ONE FINE SPRING DAY

111422825_mBhEEv_1361373084

 

 

Tittle                : One Fine Spring Day
Author             : Han Ri Rin (@Hanririn2617)
Main cast         : -Park Chanyeol a.k.a Chanyeol (EXO)
                         -Bae Su Ji a.k.a Suzy (Miss A)
Genre              : Sad, romance, songfic
Ratting                        : PG +13
Length             : Oneshoot
Disclaimer       : Semua cast di sini milik Tuhan dan ff ini milik author. Ff ini asli dan murni dari pikiran author. Apabila ada kesamaan itu hanyalah faktor ketidak sengajaan.
A/N                 : Annyeong readers! Ini adalah ff pertama author. Ff ini terinspirasi dari lagunya Ryeowook Super Junior yang judulnya One Fine Spring Day. Soalnya lagu tersebut artinya bagus banget dan juga sedih. Disaranin dengerin lagu Ryeowook One Fine Spring Day sambil baca ff ini. Karena ini ff pertama author, mian kalo banyak typo dan ceritanya geje. Happy Reading dan gomawo!
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Author POV
Seorang namja tinggi berjalan perlahan menyusuri jalan setapak yang dipenuhi oleh kelopak bunga sakura yang berguguran. Di sepanjang tepi jalan setapak tersebut tumbuh pepohonan sakura yang sedang berbunga. Ya, hari ini adalah minggu kedua musim semi.Harum bunga sakura yang bermekaran tercium membawa suasana kesejukan dan ketenangan. Semua orang yang berjalan di jalan tersebut pasti akan merasa bahagia. Tapi, tidak dengan namja tinggi tersebut. Wajahnya terlihat sangat sedih dan muram. Bahkan matanya bengkak dan terdapat lingkaran hitam disekitar matanya yang menandakan namja itu sering menangis dan tidak tidur dalam beberapa lama. Namja itu pun mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi panjang yang berada di tepi jalan tepat di bawah sebuah pohon sakura. Kini ia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Tiba-tiba setetes air mata membasahi pipinya. Lalu setetes lagi. Dan kini air mata tersebut telah membentuk sungai kecil dipipinya. Ia pun terisak kecil sambil memegang dadanya. Mungkin ia merasakan rasa sakit yang amat sangat pada hatinya.
Author POV End
 
Geu nalchuhruhm ddaddeuthan baram boolgo

Geudaega saranghaduhn hwaboonen kkochi pigo

Uhneun saenga ddo bomnari deuriwuhdo

Ajikdo nan gipeun gyuhwool jameul jago shipuh
(Angin hangat bertiup seperti malam itu

Bunga-bunga ditanam olehmu dengan penuh kasih telah mekar

Sebelum aku tahu musim semi telah datang lagi

Aku masih ingin dalam tidur seperti pada musim dingin itu)
 
Chanyeol POV
Aku menghapus air mataku sambil bangun dari dudukku. Lalu kembali berjalan perlahan namun kini agak gontai menyusuri jalan setapak ini. Setelah itu aku pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah karena apabila aku terlalu lama berada di sini, aku hanya akan merasakan sakit karena mengingat semua kenangan kita. Kenangan yang tidak bisa dan tidak akan pernah kulupakan walaupun itu sangat menyakitkan.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Kini aku memasuki pekarangan rumahku. Aku pun kembali terdiam karena melihat pekarangan rumahku yang dipenuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran. Aku ingat dan akan selalu ingat siapa yang menanam bunga tersebut. Aku pun kembali menangis. Pikiranku kini melayang ke masa lalu. Saat kita masih bersama.
 
