( FF COMPETITION ) On Rainy Days

Title : On Rainy Days
Author : Ryeolicious
Lenght : Oneshoot
Rating : PG
Genre : Sad, Romance
Main Cast :
1. Park Sung Ra
2. Do Kyung Soo
3. Kim Jong Dae

Author’s Note : FF ini ASLI milik saya. Alur cerita berasal dari pemikiran saya sendiri.

Recommended song-nya Baek Jiyeon yang Hate, ya. Oke, readers, happy reading and don’t forget read, comment, like. I hope you like it, gomawo~

#Author’s POV#

27 Juli.
“Oppa…,”
Kyungsoo tak menoleh sedikitpun ke arah Sungra yang memanggilnya.

“Wae?” tanya Kyungsoo acuh tak acuh.
“Oppa… tidakkah kau ingin sarapan dulu bersamaku?”
“Mianhae, aku tidak bisa. Aku harus segera pergi, aku buru-buru,”
Kyungsoo pergi. Sungra hanya terdiam melihat punggung suaminya yang mulai menjauh. Tak lama kemudian, deru mesin mobil terdengar dan meninggalkan halaman rumah mereka.
Sungra terduduk lemas di kursi meja makan. Sampai kapan dia harus sarapan sendiri? Sampai kapan dia harus makan siang sendiri? Sampai kapan dia harus makan malam sendiri? Selalu tak ada Kyungsoo yang menemaninya, selama hampir setahun. Hanya dia sendiri.
Tak lama kemudian Sungra tersenyum. Mengingat hari ini adalah hari spesial mereka yang pertama. Baiklah, Sungra akan membuat Kyungsoo, suaminya, makan malam dirumah hari ini. Tak peduli bagaimanapun Kyungsoo menolak.

#Sungra’s POV#
Hari ini, tepat 1 tahun pernikahan kami, pernikahanku dengan Kyungsoo Oppa.
Aku menyiapkan makan malam spesial, makanan kesukaan Kyungsoo Oppa. Aku berharap dia pulang awal hari ini, tidak terlalu larut seperti malam-malam sebelumnya.
Ya, setahun pernikahanku dengannya, kami jarang sekali makan bersama.
Saat sarapan, dia selalu berangkat tergesa-gesa, padahal aku sudah membangunkannya berkali-kali dan sudah menyiapkan sarapan untuk kami berdua.
Saat makan siang, apalagi. Dia tak pernah ada dirumah.
Saat makan malam lah yang aku tunggu, yang kutahu seharusnya dia sudah pulang jam 17.00 KST, tapi yang kulihat selama ini dia selalu pulang diatas jam 22.00 KST. Akhirnya aku selalu tertidur duluan. Dan aku pun jarang makan malam.
Saat tidur pun kami selalu saling membelakangi satu sama lain. Kadang-kadang, aku ingin sekali merasakan kecupan hangat Kyungsoo Oppa sebelum dia tidur. Aku selalu berpura-pura tidur saat dia datang. Dan yang kutahu, dia hanya naik ke tempat tidur, lalu tidur. Itu saja, tidak pernah dia berniat untuk membetulkan letak selimutku, bahkan kadang-kadang dia memilih tidur di sofa, pada akhirnya akulah yang menyelimutinya.
Entah dia tahu atau tidak.
1 jam….
2 jam…
Aku mulai mengantuk.
#Author’s POV#
Kyungsoo tiba dirumah sekitar jam 23.37 KST. Dilihatnya Sungra tertidur di meja makan. Dia masuk kamar, berjingkat. Tapi…
“Oppa, kau sudah pulang?”
“Ah, ya, Sungra…,”
“Oppa, aku menungguimu. Apa kau lapar, Oppa? Aku ingin makan bersamamu…,”
“Aku sudah makan ramyeon tadi di kantor…,” Kyungsoo hanya menjawab dengan nada datar. Acuh tak acuh.
“Aku tahu kau lelah, Oppa, tapi… tapi bisakah kita makan dulu. Kumohon temanilah aku, aku sudah memasak makan malam…,”
“Tapi…,”
“Kumohon, Oppa, setelah makan, kau bisa langsung bisa beristirahat,”
“Baiklah, aku ganti baju dulu,”
Sungra menghembuskan napas lega. Setidaknya masakannya kali ini dimakan Kyungsoo, suaminya…
Selama makan, mereka hanya diam, tak ada yang bersuara.
“Mmmm, Oppa apa kau mau menambah nasi?” tanya Sungra, agak sedikit takut.
“Tidak, aku sudah kenyang…,”
Kyungsoo berdiri, ingin meninggalkan meja makan.
“Oppa, chakkaman,”
Sungra mencekal tangan Kyungsoo. Dia menyodorkan kotak kecil yang dibungkus kertas kado kepada Kyungsoo.
Kyungsoo hanya mengambilnya lalu berkata…
“Gomawo…,” dia akan masuk ke kamar namun lagi-lagi Sungra mencegahnya.
“Oppa, chakkaman. Apa kau tak ingin membukanya?”
Kyungsoo tak mejawab. Dia hanya membuka kado itu dengan sedikit kasar.
“Jam tangan? Untuk apa? Aku masih punya yang lebih bagus, dari Hyesun…,”
#Sungra’s POV#
“Jam tangan? Untuk apa? Aku masih punya yang lebih bagus, dari Hyesun…,”
Aku terhenyak, hanya bisa terdiam. Dia tak menyukai kado dariku?
“Ah, aku pikir, sekali-sekali kau perlu mengganti jam tanganmu, Oppa,” jawabku. Aku merasa mataku panas.
“Jam tangan dari Hyesun tidak akan pernah tergantikan,”
Aku rasa air mataku sudah mulai turun. Oh, jangan menangis, Sungra!
“Maaf, Oppa, aku tidak tahu kalau kau tidak suka. Mianhae. Mianhae karena aku sudah mengganggu waktu istirahatmu, mianhae atas jam tangan itu. Kalau kau tak suka, kau boleh tak menggunakannya, gwaenchana…,”
Kyungsoo Oppa berlalu dari hadapanku. Aku hanya mendesah, sakiiit sekali. Setahun berlalu, tapi dia masih tak bisa melupakan Hyesun? Oh, ayolah. Hyesun sudah tidak ada lagi disini. Dia sudah pergi, selama-lamanya. Tapi mengapa aku masih tidak bisa mendapatkan tempat di hati Kyungsoo Oppa?
Dia bahkan tak ingat akan ulang tahun pernikahan ini… dia tak ingat.
Diluar sedang hujan, aku mengamati jendela bagian luar yang basah oleh air. Air mataku mengalir turun, namun aku sama sekali tak terisak.
“Selamat hari ulang tahun pernikahan kita yang pertama, Kyungsoo Oppa. Saranghae…,” aku berkata lirih. Hujan itu, seakan mereka mengerti akan perasaanku saat ini.
“Nado saranghae, Sungra…,” aku kembali berucap lirih. Aku mulai terisak. Aku tak lagi dapat menahannya. Terlalu sakit. Aku berharap Kyungsoo Oppa-lah yang berkata seperti itu padaku.
Tapi nyatanya bukan. Tidak pernah? Atau belum pernah? Entahlah…

