Chakkan Namja VS. Bad Boy [one]

chakkan namja vs badboy 1

Title: Chakkan Namja VS. Bad Boy [one]

Author: momo Wu

|Cast| Kai, Xi Luhan

|Supporting cast| D.O, Suho, chanyeol, Sehun, Baekhyun,

|OC| Moon Hee mi> Hee mi

Backsound: Wolf, Baby don’t cry, Don’t go

Genre: *author juga blom yakin, kekeke~*

Length: *masih tergantung permintaan pembaca* tapi kemungkinan twoshot*nggantung amat thor~~ keke*

Note: baca di akhir FF yaaaa^^ oya, untuk lebih jelasnya, baca dulu prolognya yaaa. that is a MUST kalo klian ingin dpat gambaran lebih jelas ^^

Because BAD doesn’t have to be BAD

*

Kai menarik kartu yang ia dapat dan mengintipnya sekilas. Senyuman kilat muncul dari bibir tipisnya, namun hanya sekejap ia kambali memasang wajah serius. Meja hijau tempat pertaruhan itu semakin terasa panas karena setiap detik jumlah dari chip (koin yang melambangkan jumlah uang yang dipertaruhkan berdasarkan warna)  berwarna-warni itu terus bertambah.

Sejak dua puluh menit pertaruhan di meja salah satu casino terbesar daerah mokpong itu dimulai, kai terus saja menyeru fold dan fold (tidak ikut bertaruh). Hal itu membuat kyungsoo yang berdiri di sudut meja harus menghela nafas khawatir.

Mendadak salah satu pemain yang berada di seberang meja berhadapan dengan kai mendorong maju seluruh chip miliknya dengan penuh percaya diri.

all in.” Serunya. Tangannya menggenggam tiga kartu yang ia anggap akan memenangkan pertaruhan kali ini. kai mengangkat sudut-sudut bibirnya.

call, all in.” Sambut kai santai. Seolah ia memang sudah menunggu saat ini tiba. Ia menyorongkan seluruh chip-nya diikuti oleh tiga pemain lain. Mereka perlahan menunjukkan kartu masing-masing.

Ace two pair.” Seringai pria dengan jas hitam yang merupakan bos kasino ini. tangannya hendak meraih seluruh chip taruhan namun segera di tahan oleh pria dihadapan kai tadi.

“tunggu,” ia membuka kartu-kartunya dan tertawa “two poker.”

Kai berdiri dan bertepuk tangan melihat keriuhan itu. lalu dengan santai ia membuka kartunya dan membantingnya di atas meja. “9,10,Jack, Queen,King. Straight flush.”

Setelah berkata begitu ia berjalan menuju pintu keluar dan merangkul kyungsoo agar mengikutinya. Penjaga di depan pintu yang memegang seluruh uang taruhan segera memindahkannya ke tangan kai dalam bentuk koper yang dipenuhi uang.

Kai menyeringai dan pergi meninggalkan kekacauan yang ia sebabkan di casino itu.

*

“well, kau sangat berbakat dalam hal ini ternyata.” Ujar kyungsoo yang sedang meracik cocktail di mini bar apartemen kai. Tangannya yang terlatih tak terganggu oleh musik yang merusak pendengarannya.

Kai tertawa mendengar ucapan kyungsoo. Ia memainkan uang logam yang tadi ia ambil di meja sambil berbaring di sofa hitam ruang depan.

“bukan berbakat, mereka saja yang kumpulan orang idiot.” Sanggah kai ironis. Sudah berkali-kali ia bermain dan belum pernah ia kalah, entah karena apa. Sesungguhnya ia tak perduli dengan uang-uang yang ia dapat, lihatlah, semuanya teronggok di sudut ruangan tanpa tersentuh sama sekali. Kalaupun terpakai mungkin hanya untuk kyungsoo, sahabatnya semenjak kecil, yang akan mengambilnya sebagai biaya untuk mengisi kulkas kai.

“kau lihat wajah mereka tadi? hahaha, aku tak sanggup membayangkannya.” Sahut kyungsoo geli. Ia belum pernah bermain jadi ia tidak tau efek adrenalin apa yang mungkin akan terjadi.

“ckck, biarkan saja, sekali-sekali kau juga harus ikut main.” Ujar kai mengingatkan. Kyungsoo menghampiri kai sambil memegang dua gelas cocktail yang tadi ia buat.

“kau mau aku mempertaruhkan apa? Wajah tampanku ini?” balas kyungsoo yang mengakibatkan ia dilempar seperangkat bantal.