Flashback
“Oppa, pekarangan rumahmu tandus sekali. Padahalkan sekarang sedang musim semi,” ujar gadis tersebut sambil menunjukkan raut wajah cemberut. “Oppa selalu saja malas mengurusi tanaman. Ah, bagaimana kalau aku mengubah pekarangan oppa menjadi taman bunga agar tidak tandus seperti ini?”
“Boleh saja,” jawabku sambil merangkulnya.
“Tapi, oppa harus membantuku, arra?” ujarnya lagi.
Aku pun hanya mengangguk sambil tersenyum pada gadis tersebut. Ya, gadis tersebut adalah yeojachinguku. Bae Suzy namanya. Aku mengenalnya 3 tahun lalu saat kami masih duduk di bangku SMA. Tepatnya saat musim semi 3 tahun lalu.
“Oppa, bantu aku menanam benih-benih bunga ini!” panggil Suzy. Aku pun segera menurut dan membantunya sambil sesekali menjahilinya. Ya, aku memang hobi sekali menjahilinya.
“Nah, sudah selesai. Di musim semi tahun depan semua bunga di pekarangan rumahmu akan bermekaran dengan cantik!” ujarnya gembira. “Di sebelah sana nantinya akan ditumbuhi bunga mawar putih, di sana bunga matahari, di sana bunga lilly, di sana bunga mawar merah. Oh ya, tadi aku juga menanam beberapa bunga sakura. Itu bunga kesukaan oppa kan?” tanyanya riang.
Aku mengangguk dan kembali tersenyum kepadanya. Aku pun menariknya ke dalam pelukanku. Merasakan kehangatan tubuhnya dan harum rambutnya yang membuatku candu.
“Gomawo, Suzy-ah. Berjanjilah padaku kalau kita akan selalu bersama menjalani dan melewati musim semi dalam hidup kita,” ujarku.
“Tentu oppa aku berjanji,” jawabnya sambil menenggelamkan kepalanya pada dadaku.
“Jeongmal saranghaeyo, Suzy-ah.”
“Nado oppa.”
Flashback End
Aku terduduk lemas di pekarangan rumahku. Hati ini kembali terasa sakit. Aku pun meremas dadaku untuk menghilangkan semua rasa sakit ini. Tapi semuanya sia-sia. Dengan lemas dan gontai, aku pun masuk ke dalam rumahku dan kembail menangis sejadi-jadinya.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Aku bersandar pada pagar balkon kamarku. Aku memandang langit malam yang bertaburan bintang dengan cahaya yang sangat terang. Aku pun memejamkan mataku. Merasakan hembusan angin musim semi yang menerpa wajahku. Rasanya sama. Rasanya masih sama seperti musim semi tahun lalu, saat kau masih ada disisiku. Hangat. Itu yang kurasakan. Aku kembali membuka mataku dan kembali memandang langit malam yang dipenuhi dengan bintang. Bulan pun menerangi malam musim semi ini. Aku pun kembali teringat dengannya. Teringat dengan Suzy. Ia sangatlah suka dengan langit malam yang dipenuhi bintang.
“Suzy-ah, kau suka sekali dengan langit malam yang dipenuhi bintang kan? Apakah kini kau juga sedang menikmati pemandangan indah ini?” bisikku lirih. “Suzy-ah, jeongmal saranghaeyo,” lirihku lagi. Aku menatap bintang-bintang yang berkelap-kelip indah di malam hari ini. Kuharap semua bintang ini dapat menyampaikan isi hatiku kepada Suzy. Aku pun melangkah dengan gontai menuju tempat tidurku dan memejamkan mataku.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Aku terbangun dari tidurku karena cahaya matahari yang masuk melewati sela-sela jendela kamarku. Aku pun mengerjap-ngerjapkan mataku. Saat terbangun pun hal pertama yang terlintas dalam pikiranku hanyalah kamu Suzy-ah. Aku berharap kalau aku tidak akan bangun sebelum musim semi datang lagi. Dan aku berharap ketika aku terbangun pada musim semi berikutnya, aku melihatmu sedang tersenyum dengan manis kepadaku dengan sangat tulus. Tapi aku tahu semua itu hanyalah sebuah harapan kosong yang tidak akan mungkin terkabul.
 
Ajoo muhlli, ajoo muhlli geudaega innayo

Sashil nan geudaega maeil geuriwoonde

Ajoo jageun, ajoo jageun sasohan guhtdeuredo

Maeil geudaega saenggagi na
Bangan gadeuk nama wirohae jooduhn

Geudae hyangkiga kkot soge da heutuhjyuh

Uhnjenganeun neukkil soo uhbseulkka bwa

Geudae idduhn gongkirado bootjaba doogo shipuh
Ajoo muhlli, ajoo muhlli geudaega innayo

Sashil nan geudaega maeil geuriwoonde

Ajoo jageun, ajoo jageun sasohan guhtdeuredo

Maeil geudaega saenggagi
(Kau begitu sangat jauh, sangat jauh

Sejujurnya aku rindu padamu setiap hari

Bahkan sangat kecil, hal-hal sepele yang sangat kecil

membuat saya memikirkanmu setiap hari
Baumu menghibur, memenuhi ruangan, bunga-bunga bertebaran dimana-mana

Karena aku takut suatu hari aku tidak akan bisa merasakannya

Aku ingin memegang bahkan udara yang kau ada didalamnya
Kau begitu sangat jauh, sangat jauh

Sejujurnya aku rindu padamu setiap hari

Bahkan sangat kecil, hal-hal sepele yang sangat kecil

membuat saya memikirkanmu setiap hari)

Author POV
Chanyeol kini sedang duduk termenung di beranda rumahnya sambil menatap pekarangan rumahnya yang dipenuhi dengan berbagai macam bunga yang dulu ditanam oleh Suzy dan dirinya.
Author POV End
Chanyeol POV
“Suzy-ah, sebenarnya kau ada di mana? Mengapa kau tiba-tiba menghilang dari hidupku? Mengapa kau meninggalkanku begitu saja? Mengapa sejak hari itu kau menghilang bagai ditelan bumi? Bukankah kau sudah berjanji padaku kalau kita akan selalu melewati semua musim semi dalam hidup kita bersama-sama? Tapi mengapa di musim semi kali ini kau tidak ada disisiku? Suzy-ah kau di mana? Jeongmal boghosipeoyo, Suzy-ah,” ujarku lirih dan kembali terisak. Sekarang aku memang sudah menjadi namja yang cengeng.Kerjaanku setiap hari hanyalah menangisinya dan memikirkannya. Sedetikpun  Suzy tidak akan pernah lepas dari pikiranku. Apalagi di musim semi ini. Musim yang paling berarti dalam hidup kami. Musim yang mempertemukan kami. Dan juga musim yang memisahkan kami. Pikiranku kembali melayang ke masa lalu. Tepatnya hari itu. Hari terakhir musim semi tahun kemarin. Hari di musim semi yang paling menyedihkan bagiku. Hari di musim semi yang menyebabkan kita berpisah. Hari di mana terakhir kalinya aku melihatmu.
 
