All Kill (one)

All Kill– Pria yang Sempurna (Two shoot)

Author:                momo_Wu

Genre:                 Romance

Rating:                 General

Cast:                     Kris, EXO

Out cast:          Yoon Eun sa

all kill

“Pria ini adalah tipe all kill.”

Kata-kata itulah yang langsung keluar dari benak Eun sa begitu melihat seorang pria keluar dari gate kedatangan internasional Incheon airport, bahkan sebelum ia sendiri paham apa maksud kata-kata itu. Seolah-olah, wajah pria yang bergaris tegas itu yang menuliskannya. Mata Eun sa mencoba untuk tidak tertarik dan berpura-pura serius memperhatikan orang-orang yang keluar dari sana. Namun tetap saja manik matanya tidak bisa menghindari gerak-gerik pria berjaket putih itu.

Setelah pria itu sudah membaur dengan banyak orang pun, seperti kucing yang bisa melihat dalam kegelapan, mata Eun sa tetap bisa menangkap lokasi pria itu berdiri. Rasanya, seperti semua objek di sekitarnya diedit menggunakan program photoshop dan dibuat seolah blur.

Oke, aku sudah mulai berfatamorgana.” Pikir Eun sa ketika pria itu kini sempurna berdiri di hadapannya dan menatapnya marah, tinggi pria itu mencapai papan nama yang Eun sa siapkan untuk menjemput salah satu artis milik perusahaan ayahnya yang akan tiba dari Guangzhou,China.

“Kamu, apakah aku yang harus mencarimu selama berjam-jam? Kenapa kamu hanya berdiri di sini tanpa berusaha bergerak ke arah gate itu, ha?!” suara pelan mengintimidasi pria itu membangunkan Eun sa dalam kenyataan yang, menjengkelkan.

“Maaf, anda kenapa tiba-tiba marah kepada orang yang tidak anda kenal?” balas Eun sa tak kalah sengit. Apa maksud pria ini coba?

“Oh, kalau begitu untuk apa anda berdiri di sini membawa papan nama bertuliskan KRIS WU? Ayo jawab, agar kita tidak memiliki kesalahpahaman lagi lain kali.”

Eun sa cepat-cepat membalik papan nama dan hanya bisa melongo parah.

 

 

Eun sa melirik kesal pada pria yang kini berada di sampingnya, yang dengan dingin meminta kunci mobil padanya, berniat menyetir mobil itu sendiri. Eun sa yang awalnya tidak mengerti apa maksud pria itu dengan polosnya menyodorkan kunci.

Bukan, yang menyebalkan itu bukan karena ia membuat wajah yang jahat atau bagaimana. Tapi justru karena ia merasa tidak perlu menunjukkan ekspresi apapun. Eun sa menghela nafas berat untuk kesekian kalinya.

“Berhenti menghela nafas seperti itu, itu membuatku jengkel.” Tiba-tiba patung tampan yang berada di kursi kemudi itu membuka suara untuk pertama kalinya sejak setengah jam perjalanan yang lalu. Eun sa terperangah tak percaya.

Sekarang ia mulai mengatur caraku bernafas?!?!”

Mobil berhenti tepat di depan sebuah gedung megah bertuliskan SM, perusahaan, atau lebih tepatnya salah satu agensi terbesar di Korea Selatan yang tidak membutuhkan bantuan dari pemerintahan Seoul. Itu adalah perusahaan tempat ayah Eun sa bekerja.

Sesungguhnya Eun sa tidak tahu menahu akan perjalanan agensi ini, yang merupakan tempat ayahnya bekerja sekarang sebagai salah satu staff tinggi. Karena sudah beberapa tahun ini ia terisolasi di Saxion University di Belanda, mempelajari banyak hal tentang manajemen dan anak-anaknya yang sesungguhnya tidak begitu ia sukai.

Sehingga kini ia lebih fokus pada pekerjaannya sebagai translator dan editor mancanegara yang cukup diminati. Karena selain kemampuan menulisnya, kemampuan bahasanya yang banyak itu, enam bahasa, patut diacungi jempol.

“Kamu mau turun atau tidak?”

Lagi-lagi…

Tanpa berbicara apapun, Eun sa turun dari mobilnya sendiri dan segera masuk ke dalam gedung. Di sana ia disambut oleh Chanyeol yang seperti biasa, tersenyum lebar, seolah baru saja memenangkan undian.

“Eun sa ssi! Selamat dataang!”

Eun sa yang merasa baru saja mengalami hari terburuk sedunia langsung merasa disiram oleh air tersegar.

“Chanyeolssi! Apa kabar?” balas Eun sa tak kalah ceria. Mereka cukup dikenal sebagai sepasang kelinci energizer yang tak pernah kehabisan baterai. Awalnya Eun sa tak mengenal Chanyeol, ataupun Lay, Luhan, Kai dan beberapa kumpulan pria yang baru ia temui seminggu yang lalu, hari kepulangannya dari Belanda. Namun dengan sabar mereka menjelaskan secara singkat bahwa mereka adalah rookie group yang dibentuk oleh SM. Dan, walaupun belum paham sepenuhnya, Eun sa hanya mengangguk serius.

“Ah! Kris hyung! Bagaimana perjalananmu?” Chanyeol yang baru menyadari Kris memasuki ruangan sambil menyeret koper langsung menyapanya juga. Kris hanya melirik sepintas ke arah Chanyeol dan Eun sa, lalu membalas pendek,

“Menyebalkan.”

Chanyeol dan Eun sa saling berpandangan hingga suara langkah kaki Kris menghilang di ruangan sebelah. Dalam pikiran Chanyeol, seharusnya suasana hati kris cerah karena ia  baru kembali dari kampung halamannya.

