Desertir 00.00 (1)

desertir-oo-2

Author: Noerwendsan

Cast: Kris Wu (EXO), Seo Joo Hyun (GG), Cho Kyu Hyun (SJ)

Other: Oh Sehun (EXO), Choi Jin Ri as Sulli (f(x))

Genre: Dark, Mistery, Romance

Type: Twoshot

Disclaimer: Just a story, no more

Cover by: Jung Levitika @High School Graphics

 

Annyeong..

San imnida~ Author baru di sini, salam kenal… Saya bawa ff yang genrenya dark nih .___. Semoga readers pada suka ^^

Ga banyak cuap(?), tolong tinggalkan komentar kalian di box yang telah tersedia. Saya hanya author biasa yang masih mengharapkan saran, kritik, mau pun komentar yang friendly dari readers yang membaca karya saya. Dan sekedar pemberitahuan, ff ini terinsipirasi dari salah satu cerita manga tahun 90-an #lamaamat ada salah satu bagian cerita yang saya pertahankan, tapi untuk selebihnya telah saya aransemen ulang sesuai dengan imajinasi saya sendiri J

Kalau begitu, sorry for typo and keep comment chingudeul ^^

Gamsahabnida~ Stay read, yeorubun ^^

.

.

.

Desertir 00.00

Present™

Jebakan. Hal itulah yang sekiranya membuatku trauma dan selalu berusaha menghindari hal-hal negatif yang bersangkutan dengan penampilan. Awal dari semua peristiwa yang baru saja ku alami. Bisa dibilang peristiwa itu cukup menyeramkan, ah anni. Peristiwa itu benar-benar menyeramkan..

.

.

.

Hari itu, sepulang sekolah gadis yang bernama lengkap Seo Joo Hyun atau yang biasa dipanggil Seohyun berencana untuk mengunjungi sebuah toko yang katanya menjual beberapa kaset terbaru kesukaannya. Seohyun hanya sendiri, teman-temannya yang lain enggan untuk mengantarnya pergi karena mereka juga memiliki kegiatan masing-masing yang tidak dapat ditinggalkan. Ya, Seohyun maklumi hal itu. Teman-temannya adalah segerombolan orang yang memiliki jabatan penting di beberapa organisasi ekstrakurikuler. Sedangkan dia sendiri? Seohyun hanyalah seorang murid biasa yang tidak tertarik dengan hal semacam itu. Menurutnya, itu sangat merepotkan. Lebih baik gadis itu berdiam diri di rumah sambil mendengarkan lagu dari kaset-kaset yang ia beli. Itu jauh lebih menyenangkan dan membuat pikirannya tenang.

Setelah melihat-lihat stok kaset yang tersedia di toko, gadis itu  merasa tidak ada yang menarik. Akhirnya dia pun memutuskan untuk pulang selagi waktu belum menjelang sore. Saat ini Seohyun hendak berjalan menuju pintu keluar, akan tetapi…

“Nona, ikut dengan saya sebentar.” Sebuah tangan menarik lengan gadis itu dan memaksa untuk mengikutinya. Sekilas, ternyata itu adalah seorang petugas satpam yang menjaga ketat keamanan toko. Ya…Seohyun terkejut dengan hal ini. Berkali-kali keluar masuk toko yang sama, baru kali ini dia sengaja dijumpai petugas satpam yang bisa dibilang err….galak dan menyebalkan.

Cklek..

“Ada apa ini? Ahjussi, lepaskan tangan saya!” gertak Seohyun di saat ahjussi petugas satpam itu meremas lengannya dengan kasar. Dia menarik Seohyun dan menyeret gadis itu ke sebuah ruangan yang mungkin merupakan tempat khususnya untuk bertugas. Di sana juga dia tidak sendirian. Ada beberapa rekannya yang menunggu sambil berdiri menatap Seohyun sinis. Oh, Tuhan! Ini menyebalkan dan Seohyun bahkan tidak mengetahui apa alasan mereka tiba-tiba menangkapnya seperti ini. Keterlaluan!