#Kyungsoo’s POV#
Aku benar-benar lelah pagi ini. Hah, pekerjaan di kantor masih banyak yang belum terselesaikan. Itu semua karena aku terlalu banyak melamun.
Kenapa? Entahlah.
Alhasil, setiap malam aku selalu pulang larut. Di rumah, Sungra masih menunggu di sofa ruang tamu, tertidur.
Dia selalu saja begitu. Padahal aku sudah bilang padanya untuk tidak menyiapkan makan malam. Aku sudah makan di luar.
Dan tidak usah menungguku. Aku sudah membawa kunci rumah sendiri. Tapi dia keras kepala, selalu saja menungguku.
Seperti tadi malam…
Aku pulang hampir jam 12 malam. Lampu rumah masih belum dimatikan, masih terang benderang. Aku mencari dia, maksudku melihatnya, di kamar. Tapi tidak ada. Aku tidak ambil pusing. Aku memang tidak terlalu peduli padanya.
Ternyata dia di ruang makan. Tertidur di meja makan. Di meja, lagi-lagi makanan untuk makan malam, yang pastinya sudah dingin, tersedia dengan rapi.
Aku pikir sebaiknya membiarkan dia tidur disana, jadi aku tak perlu tidur di sofa lagi atau tidur di tempat tidur terlalu tepi. Yah, lagipula aku tidak ingin membangunkan dia yang sepertinya sudah tertidur lelap.


“Oppa, kau sudah pulang?”


Dia terbangun.


“Ah, ya, Sungra…,”


“Oppa, aku menungguimu. Apa kau lapar, Oppa. Aku ingin makan bersamamu…,”
“Aku sudah makan ramyeon tadi di kantor…,” dan lagi makanannya pasti sudah dingin. Apa masih enak?


“Aku tahu kau lelah, Oppa, tapi… tapi bisakah kita makan dulu. Kumohon temanilah aku, aku sudah memasak makan malam…,”


“Tapi…,”


“Kumohon, Oppa, setelah makan, kau bisa langsung bisa beristirahat,”


Ah, ya sudahlah. Lagipula aku sudah bosan makan ramyeon. Kurasa tidak ada salahnya aku mencicipi masakan Sungra, apakah masakannya selezat Hyesun?


Hhh, lagi-lagi Hyesun…


“Baiklah, aku ganti baju dulu,”


Sungra menghembuskan napasnya, lega. Dia tersenyum, sepertinya senang. Aku jadi tidak sampai hati menyakitinya, lagi.


Aku hanya diam tak bersuara selama makan. Sungra hanya menunduk, canggung. Aku tak bisa berbohong dalam hati. Masakan ini memang sudah dingin. Tapi sungguh enak sekali. Aku jadi ingin tambah lagi.


“Mmmm, Oppa apa kau mau menambah nasi?”


“Tidak, aku sudah kenyang…,” aku berbohong, sebenarnya aku masih lapar. Saat aku akan meninggalkan meja makan…


“Oppa, chakkaman,”


Sungra memegang lenganku. Aku hanya heran melihat tingkahnya. Mau apa dia? Lalu dia menyodorkan kotak kecil berwarna pink yang diberi pita. Persis seperti kotak bekal pink itu.
Hyesun…


Aku jadi ingat Hyesun lagi. Kuambil kotak itu lalu pergi ke kamar dan berkata tanpa menoleh kearahnya sedikitpun. Tapi lagi-lagi dia memanggilku.


“Oppa, chakkaman. Apa kau tak ingin membukanya?”


Ah, aku benar-benar kesal. Aku ingin cepat-cepat tidur, supaya bisa melupakan masakan lezat itu.


Tapi kubuka juga kotak itu, agak kasar.


Jam tangan.


“Jam tangan? Untuk apa? Aku masih punya yang lebih bagus, dari Hyesun…,”


Jam tangan. Apa maksudnya memberiku benda ini? Aku sudah punya. Aku sudah punya dan tidak akan pernah menggantinya dengan yang manapun.


“Ah, aku pikir, sekali-sekali kau perlu mengganti jam tanganmu, Oppa,”


“Jam tangan dari Hyesun tidak akan pernah tergantikan,”


“Maaf, Oppa, aku tidak tahu kalau kau tidak suka. Mianhae. Mianhae karena aku sudah mengganggu waktu istirahatmu, mianhae atas jam tangan itu. Kalau kau tak suka, kau boleh tak menggunakannya, gwaenchana…,”


Aku tidak akan pernah memakainya.


#Kyungsoo’s POV#
Aku terbangun agak terlambat. Ah, sudahlah. Hari ini hari Minggu, tak perlu datang ke kantor. Aku akan menghabiskan hari ini dengan tidur.
Aku keluar dari kamar, dan mendengar nyanyian, nyanyian Aehyun dari dapur.
“Motdwaetda eojjeom ireohke apeun sangcheoman namgigo tteonani, doraseoneun neol meonghani japji mothago, saranghaetdon jinan chueogi seuchyeo jinaganda…,”
Suaranya bagus. Tapi aku tercekat.
Bukan, bukan karena suaranya.

You’re so bad
How could you leave after only giving me a painful scars?
I blankly stare at you who is turning away, not being able to catch you
The past memories of when we used to love are passing by and going

Ya, kau jahat, Han Hye Sun. Teganya kau meninggalkan perasaan yang sangat menyakitiku ini? Lihatlah, kenangan-kenangan kita telah berlalu, tapi aku tak dapat melupakanmu…
“Heureuneun nunmuri neol bureunda, sojunghaetdeon gieokdeuri jeo haneure beonjinda…,”

The flowing tears are calling out to you
The precious memories are spreading across the sky

Nyanyian selanjutnya benar-benar menyayat hati, hatiku.
“Sirta niga eomneun na, sirta naega eomneun neo. Kkeojineun bulbitteul soge nan ajik geu jarie itda. Sirta baraneun naega, sirta saranghan naega. Sesang modeun sarangdo ichyeo jil urido…,”

I hate it, a me without you
I hate it, a you without me
I’m still in this spot though the lights are turning off
I hate it, I hate myself for hoping
I hate it, I hate myself for loving
I hate all the love in the world and I hate us who will be forgotten

