Good Friend (1) [REPOST]

Author: Audia Julia

Cast: Do Kyungsoo (D.O) as Kyungsoo

Kim Jongin (Kai) as Kai

Dan cast lainnya yang tidak bisa disebutkan (????)

Genre: friendship

Length: oneshoot, chaptered

Rating: General

NB : Loha, saya author baru. Baru ngepost di sini .__.

ini repost dari blog saya: http://ppanyhwanggie.wordpress.com/2013/03/17/good-friends/ 😀

Mohon maaf kalo ceritanya gaje ._.v

Happy reading ^^

D.O POV

Namaku Do Kyungsoo. Aku hanya seorang mahasiswa di Seoul University.

apa aku kurang ramah?

Mungkin begitu. Orang-orang mengenalku sebagai mahasiswa yang terlalu acuh, kurang ramah, pendiam, tapi itu hanya di kampus. Di rumah, aku menjadi orang yang menyenangkan dan mudah bergaul. Tidak acuh dan ceria. Padahal, aku ingin keadaanku di rumah dan di kampus sama rata. Faktor apa yang membuatku menjadi seperti ini?

Aku sama seperti author, dia pendiam di sekolah tapi suaranya sering keluar di rumah, dan di internet–selain teman-temannya, dia selalu berkomentar panjang-lebar. Dia mengikuti grup roleplay di facebook. Kupikir, dia dijauhi teman-teman sekelasnya.

Dicoret. Itu tidak terlalu penting.

Kalau kalian menyinggung soal pertemananku, sebenarnya aku sama sekali tidak punya teman. Tidak ada yang mau sekedar menyapa “hai” untukku, tapi aku tidak peduli. Temanku hanya perpustakaan kampus, toko buku, pertandingan olahraga (Author: maap, aneh, ya? ._.v) buku novel, buku sejarah, dan adik perempuan, saudara dan sepupu, keluarga besar, serta orang tuaku. Aku tidak pantas dicap sebagai “forever alone“, bukan?

“Besok, liburan musim panas,” ujar Ren“Kau mau kemana?”

Ki-Joon, lawan bicaranya, menatap langit-langit kelas sejenak, sebelum akhirnya memamerkan senyuman lebar khasnya beserta eye-smile, “Aku ke rumah nenekku di desa. Aku merindukannya setelah bertahun-tahun tidak kerumahnya. Akan kubicarakan dengan orangtuaku,” jawabnya. “Kau bagaimana?”

Ren hanya tersenyum memandang Ki-Joon, “Aku sama sekali tidak mempunyai tujuan liburan. Tapi, aku yakin ayahku mempunyai rencana khusus selama musim panas. Bukannya berdiam diri di kamar sambil melakukan hal-hal yang membosankan, seperti Kyungsoo.” Ki-Joon mengangguk mengiakan.

Aku yang sedang membaca buku novel yang baru kupinjam di perpustakaan, langsung menengadahkan kepalaku. Ren dan Ki-Joon melakukan pembicaraan tak penting di depanku. Libur musim panas menjadi topik yang paling dibicarakan di kelas, tapi aku sama sekali tidak tertarik. Satu-satunya yang membuatku tertarik hanyalah berjam-jam di perpustakaan atau toko buku, ditambah jalan-jalan santai dengan keluargaku. Walaupun aku anti-sosial di kampus, tapi aku sangat menyayangi keluargaku.

Jadi, mereka bilang aku melakukan hal-hal yang membosankan di luar kepala? Aku meremas-remas kain celanaku saking kesalnya. Sekarang, aku malas untuk berbicara.

“Tidak usah pedulikan, biarkan saja dia sibuk dengan dunianya sendiri,” ujar Ki-Joon. “Dia tertarik bermain sepak bola atau sekedar mengikuti kegiatan di kampus. Yang dia tahu hanya buku.”

Aku tersenyum kecil.

“Kamu membelanya?”

“Tidak, hanya mengutarakan yang sebenarnya,” ujar Ki-Joon. “Ren, kita pindah tempat ‘pembicaraan’,” ujar Ki-Joon sambil menyeret tangan Ren.