“Berikan tas itu!” Ahjussi itu merebut tas genggam Seohyun yang sedari tadi ia jinjing dengan kasar tanpa meminta izin dari pemiliknya sama sekali. Hey, Seohyun membenci hal ini! Memangnya dia siapa?!

“Ahjussi, apa yang k-“

“Lihat ini!”

Brukk..

Setelah mengeluarkan barang-barang Seohyun dari tas itu, ahjussi itu malah tersenyum licik sambil memandangi Seohyun remeh. Ya, mungkin ini sebabnya. Gadis itu melihat sendiri tiga buah kaset yang terdapat di dalam tas genggamnya. Dan kelihatannnya…itu adalah barang stok yang baru saja sampai dan dijual di toko. Tapi, mengapa barang-barang itu bisa ada di dalam tas Seohyun? Dia kan sama sekali tidak mengambilnya, atau bahkan membelinya.

“Bab..bagaimana bisa barang-barang itu ada dalam-“

“Tentu saja karena kau telah mencurinya.” Tuduh ahjussi itu sontak membuat Seohyun terbelalak. Apa? Mencurinya?! Dia gila?!

“Ahjussi, saya tidak pernah mencuri barang-barang yang bukan hak saya. Saya juga tidak tau mengapa barang-barang itu ada di dalam tas saya.”

“Jangan berusaha untuk berontak! Aku perhatikan sejak di toko tadi, tasmu itu lama-lama terlihat menebal. Jelas kalau kau mencuri kaset-kaset tersebut dan menyimpannya ke dalam tasmu sendiri.”

“Tapi ahjussi- arrgghhh” seseorang menahan tubuh ramping Seohyun dari belakang agar ahjussi sialan itu dengan bebas mengambil sesuatu dari balik saku kemejanya. Dasar tidak sopan!

“Seo Joo Hyun. Kelas 11 di Yonsei High School.” Ahjussi itu meraih sebuah kartu yang notabenenya adalah kartu pelajar milik Seohyun.

“Ck, memalukan! Kau adalah seorang pelajar sekolah terkenal tapi kelakuanmu? Aku akan segera memanggilkan polisi.”

“Ahjussi tung-“

Kling…

Seorang pria tiba-tiba saja datang dan menahan langkah ahjussi satpam itu yang hendak memanggil polisi lewat sambungan telpon. Mengejutkan memang, tapi…menurut Seohyun, ini malah semakin memperburuk keadaan. Apakah pria itu juga bermaksud untuk menudingnya terhadap hal yang sama?

“Tunggu, anda tidak usah repot-repot memanggil polisi. Dia tidak bersalah.”

“Siapa kau? Ah.. pasti kalian bekerja sama untuk hal ini bukan?! Aku ak-“

“Bersikaplah lebih sopan. Saya hanya seorang pengunjung.”

“Mwo?”

“Tadi saya melihat kaset-kaset itu terjatuh ke dalam tas yang nona bawa.”

“Tap, tapi…”

“Sudahlah. Lagi pula anda juga tidak memiliki bukti yang jelas kan?”

“Nona, kita pulang..” lanjut pria itu sambil menjulurkan tangannya ke arah Seohyun. Dengan cepat Seohyun pun mengangguk dan segera membereskan barang-barangnya lalu pergi bersama pria itu keluar dari toko. Wajahnya tampan, bahkan sangat tampan dan berkarisma. Tapi….entah kenapa auranya terlalu menyeramkan untuk gadis seperti Seohyun sendiri.