Ya, aku membenci diriku tanpamu, dan aku juga membenci dirimu tanpaku. Aku memang sudah berada di rumah lain, bukan dirumah yang dulu saat kita masih bersama, tapi hatiku masih disana, bersamamu.
Ya, aku membenci diriku yang masih berharap, mengharapkan kau masih istriku dan berada denganku, walau aku tahu itu tak mungkin. Aku membenci diriku yang masih mencintaimu, padahal aku sudah memiliki istri sekarang, yang menyayangiku, yang selalu menungguku. Walaupun aku selalu mengacuhkannya…
Aku membenci semua cinta didunia ini…
…dan aku membenci kita yang akan terlupakan.
“Eotteokhae naega eotteokhae neoreul jiulkka…,”
Bagaimana caranya aku menghapus dirimu, mengahapus bayangmu yang selalu ada dihatiku? Dirimu yang selalu tak bisa terhapus dari ruang ini? Hatiku, hatiku yang hanya terisi olehmu, oleh dirimu…
“Sirta niga eomneun na, sirta naega eomneun neo. Doraogil baraneun neol nochi motaneun naega sirta,”

I hate it, a me without you
I hate it, a you without me
I hate myself for hoping you’ll come back, for not being able to let you go
#Sungra’s POV#
Aku terkejut saat menoleh ke belakang, memutuskan untuk membangunkan Kyungsoo Oppa. Tapi ternyata dia sudah bangun.
Terpaku di dapur, matanya menerawang jauh. Pipinya basah. Apakah dia menangis?
“Oppa, kau kenapa? Kau menangis?”
Kyungsoo Oppa hanya menggelengkan kepalanya pelan. Aku segera mengambil tissue dan mengelap pipinya. Matanya memerah.
“Mianhae…,” dia memelukku.
Biakah waktu berhenti? Aku ingin terus seperti ini.
Kyungsoo Oppa akan melepaskan pelukannya, tapi aku semakin mengeratkan pelukanku.
“Kumohon, tetaplah seperti ini sebentar…,”
Aku menangis.
“Hyesun…,”
Oh, tidak!
Aku semakin menangis. Kukira… kukira Kyungsoo Oppa berubah, apakah dia menganggap aku ini Hyesun?
Aku mulai melepaskan pelukan itu. Kyungsoo Oppa seperti baru tersadar dari sesuatu. Dia mengerjapkan matanya, terlihat seperti kebingungan.
Apakah dia mengigau?
Apakah dihatinya tak ada ruang untukku?
“Aku harus pergi,”
“Kemana? Aku ingin ikut,”
“Andwae!” dia menghardikku, kasar. Aku tercekat dan menundukkan kepalaku dalam-dalam, berusaha menyembunyikan air mata yang sepertinya akan keluar.
Kurasa dihatinya memang tak ada lagi ruang untukku. Lihatlah, dia sudah rapi, sudah wangi sekarang. Dia mengenakan jam tangannya, tapi bukan jam tangan yang semalam kuberikan.
Itu jam tangan dari Hyesun.

I hate it, I hate myself for hoping
I hate it, I hate myself for loving
#Kyungsoo’s POV#
Aku termenung menatap pusara Hyesun. Terdiam. Hampir dua tahun berlalu, tapi aku masih tak bisa melupakannya, masih tak bisa menghapus dirinya dari hatiku. Mungkin tak akan pernah bisa…
Aku rindu wajahnya, wajahnya yang selalu tersenyum menatapku, lembut. Aku benar-benar merindukannya. Dan air mataku mulai mengalir turun. Ah, aku cengeng sekali. Jika Hyesun melihatnya pasti dia akan menertawakanku.
BRUKKK!!!


“Appo!”


“Oppa? Kau kenapa?” wajah Hyesun terlihat khwatir melihatku yang terjatuh setelah tertimpa buku-buku perpustakaan yang berat.


“Asshhh, sakit…,”


“Gwaenchanayo?” dia mengelus kepalaku, aku meringis.


“Ne, gwaenchana,”


“Jeongmal? Oppa, kau menangis?”


“Hmmm?”


“Kau menangis? Hahahaha, kau menangis? Aigoo, Oppa! Kau cengeng sekali? Kau ini yeoja atau namja? Kejatuhan buku begitu saja kau menangis?”


“Ani… aniyo! Aku tidak menangis!”


“Geojitmal! Hahaha, lihatlah sudut matamu itu sudah berair. Hahaha, Oppa! Kau menangis! Hah, cengeng!”


“Aniyo! Aiisssh, jinjja!”


“Hahaha,” dia terus tertawa dan aku mengacak-acak rambutnya.


Ah, Han Hye Sun, betapa aku merindukan senyummu, tawamu.


“Oppa…,”


“Wae, chagi?” tanyaku lembut. Kuperhatikan setiap detail wajahnya. Sungguh cantik. Wajahnya memerah, seperti menahan senyum.


“Oppa, aku… aku hamil, Oppa…,”


“Jeongmal?” Hyesun mengangguk senang. Oh Tuhan, lengkaplah kebahagiaanku sekarang. Aku akan menjadi Appa setelah 3 bulan kami menikah.


Tapi, kebahagiaan itu hanya sebentar, bahkan aku tak sempat menjadi seorang Appa, tidak bisa lagi menjadi suami Hyesun. Untuk selamanya. Kandungannya sudah berusia tujuh bulan saat itu…


Saat aku pulang dari kantor, kulihat Hyesun tergolek lemas dibawah tangga. Darah! Dia terjatuh dari tangga lantai dua.


Bagaimana bisa?


“Oppa, sahabat macam apa aku ini?”


“Aku menghancurkan hatinya…,”


“Apa aku masih pantas menjadi sahabatnya?” Hyesun terus berbicara. Wajahnya terlihat sangat kesakitan.


“Kau kenapa Hyesun?”


“Oppa, berjanjilah…,”


Hyesun, bertahanlah…


Aku menggendong Hyesun dan membawanya masuk ke mobil dan segera melajukannya ke rumah sakit.


“Oppa, berjanjilah. Bahagiakanlah Sungra, menikahlah dengannya…,”


“Mwo? Apa yang kau katakan, chagi?”


“Menikahlah dengan Sungra, Oppa… dia… dia mencintaimu… menikahlah dengannya, sebelum aku pergi,”


“Andwae! Jangan berkata seperti itu! Kau akan-baik-baik saja, bertahanlah…,”


Di rumah sakit, aku hanya bisa terus menggenggam surat yang tadinya ada digenggaman Hyesun, dan meremasnya.

~Kyungsoo Oppa, kau mungkin bingung dengan isi kotak ini yang penuh dengan foto-fotomu. Aku penggemarmu. Semenjak aku masuk sekolah yang sama denganmu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Ah, aku seperti menulis surat cinta saja, tapi sejujurnya aku tak pandai menulis seperti ini. Yang aku tulis ini hal-hal yang aku ingin sampaikan sejak dulu, sejak 10 tahun yang lalu, dimana perasaan itu mulai tumbuh. Kyungsoo Oppa, aku mencintaimu, dari dulu hingga sekarang. Apa kau ingat kotak bekal berwarna pink yang diberi pita itu, yang isinya bibimbap? Itu sebenarnya dariku, Oppa, bukan dari Hyesun. Hyesun… Han Hye Sun… Wanita yang sekarang telah menjadi istri dan ibu bagi anakmu nanti. Ah, bukankah sebentar lagi dia akan melahirkan? Semoga anak kalian menggemaskan, ya? Seperti Appa dan Eomma-nya.


