah mobil yang tertabrak pun terdengar nyaring. Mobil itu pun terseret jauh hingga ringsek. Bahkan jenazah Alexa yang berada di dalamnya pun nyaris tak bisa dikenali.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mianhae…mianhae, Na…”, ujar lelaki yang kini mendekapku saat aku menangis.

“Hufft..syukurlah, noona selamat..”, ujar Kai bernapas lega.

“Ehem!”, bisa kuketahui siapa yang kini berdeham. Rain oppa. “Bukannya aku bermaksud mengganggu kalian berdua, tapi Siwon kita harus membicarakan sesuatu.”

“Uljimma, aku akan segera kembali.”, ujarnya kemudian menghapus air mataku dan menyuruh Kai menjagaku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu, tanpa mereka sadari, Yong Jae mengawasi mereka semua.

“Haahh…mati juga deh orangku.. Wah, kalau seperti ini aku bisa dituntut seseorang., ucapnya lesu yang kemudian menelpon seseorang.

“Bunuh wanita tua itu.”, ujarnya dengan nada dingin.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Di lain tempat, Grondy Meoni, ibu dari Alexa belum mengetahui kematian anaknya. Hari ini adalah jadwalnya ke salon.

“Haa~~ Tatanan rambutku harus diganti. Mungkin dengan mengecat rambut akan lebih baik.”, batin wanita paruh baya itu.

Wanita itu pun kemudian masuk ke dalam salon besar yang sebagian gedung salon itu sedang direnovasi.

“Aku mau tatanan rambut yang terbaru dan cocok untukku dari salon ini.”

“Baik!”, ujar stylist.

“Ah! Satu lagi. Aku ingin warnanya cokelat terang ya.”, pesan Grondy.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sang stylist pun mulai menata rambut Grondy. Sudah hampir tiga jam wanita paruh baya itu berada di dalam salon. AC yang dingin, ditambah kipas angin yang menggantung di langit – langit adalah service salon untuk para pelanggannya agar nyaman walaupun gedung samping sedang direnovasi.

“Ah, saya minta minum.”, ujar Grondy pada salah satu pelayannya sewaktu sedang di blow rambutnya.

“Baik.”

Dua jam kemudian, wanita paruh baya itu ingin ke toilet setelah rambutnya sudah selesai. Dia puas mematut di cermin.

“Dimana toilet ya?”, ujarnya.

“Di sebelah kiri nyonya.”, ujar pelayan.

Dengan angkuh, wanita paruh baya itu berjalan. Tapi tiba – tiba ia terpeleset tumpahan air dan kakinya tersangkut pada salah satu tali yang terhubung dengan kantrol pengangkut perkakas untuk gedung sebelah yang berhimpitan yang sedang direnovasi.

“Kyaaa!!”, tubuh itu dengan ringannya tertarik ke atas dengan posisi terbalik.

CRAAASSSHHH!!! Darah pun menyiprat ke berbagai arah.

“Kyaaaaaaaaaaa!!!!!”, teriak pengunjung lainnya saat melihat wanita paruh baya itu tewas dengan kepala yang terputus terkena kipas angin salon yang sedang berputar.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mwo?!!”, Rain oppa tersentak kaget menerima telepon.

“Ne, aku akan segera ke sana!”, ujar Rain oppa lagi. Ada apa? Apa ada sesuatu yang mendesak?

“Siwon, Kai, kau di markas. Na, jaga dirimu…”, pesannya kemudian.

“Oppa, mau kemana?”, tanyaku.

“Aku ada urusan…kau di sini saja ya.”

Huh! Kalau Rain oppa berpikir aku akan tetap di sini saja, dia salah! Aku akan mengikutinya tanpa sepengetahuan yang lainnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau mau kemana, noona?”, tanya Kai.

“Hng…mau kemana? Aku tidak kemana – mana..”, jawab Nagisa. Kai pun berlalu meninggalkannya.