Akan tetapi, biarlah… Yang penting sekarang Seohyun selamat dan tidak tersangkut lebih jauh dengan masalah itu. Huh..hari yang cukup menegangkan..

~~~

“Gamsahabnida atas bantuannya, tuan. Aku sangat tertolong..” ucap Seohyun sesampainya di depan rumah ketika pria itu mengantarkannya.

“Jangan sungkan, aku hanya sekedar pengunjung asal. Bahkan aku tidak bisa menjamin jika tadi mengatakan hal yang sebenarnya pada petugas satpam itu.”

Uhh.. Lagi-lagi pria itu membuat Seohyun takut. Senyumannya, dia rasa itu tidak tulus dari hati. Bahkan terlihat seakan-akan menyembunyikan sesuatu. Tapi, tiba-tiba saja kedua mata Seohyun melirik ke arah saku jas yang pria itu kenakan. Sebuah boneka cantik dengan ukuran kecil terselip di dalam saku tersebut. Tiba-tiba saja Seohyun teringat sesuatu. Ia merasa begitu familiar dengan boneka itu. Ya, tidak salah lagi..dia merasa pernah melihatnya di suatu tempat. Tapi dimana?

‘Seohyun, ingatanmu payah!’ batin Seohyun.

“Eum boneka itu…?”

“Baiklah, aku pamit. Siapa tau nanti aku yang akan ditolong olehmu.”

“Nde?”

Pergi dengan cara misterius. Pria itu berbalik dan mengangkat tangannya sebatas telinga, tanda bahwa dia tidak menerima alasan atau runtutan pertanyaan lagi. Ck, menyebalkan juga orang itu, pikir Seohyun di dalam hati.

Awalnya, Seohyun terdiam sejenak memikirkan pria yang baru saja menolongnya beberapa saat yang lalu. Berbagai pertanyaan terbesit di dalam pikirannya. Mulai dari siapa pria itu, maksud dari pria itu menolongnya, sampai boneka yang berada di saku baju pria itu. Pikirannya dipenuhi dengan sesosok pria yang dia juga tidak tau siapa namanya. Sungguh, sungguh misterius!

“Seohyun noona, kaukah itu?”

“Oiy, Sehunnie..” sapa Seohyun di kala sahabatnya, Sehun berjalan menghampirinya dengan wajah yang heran dan bingung.

“Namja itu, nugu?”

“Hmm? Siapa maksudmu?”

“Itu, namja yang baru saja mengantarkanmu tadi. Dia siapa?”

“Eoh, mollayo.”

“Molla?”

“N..nde.. Ceritanya panjang, Sehun-ah.”

“Ayo ceritakan di dalam, noona. Bibi tadi memintaku untuk berkunjung. Apakah benar hari ini Sulli ulang tahun?”

DEG

Seohyun hampir lupa. Hari ini kan hari ulang tahun adiknya sendiri, Seo Jin Ri atau biasa dipanggil Sulli. Sehun semakin terheran-heran dengan tingkah laku Seohyun. Dia hanya memperhatikan gerak-gerik Seohyun sambil menebak-nebak apa saja yang baru terjadi pada sahabat lamanya itu.

“Omonaa, Sehunnie.. Aku lupa membelikan kado untuk Sulli. Eotteohkae?” ucap Seohyun lemas sambil mencari jalan keluar dari permasalahannya saat ini.

“Mmm.. Baiklah aku bersedia mengantarkanmu membeli hadiah untuk Sulli. Tapi berjanjilah setelah ini kau akan menceritakan apa yang baru saja terjadi kepadaku. Otte?”

“Arrasseo, kajja…”

***

“Saengil chukkae hamnida, Seo Jin Ri!!!!”

“Huwaaaaa….. Gomapta~”

“Ini hadiah dari eonnimu, aku harap kau menyukainya.” Seohyun memberikan sebuah kado kepada Sulli. Dengan senang hati gadis itu menerimanya sambil memeluk kakaknya sayang.

“Gomawo, eonni..”

“Ne, cheonma.”

“Annyeong, Sulli-ah.. Ini ada sedikit hadiah dariku. Maaf jika kau tidak puas dengan-“