“sudahlah lupakan.” Kai beranjak menuju kamarnya untuk tidur siang, sejak kemarin ia sama sekali belum tidur hingga lingkaran gelap di bawah matanya tak mampu tertutupi.

“oya kai, kuperhatikan kau sama sekali tidak pernah membawa seorangpun kemari selain aku, bahkan tanda-tanda yeoja-pun tidak. Kau tidak pernah kencan ya?” tanya kyungsoo tiba-tiba. Kai yang sudah mencapai pintu kamar segera berbalik dan kembali duduk di samping kyungsoo, membuat kyungsoo mundur perlahan.

“Kenapa kau menanyakan itu?” tanya kai balik.

“yah… hanya saja, aku khawatir kita dianggap yang ‘aneh-aneh.” Jawab kyungsoo tersendat-sendat. Kai mengangkat sudut bibir kanannya sinis. Lalu ia meraih wajah kyungsoo dengan sebelah tangannya.

Kyungsoo melebarkan matanya dan tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Kemudian, kai menampar pelan wajah kyungsoo dan tertawa heboh.

“jangan berpikir yang tidak-tidak.”

Dan ia menghilang di balik pintu kamar.

*

Luhan membuka pintu ruangan kantornya yang sudah ia tempati selama empat tahun. walpaper biru muda dengan sentuhan comfort itu belum pernah berubah semenjak hari pertama ia memasukinya. dinding ruangan yang berada di belakang kursinya pun telah berkamuflase menjadi jendela kaca yang tebal dan indah seperti kristal, menambah kesan lembut pada ruangan itu.

Tepat setelah luhan menduduki kursinya, pintu ruangan terbuka dan tampak sehun memasuki ruangan dengan santai. Luhan menunjukkan senyum manisnya untuk pria kurus tinggi yang sudah ia anggap adiknya itu.

hyung, sepertinya kau sudah harus mencari sekretaris baru deh, sekretaris w-a-n-i-t-a.” Seru sehun sambil mengambil tempat duduk di depan meja luhan. Gayanya yang kekanakan itu membuat luhan sering gemas sendiri.

“kenapa? Hyung sudah puas memiliki sekretaris se-cantik kau.” Goda luhan senang. Ini adalah perusahaan periklanan yang dirintis oleh luhan dari nol hingga menjadi sebesar sekarang. Seluruh karyawan di kantor miliknya pun adalah pilihan luhan sendiri, jadi semua orang sangat menghormati apapun pilihannya, termasuk dengan masalah sekretaris ini.

Ya! Ckck, hyung, kau lupa minggu depan adalah semester pertama kuliahku di Seoul?” rajuk sehun sembari meraih kotak cemilan diatas meja luhan yang telah disiapkan OB tadi pagi.

“aah, siapa yang bisa melupakan dongsaeng manisku yang akan meninggalkan hyung tuanya ini keluar kota sendirian?” sahut luhan. Tangannya meraih pipi sehun untuk ia cubit pelan. Sehun tertawa kecil dan kembali berkutat dengan snack-nya.

“ah! Matta! Hyung, aku punya teman perempuan yang sangat kreatif, cerewet, penuh imajinasi, dan bawel. Sepertinya dia cocok di sini deh hyung.” Cetus sehun tiba-tiba setelah selama lima menit luhan terfokus pada tablet drawernya mendesain sesuatu. Luhan mengangkat wajahnya dan berpikir sesaat.

“kau tidak cemburu melihat posisimu akan diganti? Nanti hyung akan memperlakukan dia semesra ini lho.” Lagi-lagi luhan menggoda sehun yang tampak serius. Sehun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah datar.

“yang brother complex itu kan hyung, bukan aku.”

*

Jadi karena sejarah cerita diataslah Moon Hee mi mendapatkan pekerjaan menjadi seorang sekretaris. Ini adalah hari pertama ia bekerja dan ia sudah terlambat selama sepuluh menit,.. eung… oke, dua puluh menit.

Ckck, baiklah, tiga puluh menit.

Rambutnya yang setengah jam lalu di tata asal-asalan semakin berantakan dan siapapun tak akan bisa menebak model apa yang ia pakai. Sepatu hak tinggi miliknya tergantung di tas sampirnya dan kini kakinya hanya beralaskan sendal jepit biasa.