“Lebih baik kumatikan ponselku.”, batin Nagisa.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Nagisa berhasil keluar dari markas tersebut setelah berpura – pura menjadi agent wanita. Dia mengenakan pakaian yang sama dengan agent wanita. Lalu dia keluar dengan menggunakan taksi uktuk mengikuti Rain.

Sampai akhirnya, gadis itu tahu apa yang Rain lakukan di luar. Dia mendatangi sebuah TKP. TKP tentang kematian Grondy Meoni, ibu dari Alexa. Setelah mengurus semuanya, lelaki itu kembali melanjutkan perjalanannya dan masih diikuti oleh Nagisa. Dia tidak peduli dengan banyaknya uang yang akan dikeluarkan untuk membayar argo taksinya. Rupanya, Rain melajukan mobilnya menuju sebuah mall.

“Sunbae? Yong Jae sunbae?”, batin gadis itu setelah menemukan mereka berdua ada di dalam basement parkiran sebuah mall.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Apa yang kau mau?”

“Wow! Wow! Wow! Sabar dulu tuan Jung Ji Hoon yang terhormat. Aku harus memastikan kalau kau datang sendirian.”, Yong Jae pun berjalan ke arah Rain. Dia memperhatikan Rain sekelilingnya.

“Letakkan senjatamu!”, ujar Yong Jae.

“Cepat!”, ujarnya lagi yang menempelkan ujung pistol pada kepala Rain. Lelaki itu kemudian mengeluarkan senjatanya dari balik jasnya dan meletakkan pistolnya di lantai. Ditendangnya oleh Yong Jae, pistol itu menjauh.

“Angkat tanganmu!”, ujarnya lagi. Dengan menurut, Rain pun mengangkat tangannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“O-ommoo~~ Rain oppa…”, aku kini bersembunyi di balik tiang dan beberapa mobil yang terparkir.

Sialnya, salah satu mobil yang kusentuh berbunyi alarmnya hingga menimbulkan suara yang memekakkan telinga.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau membawa orang rupanya, Ji Hoon-ssi!! Keparaaatt!!”, maki Yong Jae.

“Nagisa…astaga anak itu…!!”, batin Rain yang sedari tadi menyadari kalau Nagisa mengikutinya dari markas.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku menajamkan telingaku. Kudengar langkah sepatu yang kian mendekat. Aigoo! Bagaimana ini!! Kalau aku berdiri diantara dua mobil, pasti akan semakin banyak alarm mobil yang berbunyi. Dan itu…tunggu! Aku harus melempar sesuatu untuk mengecohkan sunbae. Anii! Dia bukan sunbae ku lagi!!

Trekk! Sreett!

“Ah! Shit! Ponselku!”, aku hanya bisa mendengus kesal melihat ponselku yang berwarna pink terjatuh keluar.

“Oh…Nagisa? Kau kah itu? Kemarilah, sweety…”

“Oh Tuhan!!”, batinku. Aku semakin merapatkan kakiku saat aku bersembunyi di balik ban. Tapi tiba – tiba…
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hmmppffftt!!!”, gadis itu meronta saat tiba – tiba saja ada yang membekap mulutnya dari belakang.

“Ssstt..ini aku…”, bisik lelaki itu.

“Siwon oppa..”, ujar Nagisa lirih. Lelaki itu langsung bersembunyi bersama Nagisa. Berjalan perlahan dan bersembunyi di balik pilar – pilar.

“Ji Hoon-ssi, kalau kau benar membawa orang, kubunuh kau detik ini juga!”, ancam Yong Jae.

“Huh! Pengecut.”

“Apa kau bilang?!!!”

“Pengecut. Kau tidak berubah ya, Yong Jae…kau selalu mengancam orang, menyakiti, bahkan membunuh orang. Kau hebat, masih bisa bertahan hidup hingga kini!”, balas Ji Hoon tenang.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa..Rain oppa..”, ujarku pelan.

“Ssstt, aku tahu. Di bawah sudah banyak reguku dan Kai. Pengunjung dan lainnya sedang dievakuasi sekarang.”, bisik Siwon oppa.