“Anni, Sehun oppa. Begini juga aku sudah berterimakasih.. Maaf telah merepotkanmu.”

“Eum, baiklah jangan sungkan..”

Malam itu, tepat pukul 20.00  waktu setempat, ulang tahun Sulli digelar. Bukan sebuah pesta yang besar memang, tapi di sana cukup meriah dengan kedatangan Sehun. Ya, namja itu berbeda 1 tahun dengan Seohyun tapi mereka tetap bersahabat dengan baik. Sehun selalu mengunjungi rumah Seohyun untuk sekedar bermain atau apalah itu. Saat ini, yang memeriahkan pesta ulang tahun Sulli hanyalah keluarga Seo dan Sehun saja. Sulli tidak berminat untuk mengundang teman-temannya karena dia tidak ingin menyusahkan kedua orang tuanya yang pasti akan kerepotan jika menggelar pesta besar-besaran hanya untuk ulang tahunnya. Benar-benar gadis yang bijak.

Setelah mengadakan acara inti, keluarga Seo pun beralih ke acara selanjutnya. Ya, apalagi kalau bukan acara makan malam. Di sana mereka tampak ceria dengan berbagai canda tawa yang mengiringi malam mereka dan ulang tahun Sulli. Sedangkan Seohyun malah sibuk menceritakan pengalamannya kepada Sehun di kamarnya sendiri.

“Noona, hati-hati.”

“Apa maksudmu? Memangnya apa yang akan terjadi jika-“

“Entahlah, aku merasakan sesuatu yang aneh saja. Lagipula aku hanya memberi saran, mungkin kau harus lebih waspada.”

“Sehunnie, kau membuatku takut.”

“Bukan maksudku begitu, noona.. Hanya saja, aku takut ada maksud lain dari insidenmu itu. Siapa tau pria itu bertujuan untuk-“

“Stop!!!”

“Ada apa, noona?”

“Sudahlah, aku tidak mau membicarakan hal ini lebih jauh. Lebih baik kita nonton TV saja.”

“Tapi noona-”

“Oh Sehun…..”

“Hah, baiklah..”

Seohyun pun menyalakan TV yang ada di kamarnya. Dia menekan tombol-tombol remote dan mencari program acara TV yang menarik baginya. Sedangkan Sehun hanya menghela nafasnya pasrah. Seohyun selalu sulit untuk dinasehati, dia terlampau keras kepala.

“Eh, noona…tunggu, kembali ke channel yang sebelumnya.”

“Mwo?”

“Berita yang tadi, palli..”

“Aisshhh, ne ne..” Seohyun pun memindahkan channel TV yang mempertontonkan berita terbaru seputar dunia politik dan kriminal.

“Ini yang kau maksud?”

“Ne, tunggu sebentar..” ucap Sehun sambil menatap ke arah layar kaca yang kini terpampang di hadapannya.

Dan… Inilah foto desertir Cho Kyuhyun.

“Mwo? Apa yang terjadi?” tanya Seohyun.

“Di koran pagi diberitakan bahwa ada seorang pembunuh yang berhasil meloloskan diri ketika hendak diborgol.” Jawab Sehun dengan matanya yang masih mengarah ke layar TV. Seohyun hanya menggedikkan bahunya tak peduli. Dia tidak terlalu antusias dengan berita seperti itu.

Desertir Cho ini diduga sebagai pelaku pembunuhan terhadap seorang gadis pada dini hari, tiga hari yang lalu.

 

Melihat motif kejahatannya yang bersifat tidak wajar, antara lain memotong rambut korban, maka… Aparat polisi menghimbau agar masyarakat setempat lebih waspada.

“Mengerikan sekali, noona..kau juga harus hati-hati dengan orang seperti itu..”

“Lho, noona? Eodiseoyo?” Sehun mencari-cari sosok Seohyun di kamarnya, namun dia tidak menemukan gadis itu sama sekali. Dia berpikir mungkin saja Seohyun sedang keluar tanpa sepengetahuannya dan bergabung dengan keluarganya di sana. Karena ini sudah terlalu malam, Sehun pun mengantuk sampai akhirnya dia tertidur di atas ranjang milik Seohyun.