Oppa, bagaimanapun aku berusaha untuk mendapatkanmu, aku tak bisa. Yang ada dihatimu hanya Hyesun, Hyesun, dan Hyesun. 10 tahun sudah aku berusaha untuk merebut perhatianmu, tapi apa hasilnya? Kau tetap saja mencintai Hyesun. Bahkan setelah kau putus dari Hyesun 7 tahun yang lalu, kukira itu akan menjadi kesempatan bagiku. Aku mati-matian berusaha agar aku bisa masuk ke universitas yang sama denganmu, tapi… kau malah pindah ke Perancis. Meninggalkanku. Lalu baru-baru ini kau kembali, bersama dengan Hyesun dan anak yang ada didalam kandungannya. Kalian telah menikah, apa kau tahu bagaimana perasaanku? Sakit, sungguh sakit…


Tapi apa gunanya menyimpan semua kenangan ini? Semuanya hanya akan membuatku semakin menderita dan kesulitan untuk melupakanmu. Aku hanya berharap, kau bahagia dengan Hyesun. Aku juga akan bahagia, jika melihat kau bahagia dengan Hyesun. Mungkin akan sangat sulit bagiku melupakanmu, tapi aku akan berusaha. Aku mungkin akan selalu mencintaimu. Sampai kapanpun akan selalu ada ruang dihatiku yang hanya terisikan olehmu. Karena sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar, itu sangat lama. Dan untuk melupakanmu, mungkin aku memerlukan waktu dua kali lipat bahkan mungkin lebih dari itu…~

Your Secret Admirer

Karena surat inilah, Hyesun terjatuh dari tangga. Dia pasti syok mengetahui sahabatnya juga menyukai suaminya, selama 10 tahun. Karena surat inilah, Hyesun memintaku untuk menikah perempuan itu.
Menikah lagi?
Tidak.
Aku hanya akan menikah sekali dalam hidupku, yaitu dengan Hyesun.
Aku menangis lagi mengingat hari itu, menangis hingga terisak. Tuhan, aku benar-benar merindukannya.
Aku tak sadar bahwa hari semakin gelap. Mendung. Tak lama lagi pasti akan turun hujan, tapi aku sama sekali tak berniat untuk beranjak dari sana.
Benar saja, hujan mulai turun.
Tes…
Tes tes tes…
Lebat.
#Sungra’s POV#
Aku cemas menunggu Kyungsoo Oppa hingga sore ini belum pulang. Padahal diluar sedang hujan lebat.
Dia sama sekali tak memberitahuku dia kemana. Dia pergi tanpa membawa mobil, pasti dia pergi tak jauh dari sekitar sini. Aku meneleponnya pun tak diangkat. Aku benar-benar cemas. Aku harus mencarinya.
Aku keluar mencarinya dengan membawa payung. Aku tak tahu harus mencarinya kemana, tapi tiba-tiba aku teringat sesuatu…
Dia pasti ada disana.
Aku mepercepat langkahku karena takut di akan sakit karena diterpa hujan lebat seperti ini. Tidak lama kemudian, aku sampai. Dia berdiri disana, sambil termenung menatap pusara Hyesun.
Aku berjalan mendekatinya, kupegang pundaknya. Dia menoleh. Melihatku, dia malah menepis tanganku dari pundaknya dengan kasar.
“Jangan sentuh aku!”
“Oppa, ayo pulang. Sudah sore, hujan. Nanti kau sakit,” ujarku membujuknya.
“Shireo! Kau pulang saja, aku masih ingin bersama istriku!”
Oppa, kumohon jangan berkata seperti itu, aku juga istrimu!
“Oppa, ayolah. Hyesun pasti juga tidak suka melihatmu hujan-hujanan seperti ini lalu kau sakit, Hyesun pasti sedih…,”
“Tau apa kau tentang Hyesun?! Kau tidak tahu apa-apa! Pergi!”
“Oppa, tapi…,”
Aku maju selangkah dan akan memegang tangannya tapi dia malah medorongku hingga aku tersungkur di tanah yang basah. Payungku terlepas. Aku ikut basah, bajuku kotor. Hatiku sakit, benar-benar sakit.
Teganya Kyungsoo Oppa mendorongku?
Kyungsoo Oppa menatapku, matanya berkilat marah. Aku menangis. Aku berusaha bangun lalu berlari pulang. Dia sama sekali tak mempedulikanku.
Teganya dia mendorongku hingga aku jatuh tersungkur? Oh Tuhan, kuatkanlah aku…
1 YEAR LATER
Waktu berlalu terasa sangat cepat.
Rasanya baru kemarin hari ulang tahun pernikahanku dengan Kyungsoo Oppa, tapi ternyata esok ‘pernikahan kami’ berulang tahun lagi, yang kedua.
Aku tak terlalu peduli dengan sikap Kyungsoo Oppa yang tak berubah sejak kematian Hyesun. Aku tak peduli. Aku tetap bersikap seperti biasa.
Selalu menyiapkan sarapan untuknya, walaupun dia tak pernah menyentuhnya sama sekali.
Tetap menyiapkan makan siang untuknya, walaupun dia tak pernah pulang untuk makan siang bersamaku.
Tetap menyiapkan makan malam untuknya dan tetap menungguinya pulang, walaupun dia tak pernah mau menemaniku makan, dan akhirnya aku juga tak makan karena ketiduran.
Aku tak peduli walau dia pernah mendorongku hingga terjatuh di pemakaman. Sudahlah, aku sudah berusaha melupakannya.
Dan aku pun tak peduli walau dia tak ingat sama sekali dengan ulang tahun pernikahan kami, aku akan tetap menyiapkan sesuatu yang spesial.
Aku akan mengajak Kyungsoo Oppa piknik di taman besok sore.

