Dance, Kai.

ini apa

Main Cast: EXO-K Kai and You.

Genre: Romance, sad

Length: Oneshot yang ngga niat

Disclaimer: Kai belongs to God, his parents, EXO and his friends (?). Plot and quote are mine. Poster belong to owner on tumblr *saya ngga sempet bikin poster*, Plagiat? Terserah sih. Fyi, ngejiplak karya orang malunya minta ampun loh.

*****

Namanya Kai. Dia seperti boneka di dalam kotak musik.

Aku tidak tahu nama lengkapnya, tapi ia menyebut namanya Kai. Hanya itu, dan kami berteman. Sebenarnya, tidak hanya sesederhana itu. Ada banyak kejadian yang membuat Kai dan aku adalah teman.

“Kau mau bercerita tentang itu lagi?” suara Kai memecah lamunanku.

Ah, aku lupa orang yang kubicarakan saat ini ada di hadapanku. Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Perlahan kulingkarkan lenganku di sekeliling bahunya. “Kau tidak bosan, kan?”

****

6 months ago.

Kami bertemu di musim dingin lalu di studio tari. Saat itu aku hanyalah anak baru yang tidak tahu apa-apa tentang tari. Lalu Kai datang, menyapaku, dan mengajariku bagaimana menggerakkan tubuh dengan indah.

“Anak baru?” tanya Kai saat itu.

Aku yang sedang mengikat tali sepatuku, mengangguk dan berdiri sambil tersenyum canggung.

“Kai,” ia mengulurkan tangan. Saat itu yang kulihat adalah senyumnya. Ia punya senyum misterius tapi dengan tatapan hangat. “Namamu?”

Aku menyebutkan namaku dan ia mengangguk singkat. Aku berdiri di hadapannya cukup lama dan ia menatapku juga dengan cukup lama. Aku nyaris meminta untuk segera dilenyapkan dari hadapannya ketika ia mengulurkan tangannya.

“Mari kita lihat bagaimana kemampuan tarimu.”

Aku mengerjap. “Apa?”

“Mau menari bersamaku?”

“Tapi kau –maksudku aku…” kata-kataku langsung kutelan begitu tanganku digenggam olehnya. Untuk ukuran yang bahkan belum kusebut teman, dia cukup berani dan percaya diri.

Ia tersenyum lagi. Kali ini dengan lebih ramah. “Kau keberatan?”

Aku menggeleng, masih tidak sanggup berkata-kata. Aku hanya menurut saat ia meminta izin untuk memegang pinggangku, dan dengan lugunya juga aku menurut untuk balas menggenggam tangannya.

Kami menari. Kai memegang ringan pinggangku, memutarnya, mengangkat tubuhku, memainkan jemariku di sela-sela jarinya, dan gerakan tarian lainnya yang belum pernah kupelajari.

Belum pernah kupelajari? Sudah kubilang kan, aku ini tidak tahu apa-apa tentang dunia tari. Lagipula tujuanku mendaftar di salah satu studio tari hanya untuk mengisi waktu luang. Sungguh, hanya menari lah yang terpikir di otakku untuk mengisi waktu luangku yang terlampau banyak.

Kau boleh menyebutku awam dalam menari. Gerakanku kaku dan kau pasti tertawa. Tapi percayalah, Kai membuatnya lebih baik. Ia ternyata adalah penari balet kontemporer yang namanya sudah tenar dimana-mana. Bisa kulihat itu dari dinding hall of fame yang kutemukan di studio tari tersebut. Dia menari dengan jiwa, bukan raga. Seluruh tubuhnya ikut menari.

Senyumnya menari, matanya menari, seluruh hayatnya menari seakan-akan tidak ada lagi yang bisa dilakukannya selain menari.

“Kau kaku,” ia terkekeh pelan.

“Sudah kubilang aku bodoh dalam menari. Kau akan menertawaiku setelah ini.” Aku mendengus.

“Aku hanya bilang, kau kaku,” ia memutar badanku dan menariknya kembali ke pelukannya. “Aku tidak bilang kau bodoh dalam menari, kan?”

Sial, aku merutuk. Aku selalu menonton drama korea, aku juga penggemar novel roman. Tapi kukira adegan-adegan semacam ini –aku berada tak lebih dari sepuluh senti dari wajahnya– tak pernah kubayangkan di kehidupan nyata sebelumnya.

“Aku menyukaimu.”

“Apa?” aku membeliak dan refleks memperlebar jarak kami.

Kai menghela nafas dan mengulangi dengan nada dan interval yang sama. “Kubilang aku menyukaimu.”

“Bagaimana bisa? Jangan bercanda, Kai-ssi.”