***

“Hmm.. akhirnya pikiranku menjadi segar kembali.”

Tanpa disadari keluarganya di rumah, Seohyun pergi ke sebuah diskotik yang terletak di pusat kota. Dia memang sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya ke diskotik. Tapi dia juga bukan termasuk orang-orang atau remaja nakal yang sembarangan memilih diskotik dewasa. Seohyun hanya pergi untuk mencari kesenangan lewat tariannya yang dipadukan dengan irama musik dari sang DJ. Baru setelah itu dia puas dan pulang ke rumahnya. Walau pun itu menghabiskan waktu yang panjang dan mendekati waktu tengah malam.

“Seohyun, kau mau pulang sekarang?” panggil Yoona, salah satu teman yang paling dekat dengan Seohyun.

“Ne, ini sudah malam. Aku takut pintu rumah dikunci sebelum masuk.” Balas Seohyun sambil melambaikan tangannya mendekati pintu keluar.

“Baiklah, hati-hati…” ucap Yoona yang hanya dibalas anggukan oleh Seohyun.

“Jan setengah sebelas..” gumam Seohyun sambil melihat jam digital besar yang terpampang di salah satu gedung dekat diskotik.

“Kalau menerobos taman bisa naik kereta yang pukul 10.40..” lanjutnya. Dengan cepat kaki jenjangnya melangkah memasuki taman kota yang terlihat agak gelap dan sepi walau pun di sana berdiri lampu-lampu penerangan yang berjajar.

“Aigoo, sepinya..”

CRING

“Apa itu?” Seohyun menengok ke arah belakang. Tapi di sana tidak ada siapa pun yang mengikutinya. Baru saja dia mendengar sebuah suara yang mirip seperti dentingan bel atau semacamnya.

Sett..

Lagi. Seohyun pun menengok ke samping, tepatnya ke arah semak-semak yang terlihat gelap dan cukup menyeramkan. Jantungnya mulai berpacu, dengan langkah yang terburu-buru gadis itu beranjak pergi meninggalkan taman. Akan tetapi..

“Ugghhh…” Sebuah tangan besar membekapnya dari belakang. Perlahan, tangan itu menarik tubuh Seohyun untuk semakin masuk ke dalam kegelapan semak yang dilindungi malam. Seohyun sekuat tenaga berusaha meronta di balik bekapan itu namun tenaganya kalah kuat dibanding tenaga orang pemilik tangan tersebut.

“Uhmm, leupp..leuppas..kanhh…”

“Jangan macam-macam, aku tak akan berbuat apa-apa.”

“Hah?!”

Seorang pria tampan kini tengah menatapnya sendu. Ya, orang itulah yang membekap Seohyun dengan tangannya. Saat ini bahkan pria itu masih mendekap tubuh Seohyun dari belakang. Dan yang membuat Seohyun lebih takut, pria itu terlihat mengenakan borgol di tangan kanannya. Darah Seohyun berdesir kuat. Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa pria itu…

“Kkk…kau?!”

“Aku Cho Kyu Hyun.” Ucap pria itu dengan suara yang berat seolah memiliki beban berton-ton di pundaknya.

“Bub..bukankah kau…pembunuh gila yang sedang-“

“Diamlah! Jangan terlalu bersuara!” ancam pria bernama Cho Kyuhyun itu.

“SIAPA DI SANA?”

“Pak polis-“

BRUG..