Aku yang melihatnya hanya terdiam. Ralat sedikit, walaupun aku orangnya anti-sosial di kampus, tapi sungguh, di dalam lubuk hati yang paling dalam, aku ingin ada yang menyapaku, meskipun hanya kata “hai” sekalipun. Aku baru merasakan hal itu ketika 3 hari yang lalu, satu-satunya kata yang terlintas di kepalaku adalah… IRI.

Aku menghela napas, kemudian menutup buku.

“Aku pulang~” aku membuka pintu perlahan. Hari ini, aku pulang 25 menit lebih awal. Tentu saja, setelah tugas-tugas kuliahku sudah beres. Aku hanya memikirkan liburan musim panas yang akan tiba besok.

“Oh, selamat datang.”

Kudengar sebuah suara dari ruang tengah, aku terkejut. Aku baru sadar kalau ada seorang pemuda yang duduk di ruang tengah sambil membaca koran sambil memakan keripik. Jangan-jangan, dia….

“Hei! Kau! Apa yang kau lakukan disini?!” teriakku sambil berjalan menghampirinya. “Kau mau merampok?” tanyaku asal.

Pemuda itu menatapku dengan tatapan bingung, “Apa kau anak pemilik rumah ini?” tanyanya.

Aku mengangguk kencang, “Tentu saja!”

“Oh,” ujarnya singkat. Kemudian, dia fokus pada bacaannya.

Pemuda aneh.

“Apa yang kau lakukan disini?!” teriakku.

“Seharusnya aku yang bertanya begitu, bukan kau.”

“Kenapa kau  yang harus bertanya begitu?!”

“Karena aku tamu di rumah ini, aku sudah bertemu ayah dan ibumu, tahu.”

Aku geram. Aku memilih untuk diam dan kembali ke kamar daripada melayani pemuda aneh ini, aku bingung dengan semua perkataannya tadi. Siapa dia?

Author POV

Pemuda itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Kai, hanya menatap kesal Kyungsoo yang tengah mendaki tangga menuju kamarnya. Dia sangat malas untuk “berperang”, dia hanya menganggap semua hanya pembicaraan normal, hanya Kyungsoo yang nada bicaranya dinaikkan, sehinga terdengar seperti “berperang”.

Kai, dia adalah anak dari paman dan bibi Kyungsoo dari pihak ibunya yang bermukim di New York, Amerika Serikat. Tampaknya, Kyungsoo tidak sadar–atau belum mengetahui–jika dia mempunyai saudara sepupu yang bermukim di New York. Kai dan ayah-ibunya tinggal disana selama  orang tua Kai bekerja di New York dan Kai menyelesaikan kuliahnya. Tentu saja, mereka pulang ke Seoul saat liburan musim panas dan musim dingin.

Kai sendiri juga tidak mengetahui tentang Kyungsoo, yang dia ketahui hanya keluarganya. Kai mempunyai tabiat dingin tapi terbuka, baik di kampus maupun di lingkungan keluarganya. Kai kebalikan dari Kyungsoo, dia tidak menyukai buku, tapi dia menyukai koran dan opini yang ditulis disitu (aneh juga, ya?). Kai sangat menyukai opini, dia bahkan pernah mengirim opini ke sebuah surat kabar terkemuka di Korea Selatan. Hasilnya? Opininya dimuat beberapa kali di surat kabar, bahkan banyak tawaran menulis opini kepadanya.

Kai menutup korannya, dimasukannya ke dalam tas ranselnya. Orang tua Kai keluar bersama orang tua Kyungsoo, mereka berkeliling Seoul. Jadilah, Kai hanya sendiri di rumah Kyungsoo. Dia sangat bosan, bahkan kebosanannya bertambah begitu dipergoki oleh seorang pemuda yang–menurutnya–aneh tersebut.

Kyungsoo turun dari kamarnya, dia menatap tajam Kai. Kai tidak mempedulikannya, dia segera menekan tombol “on” (?) pada remote TV.