Flashback
Neoui sesangeuro
Yeorin barameul thago
Ne gyeotheuro
Eodieseo wannyago
Ponselku berbunyi. Aku pun segera meraihnya. Ada sebuah panggilan masuk dari Suzy. Dengan semangat, aku pun segera mengangkatnya.
“Yeoboseyo,” sapaku.
“Yeoboseyo, oppa. Apakah oppa sedang sibuk?” tanya Suzy di seberang telepon.
“Aniyo. Wae?”
“Apakah kita bisa bertemu oppa? Aku ingin menikmati hari terakhir musim semi ini bersama oppa.”
“Ne, oppa juga. kalau begitu kita bertemu di taman yang dipenuhi bunga sakura ya.”
“Ne oppa, aku sudah ada di sana sekarang. Aku tunggu oppa,” setelah itu ia memutuskan sambungan teleponku dengannya.
Aku pun segera meraih jasku dan berlari menuju parkiran. Kebetulan semua urusan di kantor sudah selesai.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
“Suzy-ah, kau sudah menunggu lama ya? Maafkan oppa, ne?” ujarku sambil menghampirinya yang sedang menungguku di salah satu kursi panjang di bawah salah satu pohon sakura yang masih bermekaran.
“Aniyo oppa, gwenchana,” jawabnya sambil tersenyum lalu menggandeng tanganku. Mengajakku pergi dari tempat tersebut. “Oppa, kajja kita ke taman bunga di sebelah sana,” ujarnya riang sambil menunjuk ke arah taman bunga di sebelah sana. Aku pun mengangguk setuju dan mengeratkan genggaman tanganku pada tangannya.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
“Oppa bunga-bunganya sangat cantik dan indah ya? Tapi sayang, sekarang adalah hari terakhir musim semi,” ujarnya sambil mencium harum salah satu bunga mawar putih yang tumbuh di taman ini.
“Oh ya, mengapa kau mengajakku ke sini?” tanyaku tiba-tiba. Ia pun menoleh dan raut wajahnya tiba-tiba saja berubah menjadi murung.
“Sebenarnya ada yang harus kubicarakan dan itu sangatlah penting,” jawabnya sambil menatap mataku dengan tatapan yang serius.
“Katakan saja, oppa akan mendengarkannya.”
“Tapi oppa jangan marah,” aku pun hanya mengangguk mengiyakan. “Oppa, lebih baik kita akhiri saja hubungan kita ini,” ujarnya lirih sambil menundukkan kepalanya.
JLEB!
Aku merasakan ada sebuah pedang yang menghunus tepat dijantungku. Dan setelah itu pedang tersebut menyayat-nyayat jantungku.
Apa yang barusan ia katakan? Apakah aku tidak salah dengar? Apakah semua itu hanya halusinasiku saja? Apakah telingaku sudah tuli sehingga tidak dapat mendengar dengan jelas?
“Apa yang barusan kau katakan Suzy-ah?” tanyaku memastikan.
“Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini oppa,” ulangnya sangat lirih.
“Waeyo? Apakah oppa membuat kesalahan padamu? Kalau begitu maafkan oppa. Tolong maafkan oppa. Mianhae, jeongmal mianhae. Oppa berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan tersebut. Tapi tolong, jangan pernah tinggalkan oppa,” ujarku memohon dengan mata yang berkaca-kaca.
“Aniyo oppa. Oppa sama sekali tidak memiliki kesalahan padaku. Tapi, aku hanya saja merasa tidak pantas selamanya bersama oppa. Aku tidak pantas mendampingi oppa. Aku memang yeoja yang jahat karena menyia-nyiakan namja sebaik oppa. Tapi, aku punya alasan yang tidak dapat kuberitahukan pada oppa. Alasan yang menyebabkan aku tidak pantas hidup mendampingi oppa untuk selamanya. Jadi, lebih baik kita sudahi saja hubungan ini oppa,” ujarnya sambil menangis.
“Tapi, bagi oppa kau sangat pantas hidup mendampingi oppa. Oppa akan selalu menerima kekuranganmu apa adanya. Jebal Suzy-ah, jangan sudahi hubungan yang telah kita rajut selama 3 tahun ini dengan cara seperti ini. Bukankah kau telah berjanji padaku kalau hanya maut saja yang boleh memisahkan kita?” ujarku sambil meraih kedua tangannya
“Maafkan aku oppa, aku harus mengingkari janji tersebut. Karena kalau tidak, oppa pasti akan sakit.”
“Tapi… tapi…” jawabku kehilngan kata-kata karena rasa sakit ini. Aku pun mulai menangis.
“Mianhae oppa, jeongmal mianhae. Mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Mianhae oppa, aku harus pergi. Selamat tinggal dan jangan pernah mencariku oppa,” ujarnya lalu melepaskan genggaman tanganku dan mulai berbalik.
“Baiklah Suzy-ah. Tapi asal kau tahu bahwa selamanya aku akan mencintaimu dan hanya kaulah yang selalu ada di hatiku. Dangsineun yeongwonhi saranghanda (selamanya aku akan mencintaimu), Suzy-ah!” teriakku. Kulihat ia sempat menghentikan langkahnya. Namun ia tidak menoleh dan kembali melanjutkan langkahnya. Aku hanya bisa melihatnya perlahan menjauh dari pandanganku dan kemudian menghilang di ujung jalan. Aku pun jatuh terduduk dengan lemas. Kurasakan sakit yang amat sangat yang menjalari dadaku. Aku pun meremas dadaku berharap rasa itu akan hilang. Namun, rasa sakit tetap menjalari. Aku pun menangis sekencang-kencangnya untuk melampiaskan rasa sakit ini.
Flashback End