“Sudah ku katakan, diam!” Kyuhyun menindih tubuh Seohyun sambil mengacungkan sebuah belati ke wajah Seohyun. Dengan sigap Seohyun pun menutup mulutnya. Dua orang polisi tengah berjaga malam itu sehingga membuat Kyuhyun cemas dan membiarkan Seohyun ditindihnya sementara kedua polisi itu mendekat. Salah seorang polisi mengarahkan senternya ke semak-semak yang menjadi tempat persembunyian Kyuhyun dan Seohyun. Akan tetapi tidak ada siapa pun di sana.

“Sepertinya tadi aku mendengar sebuah jeritan..” ucap polisi tersebut yang diangguki oleh salah satu rekannya.

“Sudahlah, mungkin itu imajinasimu saja. Lebih baik kita cari pembunuh gila itu sebelum dia kabur lebih jauh.”

“Baiklah, ayo…” Keduanya meninggalkan lokasi dan berjalan menjauhi Seohyun yang masih bertahan dari tindihan Kyuhyun yang agak menyiksa. Bau rokok bercampur minyak wangi begitu kentara di hidungnya. Rupanya lelaki itu tidak main-main, bahkan borgol yang saat ini masih melekat di pergelangan tangannya menjadi bukti bahwa dia memang benar-benar seorang pembunuh, jahat.

Tak lama, Kyuhyun pun bangun disusul Seohyun yang masih menatapnya jengah. Dia membiarkan Seohyun menghirup udara sebanyak-banyaknya karena tindihannya yang dia juga tau bahwa itu sedikit menyiksa.

“Kau…tidak apa?” tanya Kyuhyun dengan hati-hati.

“Hah?! Kau gila?!” balas Seohyun ketus.

“Maafkan aku, tapi bukan maksudku-“

“Aku tidak peduli dengan semua yang kau katakan. Aku ingin pulang!”

“Tunggu, Seo Joo Hyun!!”

“Mwo?! Dari mana kau tahu namaku?”

“Dengar, aku yakin kau pasti tau bahwa aku bukanlah orang yang bersalah dalam kasus ini.”

“Yaak! Apa maksudmu, pembunuh?”

“Kau tidak ingat wajahku??” Kyuhyun mendorong wajahnya agar lebih dekat dan terlihat jelas di mata Seohyun.

‘Apa maksudnya?’ batin Seohyun.

“Yy…yaak! Apa yang kau maksud, eoh?”

“Coba ingat…sampai-sampai aku lari dari polisi hanya untuk menunggumu di depan diskotik.” Ucap Kyuhyun sambil memperlihatkan kekhawatirannya yang begitu menuntut di mata Seohyun.

“Malam itu, yang terakhir kali bersama korban adalah aku.. Karena itulah aku dijadikan tersangka pembunuhan itu tetapi semuanya tidak benar!” lanjut Kyuhyun sedangkan Seohyun berusaha untuk mencerna apa yang baru saja didengarnya.

“Malam itu.. Pukul 24.00 tiga hari yang lalu aku berpisah dengannya, saat itulah kau keluar dari diskotik dan melihat aku yang sedang mengantarkannya sampai taksi. Aku ingin kau menjadi saksi dalam peristiwa itu.”

“Tapi…” lenguh Seohyun.

“Aku ingat betul denganmu karena bando itu. Bando berbentuk telinga kucing yang selalu kau pakai. Aku tanyakan ke diskotik, ternyata akhir-akhir ini kau sering ke sana.” Seohyun mencoba untuk mengingat-ngingat kejadian tiga hari yang lalu. Memang saat itu dia pulang dari diskotik sekitar tengah malam, tapi…

“Aku tidak ingat.” Ucap Seohyun yang hanya disuguhi senyuman remeh dari Kyuhyun.

“Baiklah, kalau begitu akan ku buat kau ingat kembali.” Kyuhyun menarik pinggang Seohyun dan mengajaknya berjalan-jalan seperti layaknya pasangan kekasih. Seohyun yang sebenarnya agak risih dengan kondisi tersebut hanya bisa menahan emosinya sambil sesekali melirik Kyuhyun yang terlihat serius dengan jalan di depannya.

‘Ck, kali ini apalagi kejadian buruk yang akan menimpaku?’ batin Seohyun.

“Um, namamu…Cho Kyu Hyun kan? Kau tidak berniat untuk menyerahkan dirimu ke polisi?”