“Kau lapar?” tanya Kyungsoo dengan nada sedikit ketus. “Aku mau ke dapur, karena kau tamu, aku tidak tega melihatmu mati kelaparan.”

Kai tersenyum sinis. “Tidak lucu,” ujarnya.

“Hei, aku bicara kenyataan!” seru Kyungsoo. “Kau kira aku bercanda?”

“Tentu saja.”

Kyungsoo hanya menghela napas berat. “Oke, kau lapar tidak? Kuberi waktu menjawab 5 menit, dan kau harus benar-benar yakin dengan jawabanmu tersebut.” Kyungsoo berjalan menuju dapur yang terhubung dengan ruang tengah.

Kai mendengar sebuah bunyi yang berasal dari perutnya, oh tidak, aku harus makan bersama orang aneh itu? gerutunya dalam hati. Dia menatap Kyungsoo yang sedang mencari bahan untuk dimasak.

Sedikit info, Kyungsoo menjadi sedikit tidak menyenangkan jika bertemu dengan orang baru. Tapi, dia akan berubah menjadi menyenangkan jika sudah benar-benar mengenalnya.

Kai menghela napas, dia berdiri dan berjalan menuju dapur. Dilihatnya Kyungsoo, dia masih mencari bahan untuk dimasak di lemari. “Hei, kau, aku lapar.”

Kyungsoo mengernyitkan dahi, dia menatap Kai. “Kau berubah pikiran, ya?”

“Hei, aku benar-benar lapar,” ujar Kai. “Perutku sudah keroncongan! Pedulilah sedikit padaku.”

Kyungsoo terdiam, tidak mungkin dia membiarkan tamunya ini mati kelaparan. Kyungsoo mengambil sepotong ayam yang dibelinya kemarin, dia bediri dan menatap Kai.

“Akan kumasakkan,” ujarnya singkat.

Kai dengan terpaksa mengulum senyum, itu pun juga tidak ikhlas.

“Tapi, dengan satu syarat.”

Kai menatap Kyungsoo dengan tatapan geram. APA? JADI, UNTUK MAKAN SAJA HARUS PAKAI SYARAT?! gerutunya dalam hati. Dia menghela napas. “Oke, apa yang harus kuperbuat agar aku bisa makan tenang di meja makan? Aku sudah kelaparan, bodoh.”

Kyungsoo tertawa kecil, “Tentu syaratnya tidak berat. Simpel saja.”

“Apa?”

“Bantu aku memasak.”

Kai tidak mempunyai pilihan lagi selain mengatakan “ya”, jika tidak, dia harus berjalan kaki ke restoran yang dianggap “dekat” dari rumah ini–restoran yang jaraknya 500 meter dari rumah ini.

Kai tidak bisa memasak, bahkan ketika tes memasak saat di sekolah dasar dan SMP, nilai tesnya selalu C. Sejak awal, dia tidak mempunyai minat pada kegiatan ini. Ketika di New York, Kai–yang tinggal terpisah dengan orang tuannya–mengandalkan teman wanitanya untuk memasak.

“Minyaknya tidak usah banyak-banyak, cukup segitu saja,” ujar Kyungsoo ketika Kai menuangkan minyak. “Oke, menjauh sedikit. Adegan yang sedikit berbahaya.”

Kai menjauh sedikit, Kyungsoo mengambil potongan ayam yang sudah dipotong dadu dan dilumuri tepung olehnya sebelumnya, dimasukkannya potongan ayam itu ke dalam panci yang sudah berisikan minyak.

“Bantu aku menggorengnya,” kata Kyungsoo.

Mata Kai terbelalak. “Tapi, nanti ….”

“Tenang, kau tidak akan kecipratan minyak, kok,” ujar Kyungsoo.

“Tapi….”

“Tanpa alasan! Cepat bantu aku jika kau ingin makan!”