Anyeonghasseyo!! Maaf saya terlambat!” seru Hee mi tepat setelah ia membuka pintu kantor. Karena tidak ada yang menjawab, Hee mi mengangkat wajahnya dan melongo melihat suasana kantor yang sangat-sangat cozy dan santai. Di mana-mana terlihat manusia mondar-mandir ceria dengan satu gelas kopi ditangan mereka. Bukan ini yang ada di bayangan Hee mi untuk kantor advertisement terbesar di korea selatan.

Buru-buru Hee mi berjalan ke pintu samping kantor dan membuka contact phone number di telepon genggamnya. Setelah nomor yang ia tuju ditemukan, tanpa menunggu dua kali ia memencet tombol dial.

“ya! Sehun-na! Ini benar-benar kantor yang kau maksud? Kenapa suasana di sini seperti… seperti… seperti,-“ Hee mi kehilangan kata-kata untuk mendeskripsikan suasana saat ini.

“seperti rumah? Memang seperti itu Hee mi-ya. Kau sudah sampai? Langsung saja ke ruangan direktur di lantai tiga. Hati-hati yaa sama pak direktur itu~” sehun langsung memutus panggilan setelah tergelak heboh. Hee mi merengut dengan maksud kata-kata terakhir sehun tadi, apa ia akan segera di pecat karena terlambat? Eh, tidak mungkin sih, dia belum juga memulai kerja. Tapi itu lebih ironis kalau memang terjadi.

Lalu, apa mungkin ia akan di hajar? Atau mungkin bapak direktur itu orang tua bangka yang genit? AAARGH!! Hee mi mengacak-ngacak rambutnya lagi sambil berjalan menuju lift. Ia hanya menunduk hingga ia sama sekali tak sadar ia sudah berada di depan lift yang terbuka lebar dan membuat orang-orang dalam lift itu tak sabar menunggu Hee mi masuk.

“maaf, apakah anda ingin menggunakan lift?” tanya seseorang dari dalam lift kepada Hee mi yang masih menunduk tak jelas. Hee mi mengangkat wajah dan tersedak air ludahnya sendiri karena ternyata di dalam lift itu sedang berdiri enam manusia tampan+tinggi+menyegarkan mata yang tengah menatap Hee mi luru-lurus.

Sedetik kemudian Hee mi tersadar bahwa mereka menatapnya karena lift akan segera tertutup.

“oh, iya iya saya mau masuk.” Buru-buru Hee mi menginjakkan kakinya ke dalam kotak sempit itu dan tersenyum karena aroma ke enam pria itu sangat… maskulin. *melayang*

Tanda lantai tiga berdenting dan Hee mi sibuk ber-yaaah yaaah- ria di dalam hati. Ia berharap kantor direktur itu ada di lantai seratus kalau perlu. Ternyata semua pria itu juga berhenti di lantai tiga dan berpencar setelah berjabat tangan menuju ruangan masing-masing. Hee mi merasa menjadi penonton bisu, tapi itu bukan masalah.

“Luhan-a! Aku hampir lupa, Ini file untuk iklan monomo  yang kau minta, nanti aku transfer via email saja ya!” seru pria berjas hitam yang tadi menegur Hee mi kepada pria berja putih yang hendak masuk ke ruangan miliknya.

ne! Keure! Langsung kirim setelah kau sampai di ruanganmu ya, Kyungsoo.” Sahut pria berjas putih yang ternyata bernama luhan itu. pria yang tadi dipanggil kyungsoo itu berbalik dan terkaget melihat ternyata masih ada ‘makhluk’ di belakangnya.

“ah, anda nona yang tadi. ada urusan apa di lantai ini nona?” tanyanya pada Hee mi dengan wajah ramah. Hee mi harus cegukan berkali-kali dulu sebelum bisa menjawab pertanyaan pria dengan bibir seksi(?) itu.

“s..ssaya mau mencari ruangan direktur.”

“aaa! Anda sekretaris baru yang di usulkan Sehun-nie? Lurus saja di depan itu, itu ruangan direkturnya.” setelah berkata begitu kyungsoo berlalu menuju ruangannya.

Hee mi tersadar dari kebahagiaannya dan melangkahkan kakinya yang gemetaran menuju ruangan direktur. Baiklah, skenario terburuk adalah ia akan segera diusir, tapi setidaknya ia harus mencoba. Hee mi mengetuk pintu takut-takut, ia baru sadar tangannya sudah dipenuhi keringat dingin.

“masuk!” seru seseorang dari dalam. Hee mi menahan nafas dan membuka pintu, lalu terperanjat menemukan pria berjas putih tadi tengah duduk dengan tenangnya di kursi berlabel direktur dan matanya hanya fokus pada layar tablet di tangannya.