 

~*~*~*~*~*~*~*~*~

 
“Oppa, apa kau nanti sore bisa pulang lebih awal? Sekitar jam 4, aku ingin mengajakmu piknik di taman,” Kyungsoo Oppa tak menoleh sama sekali. Sudah biasa.
“Akan kuusahakan,” aku tertegun, tak percaya. Kata-kata ini sangat tidak biasa. Itu luar biasa.
“Jeongmal? Gomawo, Oppa,” aku berusaha berkata setenang mungkin, walau hatiku sudah ingin melompat-lompat kegirangan. ‘Akan kuusahakan’ adalah kata-kata yang sangat langka bagiku.
Aku semangat sekali menyambut sore ini. Keranjang piknik sudah kusiapkan. Bahkan aku sudah memesan taksi sejak jam 9.
15.00 KST
Kulihat langit mulai gelap. Ah, aku tak peduli. Mungkin hanya mendung saja, mudah-mudahan tidak hujan.
Aku berangkat saat itu juga setelah taksi yang kupesan tiba dirumah.
15.23 KST
Senyumku terkembang sejak ‘Akan kuusahakan’ itu, aku benar-benar bersemangat. Pasti Kyungsoo Oppa akan berusaha datang.
17.00 KST
Senyumku tak pudar, walau rasanya aku sudah lelah menunggu.
Tes.
Tes tes tes…
Semakin banyak tetesan air hujan turun. Gerimis. Hanya gerimis. Aku melepaskan sweater-ku dan menggunakannya untuk menutupi keranjang piknik.

#Kyungsoo’s POV#
Aku menatap gelisah jam di dinding.
17.00 KST
Aissshhh, kapan lelaki tua itu berhenti berbicara. Aku ingin segera pulang. Bukan pulang, aku takut Sungra sudah menunggu di taman. Tadi dia mengajakku piknik.
Sebulan yang lalu aku ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun pernikahanku dengan Sungra yang kedua. Aku sudah membelikan boneka Teddy Bear besar berwarna pink yang berpita di lehernya. Aku sudah tidak sabar ingin pulang.
Tes.
Tes tes tes…
Semakin banyak tetesan air hujan turun. Gerimis.
Tak lama kemudian hujan semakin lebat, dan lelaki tua pendek itu semakin semangat bercerita. Aiiissshhh, eotteokhae? Jarum jam terasa lambat bergerak.
20.21 KST
Hujan belum berhenti juga sejak jam 5 sore tadi.
Aku memutuskan untuk lembur dan menyelesaikan pekerjaanku yang masih bertumpuk di kantor. Aku pikir, Sungra pasti sudah pulang bahkan sebelum hujan itu turun. Aku juga berpikir tidak perlu memberitahunya bahwa aku lembur hari ini, dia pasti sudah tahu.
20.31 KST
Aku memutuskan untuk pulang. Tapi aku tidak langsung pulang kerumah.
Entah kenapa aku mengambil jalan melewati taman yang tadinya akan menjadi tempat piknik kami.
Aku terkejut melihat ada mobil berhenti di hujan yang lebat begini di tepi taman.
Bukan karena mobilnya, tapi penumpangnya.
Aku melihat Kim Jong Dae, mantan tunangan Sungra, berpelukan dengan seorang yeoja.
Tanpa melihat wajahnya pun aku tahu kalau yeoja itu istriku, Park Sung Ra.
Aku benar-benar marah, muak! Sakit hati rasanya melihat mereka berpelukan seperti itu. Apa yang mereka lakukan di tempat sepi dan sedang hujan begini didalam mobil.
Yeoja tak tahu diuntung! Sialan!
Aku melajukan mobilku dengan kencang, rasanya kepalaku ingin meledak. Aku berhenti

sebentar untuk mengatur napasku yang mulai memburu. Tanganku terkepal, berusaha menahan amarah yang mulai memuncak. Kuambil boneka Teddy Bear besar berwarna pink yang berpita di lehernya. Lalu membuangnya di jalan.
Boneka itu basah oleh air hujan.

#Sungra’s POV#
Tes.
Tes tes tes…
Semakin banyak tetesan air hujan turun. Gerimis.
Aku melepaskan sweater-ku dan menggunakannya untuk menutupi keranjang piknik.
18.27 KST
Kyungsoo Oppa belum juga tampak. Gigiku sudah bergemeletuk. Jari-jariku memutih. Aku berkali-kali bersin. Hujan yang lebat membuat mataku perih namun aku sama sekali tak berniat untuk berteduh.
Aku takut Kyungsoo Oppa datang dan tak dapat menemukanku. Jadi aku tetap berada di bangku taman, walaupun sudah basah kuyup dan menggigil kedinginan.
19.28 KST
Kyungsoo Oppa belum juga datang. Apa dia lupa?
Air mataku mulai mengalir turun. Tapi tak apa, aku berteriak kencang pun mungkin takkan ada yang mendengar, apalagi hanya air mata, pasti akan tercampur air hujan yang membasahi seluruh tubuhku. Aku merasa lemas. Kedinginan.
Tega sekali Kyungsoo Oppa membiarkanku menunggu lama seperti ini? 4 jam aku enunggunya.
Apakah dia tidak ingat dengan janjinya?
Janji?

‘Akan kuusahakan’.
Apakah itu adalah sebuah janji?
Kau bodoh, Sungra! Kau bodoh, itu hanyalah sebuah penolakan halus darinya. Dia mungkin tak sampai hati menolaknya, akhirnya dia berkata ‘Akan kuusahakan’. Tapi itu sebenarnya sebuah penolakan, Sungra!
Sudah 2 tahun kau bersamanya, kau masih juga belum mengerti sifatnya, sikapnya?
Dia tak menginginkanmu.
Lihatlah bagaimana dia bisa mendorongmu hingga kau jatuh tersungkur di pemakaman saat itu? Tega sekali dia?
Lihatlah, pernahkah dia memakai jam tangan pemberian darimu? Tidak pernah! Bukankah dia bilang jam tangan dari Hyesun itu takkan bisa tergantikan?
Apalagi hanya sebuah janji piknik? Mana dia mau datang?
Dia tak pernah mempedulikan dirimu, Sungra, sedikitpun tak pernah.
Aku membenci diriku yang terus berharap. Aku sungguh membenci diriku yang terus mencintainya selama 12 tahun.
Aku hanya membenci diriku.
“Sungra, apa yang kau lakukan disini? Ayo, cepat berteduh. Lihatlah, kau pucat sekali…,”
#Author’s POV#
Sungra terus menangis di taman. Dia menggigil, jari-jarinya memutih, wajahnya pucat, giginya bergemeletuk. Hatinya perih, amat sangat perih.
Jongdae yang tak sengaja lewat di taman itu melihat Sungra duduk di bangku taman. Dia segera keluar membawa payung.
“Sungra, apa yang kau lakukan disini? Ayo, cepat berteduh. Lihatlah, kau pucat sekali…,”
Sungra mendongakkan kepalanya. Tangisannya pecah melihat Jongdae. Jongdae membantu Sungra yang sudah lemas untuk berdiri dan membawanya ke dalam mobilnya.
“Oppa, aku bodoh sekali…,” Sungra terisak.
“Wae geurae?”
“Aku terlalu berharap… dan itu semua tak ada gunanya selama dua tahun ini…,”
“Ssst, uljima…,” Sungra masih terus terisak.
“…kau boleh meminjam bahuku jika kau mau…,” jadilah akhirnya Sungra menenggelamkan wajahnya di bahu Jongdae. Disana Sungra menangis tersedu-sedu dan Jongdae hanya bisa menenangkan dan mengusap kepalanya.
Tak mereka sadari, seseorang memperhatikan mereka tanpa sengaja.
#Sungra’s POV#
“Gomawo, Oppa. Mianhae, aku merepotkanmu…,”
“Gwaenchana. Kau jangan menangis lagi, ya?”
Aku hanya mengangguk, berusaha tersenyum. Entah apalah bentuk bibirku sekarang. Apa pantas disebut sebuah senyuman?
Mobil Jongdae Oppa telah menjauh.
21.02 KST
Aku lupa kalau semua barang-barangku tertinggal didalam mobil Jongdae Oppa. Ah, naega eotteokhae?
Kunci rumah. Aku tak bisa masuk kalau begini.
Handphone-ku pun tertinggal, bagaimana aku bisa menghubungi Kyungsoo Oppa yang mungkin sudah tertidur?
Aku dengan lemah mengetuk pintu berkali-kali. Bel juga begitu. Ah, sampai berapa kali aku begini pun tak ada hasilnya. Aku tahu, kalau Kyungsoo Oppa sudah tertidur akan susah sekali membangunkannya.
Aku bersandar lemas didepan pintu. Hujan masih lebat.
Aku duduk memeluk lututku, untuk menghilangkan sedikit rasa dingin ini.
Aku masih menggigil, jari-jariku pun masih memutih, wajahku pastinya terlihat pucat. Dan aku masih terus menangis, terisak.
Aku lelah menangis seperti ini, sampai kapan aku bisa merasakan kebahagiaan yang seutuhnya?