“Tapi, kenapa tidak ada yang ke…hhmppfftt!”

“Diam, Na..nanti kujelaskan.”, tangan besar itu menutup mulutku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau tidak sendiri!!”

“Kau gila? Kau lihat sendiri kan?”, tanya Ji Hoon.

“Hahaha, kau pikir aku tolol, eoh? Situasi ini terlalu hening!”

“Ahahaha, analisa yang tepat Yong Jae!”, kemudian Rain berbalik badan dan…

“Ingin membunuhku?”, tanya Yong Jae yang menodongkan pistolnya saat Rain berbalik.

“Kita sama?”, tanya Rain yang juga memiliki pistol di saku lainnya yang ditempelkan ke kening lelaki itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau di sini dulu, Na..”

“Tapi, oppa..”, belum selesai Nagisa bicara, Siwon pergi meninggalkannya di tempat yang aman.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sama? Kurasa tidak tuan Jung Yong Jae…”, ujar Rain tersenyum tipis dan mengisyaratkan lelaki itu melihat ke belakang. Dilihatnya Siwon telah siap dengan shot gun di tangannya.

“Hahaha….kalian memang benar – benar kompak! Hebat! Hebat! Hebat!”, ujarnya dengan tangan ke atas.

“Letakkan itu!”, perintah Rain pada Yong Jae untuk melepaskan pistolnya.

“Siwon..”, Rain mengisyaratkan lelaki itu untuk mengamankan Yong Jae.

Tapi kemudian…

Buagh!! Bugh!! Yong Jae menarik tangan Siwon untuk menguncinya dan menghajar perutnya hingga lelaki itu terpental di rampasnya juga shot gun milik Siwon. Perlahan Yong Jae berjalan mundur dengan shot gun di tangannya.

“Kalian lupakan seseorang?”, ujar Yong Jae yang kemudian berhasil menemukan Nagisa. Dia ikut menyeret Nagisa.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Lepaskan!!!! Kau!! Lepaskan aku!!!”

“Waah, agasshi, rupanya tenagamu semakin kuat ya!”, ujar Yong Jae padaku. Ya! Dia bukan sunbae ku lagiii!!!

Bugh!!! Aku menendang perut lelaki itu dengan lututku. Dan ini kesempatanku berlari!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Drap! Drap! Drap! Nagisa menuruni basement berlari hingga akhirnya masuk ke dalam mall yang sudah sepi saat Yong Jae mengejarnya.

“BERHENTI!!!”, Rain memberi peringatan pada Yong Jae.

DORR!! DORR!! DORR!!

“Hhh..hhh..hhh…”, gadis itu terus berlari dengan napas terengah – engah.

Sreett!! Sebuah tangan menarik gadis itu.

“Sst..ini aku. Kai.”, ujar Kai yang menarik gadis itu masuk ke salah satu toko.

“Dengar noona, jika kau mau kita semua selamat, menurutlah.”, Nagisa pun mengangguk. Lalu Kai memberi kode dengan tangannya agar beberapa orang masuk dan mengepung. Dia juga terlihat menunjuk sebuah arah. Dan beberapa orang mengikuti arah tangan Kai.

Lalu Kai menunjuk arah bawahnya, di bawah meja kasir. Di sana ada sebuah jalan menuju ruangan khusus yang berada di bawah tanah. Sebuah banker yangterbuat dari baja khusus anti peluru yang biasa disebut ‘the vault’.

“Masuklah, noona. Kupastikan kau selamat.”

“Tapi kau…aku…kalau aku mati di dalam bagaimana?!”

“Kau tidak akan mati, noona. Itu didesain memang untuk sembunyi. Masuklah, aku di dekatmu.”, ujar Kai mengisi senjatanya dengan 10 butir timah panas.

“Ini…untuk berjaga – jaga. Pistol itu berisi lima peluru.”, ujar Kai memberikan pistol yang sedari tadi di bawanya di pinggangnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yaaa!!! Kau hanya berurusan denganku, Yong Jae!!”, Rain kembali memuntahkan isi pelurunya.

