Fate -Chanyeol Ver-

dferwtw

Cast: You and EXO-K Chanyeol

Genre: Romance

Length: Oneshot

Ini tentang cerita dimana kebetulan tidak sepenuhnya berperan

Kebetulan hanya sebagai pemanis. Tapi selebihnya takdir yang bekerja

Karena Tuhan tidak memaksakan kebetulan tanpa takdir

***

Kau membenarkan letak topi beanie berwarna merah muda yang bertengger manis di atas kepalamu. Kau kemudian menarik nafas dalam-dalam dan mengangkat wajahmu, menatap belasan pengunjung coffee shop yang sudah duduk manis menunggumu.

Kau tersenyum dan menundukkan sedikit kepalamu. Lalu tanganmu terulur mengambil gitar cokelat yang bersandar di kaki kursi yang kau duduki. Saat kau mengambil gitar itulah, belasan pasang mata menunjukkan antusiasnya dan mereka bertepuk tangan sangat meriah seolah-olah kau sudah menyelesaikan pertunjukanmu.

Sebelum memetik gitarmu, kau lebih dulu menyapa pengunjung coffee shop tersebut dan berbasa-basi sejenak. Tampaknya mereka sudah tidak sabar menunggu pertunjukanmu karena salah satu dari mereka memprovokasi yang lainnya untuk memintamu segera memainkan gitarmu.

Senyum manis terlukis di bibirmu dan kau mengangguk. Kau berdeham dan mengetuk mikrofonmu satu kali lalu mulai meletakkan jemarimu di atas gitar.

Kau memulai pertunjukan akustikmu yang selalu ditunggu pengunjung coffee shop itu. Kau memperdengarkan suara manismu juga permainan gitarmu yang apik. Perpaduan suara lembut dan permainan jazz-accousticmu telah menyihir mereka sehingga tidak ada yang bisa mereka lakukan kecuali menyimak. Kau menyilangkan kakimu dengan gitar di pangkuan. Tidak peduli sudah berapa kali kau melakukan hal yang sama, perasaan yang berdesir tidak pernah berubah. Itulah sebabnya kau menikmati pekerjaanmu sebagai penyanyi akustik di coffee shop itu.

Dari belasan pasang mata yang memperhatikanmu, ada sepasang mata yang menatapmu dari arah pandang menurutnya sendiri. Dia memperhatikanmu dengan penuh kekaguman seakan-akan kau adalah objek seni yang luar biasa indahnya. Dia tidak pernah mengedip –bola matanya seakan terpaku padamu.

Kau tidak menyadarinya karena pusat perhatianmu hanya tertuju pada permainan gitarmu saja. Tapi sepasang mata yang tidak pernah berkedip itu akhirnya mengetuk nalurimu. Kau mengangkat kepala dan tepat saat itu pandanganmu bertemu dengan sepasang mata hitam yang terus-terusan menatapmu tak peduli kau sudah balas menatapnya.

Kau mengerjap dan melemparkan senyum kecilmu. Dia tidak bereaksi, justru tatapannya seperti lebih intens mengamatimu. Bahkan ia tidak menyunggingkan senyum barang sesenti pun. Dia hanya duduk menempelkan dadanya di tepi meja dan menumpukan sikutnya.

Dia –pria itu, mengenakan jaket berwarna kaus putih bertuliskan ‘NY’ dan dipadukan dengan jaket berwarna navy blue. Matanya bulat dan ia tengah memainkan alisnya seperti sedang menilaimu. Secara keseluruhan, pria itu terlihat memiliki wajah yang mengesankan dan tidak biasa.

Kau akhirnya menyelesaikan lagumu. Suara gemuruh tepuk tangan membuatmu tersenyum gembira. Kau menaruh gitarmu di kaki kursi dan berdiri sambil membungkuk setengah kepada para penontonmu. Kemudian kau berjalan menuruni panggung dan menghilang di balik tembok yang membatasi pantry dan area pengunjung coffee shop.

Kau menyapa beberapa pelayan coffee shop yang berteman baik denganmu. Lalu tiba-tiba ponselmu berbunyi dan kau cepat-cepat mengangkat panggilan yang masuk ke ponselmu. Dari ibumu.