Kai memasang tampang “-_-”-nya. Dia bergantian dengan Kyungsoo untuk menggoreng ayam. Dua kali mencoba, dia berkali-kali mundur karena dia sedikit terkena cipratan minyak. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Kyungsoo hanya menggeleng-gelengkan kepala melihatnya.

“Kau tidak bisa memasak, ya?”

Kai menunduk. Tepat sekali.

“Bilang saja tidak bisa memasak sejak awal, kalau begitu kau hanya tinggal mempersiapkan piring, sendok, dan garpu beserta gelas,” ujar Kyungsoo. Kai nyengir. “Oke, persyaratan diubah. Siapkan peralatan makan.”

Kai tersenyum, kini senyumannya berubah menjadi senyuman tulus–tentu saja, dia sangat senang karena terbebas dari kegiatan “masak-memasak”.

“Oke, kurang dari 5 menit, semuanya sudah siap,” kata Kai.

“Baiklah… aku percaya denganmu,” kata Kyungsoo sambil terus menggoreng masakannya.

Kai segera keluar dari dapur, dia segera meletakkan dua piring, dua sendok dan garpu, beserta dua gelas di meja makan. Kurang dari 5 menit, Kai sudah selesai dengan pekerjaannya. Kai memang sangat “dekat” dengan peralatan makan, dulu saat usianya masih 7 tahun, dia pernah menata peralatan makan untuk keluarganya dalam kecepatan kurang dari 7 menit, bahkan “rekor”-nya dalam menata peralatan makan adalah 2 menit 13 detik, yang dipecahkan ketika dia berusia 11 tahun. Kini, waktunya adalah 3 menit 27 detik. Fantastis (kalau begini sih, si Kai mendingan jadi maling…).

Dia duduk di meja makan, bau masakan Kyungsoo sudah tercium dari ruang makan. Lima menit lagi, Kyungsoo sudah selesai dengan masakannya.

Kai POV

Ternyata, pemuda ituwalaupun awalnya sangat menyebalkan dan tidak menyenangkan, ketika mengenalnya, dia berubah menjadi pribadi yang menyenangkan. Ternyata, dia sangat dingin dan tidak menyebalkan ketika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya. Kini, kami saling mengenal: nama maupun sifat masing-masing.

“Belajarlah memasak,” saran Kyungsoo, nama pemuda yang semula kuanggap aneh itu. Aku menggeleng kuat, itu membuat Kyungsoo bingung. “Mengapa?”

“Memasak bukan minatku,” ujarku. “Minatku hanya menulis opini, bukannya aku bermaksud sombong, tapi… opiniku sudah berkali-kali dimuat dalam surat kabar terkemuka di Korea Selatan.”

“Itu bagus,” ujar Kyungsoo. “Kalau kau mau, kau bisa membaca kumpulan buku cara membuat opini–itu mungkin membuat opinimu semakin disukai masyarakat luas.”

Aku tersenyum.

“Terima kasih atas usulannya.”

Kyungsoo membalas senyumanku, “Ya, sama-sama.”

“Hei, masakanmu enak juga,” kataku yang tanpa sadar sudah menghabiskan masakan Kyungsoo selama berbicara. “Karena terlalu enak, jadi aku tidak sadar. Belajar memasak darimana?”

“Ibuku yang mengajariku,” jawab Kyungsoo. “Aku diajari memasak karena aku tertarik ketika melihat ibuku memasak di dapur, aku beranggapan jika semua orang di dunia ini wajib memasak. Makanya, aku merenggek-renggek kepada ibuku dan mengancam tidak keluar kamar selama seminggu penuh jika tidak diajarkan memasak. Tentu saja, ibuku dengan santainya menyetujuinya.”

Aku tertawa mendengarnya.

Kini, kami berada di kamar Kyungsoo. Kamarnya penuh  kertas yang bertuliskan harapannya yang ditempel di dinding kamar, poster beberapa pemain sepak bola, rak buku, sebuah komputer, wi-fi, dan… masih banyak hal-hal menarik di kamar Kyungsoo.