DORR!! DORR!! DORR!!! Lagi – lagi Yong Jae menembaki Rain dan Siwon yang sedari tadi mengikutinya hingga mereka harus berkali – kali bersembunyi.

Buagh!! Druaakkhh!!! Kai keluar dan menghajar Yong Jae. Dia menendang Yong Jae hingga tersungkur.

“Hahaha, nice try!!”, ujar Yong Jae yang kemudian menembak Kai.

“Ugh! Bajingan!”, Kai kembali menghajar lelaki itu walau pun dada kanannya tertembak.

DORR!! Lagi, bahu kanannya kini menjadi sasaran peluru dalam jarak dekat hingga lelaki yang masih sangat muda yang bernama lengkap Kim Jongin, roboh seketika.

“KAI!!!”, Siwon langsung menembaki Yong Jae dengan penuh amarah.

“Tidak lagi..tidak lagi, ya Tuhan..”, batin Siwon.

“Siwon! Anni!!”, Rain menahannya.

“Selamatkan dia.”, bisik Rain.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Well, Yong Jae..urusanmu hanya denganku. Apa yang kau mau?”

“Mauku? Hahaha, tentunya melihat kau mati!!”

“Mati?”, ulang Rain.

“Aku tahu kelemahannya. Dia mudah panik.”, batin Rain.

“Kau ingin aku mati?”, tanya Rain lagi yang mendekati Yong Jae.

“MUNDUR!!!”, hardik Yong Jae.

“Kau mau membunuhku, kan? Bunuh aku. Hey, bahkan aku tidak membawa senjata apa – apa.”, tantang Rain yang membuang pistolnya dan berjalan mendekati Yong Jae. Lelaki itu tidak menyadari kalau di belakangnya adalah pagar pembatas.

“Bunuh aku!”, ujar Rain yang terus mendesak Yong Jae.

“BERHENTI!!”

DORR!! Dia melepaskan tembakan ke udara.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aaaaaa!!!”, lelaki yang bernama lengkap Jung Yong Jae itu terjatuh dari lantai lima mall tersebut. Kepala lelaki itu pecah setelah membentur di lantai dasar.

Kai pun sudah di bawa ke rumah sakit. Sementara Siwon mengeluarkan Nagisa dari ‘the vault’.

“Hhhh~~ Beres semuanya…”, ujar Rain.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aah! Dan kau! Kenapa mengikutiku, eoh?! Kau tahu, nyawamu baru saja terancam!”, Rain oppa baru saja memarahiku.

“Aku kan…”

“Ya, tapi setidaknya ada sisi baiknya juga, hyung.”, ujar Siwon oppa.

“Mwo? Rencana kau yang menikah akan semakin berjalan mulus?”, Siwon oppa mau menikah?

“Aa!! Annii..jangan kau bahasa taruhan kita, hyung!”

“Lalu?”

“Dia bisa keluar dari markas tanpa sepengetahuan kita. Beruntung aku melihatnya di CCTV.”

“Chakkaman, kau mau menikah, oppa?”, tanyaku.

“Oo, itu..hng…”

“Kajja, sebaiknya kita menyusul Kai di rumah sakit!”, potong Rain oppa.

Sebenarnya ada apa sih?? Kenapa ditutupi dariku?

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa minggu kemudian, setelah hari kelulusanku, papa ke Seoul. Dia menjengukku. Atau mungkin lebih tepatnya mengambilku? Hhhh..kenapa aku jadi tidak mau pulang ke Tokyo?

“Siwon oppa…??”, mengherankan memang, tapi Rain oppa menyuruhku tinggal di Busan, di rumah Siwon. Tapi tentunya bersama Kai juga.

“Hyung pergi.”, sahut lelaki yang baru keluar dari kamarnya.

“Haish! Pagi – pagi begini pergi kemana?”, tanyaku. Tapi dia hanya menggidikkan kedua bahunya.

“Jadi di rumah sebesar ini hanya kita berdua?”, tanyaku lagi.

“Ya begitulah…”, ujarnya cuek.