Pletak..

“Dasar babo! Sudah ku bilang, aku bukan pelakunya!”

“Tapi…wanita yang terbunuh itu, kekasihmu?”

“Bukan. Dia hanya rekan kerjaku, aku seorang penata rambut. Malam itu kebetulan kami makan bersama.”

“Penata rambut? Cocok sekali dengan motif pembunuhan itu.” Gumam Seohyun yang masih bisa didengar oleh Kyuhyun.

“Jangan sembarangan! Tak ada hubungannya dengan pekerjaanku!”

Seohyun hanya meringis pelan. Tanpa disadari, di hadapan keduanya kini tengah berdiri seorang polisi yang sedang menilang pengguna kendaraan bermotor di pinggir jalan. Karena semakin takut dengan tindakan yang akan dilakukan Seohyun nantinya, Kyuhyun pun menarik tubuh Seohyun ke sebuah lorong yang awalnya merupakan himpitan antara rumah yang satu dengan yang lainnya. Di sana gelap. Apalagi sekarang Seohyun berada di dekapan Kyuhyun. Wajah keduanya begitu dekat, belum lagi punggung Kyuhyun yang bersandar di tembok membuat Seohyun harus memalingkan mukanya agar tidak menatap kedua mata milik Kyuhyun.

“Jangan bersuara..!” ancam Kyuhyun untuk yang kedua kalinya membuat Seohyun hanya menghela nafas pelan. Benar apa yang dikatakan Sehun, seharusnya dia lebih hati-hati dan waspada. Alhasil, malam hari begini pasti keluarganya sedang cemas memikirkan sesuatu yang negatif. Seorang gadis yang belum pulang lewat tengah malam, apa yang akan dipikirkan orang-orang tentangnya.. Untuk kedua kalinya, ini memalukan!

“Menurutku, jika kau tidak bersalah. Sebaiknya lapor saja ke polisi.” Ucap Seohyun tiba-tiba membuat Kyuhyun membelalakan matanya.

“Tak ada gunanya kalau kau tidak bisa mengingat kejadian malam itu.”

“Tapi…”

“Ssstt.. Jangan ribut!”

“Kau harus percaya pada polisi!”

Brug..

Kini giliran Seohyun yang tubuhnya bersandar di tembok karena ulah Kyuhyun. Dia terlanjur emosi kepada Seohyun karena mulutnya yang begitu cerewet. Dari luar sana, terdengar derap langkah seseorang yang mendekati. Walaupun masih jauh, bisa dipastikan itu adalah seorang polisi yang melewati lorong dimana mereka berada.

“Mau kan? Akan ku panggilkan polis.. Hmmppff…”

Gila! Ini benar-benar gila!! Kyuhyun malah mencium bibir Seohyun agar gadis itu tutup mulut. Setelah dipastikan polisi itu berjalan jauh dari lokasinya saat ini, Seohyun menampar pipi Kyuhyun dengan mata yang berkaca-kaca. Secara otomatis ciuman mereka terlepas dan menyisakan Kyuhyun dengan ekspresinya yang err…sulit untuk dijelaskan.

“Kau.. aku menyesal telah mempercayaimu!” teriak Seohyun. Dia berlari meninggalkan Kyuhyun dan memberhentikan taksi yang baru saja datang menghampirinya.

“Seohyun, tunggu!!!”

Terlambat. Taksi yang ditumpangi Seohyun telah pergi. Kyuhyun mengerang kesal sambil menjambak rambutnya sendiri. Namun, bukan Kyuhyun namanya jika tidak bisa mengejar dan memanfaatkan situasi. Pria itu menampilkan sebuah smirk di wajah tampannya hingga kemudian dia beranjak merencanakan sesuatu agar bisa menyusul Seohyun dengan cepat.

***

Sementara di sisi lain..

Seohyun menutupi mulutnya dengan kedua tangannya sambil menyandarkan kepalanya di kaca mobil.

‘Benar-benar keterlaluan!’ batin Seohyun.