“Apa disini ada Play Station?” tanyaku sambil terus melihat seisi ruangan. Sekedar informasi, aku adalah seorang gamers addict. Semua game sudah kucoba, bahkan game di Nokia keluaran lama sudah kucoba semuanya (?).

“Tentu saja ada, tapi benda itu kukeluarkan saat hari Sabtu, Minggu, dan hari libur,” ujar Kyungsoo sambil mengeluarkan sesuatu dari bagian bawah rak bukunya. Play station. “Tapi, aku tidak akan memainkan benda ini. Karena, aku akan menghabiskan waktuku di toko buku untuk membeli buku-buku terbitan baru.”

“Ah, aku butuh ‘referensi’ untuk membuat opini… sebuah surat kabar di Amerika menginginkanku untuk mengisi satu halaman penuh koran mereka dengan opiniku. Temanya bebas, tapi mereka menginginkan karyaku ‘lebih dari yang lain’,” ucapku. Sebelumnya, Kyungsoo juga sudah kuberitahu soal “keberadaanku” di Amerika. Dan, Kyungsoo berkomentar panjang, lebar, dan heboh,

“BENARKAH?! KAU KULIAH DI AMERIKA?! APA KAU MELIHAT PERTANDINGAN SEPAK BOLA DISANA?! APA SEPAK BOLA SAMA POPULERNYA DENGAN FOOTBALL AMERICA?! APA KAU MENGUNJUNGI PATUNG LIBERTY?! CERITAKAN PADAKU TENTANG PENGALAMANMU DISANA!!!”

Hahaha, dia ternyata maniak Amerika (?) juga.

“Aku punya banyak buku tentang opini,” kata Kyungsoo. “Ambillah salah satu, mungkin bisa membantu.”

Aku “menghampiri” rak buku Kyungsoo. Sepertinya, rak bukunya sebelas-dua belas dengan rak buku di perpustakaan kampusku. Mataku tak bisa tak berhenti terbelalak, semua buku yang kucari tentang opini yang tidak kutemukan di perpustakaan ada disini!

“Kyungsoo-ya… darimana kau dapat buku-buku ini?!” tanyaku dengan nada sedikit menekankan.

“Aku membelinya di toko buku langgananku, awal-awal aku menjadi mahasiswa, aku sangat gemar menulis opini sebelum berhenti beberapa bulan kemudian. Saking gemarnya waktu itu, aku sampai menyisihkan uangku hanya untuk membeli semua buku-buku itu. Pada akhirnya, itu berguna… untukmu,” kata Kyungsoo sambil mengatur play station-nya, matanya tak lepas dari itu. “Kau boleh mengambil semuanya untuk kau bawa pulang.”

“Maksudnya?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi.

Kyungsoo menghela napas, kemudian menatapku, “Maksudnya, pindah hak ‘kepemilikan’.”

Aku mengernyitkan dahi, aku sama sekali belum mengerti.

“Pindah hak ‘kepemilikan’?”

Kyungsoo menatapku dengan tatapan “-_-”. “Maksudnya, buku itu sudah jadi milikmu. Kau boleh mengambil beberapa atau semua, semua buku itu berguna untukmu.”

Mataku terbelalak. Aku sama sekali tidak bisa menerima semua buku ini, meskipun dalam hati aku sangat menginginkannya. “Maaf, Kyungsoo-ya… tapi… aku….”

“Tidak apa-apa. Kalau buku itu terus di rak bukuku, buku itu hanya menjamur atau jadi ‘pajangan’. Makanya, buku itu kuberikan saja padamu yang jago menulis opini.”

“Tapi….”

“Kim Jongin-ah, terima saja buku itu. Mau sebagian, semuanya, atau hanya satu, yang penting ambil semua buku yang berhubungan dengan ‘opini’.”

Kini tidak bisa menolak tawarannya. Tidak bisa.

“Benarkah? Boleh aku mengambil semua bu….”

“Ambil semuanya, bagian yang ‘ditinggalkan’ buku-buku itu, akan kuisi dengan buku-buku baru.”