“Kai, aku mau bertanya satu hal boleh?”, tanyaku hati – hati.

“Mwo?”

“Siwon oppa bertaruh apa dengan Rain oppa? Apa yang mereka taruhkan?”

“Kau.”, jawabnya singkat menggigit apelnya.

“Mwoya?! Aku?!”

“Ne..”, angguknya.

“Apa maksudmu? Kenapa aku dijadikan barang taruhan?”, ugh!! Apa – apaan mereka?!!

“Begini, waktu hyung depresi tempo hari, Rain hyung terus mengancam Siwon hyung dengan brain wash. Lalu, karena hyung menolaknya, dia bilang begini, ‘Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak memikirkan masalah ini?’ “, ujar Kai dengan gaya bicara layaknya Siwon oppa.

“Lalu?”

“Rain hyung bilang kalau dia akan mengambilmu. Eh, Siwon hyung langsung marah – marah dan balik mengancam Rain hyung. Dan dia juga bilang, kalau tidak ada yang akan bisa mengambilmu darinya karena kau calon istrinya.”

“Bfft..Uhuk..uhuk..”, aku langsung tersedak mendengar penuturan Kai.

“Kau kenapa, noona?”

“Chakkaman! Apa maksudnya dengan kata ‘mengambilmu’ dari Rain oppa?”, tanyaku.

“Ya mengambil tanggung jawab atasmu lah. Maksudnya, yang bertugas melindungimu, bukan Siwon hyung lagi. Tapi Rain hyung. Begitu maksud Rain hyung..”

“Ooohh~~”

“Ehh, chakkaman! Satu lagi! Siwon oppa bilang kalau aku ini calon istrinya?”, tanyaku lagi.

“Ne…loh, bukannya kalian berpacaran?”, tanyanya heran.

“Haah?? Siapa yang bilang??”

“Di dompet hyung ada fotomu. Bahkan screen saver ponselnya fotomu.”

“What?!!”

“Kau tahu kenapa fotomu bukan dijadikan wallpaper dan malah dijadikan screen saver?”, aku menggeleng.

“Untuk berjaga – jaga jika kau melihat ponselnya, perasaannya padamu tidak terbongkar.”

“Eh?? Chotto matteeee (tunggu sebentaar)! Kau bilang, aku dan Siwon oppa berpacaran, tapi kenapa dia bilang padamu soal alasan fotoku sebagai screen savernya? Seharusnya kalau kita berdua pacaran, ponselnya tak apa dong kalau aku lihat.”

“Okay, case closed!”, ujar Kai meninggalkanku.

“Yaaaa!! Kai!! Aku belum selesai bicaraaa!! Yaaaa!!!”, teriakku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Di sebuah rumah pribadi keluarga Miyaki yang terdapat di Seoul, dua lelaki tegap mendatangi rumah tersebut dengan mobil sedannya yang berwarna hitam.

“Kajja…”, ujar salah satu dari mereka.

“Aigoo…chakkaman hyung..”

“Apa lagi yang kau tunggu? Beliau sudah menyuruhmu datang kan?”

“Ge-geundae….aku..”

“Ahahaha, lihat wajahmu! Kenapa kau setegang ini, mr Choi Siwon??”, gelak tawa Rain pun terdengar di mobil itu.

“Yaaa!! Hyung! Aku ini serius!”

“Aigoo! Seorang Choi Siwon yang biasa memecahkan kasus dan juga melindungi orang – orang penting bisa setegang ini rupanya!”

“Lebih baik aku membunuh seribu orang dari pada hal ini, hyung!”

“Jadi kau tidak mau menemui CALON MERTUA mu?”, tanya Rain menekankan pada kata ‘calon mertua’.

“Anni, bukan itu maksudku..”

“Hey, take a deep breathe…tarik napas, buang perlahan…”, Siwon pun melakukan hal yang disarankan Rain.

“Better than before?”, tanya Rain lagi.

“Hhmm, Yeah..”

“Let’s go!”, ujar Rain.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Papaa~!”, seruku saat melihat papa datang bersama Siwon oppa dan Rain oppa.