Matanya menerawang keadaan sekitar sambil sesekali memperhatikan bangunan yang telah dilewatinya bersama taksi yang saat ini masih berjalan dengan santai. Taksinya melewati diskotik yang biasa dia kunjungi. Dan tanpa sengaja Seohyun melihat jam digital besar yang saat ini menunjukkan pukul 24.00..

24.00

Gelap. Di dalam pikirannya saat ini sedang beradu. Tiba-tiba saja ingatannya kembali menyusuri kejadian tiga hari yang lalu.

“Ah.. pup..pukul dua belas malam saat itu…”

Seohyun ingat ketika dia melihat seorang lelaki yang ternyata saat ini ia tahu bahwa itu adalah Cho Kyuhyun bersama seorang wanita yang hendak masuk ke dalam sebuah taksi.

Pukul dua belas tengah malam saat itu.. Setelah rekan kerja Cho Kyuhyun masuk, taksi itu segera pergi dan secara tidak sengaja melewati Seohyun yang masih berjalan sepulang dari diskotik. Dan saat itu juga, Seohyun melirik ke arah jok depan mobil yang di sana terdapat sebuah boneka. Ya…sebuah boneka.

Astaga! Seohyun ingat kejadian itu sekarang. Boneka itu, boneka itu adalah milik seorang pria menakutkan yang menyelamatkannya di toko sepulang sekolah.

Jadi…

‘Jika dugaan polisi benar bahwa tersangka pembunuh adalah orang yang terakhir kali bersama korban, maka supir taksi itulah pelakunya..’

‘Dan jika supir taksi itu adalah pemilik boneka tersebut berarti…

Orang yang saat itu menyelamatkanku, dia adalah pelakunya!!’ batin Seohyun.

‘Alasannya tepat! Peristiwa pencurian tadi siang yang menimpaku, pasti jebakannya! Dia memegang kelemahanku agar aku tutup mulut.’

Memikirkan banyak hal yang ternyata terjadi secara beruntun. Saling berkaitan dan membuat Seohyun tau siapa pelakunya saat ini. Ya..jalan satu-satunya adalah kantor polisi. Dia berencana untuk pergi ke kantor polisi dan melaporkan semua hal yang dia ketahui. Tidak ada jalan lain, hanya ini…

“Mianhae, ahjussi tolong antar saya ke kantor polisi.” Ucap Seohyun.

                                                             “Kantor polisi..?”

“Ne.. kantor polisi terdekat. Eh?!” Seohyun tanpa sengaja melihat sebuah boneka yang sangat-sangat familiar di depan jok mobil.

“Bo..boneka itu..?!! Ja..jangan-jangan..”

“Nona, ternyata malam itu kau telah melihat boneka ini juga, ya?”

DEG

DEG

Benar! Supir taksi itu menoleh ke belakang dengan wajahnya yang malah semakin menyeramkan. Ya, walau pun dia tampan tapi auranya melekat dengan kuat. Pria itu, pria yang menolongnya tadi siang dan membunuh gadis yang menjadi rekan kerja Kyuhyun sebelumnya.

Sial! Seohyun menyesal tidak mengindahkan perkataan Kyuhyun. Dia memang egois dan tidak berpikir cepat!

“Kris imnida~”

 

.

.

.

.

TBC

Wkwk tadinya mau dijadiin oneshot, tapi kayanya kepanjangan. Jadi dijadiin two aja deh ^^ sambil nunggu respon dari readers juga. Mian kalo moment Kris ama Sehunnya di sini sedikit, tapi untuk lanjutannya dipastikan melebihi skenario deh hehe. Keep comment chingudeul, gomawo!

15 tanggapan untuk “Desertir 00.00 (1)”

  1. Yak! Yak! Yak! Saya penasaran episode selanjutnya? O.o

    saya kira pelalunya kyuhyun!!! 😮 ternyata…? 😮

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s