“a..a.Anyeonghasseyo, saya sekretaris baru, saya minta ma-“

“oh, kamu sudah datang? Langsung saja duduk di ruangan depan tepat di hadapan kantor saya. Nanti kamu bisa belajar sendiri apa tugas kamu, tidak sulit kok, tenang saja.” Luhan memotong permintaan maaf Hee mi dan tetap menatap layar tabletnya.

Hee mi mengalami shock hebat setelah menutup pintu. Ini pasti dia salah kantor. Mana mungkin ada direktur setampan itu?! tambah lagi ia terlihat sangat muda, dan dia tidak galak. Jika di hitung-hitung waktunya, kini Hee mi sudah terlambat hampir selama satu jam. Tambah lagi tadi kalau tidak salah kyungsoo-ssi memanggil luhan tidak dengan embel-embel direktur, sajangnim atau semacam itu. sepertinya Hee mi butuh istirahat.

Tidak! Ini baru hari pertamanya dan dia sudah ingin pulang? Mati saja kau Hee mi!

*

Selagi Hee mi berkutat dengan berkas-berkas lama milik sehun yang kini menjadi tanggung jawabnya, kyungsoo tengah jungkir balik bersama ruangannya. Ia yakin tadi file yang di minta luhan ada pada flashdisknya dan ia juga percaya kalau flashdisk itu sudah ia bawa. Namun ketika ia memeriksa tasnya lagi, flashdisk mungil itu sudah tidak ada.

“ayolah kyungsoo, berpikiiiir! Di mana kau letakkan benda mungil laknat ituu?” kyungsoo memijit kepalanya pelan dan keras.

Sedetik kemudian ia sadar bahwa pagi tadi sebelum ke kantor ia mengunjungi Kai telebih dahulu dan mengisi kulkasnya seperti biasa. Dan sepertinya saat itu ia membiarkan tasnya berserakan karena ulah kai. Buru-buru ia mencari telepon genggamnya dan menjerit frustasi karena telepon genggamnya juga tertinggal.

Harapan terakhir adalah telepon kantor di ruangannya, tapi ia harus menelan ludah emosi karena telepon di ruangannya belum di reparasi.

“ah, matta! Telepon ruangan sehun!” kyungsoo tanpa aba-aba kembali berlari menuju ruangan sehun yang telah di tempati oleh Hee mi.

chogiyoo~ boleh saya minta tolong kamu menghubungi nomor ini?” pinta kyungsoo pada Hee mi yang masih merapikan meja sehun yang dipenuhi bungkus snack-snack jaman anak TK.

“ah, ne.” Jawab Hee mi segera dan meraih kertas itu. tangannya dengan lincah menghubungi nomor yang diberikan kyungsoo.

Hubungan tersambung.

yoboseyo?” suara di seberang sana menyapa dengan tak ramah.

eung.. ne yoboseyo. Ini benar nomor..-“ Hee mi menatap kyungsoo untuk bertanya—“Kai-ssi?” sambung Hee mi takut-takut.

neon nuguya?”

“n..n.. ne?

Kyungsoo segera merampas telepon itu dari tangan Hee mi yang sudah terlihat kaget.

YA! Jangan bilang kau selalu begitu dengan semua perempuan. Mana ada yang mau menjadi kekasihmu kalau begitu!” seru kyungsoo sambil tertawa heboh. Hee mi masih shock.

*

Kai mendengus kesal karena jam malas-malasannya harus terpotong oleh telepon menyebalkan kyungsoo tadi. hanya saja ia merasa sangat bersalah jika tidak mengantarkan barang milik kyungsoo.

Setelah sampai di kantor itu kai segera berjalan menuju lift sesuai instruksi kyungsoo. Beruntung sekali ketika ia menginjk lantai di depan lift, pintu lift berdenting terbuka. Di dalamnya berdiri pria tinggi mengenakan jas putih dan memegang satu map hijau tebal di tangannya. Wajah pria itu terlihat sangat ramah yang seketika membuat kai muak. Ia tak mengenal pria dengan tulang pipi sempurna itu, hanya saja kata hati kai mengatakan bahwa ia tak akan pernah bisa berakrab ria dengan pria seperti ini.

Luhan di sisi lain juga hanya menatap pria dengan jaket leather hitam itu dengan ekspresi tak terbaca. Ia tetap menjaga raut wajahnya namun tak berusaha untuk beramah tamah.