Aku kembali terisak mengingat kejadian pada saat itu. Kejadian yang menyebabkan kita tidak  pernah bertemu kembali. Aku pun masuk ke dalam rumahku dan duduk di ruang keluarga. Aku menatap ke sekeliling ruang keluarga. Ruangan ini juga dipenuhi bunga-bunga yang bermekeran. Aku ingat kaulah yang menata ruangan ini sehingga ruangan ini dipenuhi dengan bunga-bunga. Mataku kembali menyusuri keadaan di sekitar ruang keluarga. Kini pandanganku terhenti ke dinding ruang keluarga yang dipenuhi dengan bingkai-bingkai foto yang tergantung rapi. Aku pun berjalan ke dinding tersebut dan memperhatikan setiap foto dengan seksama. Semua foto tersebut adalah foto-foto kami saat kami masih bersama. Aku pun mengambil sebuah bingkai foto yang tergantung. Di situ terdapat gambarku dengan Suzy. Aku memeluk Suzy dari belakang dan Suzy menggenggam kedua tanganku dengan erat. Aku ingat kapan foto ini diambil. Foto ini diambil setahun yang lalu. Tepatnya di hari terakhir musim semi. Di hari di mana ia mangakhiri hubungan kami. Dan ini adalah foto terakhir yang dapat kuambil bersamanya. Aku pun kembali menangis. Dan beberapa tetes airmataku kini telah membasahi kaca bingkai foto tersebut. Aku memeluk bingkai foto tersebut dengan erat. Aku pun memejamkan mataku dan menyandarkan kepalaku pada sofa. Aku sungguh merindukannya. Aku sangat merindukan harum rambutnya, hangat tubuhnya serta senyumnya yang selalu ia berikan kepadaku dengan tulus. Suzy-ah jeongmal boghosipeoyo, jeongmal saranghaeyo.
Chanyeol POV End
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Author POV
Chanyeol pun tertidur di sofa sambil memeluk bingkai foto tersebut. Ia tertidur sambil menangis. Ia amat sangat merindukan Suzy. Namun, ia sendiri tidak tahu di mana Suzy berada. Selama ini Chanyeol selalu mencari Suzy walaupun Suzy sudah melarangnya untuk mencarinya. Bahkan setiap hari ia selalu menunggu kedatangan Suzy di taman yang dipenuhi dengan pohon sakura. Taman yang menjadi tempat favoritnya dengan Suzy. Namun, penantiannya selalu sia-sia. Suzy tidak pernah datang. Dan akhirnya Chanyeol akan pulan ke rumah dengan hati yang sangat sakit.
Author POV End
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Chanyeol POV
“Oppa… oppa…” aku mendengar ada suara seorang yeoja memanggilku. “Oppa…” aku mendengar suara itu lagi. Tapi tunggu. Itu seperti suara Suzy. Ya, benar itu suara Suzy.
“Suzy-ah, benarkah itu kau?” tanyaku memastikan sambil memandang kesekeliling mencari sosoknya.
“Ne, ini aku oppa,” jawabnya sambil tersenyum kepadaku.
Aku membulatkan mataku. Aku melihat Suzy. Kini aku melihat Suzy berada dihadapanku. Ia tersenyum sangat manis dan penuh kehangatan serta ketulusan. Senyumnya masih sama seperti terakhir kali aku bertemu dengannya.
“Ini benar kau?” tanyaku lagi memastikan. Ia hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku pun segera berlari ke arahnya dan menariknya ke dalam pelukanku. Merasakan kehangatan tubuhnya dan harum rambutnya yang membuatku candu. “Suzy-ah, boghosipeoyo, jeongmal boghosipeoyo. Jangan pernah tinggalkan aku.” Aku pun kembali mengeratkan pelukanku padanya.
“Mianhae oppa,” jawabnya lirih. “Tapi, aku tetap harus pergi oppa. Tapi aku akan selalu ada di hati oppa,” jawabnya lirih. Ia pun melepaskan pelukanku dengannya. “Mianhae oppa. Jeongmal mianhae. Gomawo oppa telah mencintaiku dengan tulus dan mau menerimaku apa adanya. Tapi aku harus pergi oppa. Selamat tinggal oppa,” ujarnya lalu menghilang dari hadapanku begitu saja.
“Suzy-ah… Suzy-ah… eodigayo? Suzy-ah… Suzy-ah…!!!” teriakku memanggil namanya namun ia tidak kembali muncul.
Chanyeol POV End
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Author POV
“Suzy-ah… Suzy-ah…”
“Chanyeol ireona, Chanyeol ireona!” panggil eomma Chanyeol membangunkan Chanyeol yang terus mengigau. Namun Chanyeol sama sekali tidak mau bangun. Eomma pun memegang kening Chanyeol yang sudah penuh dengan keringat. Tubuh Chanyeol sangatlah panas. Eomma pun sangat panik dan segera membawa Chanyeol ke rumah sakit.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Chanyeol perlahan-lahan membuka matanya. Ia pun melihat keadaan di sekelilingnya.
“Eomma di mana aku?” tanya Chanyeol saat melihat eommanya berada di sampingnya bersama appa dan noonanya.
“Kau di rumah sakit Chanyeol. Tadi demammu sangat tinggi hingga kau tidak sadarkan diri dan terus mengigau,” jelas eomma. Chanyeol pun hanya mengangguk mengerti.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Chanyeol duduk terdiam di dekat jendela di ruang rawatnya. Ia menatap keadaan taman rumah sakit yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Ia pun memutuskan untuk pergi ke taman tersebut sambil menikmati hembusan angin musim semi. Namun saat berjalan di koridor rumah sakit, langkahnya tiba-tiba terhenti.
“Eommanim?” panggil Chanyeol.
“Chanyeol?” kaget wanita paruh baya tersebut yang ternyata adalah eomma Suzy. “Mengapa kau bisa ada di sini?”
“Aku di rawat di sini karena sakit demam. Eommanim kenapa bisa ada di sini juga?” tanya Chanyeol penasaran.
“Eomma sedang menjaga Suzy.”
“Suzy? Memang ada apa dengan Suzy? Ia baik-baik saja kan eommanim?”
“Kau tidak tahu? Apakah Suzy tidak pernah menceritakannya padamu?”
Chanyeol hanya menggeleng. Dalam pikirannya terkelebat pikiran-pikiran buruk. Namun, Chanyeol berusaha menepis semuanya.