#Author’s POV#
Pagi menjelang. Di teras, Sungra masih tertidur memeluk lutut. Wajahnya masih terlihat pucat.
Jongdae yang berniat mengembalikan barang-barang Sungra, termasuk keranjang piknik yang berisi makanan yang sudah basah semua, terkejut melihat Sungra yang tertidur di teras rumahnya sendiri.
“Sungra… Sungra. Ireona…,”
Sungra terbangun, wajahnya pucat. Jongdae meraba kening Sungra. Panas.
“Oppa, ada apa?”
“Kau kenapa tidak masuk kerumah?”
“Aku… aku lupa mengambil kunci…,”
“Aigoo, apa Kyungsoo tak tahu kau ada disini? Apa dia tidak mencarimu?”
“Nan molla. Sudahlah, Oppa. Itu bukan salahnya. Ini salahku…,”
Sungra limbung. Dia hampir terjatuh kalau saja Jongdae tidak menangkapnya. Pada saat itu juga, Kyungsoo muncul dari pintu depan.
“Apa yang kalian lakukan?! Bermesraan?!”
“Oppa…,”
“Kau… kau yeoja tak tahu malu! Kenapa semalam kau berduaan dengan namja brengsek ini, hah?”
“Apa maksudmu? Aku tak mengerti, Kyungsoo!”
“Diam kau! Aku hanya berbicara dengan dia!” Kyungsoo menunjuk-nunjuk Sungra.
“Aku berjam-jam menunggumu, Oppa. Di taman. Tapi kau tak kunjung datang…,” Sungra terisak lagi.
“Geojitmal! Aku semalam melihatmu berpelukan didalam mobil namja ini! Apakah pantas seorang yeoja yang sudah memiliki suami melakukan hal menjijikkan seperti itu? Apalagi pulang kerumah dengan namja ini dan berpelukan kembali didepan mataku! Kalian pasti tidur bersama semalam, iya kan?!”
“Tapi…,”
“Tapi apa?”
“Itu tidak benar, Oppa. Aku menungguimu berjam-jam. Dan aku semalam tidur disini, Oppa…,”
“BOHONG!!! Aku ingin kita bercerai!”
Duaaakkk!!! Jongdae meninju wajah Kyungsoo. Sungra berteriak histeris. “Stop! Hentikan!”
Duaaakkk!!! Kyungsoo ikut membalas dan meninju wajah Jongdae.
“Cukup…,”
Kyungsoo langsung masuk kedalam rumah dan membanting pintu dengan keras. Tepat saat itu Sungra jatuh pingsan.