“Kau mau mendengar cerita?” Kai perlahan melonggarkan genggamannya dan menarikku menuju tepi studio tari. Anehnya, tepat setelah genggaman kami terlepas, Kai seperti kehilangan keseimbangan. Ia tidak berjalan dengan tegak dan ia kembali menggenggam tanganku kuat-kuat. Ia nyaris limbung ke depan kalau saja aku tidak menahan pundaknya.

“Kai-ssi kau tidak apa-apa?” tanyaku mulai cemas. Langkahnya tak beraturan dan ia mengerjap beberapa kali. Ia juga meringis sambil memegangi kepalanya.

Kai menjatuhkan tubuhnya begitu saja dan ia mengembuskan nafas kuat-kuat. Tanganku yang masih digenggamnya, kini terasa basah oleh keringatnya.

Dia pucat, lemah, dan nyaris seperti tidak sadarkan diri. “Hei, k-kau mau mendengar cerita?” ulangnya sekali lagi.

Aku belum menyahut, tapi ia tiba-tiba menyandarkan kepalanya di pundakku, seakan-akan hidupnya dipertaruhkan di pundakku.

“Aku menderita Multiple Schlerosis,” ujar Kai lugas tanpa ekspresi.

“Hm? Apa itu?” Aku terkejut, tapi tak tahu harus bereaksi seperti apa.

Kai menegakkan kepalanya dan kini berganti bersandar di dinding studio. “Suatu penyakit dimana sang penderita mengalami gangguan penglihatan, kaku, disleksia, dan hilangnya keseimbangan dan konsentrasi. Begitu yang kubaca di google.

Aku mengerjap-ngerjap, berusaha memahami apa yang baru saja Kai katakan. Kukira dia hanya bercanda, tapi aku melihat kesungguhan di matanya. Juga kesakitan luar biasa yang mungkin tidak berani dia ungkapkan. “Kai-ssi…

“Aku tidak bercanda. Kau melihat aku bercanda?”

Aku menggeleng pelan. “Tidak.”

“Seharusnya pasien Multiple Schlerosis tinggal di rumah dan tidak melakukan apa-apa,” Kai menarik nafas dan memejamkan mata.“Tapi aku hidup dengan menari.”

“Aku mengetahui penyakit ini sekitar dua bulan yang lalu, saat aku merasakan kemampuan tariku mulai berkurang. Aku memeriksakan ke dokter dan mereka memvonisku penyakit ini.”

“Tunggu, kurasa aku banyak bicara, bukan begitu?” Kai tahu-tahu menoleh, dan aku gelagapan karena aku tengah memandanginya dengan intens.

Aku menggeleng lagi. “Tidak, kau bisa lanjutkan.”

Kai menelengkan kepalanya dan meneruskan. “Dokter bilang, aku tidak akan bisa menari karena seluruh sistem syarafku hampir kaku dan tidak menurut sesuai yang otakku perintahkan. Dokter bilang lagi, aku tidak akan pernah bisa berjalan dengan tegak. Kau tahu, dalam perjalanan kesini, aku nyaris ditabrak sebelas mobil.”

Aku menahan nafas. Kurasa aku harus memastikan bahwa aku tidak sedang berada dalam novel saat ini. Kai dan segala hal tentang penyakitnya itu adalah nyata.

“Aku sampai di studio tari dengan susah payah. Aku memutuskan hari ini adalah hari terakhir aku menari karena aku sudah tidak sanggup menari lagi. Rencananya aku akan pamit mengundurkan diri dan mengucapkan salam perpisahan pada teman-temanku.” Sejenak kulihat Kai melirik dinding hall of fame yang disoroti lampu keemasan tersebut. Ada fotonya disana dan aku tahu dia sangat bangga. Kai menyunggingkan sedikit senyum. “Lalu aku melihatmu. Kau masuk diam-diam ke dalam studio dan memutar lagu favoritku.”

Aku menelan ludah. Aku tahu lagu favoritnya karena saat ini lagu itu tengah terputar untuk kesekian kali. Lagu itu juga menjadi lagu favoritku karena hanya lagu itu yang mampu membuatku menangis dan tersenyum dalam waktu bersamaan.

“Angel (Into Your World),” katanya pelan.

Aku menelan ludah. Lagu itu juga yang menjadi favoritku.

“Ah, ya, kau bilang kau baru dalam dunia balet kontemporer?” tanyanya.

Aku mengangguk ragu tanpa menyahut.

“Kau masih mau menyebut dirimu anak baru kalau aku mengatakan aku melihatmu menari dengan jiwamu tadi?”

“Apa?”