“Suzy setahun terakhir ini divonis menderita penyakit jantung kronis.”
Author POV End
Chanyeol POV
JLEB!
Kini aku kembali merasakan sebilah pedang menghunus dadaku. Rasanya sakit. Sakit sekali. Mengapa selama ini Suzy tidak pernah jujur padaku? Mengapa ia menyembunyikan semuanya dariku? Mungkinkah ini alasan yang ia katakan tidak bisa ia beritahukan kepadaku? Apakah karena hal ini ia mengakhiri hubunganku dengannya? Semua pertanyaan itu terlintas dalam otakku. Aku benar-benar terkejut dengan semua ini.
“Kau mau menjenguk Suzy? Tapi sudah seminggu ini Suzy tidak sadarkan diri,” tanya eommanim. Aku pun segera mengangguk. Eommanim pun mempersilahkan aku masuk dan meninggalkanku sendirian di ruang rawat tersebut.
Aku melihat Suzy ada di sana. Terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan alat bantu pernapasan dan beberapa kabel yang mendeteksi detak jantungnya dan juga jarum infus pada tangan kirinya yang terhubung dengan selang infus.
Aku pun berjalan mendekatinya. Kuraih tangan kanannya yang tidak terdapat jarum infus. Kupandangi wajahnya yang sangat pucat.
“Suzy-ah waeyo? Kenapa kau tidak mau menceritakan semuanya kepadaku? Apakah kau takut membuatku sedih? Justru jika aku tahu dengan cara seperti ini aku akan merasa lebih sedih lagi. Jadi, inikah alasanmu mengakhiri hubungan kita? Mengapa begitu? Bukankah aku sudah bilang padamu kalau aku akan mencintaimu apa adanya,” ujarku sambil menangis.
“Kau tahu, semenjak kau pergi meninggalkanku aku berubah menjadi namja yang cengeng. Chanyeol si ‘Happy Virus’ yang dulu sudah tidak ada lagi. Kini aku menjadi namja pemurung yang selalu menangis, Suzy-ah,” lanjutku sambil mengusap air mataku.
“Suzy-ah, jebal ireona. Mianhae, selama ini aku tidak berada di sampingmu. Saranghae, jeongmal saranghaeyo. Kini aku akan sering menjengukmu,” ujarku sambil mengecup keningnya lama dan mencium punggung tangannya lalu melangkah keluar dari kamarnya.
Aku pun melangkah gontai menyusuri koridor rumah sakit dan mengurungkan niatku untuk pergi ke taman dan kuputuskan untuk kembali ke kamar. Namun lagi-lagi langkahku terhenti. Namun kini langkahku terhenti tepat di depan ruangan dokter yang merawat Suzy. Aku tahu hal tersebut karena tadi aku sempat melihat nama dokter yang merawat Suzy pada papan nama Suzy yang terpasang di ranjang rawatnya. Dengan penuh keberanian, aku pun mengetuk pintu ruangan tersebut untuk menanyakan bagaimana kondisi Suzy yang sebenarnya.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
“Penyakit jantungnya sudah sangat parah dan jalan satu-satunya agar nona Bae Su Ji sembuh hanyalah dengan cara melakukan operasi transplantasi jantung. Namun selama ini pihak rumah sakit belum dapat menemukan pendonor jantung yang cocok,” jelas dokter tersebut.
“Jika dalam waktu dekat ini tidak ditemukan pendonor jantung yang cocok, apa yang akan terjadi dok?” tanyaku.
“Mungkin kita semua akan kehilangan nona Bae Su Ji,” ujar dokter tersebut pasrah.
Aku pun hanya bisa terdiam mendengarkan penjelasan dokter tersebut.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Sore ini aku kembali mengunjungi Suzy. Eommanim sudah mengizinkanku untuk mejaga Suzy dan memperbolehkan masuk tanpa perlu izin padanya. Jadi aku pun segera masuk ke dalam ruang rawat tersebut. Namun, aku sangat terkejut ketika memasuki ruang rawat tersebut. Kulihat Suzy sudah sadar dan kini ia menatapku dengan tatapan terkejut.
“Oppa?” panggilnya memastikan dengan nada terkejut.
“Suzy-ah kau sudah sadar?” tanyaku sambil mendekatinya. Ia hanya mengangguk. Aku dan Suzy pun hanya bisa terdiam.
“Mengapa oppa ada di sini? Oppa sudah tahu semuanya kan? Oppa tahu kan kalau umurku sudah tidak akan lama lagi. Aku memang tidak dapat membuat oppa bahagia. Aku hanya dapat membuat oppa sedih dan menderita karenaku. Itu alasanku mengakhiri hubungan kita oppa. Karena aku tau umurku tidak akan lama lagi. Aku tahu jika oppa tahu semuanya, itu hanya akan membuat oppa sedih,” jelasnya sambil menitikkan airmata.
“Aniyo Suzy-ah, kau selalu membuat oppa bahagia dan tidak pernah membuat oppa menderita dan sedih. Dan oppa yakin umurmu masih panjang dan oppa yakin kau pasti akan sembuh.”
“Mianhae oppa, jeongmal mianhae. Aku terpaksa melakukan semua ini. Aku tidak ingin oppa sakit. Sebenarnya selama ini aku selalu mencitaimu oppa.”
“Aku juga Suzy-ah. Saranghae, jeongmal saranghaeyo.”
“Nado saranghae oppa, nado jeongmal saranghaeyo.”
Aku pun segera memeluknya dan mencium keningnya lama. Aku pun mendekatkan wajahku ke wajahnya. Dan kini aku dapat merasakan deru nafasnya. Ia pun memejamkan matanya. Aku pun mendaratkan bibirku ke bibirnya dan memberikan ciuman lembut dan hangat kepadanya. Ia pun membalas ciumanku dengan lembut dan hangat. Aku pun melepas ciuman kami dan kembali memeluknya dengan erat. Aku tidak ingin kehilangannya lagi untuk kedua kalinya.
Chanyeol POV End
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Harooga myuht dari dwego,
Uhnjenganeun nae mamedo oneul gateun sae bomi ol tende…