Aku tersenyum lebar.

Sepertinya, aku harus merayakannya.

“Terima kasih atas bukunya, Kyungsoo,” kataku sambil menatapnya. Kyungsoo mengangguk.

“Ya, sama-sama. Kuharap, semua buku itu berguna untukmu,” jawab Kyungsoo. Matanya tak lepas dari layar komputer, Kyungsoo membatalkan niatnya untuk bermain play station.

Kami kini sedang duduk santai sambil memegang joystick. Kami bermain PES 2013, game sepak bola. Kami bermain dengan menggunakan tim Liga Inggris, dan tim yang kami gunakan adalah tim yang bermain semalam–Arsenal melawan Swansea City (permainan menurutku akan berjalan superseru, karena Swansea menurutku adalah tim yang sedang bangkit). Aku ‘memegang’ Arsenal dan Kyungsoo ‘memegang’ Swansea.

Dan kedudukan masih 0-0 pada menit ke-45. Bahkan, hingga babak kedua berakhir, kedudukan masih 0-0. Lini belakang kedua tim sama-sama bermain tanpa cela.

“Kyungsoo?”

Kami spontan menoleh. Pintu kamar Kyungsoo dibuka, dan seorang wanita berusia sekitar 45 tahunan terlihat dari balik pintu kamar Kyungsoo. Aku mengenalnya, dia adalah bibiku sendiri, Bibi Soyeon. Ah, sudah lama aku tidak bertemu dengan beliau!

“Ibu?” tanya Kyungsoo.

Aku terkejut mendengar kata “ibu” yang disebut oleh Kyungsoo. Ibu? Apa hubungan antara Bibi Soyeon dengan Kyungsoo?!

“Kyungsoo, kau sudah pulang?” tanya Bibi Soyeon.

Kyungsoo nyengir, “Seperti yang ibu lihat sendiri,” katanya.

“Dan, Kai, lama tidak ketemu, Nak. Bagaimana kuliahmu di New York?” tanya Bibi Soyeon kepadaku.

Aku tersenyum tipis, “Tidak buruk kok, Bi.”

Bibi Soyeon hanya tersenyum tipis.

“Bu, kenapa… Ibu bisa mengenal Kai? Padahal, aku dan dia baru pertama bertemu!” tanya Kyungsoo dengan mata membulat “O_O” kepada Bibi Soyeon.

“Astaga, Do Kyungsoo! Maaf, ibu baru memperkenalkannya sekarang pada kalian,” ujar Bibi Soyeon. Kami berdua spontan mengernyitkan dahi, memperkenalkannya sekarang? Apa maksudnya?

“Apa maksudnya ‘memperkenalkannya sekarang’?” tanyaku.

“Begini, maaf, tolong jangan terkejut atau sekedar berteriak,” kata Bibi Soyeon yang membuat kami berdua bertambah bingung. “Begini, Do Kyungsoo, Kim Jongin. Sebelumnya, aku minta maaf atas ‘keterlambatannya’, tapi ini sungguhan….”

Aku dan Kyungsoo menunggu kelanjutan kalimat dari Bibi Soyeon. Beliau menghela napas sejenak, “Kalian….”

Kami?

“Kalian berdua…,” lagi-lagi, Bibi Soyeon menghela napas. “… kalian berdua… adalah saudara-sepupu… orang tua Kai adalah saudara dariku, orang tua Kyungsoo.”

Mataku terbelalak. Kyungsoo mengeluarkan ekspresi O_O-nya (bukannya sama?).

Aku dan Kyungsoo…. saudara sepupu?

“Bibi Soyeon…,” kataku dengan mata masih terbelalak. “Bisa… ulangi… kalimat tadi…?”

Kalian berdua saudara-sepupu….”

Sejenak, kami bertatapan. APA? KENAPA AKU KAMI BARU MENGETAHUI HAL ITU SEKARANG?!

APA INI?!

To Be Contiuned~

Sekian

3 tanggapan untuk “Good Friend (1) [REPOST]”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s