“Gomen ne (maaf), waktu wisuda S2 mu, papa tidak bisa datang…”

“Daijoubu (tidak apa – apa), pa..”, jawabku.

“Kau mau pulang kapan, Na? Apa hari ini?”, tanya papa.

“Hng…aku…”, sekilas kulirik Siwon oppa. Dia seperti biasanya.

“Assh! Baka ya (bodohnya)! Kau ini..apa yang ada dipikiranmu, Na?!! Tapi, tunggu dulu. Tadi Kai bilang kalau Siwon oppa pernah mengatakan aku ini calon istrinya. Tapi kok..hh..aneh sekali sih!”, batinku.

“Na…?”, tanya papa lagi yang menyadarkanku dari lamunan.

“Hngg…ano(itu)…terserah papa..”, jawabku.

“Uhm..pa, aku..aku mau ke mini market sebentar. Ada yang mau kubeli..”

“Aku antar?”, tawar Siwon oppa.

Aku hanya tersenyum, “Tidak usah. I’m okay.”, ujarku kemudian.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Na, wait! Chakkaman!”, Siwon berusaha menahan tangan gadis itu.

“Mwo?”

“Kau marah padaku?”

“Marah? Untuk apa aku marah, oppa?”, tanyanya kemudian.

“Kenapa kau menghindariku?”

“Siapa yang menghindarimu? Aku kan mau ke mini market..”

“Tanpa membawa ini?”, ujarnya mengeluarkan dompet gadis itu.

“Astaga! Kenapa kau lupa hal sepenting itu, Na?!”, rutuk gadis itu kemudian yang mengambil dompet itu.

“Chakkaman! Kalau kau mau ini, ikut aku!”, kata Siwon mengangkat dompet itu tinggi – tinggi.

“Kemana?”

“Ikut saja…”, ujarnya menarik tangan Nagisa.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hey! Ini sudah terlalu lama berdiam diri di pantai ini…entah apa nama pantai di Busan ini. Jelas pantai ini benar – benar sangat indah pemandangannya. Kini aku dan Siwon oppa duduk di atas pasir putih pantai ini, membiarkan sebagian kaki kami terkena riak air laut. Tapi tidak ada satu pun yang memulai bicara.

“Oppa…kembalikan dompetku…”, ujarku lirih mengawali pembicaraan.

“Ini akan kubuang ke laut.”, ujarnya hendak melempar dompetku.

“Aanniii!! Aaaa!!!”, aku mencegahnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Bruukk! Saat gadis itu hendak mengambil dompet itu, dirinya tersandung batu hingga terjatuh menimpa lelaki itu.

“Go..gomen nasaaaii…”, ucapnya meminta maaf pada Siwon.

“Hahahaha…sifat cerobohmu itu tidak hilang – hilang…”, lelaki itu tertawa lepas mengacak rambut gadis itu.

“Yaaakk!! Jangan acak – acak rambutkuu!!”, Nagisa menepis tangan Siwon.

Siwon hanya tersenyum menatap gadis yang tengah kesal dengannya. Tentu saja ini membuat gadis itu menundukkan wajahnya malu.

“Chukkae, oppa…”, ujarnya dengan wajah tertunduk.

“Chukkae?”, tanya Siwon.

“Ne, kau kan sebentar lagi menikah…”

Siwon hanya tersenyum, “Tapi belum tentu dia mau denganku. Aku belum melamarnya…”

“Pabbo! Kalau begitu, cepat lamar dia!”, ujar Nagisa antusias.

“Baiklah…will you marry me?”

“Hah? Kau latihan melamarnya denganku?”

“Annio…kau tadi minta cepat dilamar kan?”, balas Siwon.

“Ta..tapi…”

“Apa kau menolak lamaranku?”, tanya Siwon lagi.

“Jangan bercanda, oppa..”, ujar Nagisa yang kemudian berdiri.