“Ya, chanyeol-a, kamu kenal orang itu siapa? Menjengkelkan sekali dia.” Ujar Eun sa mengeluarkan kejengkelan hatinya. Chanyeol yang masih terperangah dengan reaksi Kris tadi berpindah menatap Eun sa bingung.

“Benarkah? Dia itu leader EXO M.”

“Ayah! Apa-apaan ini?” seru Eun sa tepat ketika ia membuka ruang kerja ayahnya. Di luar dugaan, yang menatapnya saat itu bukan hanya ayahnya, namun makhluk yang ia baru ketahui bernama Kris itu. Terlanjur malu, Eun sa mengangkat dagunya dan melanjutkan protesnya yang tadi sempat terputus.

“Ayah! Kenapa aku harus menjadi penerjemah untuk grup ini? Apa namanya ini-“ Eun sa membaca sebentar surat tugas itu–“EXO, ya, EXO. Apa maksudnya ini ayah? Bukankah ayah sudah tau kalau jadwalku untuk tahun ini sudah penuh.” Eun sa menurunkan suaranya dengan agak memelas.

Ayahnya menatap dengan mata memohon.

“Ayolah Eun sa-ku. Mereka akan melakukan world tour bulan depan, keliling Eropa. Sedangkan penerjemah resmi yang mengerti banyak bahasa belum ada.”

“Tetap saja yah, aku sudah memiliki banya—“

“Sudah berhenti saja, tidak usah sok jual mahal.” Sela manusia yang dari tadi hanya berdiri sebagai penonton itu. Eun sa terpaku berharap ia salah dengar, yang tentu saja tidak mungkin.

“Apa maksudmu?!” Tantang Eun sa merasa tersinggung dengan selaan Kris.

“Ya, kau tidak perlu membentak ayahmu seperti itu. Bukan hanya kau saja penerjemah yang terbaik di dunia ini. Karena ayahmu mempercayaimu makanya kau dijadikan sebagai pilihan pertama, bukankah begitu?” Jawab Kris tenang, namun terdengar sinis di telinga Eun sa.

Merasa seolah ia yang menjadi tokoh antagonis di ruangan itu, ditambah lagi dengan ayahnya yang hanya menatap mereka bingung, kepala Eun sa menjadi panas tak terkendali.

“Oke! Aku lakukan!” lalu ia keluar dan tak lupa membanting pintu lagi,

Lebih keras dari sebelumnya tentu saja.

“Kau sungguh-sungguh jadi ikut bersama kami, Eun sa ssi?” Tanya Baekhyun ceria. Ia seolah sudah membayangkan sebuah perjalanan yang menyenangkan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju bandara yang akan membawa mereka ke negara yang paling romantis sedunia, Paris.

“Ya, berterima kasihlah kepada duizhang-mu yang menyebalkan itu!”

Jawaban yang sengit itu membuat Baekhyun kaget dan menatap bingung ke arah Kris dan Eun sa. Mereka berdua ini tidak pernah terlihat berbicara sebelumnya, namun kenapa mereka seolah terlahir sebagai musuh abadi?

Sedangkan yang sedang ditatap tajam oleh Eun sa dari jok tengah mobil hanya duduk tenang di bangku paling depan sambil menatap ke luar jendela. Membuat kepala Eun sa berdenyut kesal.

“Kenapa kau berdiri sejauh itu? Acara wawancara akan di mulai sebentar lagi. Dan seharusnya kau berdiri di belakangku, kan? Bukan di belakang Lay. Kau mau makan gaji buta?” Lagi-lagi ia harus mendengar ucapan sinis dari pria yang tingginya hampir tiga kaki itu. Anehnya, entah kenapa setiap ucapan pedas pria itu tidak pernah bisa Eun sa balas. Padahal ia terkenal sebagai gadis tercerewet di planet ini.

Dengan malas-malasan ia mendekat ke arah Kris dan merengut. Kesal pada dirinya yang mendadak jadi patuh seperti ini. Chanyeol, partner in crime-nya hanya bisa menatap prihatin, namun sempat-sempatnya nyengir.

Tanpa sengaja, kakinya menginjak ujung celana cutbray-nya yang lumayan panjang. Seolah pasrah untuk jatuh, Eun sa menutup mata dan menunggu rasa dingin panggung tempat acara live interview ber;angsung itu mengenai kulitnya. Namun, hingga beberapa detik yang terasa lama, ia justru merasakan hangatnya jas dan kulit sesorang, juga ia bisa-bisanya menikmati aroma tubuh yang terkesan tajam namun wangi di indra penciumannya itu.

“Ayo buka matamu.” Bisik seseorang tak sabar di kupingnya. Eun sa membuka mata dan menemukan hidungnya hampir bersentuhan dengan hidung Kris, mereka bertatapan. Spontan Eun sa mundur dan mengambil jarak dari hadapan Kris, namun tangannya tetap ditahan oleh orang itu, karena jelas-jelas Eun sa masih terhuyung.

Ia merasakan semua mata memandang mereka, namun Eun sa tidak perduli dan melepaskan tangan Kris kasar. Mengagetkan Kris yang masih menatapnya.

“Lain kali hati-hati.” Ujar Kris setelah berbalik lagi ke arah depan, membelakangi Eun sa. Menolak menatap Eun sa lagi yang masih bingung dengan apa yang terjadi.

bersambung…

12 tanggapan untuk “All Kill (one)”

  1. tata bahasanya bagus, jadi alurnya gampang dimengerti 😀 suka banget sama konfliknya dan kris bener-bener cocok meranin tokoh ini hahaha~
    apalagi yang adegan berdua-duaan di stage, He’s just too sweeeet
    give me the last part, author-nim ! 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s