Dan kau menghela nafas berat. Ibumu menginginkanmu pulang cepat-cepat. Beliau berkata ada hal penting yang menunggumu di rumah. Kau sebenarnya ingin mengelak, tapi entah sudah keberapa kali kau menolak ajakan ibumu.

Beliau selalu begitu akhir-akhir ini. Kau selalu diminta pulang cepat usai kuliah. Tapi kau selalu menghindarinya. Itulah alasan mengapa kau bekerja di coffee shop, untuk menghindari ibumu yang selalu mendesakmu untuk pulang cepat. Setidaknya dengan bekerja sebagai penyanyi akustik di coffee shop, kau punya alasan untuk mengatakan ‘masih ada urusan’ kepada ibumu. Kau tidak sepenuhnya berbohong, kan?

Tapi kali ini kau akhirnya menyerah. Kau mengiyakan ajakan ibumu untuk pulang cepat. Kau memutuskan panggilan dengan ibumu disertai helaan nafas berat. Kau meraih tas selempangmu dan memasukkan ponsel secara sembarang. Kemudian kau menggantungkan tasmu di pundak dan berpamitan kepada pelayan coffee shop yang terlihat kecewa. Biasanya setelah menyelesaikan pertunjukanmu di panggung kecil tadi, kau akan berkumpul bersama pelayan-pelayan itu dan mengobrol panjang lebar. Namun kali ini kau harus pulang lebih awal.

Kau berjalan keluar coffee shop lewat pintu belakang. Kau kemudian menyusuri jalan kecil di kawasan Gangnam itu yang dipenuhi coffee shop lainnya, juga beberapa butik dan toko buku. Kau belum mencapai halte bus saat tiba-tiba satu suara mengejutkan pendengaranmu.

Kau berbalik dan mendapati pria berjaket navy blue yang tadi menontonmu di coffee shop. Pria itu memanggil namamu. Kau membeliak dan terheran-heran, bingung harus melanjutkan langkah atau menunggu pria bernavy blue itu menghampirimu.

Dia akhirnya berdiri di hadapanmu dengan nafas sedikit terengah. Kau baru sadar tinggi badannya jauh di atasku. Kau  jadi merasa kerdil dan terintimidasi dengan tinggi badannya. Dia tersenyum dan memastikan namamu. Kau terheran pada awalnya, kemudian dia menjawab bahwa salah seorang pelayan coffee shop memberitahu namamu.

Dia kemudian memperkenalkan dirinya. Namanya Park Chanyeol. Kau mengangguk-angguk tanpa mengerti apa maksud dia memperkenalkan dirinya sendiri.

Kemudian dia mulai menginterogasimu.

Dia bertanya dimana kau kuliah, jurusan apa yang kau ambil, apa hobimu, dimana rumahmu, siapa anggota keluargamu dan pertanyaan yang paling membuatmu terkejut adalah, apakah kau sudah punya pacar.

Kau merutuk dalam hati. Kenal pria ini saja tidak, bagaimana mungkin dengan lancang Park Chanyeol menanyaimu bahkan ke hal pribadi sekalipun. Kau mulai tidak nyaman dengan pria tinggi itu. Terlebih pria itu mengadakan ‘wawancara mendadak’ di tengah jalan.

Kau akhirnya bertanya apa maksudnya dia menanyaimu. Dia terkikik geli, membuatmu sedikit banyak mengira dia semacam psycho atau penguntit. Atau dia datang dari salah satu acara televisi dan kemudian menunjukkan kamera kepadamu dan menyuruhmu melambai-lambai ke kamera?

Park Chanyeol rupanya sadar wajahmu sudah tidak ramah lagi. Ia terbatuk pelan dan mengulurkan tangannya, mengajakmu berkenalan secara resmi. Hal yang selanjutnya ia lakukan sangat-sangat membuatmu tercengang.

Dia mulai bercerita tentang dirinya, apapun. Mulai dari hal umum hingga ia berkata “aku juga tidak punya kekasih, sama sepertimu, jadi kau tidak perlu khawatir.”