#Sungra’s POV#
Kyungsoo Oppa meminta untuk bercerai. Cerai?
Apa memang ini yang dia inginkan?
Baiklah, aku akan mengabulkannya. Aku juga sudah tidak tahan, tidak tahan diperlakukan seperti ini terus menerus. Aku tidak tahan, hatiku terlalu sakit, terlalu banyak luka karenanya.
Saat aku masuk kerumah, mungkin untuk yang terakhir kalinya, kulihat Kyungsoo Oppa sedang duduk di meja makan. Panci bekas memasak ramyeon tergeletak di meja makan.
“Mianhae, aku hanya ingin mengambil barang-barangku,”
Kyungsoo Oppa tak mempedulikanku. Aku pun tak peduli.
Aku keluar dari kamar setelah selesai mengambil barang-barangku sambil menangis. Tentu saja, bagaimana aku tak menangis melihat keadaan kamar yang mengenaskan? Foto-foto pernikahan kami dihempaskan oleh Kyungsoo Oppa hingga pigura itu berpecahan dan kaca-kacanya berserakan di lantai.
“Kalau kau memang ingin kita bercerai, baiklah… sepertinya kita memang sudah tak sejalan lagi. Kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama…,” lirihku pada Kyungsoo Oppa. Dia sama sekali tak menoleh kearahku.
“Mianhae, jika selama ini aku tak bisa menjadi istri yang baik untukmu, tapi satu hal yang harus kau tahu. Kejadian semalam itu tak seperti yang kau pikirkan…,”
“Diam,”
Aku terdiam dan menghela napas. Dia benar-benar membenciku sekarang.
Akhirnya aku keluar dari rumah yang sudah kutempati bersama Kyungsoo Oppa selama 2 tahun ini. Meninggalkan semua kenanganku. Adakah kenangan manis yang tertinggal disana?
Ada.
Kalimat ‘Akan kuusahakan’.
Aku berjalan gontai menuju jalanan sepi, tiba-tiba sebuah mobil jeep menghampiriku dan dua orang pria bertopeng menggendongku lalu menutup mulut dan hidungku dengan sapu tangan.
Gelap.
#Author’s POV#
Sungra tersadar. Dia sekarang berada entah dimana. Mungkin gudang. Kaki dan tangannya terikat kuat. Mulutnya dilakban.
“Mmmmrrrrhhh… mmmrrrrhhhh…,”
Tiba-tiba seorang lelaki tua pendek muncul dari pintu, dengan seringai di wajahnya.
“Mmmmmrrrrhhh… mmrrrrrhhh… hah… hah… hah… siapa kau? Lepaskan aku!”
“Kau tidak mengenalku? Tapi aku mengenalmu, Nyonya Do Sung Ra,”
“Aku bukan lagi Nyonya Do Sung Ra!”
“Hahaha, kau kira aku bodoh? Aku tahu kau istri Do Kyung Soo, kan?”
“Sebentar lagi aku bukan lagi istrinya!”
“Benarkah?”
“Lepaskan aku! Apa maumu?!”
“Mauku? Aku ingin Kyungsoo menebusmu…,”
“Mwoya?! Dia tidak akan mau menebusku, dia bukan lagi suamiku, dan aku bukan lagi istrinya. Kami akan bercerai! Jadi, lepaskan aku!”
“Enak saja kau. Tuan Do itu menjengkelkan, dia selalu menolak ajakan kerja sama dariku. Hahaha, aku ingin balas dendam. Lihat saja, aku akan memintanya menebusmu dengan perusahaannya…,”
“Dia tidak akan mau!”
“Jinjja? Hahaha,”
“…,”
“Tuan Do, apa kabar? Hahaha, apa kau merasa kehilangan sesuatu?”
“…,”
“Istrimu ada denganku sekarang…,”
“…,”
“Hahaha, tentu saja dia tidak akan kuapa-apakan, asal kau menebusnya,”
“…,”
“Serahkan perusahaanmu dan seluruh hartamu, temui aku… di asdfghjklzxcvbnm…,”
Klik.
“Kurang ajar, dia menutup telepon dariku! Beraninya dia!”
“Lepaskan aku, jebal…,”
“Tentu saja tidak, sebelum dia mau menebusmu,”
“Dia tidak akan mau menebusku. Aku bukan orang yang berarti di kehidupannya…,” Sungra mulai terisak. Hatinya perih sekali karena dia tahu Kyungsoo tak akan mau menebusnya.
Duaaakkk!!!
Pintu gudang itu dibanting.
Polisi-polisi masuk dengan pistol di tangannya. Anak buah lekaki tua pendek itu berhamburan mengambil tempat untuk melindungi lelaki tua itu karena dari tadi lelaki itu berteriak-teriak tak karuan melihat polisi berdatangan.
Lelaki tua itu menarik Sungra –menyeretnya, exactly– dengan kasar.
Sungra terus berteriak-teriak minta tolong. Lelaki tua itu kewalahan mendiamkan Sungra.
“Tolong! Tolong! Lepaskan… lepaskan aku!”
“Diam!”
Lelaki tua itu mengarahkan pisau lipat yang tampaknya tajam keleher Sungra. Seketika Sungra terdiam, tercekat.
“Lepaskan dia!”
#Sungra’s POV#
“Lepaskan dia!”
Itu suara Kyungsoo Oppa. Ternyata… ternyata dia berusaha menolongku.
Aku terisak lagi.
“Oppa… tolong aku,” lirihku.
Lelaki tua itu semakin mendekatkan pisaunya ke leherku dan berteriak.
“Jangan ada yang mendekat! Atau aku akan membunuhnya…,”
“Untuk apa kau membunuhnya? Apa kau pikir aku akan memberikan permintaanmu itu? Aku tidak bodoh, Tuan Choi…,”
“Aku tak peduli! Kalian berani mendekat, lihat! Aku akan membunuhnya!”
Kulihat polisi semakin bersiaga melihat situasi ini. Aku? Aku tak pernah setakut dan sebahagia ini seumur hidupku.
“Kau ingin membunuhnya? Bunuh saja…,”
Aku terkejut. Syok. Perasaan bahagiaku runtuh. Apa katanya? Bunuh saja? Kyungsoo Oppa membiarkan lelaki tua ini membunuhku?
“Aku tak peduli kau ingin membunuhnya, bunuh saja. Dia bukan siapa-siapa bagiku. Kau kira dia istriku? Bukan, kemarin aku sudah meminta cerai…,”
Aku terisak mendengar ucapan Kyungsoo Oppa. Sakit, hati ini sakit sekali. Aku tak pernah merasa hatiku sesakit ini.
“…semuanya akan berbeda jika kau menculik Hyesun, istriku yang pertama, dan kau ingin meminta tebusan. Berapapun akan kuberikan. Bahkan seluruh hartaku dan diriku sekalipun akan kuberikan padamu untuk menyelamatkannya…,”
Aku benar-benar tak tahan.
“Aku datang kesini hanya untuk mengingatkan padamu kalau hal yang kalu lakukan itu sia-sia…,”
Aku menangis tanpa suara. Lelaki tua itu mulai lengah. Kutendang perutnya dan pisaunya terlepas. Aku berlari.
Berlari melewati Kyungsoo Oppa.
Berlari melewati polisi-polisi itu.
Berlari melewati anak buah lelaki tua itu