Ajoo muhlli, ajoo muhlli muhn gose inneyo
Geudaeui maeireun bomnarira miduh

(Satu hari menjadi bulan
Tampaknya bahkan dalam hati saya juga suatu musim semi baru sudah datang …

kamu sedemikian jauh, jauh, jauh dari tempat
Saya percaya kepada Anda setiap hari adalah musim semi
)

 
Author POV
Kini Chanyeol dan Suzy kembali menjalin hubungan seperti dulu lagi. Chanyeol setiap hari selalu menjenguk Suzy dan apabila pekerjaannya di kantor sudah selesai dan esoknya adalah hari Minggu, Chanyeol selalu menyempatkan diri untuk menginap di rumah sakit. Suzy pun kini memiliki semangat untuk hidup.
Author POV End
 
Suzy POV
“Suzy-ah, tadi dokter mengatakan padaku kalau sebentar lagi kau akan mendapatkan donor jantung yang cocok dan sebentar lagi kau akan menjalani operasi transplantasi jantung,” ujar Chanyeol oppa ketika memasuki ruang rawatku.
“Jinja oppa?!” tanyaku bahagia.
Chanyeol oppa hanya mengangguk dan tersenyum lalu memelukku.
“Sudah kubilang kan, kalau kau akan mendapatkan donor jantung dan kau akan sembuh,” ujar Chanyeol oppa.
Aku pun hanya mengangguk sambil tersenyum.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
“Eomma, appa, oppa, aku sangat takut,” ujarku pada eomma, appa dan Chanyeol oppa. Sebentar lagi aku akan menjalankan operasi transplantasi jantung.
“Tenang saja Suzy, semua akan baik-baik saja dan akan berjalan lancar,” ujar appa menyemangatiku. Eomma dan Chanyeol oppa pun mengangguk mengiyakan.
“Semuanya pasti akan berjalan dengan lancar, berjuanglah! Semangat!” ujar Chanyeol oppa menyemangatiku dengan gayanya yang lucu. Ia memang sangat pantas dijuluki si ‘Happy Virus’.
“Selamat berjuang ya, nak,” ujar eomma dan appa sambil menyium keningku dan kedua pipiku. “Jeongmal saranghaeyo.”
“Nado eomma, appa. Gomawo.”