Kau berjengit kesal. Soal dia punya kekasih atau tidak, kau tidak merasa memiliki keterkaitan dengan hal itu. Kau akhirnya berbalik dan berjalan meninggalkannya. Kau sangat kesal sampai-sampai panggilannya kau abaikan.

Sepertinya Chanyeol menyerah karena ia akhirnya menjajari langkahmu. Chanyeol meminta maaf dan mengatakan ia tidak bermaksud seperti itu. Kau membentaknya sadis dengan kata-kata, “kau siapa? Kenapa tiba-tiba menanyaiku dan menceritakan tentang dirimu sendiri? Kau kenal aku?” dan sekian semprotan bertubi-tubi yang justru membuat pria bernama Park Chanyeol itu tersenyum geli.

Kau masih mengabaikannya bahkan saat bus yang akan kau tumpangi telah datang. Kau segera melompat naik ke dalam bus dan berharap Chanyeol tidak mengikutimu. Tapi doamu tidak dikabulkan karena saat kau menoleh, Chanyeol ternyata duduk disampingmu.

“Maumu apa?” kau berkata sengit.

Dia menaikkan alis dan menelengkan kepalanya. Dia menyebutkan namamu sekali lagi dan meminta izin untuk meminjam ponselmu. Kau menolak mentah-mentah. Dia menggeleng, mengatakan dia tidak akan melakukan hal buruk dengan ponselmu, terlebih mencurinya. Dia bahkan bersumpah kau boleh menyuruh penumpang bus untuk menghajarnya kalau dia memang berniat mencuri atau melakukan sesuatu yang tidak-tidak.

Kau akhirnya menyerahkan ponselmu dan memperhatikan gerak-gerak Chanyeol. Pria itu terlihat serius, tapi beberapa saat kemudian ia tersenyum cerah sambil menempelkan ponselnya ke telinga.

Kau belum sempat menanyakan apa yang ia lakukan saat suara beratnya terdengar mencengangkan di telingamu.

Yoboseyo, apakah ini ibunya–“ Dia menyebutkan namamu lagi.

Kalimat selanjutnya semakin membuatmu tampak bodoh dan berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

“Aku Park Chanyeol,” pria itu terdiam sejenak lalu mengangguk. “Ne, dia sedang bersamaku sekarang, eomonim. Tidak, aku tidak menjemputnya, aku hanya kebetulan bertemu dengannya dan mengajaknya pulang bersama. Ne?  Soal itu, sayangnya dia tidak mengenalku, jadi aku harus mengenalkan diriku terlebih dahulu. Tapi eomonim tenang saja, kami sudah berteman baik sekarang.”

Dahimu berkerut dalam tapi kau menahan pertanyaanmu sampai Chanyeol selesai menelpon.

“Kupikir dia adalah orang yang ramah walaupun sedikit sinis pada awalnya.”

Kau mendelik tapi dia pura-pura tidak melihat.

“Kami sedang dalam perjalanan pulang. Ne, algessemnida, eomonim. Kalau begitu, sampai nanti.” Chanyeol akhirnya menyingkirkan ponselmu dari telinganya dan tenang mengembalikan ponsel itu kepadamu.

Kau langsung menghujaninya pertanyaan bertubi-tubi dan dengan sabar ia menjawab dengan tidak terburu-buru meski ia tahu rasa penasaranmu sudah sampai ke ubun-ubun.

“Kudengar ibumu menjodohkanmu, benar begitu?” ia memulai penjelasannya dengan satu pertanyaan menohok.

“Kau tahu darimana?” tanyamu tak sabar.

“Jadi itu alasannya kau tidak langsung pulang ke rumah setelah kuliahmu selesai? Kau justru menyanyi di coffee shop? Nakal sekali.” Dia menggeleng-geleng maklum.

Kau malas menyahut apapun dan tetap menunggunya meneruskan kata-katanya.

“Kau tentu saja pernah diberitahu ibumu bahwa orang yang dijodohkannya bernama Park? ‘Tuan Park adalah seorang pengusaha dan cukup mapan’, bukan begitu yang ibumu katakan? Kau pasti mengira ‘Tuan Park’ itu adalah ahjussi berusia awal tiga puluh dengan jas dan dasi? Kau itu kebanyakan menonton serial Korea atau bagaimana? Tidak semua pengusaha berpenampilan seperti itu. Hmm, jadi itu alasanmu melarikan diri?”