“Aku tidak bercanda, Na…kau tahu, betapa susahnya aku menahan perasaanku saat aku bertugas melindungimu?”, ujar Siwon yang menggenggam tangan gadis itu dan kemudian berdiri.

“Maksudmu?”

“Peraturan untuk tidak jatuh cinta pada client yang dilindungi. Satu – satunya hal yang membelenggu perasaanku.”, gadis itu hanya tertegun.

“Menikahlah denganku…dan..kita rawat Louis bersama..”

“Ah! Ya, Louis, anak dari ahjummanya…bayi itu..pasti Siwon oppa yang akan mengasuhnya…”, batin Nagisa.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^
Aku berusaha mencari kebohongan dari tatapannya. Tapi, yang ada aku malah tidak bisa menatap kedua matanya lama – lama.

Kyaaaaa!! Apa aku gila?! Hey! Kemana semua kesadaranku?!

“N…ne…”, satu kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Oh, Kamisama (Oh, Tuhan)!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Siwon kini memeluk gadis itu. Bahkan dia tidak menyadari kalau dia mengangkat tubuh gadis itu dan berputar.

“Kyaaa!! Oppa…!! Oppa…!! Turunkan akuu!!”

“Jangan kaget jika Louis memanggilmu dengan sebutan eomma..”, ujarnya menyentuh hidung gadis yang tengah digendongnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hanya dengan persiapan tiga bulan, pernikahanku kini terlaksana. Cukup banyak tamu penting dalam pernikahanku. Ini semua karena terlalu banyak teman papa yang diundang. Sedangkan aku…hanya beberapa teman dekatku saja.

“Nona, cantik sekali..”, puji stylist pribadiku.

“Iie (tidak)…masih banyak yang lebih cantik dariku di luar sana…”, jawabku.

“Nagisa…”

“Papa…”

“Sudah selesai?”

“Hai (iya), papa..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Dengan balutan gaun putih panjang dan tudung pengantin yang menutupi wajahnya, gadis itu melangkah. Bucket pengantin yang dibawanya menambah keanggunannya. Kakinya yang jenjang memakai sepatu yang berwarna perak. Lelaki yang akan menjadi suaminya pun sudah menunggunya dengan tersenyum. Pria itu memakai setelan jas dengan warna serasi dengan Nagisa.

“Yeppeo…”, bisik Siwon saat tangannya menggenggam tangan gadis itu. Nagisa hanya membalasnya dengan senyum tipis.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Silahkan kedua mempelai bertukar cincin…”, ucapan itu menyadarkan lamunanku beberapa detik tadi.

Ommo~~ Kami saling memakaikan cincin?! Sungguh pernikahanku ini di luar dugaanku. Sangat di luar dugaanku!

Tiba – tiba saja dia membuka tudung pengantinku. Hyaaaa!! Apa dia hendak menciumku?!! Aku tidak siaapp…aku tidak siaapp!!

Tidak. Dia tidak menciumku. Dia memelukku erat dan berbisik, “Kau tidak mau menciumku lebih dulu, euhm?”, apa dia bilang?! Menciumnya lebih dulu??

“Kalau kau tidak mau memulainya, jangan salahkan aku kalau aku menjalankan plan b.”, ucapnya lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Lelaki itu menarik pinggang gadis yang kini sudah resmi menjadi istrinya, merengkuh wajahnya dan mencium bibirnya. Sedangkan Nagisa yang baru saja beberapa menit yang lalu menjadi istrinya, terkejut menerima perlakuan Siwon padanya.

“Kita lanjutkan nanti, nyonya Choi. Di Indonesia…Untuk Choi junior yang akan ada di perutmu…sekaligus adik dari Louis…”, bisik Siwon setelah mencium istrinya. Istrinya hanya membalas dengan senyuman hingga akhirnya lelaki itu menggendongnya ke dalam mobil.

THE END

7 tanggapan untuk “Mission To Save You”

  1. Kya….. daebak thor.
    Waktu nginget kalimat “tarik napas, buang perlahan…” bisa tertawa sendiri hehehe^_^ habisnya kyk org mau melahirkan :p

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s