.
Aku hanya terus berlari.
Hingga akhirnya sebuah tangan kekar merengkuhku dan menarikku kepelukannya.
“Lepaskan aku… lepaskan!”
Aku terus memberontak. Apa lagi yang ingin dilakukannya sekarang?
“Mianhae…,”
“Lepaskan aku!”
Akhirnya dia melepaskanku. Wajahnya terlihat amat menyesal, tapi aku tak mau tertipu, tak mau terbodohi lagi seperti saat ia berkata ‘Akan kuusahakan’.
Tak akan lagi.
“Mianhae, chagi…,”
“Diam! Jangan memanggilku dengan sebutan itu! Nan neoreul miweohaeyo!”
Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat dan aku berjongkok di tepi jalan yang masih sepi. Aku membencinya, amat sangat membencinya. Hatiku benar-benar perih, perih sekali. Oh Tuhan. Kenapa rasanya sesakit ini?
“Mianhae… aku benar-benar menyesal…,” dia mulai maju mendekatiku.
“Stop! Jangan mendekat! Jangan berkata apapun lagi! Aku tidak ingin mendengarnya… aku membencimu!!!”
“Mianhae, Sungra… jeongmal mianhae, aku tahu aku salah selama ini… aku tahu aku ini suami yang buruk, suami yang jahat… mianhae…,”
“DIAM!”
Kyungsoo Oppa berjalan mendekatiku. Aku merentangkan tanganku kedepan, mencegahnya untuk mendekatiku. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat, masih terus berjongkok. Aku menutup telingaku dengan kedua tanganku. Aku tak mau mendengar apapun sekarang.
“Mianhae…,” lirihnya.
“Aku membencimu! Seperti kau juga membenciku! Aku benci padamu karena kau selalu bersikap seperti ini padaku selama dua tahun! Kau tidak mengingat hari ulang tahun pernikahan kita yang pertama…,”
“Mianhae…,”
“… Kau membanding-bandingkan jam tangan yang kuberikan kepadamu. Kau tak mau memakainya, karena menurutmu jam tangan dari Hyesun tak akan pernah tergantikan. Aku membencimu…,”
“Mianhae…,”
“…Kau tega mendorongku hingga aku jatuh tersungkur saat di pemakaman, kau pikir aku ini istrimu atau bukan, hah?!”
“Jeongmal mianhae, Sungra…,” Kyungsoo Oppa terisak. Langit gelap. Hujan langsung turun, tak lagi gerimis. Hujan benar-benar lebat.
“… Kau tidak menepati janjimu pada hari ulang tahun pernikahan kita yang kedua… Kau… kau membiarkanku menunggu berjam-jam di taman dibawah guyuran hujan lebat. Dan setibanya dirumah aku tak bisa masuk kerumah karena kau menguncinya. Kau membiarkanku tidur kedinginan diluar rumah. Aku membencimu…,”
“Mianhae…,”
“… dan tadi… saat aku diculik, kau membiarkanku hampir dibunuh. Kau membiarkanku hampir terbunuh! Kau bilang aku bukan siapa-siapa, aku bukanlah orang yang berarti dihidupmu. Ya, aku tak sama dengan Hyesun karena kau hanya akan mengorbankan seluruh hartamu bahkan dirimu hanya untuk Hyesun seorang…,”
Kyungsoo Oppa mulai terisak. Aku benar-benar ingin mengungkapkan semuanya hari ini. Semuanya!
“… tapi Hyesun sudah tak ada lagi. Dia sudah lama pergi… akulah istrimu. Kenapa? Apa tak ada sedikitpun ruang di hatimu untukku? Tak adakah? Apa kau tahu? 12 tahun hanya kau lah yang mengisi hatiku. Hanya kau… tapi apa balasanmu? Selama dua tahun kita menikah, inilah semua yang kau lakukan padaku, hanya menambah penderitaanku dan luka dihatiku…,”
“…sakit, Oppa. Tak sadarkah kau? Semuanya membuatku sakit…,”
“Mianhae, Sungra…,”
Akhirnya aku berdamai dengan hatiku. Aku tak lagi memberontak saat Kyungsoo Oppa memelukku. Tapi hati ini terlalu perih, masih sakit untuk segera memaafkan perbuatannya padaku.
“Maafkan aku. Kembalilah bersamaku, aku mencintaimu…,”
“Biarkan aku sendiri, Oppa… luka ini terlalu besar. Berilah aku waktu agar luka ini kering… aku ingin sendiri…,”

1 YEAR LATER
Hari ini, tepat hari ulang tahun pernikahanku dengan Kyungsoo Oppa, yang ketiga.
Selama setahun ini, aku tinggal sendiri. Di sebuah desa yang agak jauh dari pusat kota. Aku membiarkan diriku sendiri dulu.
Tapi hari ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, aku ingin membuat sesuatu yang spesial di hari istimewa ini.
Aku ingin berpiknik di taman seperti tahun lalu, yang terpaksa batal.
Langit kelihatannya mendung, tapi aku tak peduli.
Aku turun dari taksi, dan mencari bangku taman dimana biasanya aku duduk. Orang-orang ramai memenuhi taman. Aku hanya tersenyum melihat ada sepasang kekasih yang sedang saling canggung duduk berdua di bangku taman yang sama.
Langkahku terhenti.
Bangku tamanku sudah terisi oleh orang lain yang sedang memeluk boneka Teddy Bear besar berwarna pink yang berpita di lehernya.
Orang itu berdiri dan tersenyum melihatku.
Dia mengarahkan boneka itu kepadaku.
“Saranghae…,” boneka itu berbunyi.
Aku tersenyum dan menghambur ke pelukan orang itu.
“Nado saranghae, Kyungsoo Oppa,”
Tes.
Tes tes tes…
Hujan, gerimis. Orang-orang yang berada di taman segera menyingkir, mencari tempat yang teduh untuk berlindung. Tapi tidak denganku dan Kyungsoo Oppa. Kami tetap berpelukan, melepaskan rasa rindu kami yang begitu memuncak.
Lukaku telah sembuh dan mengering. Sekarang, luka itu sama sekali tak meninggalkan bekas lagi di hatiku.
Hatiku telah sembuh seutuhnya.


-END-

 

110 tanggapan untuk “( FF COMPETITION ) On Rainy Days”

  1. so sweet aku sampe nangis sambil bcax,kya ngerasaiN gmn digituin sm oppa Kyungie,oppa jahat,tpi juga gmn ya aku bingung mendiskripsikanx,pkkx daeeeebak

  2. Nice story!!!!! Ff ny keren bgt!! Pas baca tuh nyesek bgt, gw sampe hampir mau nangis~!
    Feel nya bnr” dpt >.<
    Ditunggu ff selanjutnya ya~! Keep writing! Fighting! 😀

  3. Duh,,bner,,,dmi pa(?),ni ff plig sad genre yg prnh aq bca…-rsanx nyesek ,hu,,,,sbr bgt ya sungra,,,-_-
    ,,aq kira sad ending,,,eh taunx ,, hpyy,,,
    Good,author(!)

  4. Ngueheeee aku nangis T_______T tanggung jawab thor 😦 Kalo aku jadi Sungra mungkin aku akan melupakan kyungsoo dan lebih memilih Jongdae. dan aku mau sedikit review, aku emg ga jago bikin ff tapi aku suka ngereview hehe. Itu castnya kan 3 biji. Kyungsoo Sungra Jongdae, tp knpa seolah olah Jongdae cuma cameo doang ya?. Terus itu tidak ada tanda2 seperti » Flashback on/off. Sungra/kyubgsoo pov end. Lalu juga ceritanya itu terlalu cepat memaafkan hehehe tapi kalo si subgra baik kan maafinnya cepet ya kaya aku (?) Udah sih kak, BIKN SEQUELNYA YAAA 😀 Maju Terus Kak

  5. sedih bnget 😦
    sampe nangis bcanya apalagi sambil dngerin lgu Beast-on rainy days, tambah nyesek 😥 😥
    semangat nulisnya author, Fighting!!

  6. waaaaa maluk-maluk in kenapa gua nangis diangkot cubak?! Daebak nih ff pdhal gua udah empet2 buat kgak nangis tapi apa boleh buat gua nangis juga T_T elah pinter nih authornya. *^▁^* semangat thor. FF nya pas banget greget , tpi sayangnya umma nya EXO-K jahat banget T_T ente sadis mak! okelah tak apa sayaaaaaang banget deh eike ama ni author. boleh dong kalo bikin yg galo galo lagi? yg main castnya ada kai ama si chanyeol?

  7. woaaaa…
    neomu neomo neomu daebak ffnya…
    bnr2 nyesek pas bcanya…
    feelnya dpt bgt…
    kreeeennn super duper keren…
    authornya daebak bgt…╭(′▽‵)╭(′▽‵)╭(′▽‵)╯ GO!↖(^ω^)↗↖(^ω^)↗↖(^ω^)↗

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s