“Selamat berjuang Suzy-ah. Saranghae, jeongmal saranghaeyo, dangsineun yeongwonhi saranghanda. Operasinya pasti berhasil dan kau akan kembali sehat,” ujar Chanyeol oppa kemudian memelukku dan mencium kening dan kedua pipiku lalu mencium bibirku singkat. “Fighting!” serunya sambil mengepalkan kedua tangannya lalu menggenggam tangan kananku dengan sangat erat.
Ranjang rawatku pun didorong menuju ruang operasi. Chanyeol oppa terus menggenggam erat tangan kananku hingga aku memasuki ruangan operasi ia baru melepaskan genggaman tangannya sambil tersenyum.
Lampu operasi pun mulai dinyalakan dan seorang dokter menyuntikku dengan obat bius. Dan aku pun memejamkan mataku.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Aku pun membuka kedua mataku dengan perlahan. Dan melihat keadaan sekeliling. Kudapati eomma, appa, serta eomma appa Chanyeol oppa mengitari ranjang rawatku.
“Suzy-ah, operasimu berhasil,” ujar eomma. Aku pun tersenyum. Eomma dan appa pun memelukku.
“Di mana Chanyeol oppa?” tanyaku ketika menyadari tidak ada Chanyeol oppa di antara mereka semua.
“Chan… Chanyeol…. Chanyeol masih banyak pekerjaan di kantor,” ujar eomma Chanyeol oppa. Aku mengangguk mengerti. Namun, aku merasakan ada kejanggalan pada perkataan eomma Chanyeol.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~
“Eommanim, mengapa Chanyeol oppa belum datang juga?” tanyaku pada eomma Chanyeol oppa. Namun eomma Chanyeol oppa tidak menjawab. Aku pun mengalihkan pertanyaan tersebut kepada eomma.
“Eomma, kenapa Chanyeol oppa belum datang?” tanyaku penasaran. Namun eomma juga tidak menjawab dan malah eomma dan eomma Chanyeol oppa memelukku secara bersamaan. Aku pun sangat bingung.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyaku penasaran. Kini pikiran-pikiran negatif sudah terlintas pada otakku.
“Mungkin kau memang harus tahu secepat ini Suzy-ah,” ujar eomma Chanyeol oppa.
“Chanyeol oppa tidak akan dan tidak akan pernah datang,” lanjut eomma yang mebuatku tambah bingung.
“Waeyo?” tanyaku bingung.
“Chanyeol oppa sudah pergi untuk selamanya. Dialah yang mendonorkan jantungnya untukmu,” lanjut eomma Chanyeol oppa.
DEG!
Apa? Apakah aku tidak salah dengar? Benarkah Chanyeol oppa yang mendonorkan jantungnya untukku?
“Eommanim dan eomma pasti sedang bercanda kan? Ini hanya akal-akalan kalian dan Chanyeol oppa untuk menjahiliku saja kan?” tanyaku dengan mata yang sudah mulai memanas.
Eomma dan eomma Chanyeol oppa menggeleng.
Hatiku terasa sakit sangat sakit mendengarkan jawaban dari mereka. Airmataku kini sudah mulai jatuh. Mengapa? Mengapa harus Chanyeol oppa yang mendonorkan jantungnya untukku? Mengapa? Bukankan Chanyeol oppa menyuruhku berjanji agar tidak pernah meninggalkannya? Tapi, kenapa kini ia yang meninggalkanku? Apakah Chanyeol oppa ingin membalas perbuatanku karena aku pernah meninggalkannya. Dan Chanyeol oppa juga melakukan hal tersebut di hari-hari terakhir musim semi. Inikah balasannya? Balasan untukku karena sempat meningglkannya?
“Sebelum pergi, Chanyeol oppa menitipkan ini kepada eomma,” ujar eomma Chanyeol oppa sambil menyodorkanku sebuah kotak kado berwarna peach berpita biru muda lalu meninggalkan ruang rawatku bersama eomma. Aku pun menerimannya. Dan membuka kado tersebut. kulihat isinya. Sebuah dress berwarna putih, sebuah boneka kelinci putih, namun aku sama sekali tidak menemukan sepucuk suratpun. Tunggu ada satu lagi, sebuah CD bertuliskan ‘watch me’. Aku pun segera menyalakan CD tersebut. Dan menonton CD tersebut lewat televisi yang berada di kamar rawatku.
Aku pun terkejut ketika muncul gambar Chanyeol oppa sedang memegang gitar.
“Annyeong Suzy-ah. Oppa akan menyanyikan sebuah lagu untukmu sambil bermain gitar,” ujar Chanyeol oppa. Ia pun mulai memainkan gitarnya dan bernyanyi. Ia menyanyikan sebuah lagu dari Ryeowook Super Junior yang berjudul One Fine Spring Day. Lagu kesukaanku dengan Chanyeol oppa. Aku pun mendengarkannya sambil menangis. Setelah selesai bernyanyi ia pun mengatakan sesuatu.
“Annyeong Suzy-ah. Kau pasti sudah sadar kan setelah melakukan operasi transplantasi jantung? Hehe barusan aku menyanyikan lagu One Fine Spring Day dari Ryeowook Super Junior. Itu lagu kesukaanmu bukan? Mianhae kalau aku buruk menyanyikan lagu tersebut. Tapi aku tahu kau pasti akan menyukainya bukan?” ujar Chanyeol oppa sambil tersenyum lebar.
Aku pun ikut tersenyum dalam tangisku. Bahkan pada saat seperti ini ia masih bisa tersenyum selebar itu dan sangat percaya diri.
“Saat kau melihat video ini, pasti aku sudah tidak ada di dekatmu lagi kan? Mianhae, jeongmal mianhae. Aku terpaksa melakukan semua ini demi kau. Aku ingin kau hidup bahagia dan sembuh dari penyakitmu.”
Aku pun terisak mendengarkan ucapannya.
“Saat mendengar kau meminta untuk mengakhiri hubungan kita, aku sangat terpukul. Bahkan aku berubah menjadi namja cengeng. Setiap hari kerjaanku hanya menangisimu. Hingga suatu hari aku jatuh sakit. Demamku sangat tinggi hingga tidak sadarkan diri dan terus saja mengigau. Eomma pun membawaku ke rumah sakit. Tapi karena peristiwa tersebut, kini aku bersyukur karena dengan begitu aku dapat bertemu denganmu lagi.”
Tangisku semakin menjadi mendengar perkataannya.
“Tapi, aku sangat terkejut ketika tahu kau menderita penyakit jantung dan aku melihatmu terbaring lemah dengan alat  bantu pernafasan, kabel-kabel pendeteksi detak jantung dan juga selang infus. Wajahmu amat sangat pucat saat itu. Setelah melihat kondisimu yang parah, aku pun segera menuju ke ruangan dokter untuk menanyakan kondisimu yang sebenarnya. Dokter bilang kau bisa sembuh apabila mendapatkan donor jantung yang cocok dan apabila dalam waktu dekat kau belum menemukan pendonor yang cocok mungkin kau akan pergi dari dunia ini untuk selamanya. Saat itu aku berfikir cukup lama untuk melakukan semua ini. Dan akhirnya kuputuskan untuk melakukan tes apakah jantungku cocok atau tidak denganmu. Dan ternyata hasilnya cocok. Jadi, aku memutuskan untuk mendonorkan jantungku untukmu.”
Aku semakin terisak. Rasanya sakit sekali mendengar semua perkataannya.
“Dan hari itu tiba. Tapi, aku berusaha menyembunyikan hal tersebut darimu. Karena aku takut jika kau tahu, kau akan membatalkan operasi tersbut. Saat itu aku memaksa diriku agar tetap tersenyum dan tidak membuatmu sedih. Dan aku sebenarnya saat itu tidak mau melepaskan genggaman tanganku padamu. Karena aku tahu itu terakhir kalinya aku dapat menggenggam tanganmu dengan erat dan itu terakhir kalinya juga aku dapat memeluk dan menciummu. Merasakan kehangatan tubuhmu yang membuatku merasa amat sangat nyaman.”
Hatiku sangat sakit saat ini. Tapi aku harus mendengar kelanjutan dari ucapannya.
“Jangan menangis Suzy-ah. Aku tahu saat ini kau sedang menangis. Uljimayo. Mianhae mulai dari sekarang aku sudah tidak bisa menghapus airmatamu. Mianhae. Karena lagi-lagi aku membuatmu sedih. Mianhae. Karena aku terpaksa melakukan semua ini demi kau. Mianhae karena sekarang aku tidak dapat berada di sisimu lagi. Tapi asal kau tahu. Sebenarnya aku masih hidup. Aku masih hidup di hatimu. Aku hidup dalam setiap detak jantungmu. Aku hidup dalam setiap denyut nadimu. Dan cintaku selamanya juga masih hidup. Dan cintaku hanyalah kutujukan untukmu. Mianhae karena kita harus bertemu dan berpisah di musim semi. Di mana musim tersebut adalah musim favorit kita. Ku harap kau dapat hidup bahagia dan dapat menemukan cinta sejatimu juga seorang namja yang jauh lebih baik dariku. Tapi, kuharap kau tidak akan pernah melupakanku. Mianhae atas semua kesalahan yang telah kuperbuat. Mianhae karena aku sering menjahili dan sering membuatmu menangis. Gomawo karena telah menjadi cinta pertama dan terakhirku. Gomawo untuk seluruh cinta dan kasih sayang yang telah kau berikan kepadaku, Suzy-ah saranghae, jeongmal saranghaeyo. Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya Suzy-ah, dangsineun yeongwonhi saranghanda.”
Video tersebut pun berakhir. Aku semakin terisak. Dan tangisku semakin menjadi.
~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~
Ajoo muhn nal, ajoo muhn hootnal geudae nareul mannamyuhn
Neul hamkkeyuhddago yegihae jwuh