“Sebenarnya kau siapa?” kau mulai kesal lagi. Apa yang dikatakan Chanyeol tentang ‘Tuan Park’ itu memang benar

Begini ceritanya. Kau sudah tahu rencana perjodohan itu sejak dua bulan lalu. Ibumu menjelaskan siapa yang dijodohkan denganmu tanpa berniat menunjukkan fotonya. Dan selama dua bulan itulah kau mengira ibumu akan menjodohkanmu dengan ahjussi berjenggot tipis yang suka bermain dengan gadis-gadis.

Karena alasan itulah kau menolak setiap ibumu mengajak untuk bertemu dengan pria bernama Tuan Park itu. Kau menghindar terus-menerus. Kau mengambil banyak mata kuliah demi mengulur waktu pulang ke rumah, bahkan rela bekerja di coffee shop agar terhindar dari ibumu.

“Akulah Tuan Park itu, Park Chanyeol. Dan asal kau tahu saja, usiaku baru 22 tahun, jadi jangan pernah menganggapku ahjussi.

Kau menganga dalam keterkejutan. Kau mengerjap beberapa kali dan memastikan Park Chanyeol bukan halusinasi atau apa. “Kau jangan berbohong,” kata-kata itu terucap dari bibirmu.

Dia menggeleng keras-keras. “Aku memang orang yang dijodohkan oleh ibumu. Aku pengusaha dan baru saja lulus dari sekolah bisnis di luar negeri. Ibumu pernah mengatakannya, kan?”

“Tuan Park adalah lulusan sekolah bisnis di luar negeri,” kau akhirnya ingat kata-kata ibumu waktu itu.

“Kalau kau tidak percaya, mari kubuktikan,” Chanyeol menarik tanganmu sehingga kau bangkit dari kursi penumpang. Kau melongok lewat jendela dan menyadari bus telah berhenti di halte dekat rumahmu.

Karena terlalu syok, kau hanya menurut dan memasrahkan tanganmu digenggam oleh tangannya.

Beberapa saat kemudian kau sampai di rumahmu dan ibumu langsung menyambutmu –ralat, menyambut kalian berdua.

“Park Chanyeol!” ibumu memeluk Chanyeol dengan senyum lebar. “Jadi kalian bertemu dimana?” tanyanya tanpa basa-basi.

“Di coffee shop. Kami tidak sengaja bertemu, sepertinya dia baru saja pulang kuliah,” Chanyeol melirikmu dan kau merasa perlu mengucapkan berterimakasih padanya karena dia tidak mengadu yang sebenarnya pada ibumu.

“Jadi kalian berdua sudah saling kenal? Ah, bagaimana kalau mengobrolnya di dalam saja?” ibumu menggiring kalian berdua masuk. Setelah berbasa-basi sedikit, ibumu meninggalkanmu dan Chanyeol.

“Sebelumnya, aku harus berterimakasih padamu untuk tidak mengadukan apa yang kau lihat sebenarnya di coffee shop pada ibuku,” kau akhirnya bersuara setelah beberapa menit kalian bungkam.

“Bukan masalah,” Chanyeol mengangkat bahu.

“Sekarang, aku menagih hutangmu untuk bercerita.”

Chanyeol tertawa singkat, seakan-akan apa yang akan diceritakannya bukan hal yang penting. “Aku sudah tahu banyak tentang dirimu. Beberapa kali aku mengunjungi rumahmu dan kau selalu tidak ada. Jadi aku hanya berbincang dengan ibumu.”

“Aku bertemu ibumu saat beliau menghadiri peresmian outlet terbaruku. Beliau menghampiriku dan menginterogasiku macam-macam. Kemudian pada akhirnya dia bermaksud menjodohkanku dengan putrinya, yang tentu saja adalah kau.

“Aku mengiyakan dengan cepat entah karena alasan apa. Umurku memang terlalu muda untuk diikutkan dalam perjodohan seperti ini, tapi aku merasa tidak ada masalah dengan itu. Mulai sejak aku mengiyakannya, aku rutin mengunjungi rumahmu.”