Untungnya keadaan awkward itu berakhir cepat dan mereka berdua keluar secara bersamaan. Kai mendengus kecil dan mempercepat langkahnya, ia tak ingat di mana ruangan yang di sebutkan teman masa kecilnya. Tapi asalkan ia bisa langsung menghilang dari hadapan pria klimis itu, cukup sudah.

Kai membuka pintu mana yang yang menarik hatinya dan segera membanting pintu itu. ia selalu jadi tidak rasional seperti ini setiap menemukan orang yang membuat dirinya marah tanpa alasan.

Hee mi yang mendengar pintu ruangannya terbanting segera terlonjak dan hampir terjatuh menemukan pria HOT *uhuk* sedang berdiri di sana.

“ada… yang bisa saya bantu?” tanya Hee mi sopan. Kai mengernyitkan dahi.

“suara ini… kau yang menghubungiku tadi?” tanya kai balik. Hee mi membelalakkan matanya.

“anda… kai-ssi teman Do kyungsoo-ssi?”

Hening.

“tunjukkan saja ruangannya padaku.” Perintah kai malas memperpanjang percakapan. Hee mi yang biasanya cerewet dan galak itu hanya mengangguk dan hendak keluar menuju pintu.

Namun pintu terbuka dan kepala luhan muncul dari sana.

Oh, kau pria yang tadi. ada urusan apa dengan nona ini?” tanya luhan dengan nada manis yang terdengar ramah di telinga Hee mi, dan terdengar beracun di telinga kai.

“apa urusanmu? Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu? Bagaimana kalau seandainya kami berdua sedang bermesraan?” sahut kai tak suka, nadanya seolah sedang berbicara dengan musuh bebuyutan sepuluh tahunnya.

“e..e..eh?”

“jelas saja ini urusanku. Dia adalah sekretarisku dan aku adalah direkturnya. Dan sepertinya sekretarisku terlalu pintar untuk memilih seorang pria sepertimu.” Luhan membalas dengan senyum masih menghias wajah tampannya.

Hee mi yang masih berada di tengah-tengah perang mulut dua pria seksi itu tak tahu harus melakukan apa.

“memangnya aku kenapa, HA?!” kai menunjukkan kekuasaanya dan tanpa berpikir dua kali meraih bahu Hee mi dan merangkulnya. Hee mi tersedak.

Pintu ruangan Hee mi lagi-lagi terbuka dan muncullah kepala kyungsoo, Baekhyun, Chanyeol, dan Suho yang mendengar ribut-ribut di ruangan Hee mi.

“ah! Kai! Sudah datang kau rupanya. Errr… kenapa suasananya seperti ini?”kyungsoo mundur teratur melihat atmosfir menyeramkan itu.

“tak bisakah kau lihat? Mereka itu sedang memperebutkan si gadis lift ini.” jawab chanyeol santai sambil memainkan dasi biru toskanya. Hee mi yang merasa dipanggil sebagai gadis lift itu memiringkan kepalanya bingung.

“waah, benar-benar gadis lift ini beruntung sekali, hari pertama bekerja sudah diperebutkan dua pria tampan. Aku boleh masuk hitungan?” Sambung baekhyun exciting, ia merasa tengah menonton drama, hobi terbaru miliknya akhir-akhir ini.

“eh?” lagi-lagi hanya itu yang keluar dari bibir Hee mi.

“ckck, sudahlah, ayo kembali ke ruangan, jangan tambah keributan di lantai eksklusif ini.” ujar suho bijak, ia menganggap lantai tiga tempat para imaginator (yaitu mereka berenam) sebagai lantai eksklusif.

“tunggu, aku jadi tertarik dengan kalian semua. Kyungsoo, kau bilang kantor ini masih membutuhkan artworker profesional dan tidak pilih-pilih kan? Aku terima tawaran itu. mulai besok aku akan bekerja di sini.”

“EEEEHHHHH?????”

~~~~~~TBC~~~~~

 

Note: tunggu deh, kok author bingung kenapa Hee mi-luhan-kai baru ketemu bareng sekarang? *author bolot* hhaha

Apa seharusnya opening masing2 ga usah di bikin ya?

Kk~

Anyway enjoy reading yaaaa para reader tercintaaa ^^

120 tanggapan untuk “Chakkan Namja VS. Bad Boy [one]”

  1. Daebak, d zni kai oppa bner” bad boy bgt jdi geregetn gmna gi2. Jdi waswas gmna ea brkt.y, kai si bad boy krja d tmpt yg d penuhi nt d pimpin si flower boy 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s