(Pada suatu hari yang jauh, sangat jauh dari masa depan, jika kamu melihat lagi. Katakan kami selalu bersama)
Aku duduk berlutut di sebuah gundukan tanah yang berada tepat di bawah pohon sakura yang bermekaran sambil terisak. Kuletakkan sebuket bunga mawar putih di atas gundukan tanah tersebut.
“Oppa, hari ini aku datang lagi. Tidak terasa 1 tahun telah berlalu dan kini musim semi kembali datang,” ujarku sambil menitikkan airmataku.
“Kau benar oppa kau selalu hidup dalam setiap detak jantungku serta denyut nadiku. Gomawo oppa karena kau sangat mencintaiku hingga kau rela mengorbankan nyawamu demiku.”
“Oppa hari demi hari telah kulewati tanpa oppa. Dan kini aku baru sadar kalau aku tidak dapat hidup tanpa oppa. Mianhae oppa aku dulu pernah meninggalkanmu oppa. Kini aku mengerti perasaan oppa saat itu.”
“Oppa saranghae, jeongmal saranghaeyo, dangsineun yeongwonhi saranghanda. Selamanya aku tidak akan pernah melupankanmu oppa. Dan kuharap dikehidupan selanjutnya, cinta kita dapat bersatu dan berakhir bahagia, tidak seperti sekarang ini. Dan kuharap, dikehidupan selanjutnya, kita akan selalu bersama tanpa ada perpisahan sedikitpun. Oppa mianhae untuk semuanya. Gomawo untuk semua cinta dan kasih sayang yang telah kau berikan kepadaku. Jeongmal saranghae oppa. Dangsineun yeongwonhi saranghanda,” aku pun bangun dari dudukku. Kurasakan hembusan angin hangat musim semi yang menerpa wajahku. Seiring dengan hembusan angin tersebut. Kudengar suara Chanyeol oppa menjawab perkataanku.
‘Nado jeongmal saranghaeyo Suzy-ah. Dangsineun yeongwonhi saranghanda.’
~~~~~~~~~~END~~~~~~~~~~
Gomawo reader yang udah mau baca ff author yang geje ini. Mian, kalo banyak typo, ceritanya geje, dan alurnya kecepetan. Sekali lagi gomawo yang udah baca 😀

45 tanggapan untuk “ONE FINE SPRING DAY”

  1. Aku lagi nangis nih thor.aku baca lirik lagunya,nyanyiin lagunya sambil nangis.sakit banget ini hati pas baca
    Huaaa..
    Huachimmmmm…*aku bersin kena muka author**PLAKK.. ditampar author*hehe… bagus banget.

  2. telat bnget aku baca’na..
    keren bnget thor..
    bkin aku nngis..
    apa lagi waktu suzy liiat video’na..
    sukses bnget author bkin rumah aku kbnjiran air mata..
    di tunggu ff lainnya

  3. ceritanya daebakk!jujur thor gue sampe berlinang air mata bacanya,hehe,keep up author!lanjutin bikin karya yglebih bagus lg yah 😀

  4. Daebak !!!!!!!!!!!! Min … aku sampe terisak isak . Tengah malem gini ._. Dikira kuntilanak XD . Btw min jalan ceritanya hmpir sama bgt sama FF pertama aku XD kita jodoh min(?) XD

  5. thor, ff nya gila, keren bgt,
    Bwat lge yak, bgus tau, hehe
    Kata kata yg pas video bkin aku nangis 😥
    Ff nya jga sosweat bgt, cba x yak klo d bwat film, wah psthy tmbah keren bgt,

  6. bagus thor tp ceritanya benar2 sedih, awal baca di kirain suzy yg meninggal ternyata chanyeol. T_T. feelnya jg dapet thor sambil dengerin lagu.
    😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s