“Ibumu selalu mengatakan kau berada di kampus, di perpustakaan umum, di rumah temanmu, atau dimana saja. Diam-diam aku menyimpulkan bahwa kau tidak suka dengan perjodohan ini dan berusaha menghindarinya. Jadi aku mengerti, suatu saat nanti, jika aku bertemu denganmu, aku menerima apapun keputusanmu.”

Chanyeol menjeda untuk beberapa detik lamanya sampai akhirnya ia menarik nafas lagi. “Ibumu memberiku banyak fotomu dan beliau menyuruhku untuk menjemputmu di kampus. Dua minggu lalu aku akhirnya menyanggupinya. Aku pergi ke kampusmu dan menanyakan namamu pada salah sesesorang yang keluar dari fakultas yang sama dengan jurusanmu. Dia mengenalmu dan menunjukkan sosokmu padaku.”

“Aku langsung tahu bahwa itu adalah kau, dan aku memutuskan untuk menguntitmu…sampai hari ini.”

“Jadi dua minggu ini kau menguntitku?” kau terbelalak tidak percaya.

Chanyeol mengangguk. “Kupikir sepertinya sulit menunjukkan diriku langsung di depanmu, jadi aku menunggu sampai saat yang tepat.”

Kau menggeleng-geleng tidak paham. Semua kejutan ini terlalu membuatmu heran sampai-sampai kau percaya tidak percaya dengan apa yang Chanyeol ceritakan.

“Dan baru hari ini aku berani menunjukkan diriku di hadapanmu. Kukira kau tahu wajahku, tapi ternyata tidak. Jadi aku harus mengenalkan diriku dan menceritakan sedikit tentangku mengingat –yah kau tahu, kita dijodohkan.”

Chanyeol menarik nafas dan wajahnya seketika terlihat lesu. Kau sampai menahan nafas takut-takut ia akan mengatakan sesuatu yang buruk.

“Jadi bagaimana? Kau menyetujui perjodohan ini atau…” kalimatnya menggantung.

Kau menunduk, tidak bisa memungkiri kenyataan yang baru saja melintas di kepalamu. Kau sudah terpesona pada Chanyeol jauh sebelum pria itu mengenalkan dirinya. Chanyeol sudah menarik perhatianmu saat kau sedang bernyanyi di coffee shop tadi. Diantara belasan pasang mata yang menatapmu, hanya tatapan Chanyeol yang membuatmu nyaman. Dia menatapmu seakan-akan kau terlalu berharga dan sulit untuk dilewatkan. Bahkan kalau boleh mengaku, kau nyaris berharap melihat Chanyeol lagi di keesokan harinya.

Kau merutuki dirimu sendiri, merasa kampungan. Bagaimana mungkin kau jatuh dalam pesona tatapan mata?

Kau menggigit bibir dan bersiap menjawab pertanyaan Chanyeol. Kau menarik nafas dan mengangguk-angguk kecil. “Apa salahnya kalau perjodohan ini dilanjutkan? Aku tidak tahu bagaimana nantinya, tapi kurasa aku harus mengenalmu lebih jauh.”

“Jadi kau tidak menolaknya?” Chanyeol mengangkat alis.

Kau menggembungkan pipimu dan tersenyum simpul. “Lihat saja nanti.”

Perjodohan ini memang bukan kemauanmu, tapi kau merasa bersyukur karena perkiraanmu selama ini ternyata salah besar. Park Chanyeol kelihatannya adalah pria baik dan menyenangkan.

Rasanya terlalu indah kalau hanya disebut ‘kebetulan’. Jadi kau menganggapnya takdir yang sudah digariskan telak dalam hidupmu.

***

fin

 

11 tanggapan untuk “Fate -Chanyeol Ver-”

  1. keren thor..tapi penampilan chanyeol yg sekarang malah kayak pelajar SMA cz lebih muda dgn black hair upnya hahaha. Mudah juga dipahaminya isi cerita cz nga berbelit belit,, banyakin ff Chanyeolnya yah cz mulai bosen dengan ff Baekhyun Sehun Kai yg lebih bejibun 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s