Kai tertawa pelan. “Aku mengawasimu menari sejak satu jam yang lalu. Aku mengintip dari balik jendela. Kau menari dengan teknikmu sendiri –maksudku, guru kami pernah mengajarkan teknik itu pada murid-muridnya. Kau menari sesukanya. Tapi aku tahu kau menari dengan hatimu. Ada banyak gadis disini yang menari dengan gerakan lebih baik darimu. Tapi kurasa tidak ada yang menari dengan jiwa lebih baik darimu.”

“Tolong jangan bertele-tele, Kai-ssi. Aku benar-benar tidak mengerti dengan maksudmu,” aku berkata pelan, takut melukai perasaannya.

Ia seperti tidak mendengar kata-kataku karena ia terus bercerita. “Kau pernah dengar jatuh cinta pada pandangan pertama? Yah, aku baru merasakannya saat melihatmu menari tadi. Aku memang jatuh cinta pada tarianmu, pada awalnya. Tapi kemudian aku jatuh cinta pada dirimu. Entah itu perasaan memalukan atau apapun. Yang jelas, aku tahu aku jatuh cinta padamu dalam enam puluh menit aku memperhatikanmu. Aku bahkan berniat mengajakmu duet setelah itu.

“Lalu saat kau terjatuh karena menginjak tali sepatumu sendiri dan kau berhenti menari, saat itulah aku keluar ke dunia nyata dan kembali menyadari bahwa aku tidak akan bisa menari karena penyakitku. Tapi bukannya patah semangat, aku justru berniat mengajakmu berkenalan dan menantangmu menari.”

“Aku benar-benar mengajakmu berkenalan. Maaf, aku langsung memegang tanganmu begitu saja karena saat itu aku merasa tubuhku limbung. Dalam hati aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku bisa menjaga keseimbangan dan koordinasi tubuhku selagi menari. Dan kau lihat sendiri, kita baru saja menampilkan tarian dengan sempurna.”

Aku ternganga. Serentetan kalimat yang diucapkannya masih sulit kucerna. Aku berpikir keras, mungkinkah yang dikatakan Kai benar? Tapi dia nyaris limbung tadi. Dia juga tidak berjalan dengan baik dan dia terlihat pucat. Kai memang tidak berbohong, karena sorot matanya mengatakan kejujuran yang sederhana.

“Kai-ssi, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Aku –“

“Kau memang tidak perlu berbuat apa-apa. Hanya temani aku menari atau setidaknya tetaplah di dekatku,” selanya.

Kai menarik nafas dan menatapku lekat-lekat. “Temani aku menari, kau mau?”

“Aku tidak bisa menari.”

“Temani aku menari,” ulang Kai. “Kau tahu aku merasa sehat saat menari denganmu. Dan asal kau tahu, sekalipun kau berkata kau tidak bisa menari, itu hanya masalah gerakan. Kau bisa menari dengan caramu sendiri.”

Tatapan mata Kai selalu membuatku merasa kecil dan tidak bisa berbuat apa-apa. Dia seperti mengintimidasi secara tidak langsung. Tapi konotasi intimidasi menurutku saat ini adalah, aku harus menemaninya dan memastikan ia tidak menari sendirian. Sesederhana itu dan aku pun mengangguk.

****

“Aku tidak bosan,” Kai tersenyum dan akupun ikut tersenyum.

Aku baru saja menyelesaikan cerita pertemuan kami dan ia tetap bereaksi dengan cara yang sama. Yaitu mengatakan ‘aku tidak bosan’.

Suara tepuk tangan membuatku tersadar dimana sebenarnya kami berada. Kami sedang berada di dalam sebuah hall, menunggu pertunjukan balet kontemporer yang sepertinya akan dimulai karena tirai merah di atas panggung mulai terbuka dan orang-orang bertepuk tangan.

Kai divonis tidak bisa menggerakkan badannya lagi sejak dua bulan lalu. Dia akhirnya hanya bisa duduk di kursi roda. Segala tentang tari membuatnya depresi pada awalnya. Saat itulah tanggung jawabku dipertaruhkan. Aku meyakinkannya bahwa hidupnya tidak tergantung pada tari. Dia masih punya banyak tahun untuk dijalani, meski tanpa menari. Aku akhirnya memutuskan untuk rutin mengajaknya menonton pertunjukan tari, terutama balet kontemporer, jenis tarian yang menjadi spesialisnya dulu.

Ngomong-ngomong, kau percaya cerita pertemuan kami? Terlalu kebetulan atau bagaimana? Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Tapi aku kekasihnya sekarang, fakta yang terkadang sulit kupercaya. Tapi aku berjanji, aku adalah kekasih yang berjanji untuk menemaninya ‘menari’.

 ****

-fin-

Author Note: Halo, chaeralee hadir kembali *gandeng chen*. Ini ff random binti absurd yang tau-tau muncul waktu liat gif Kai losing his balance waktu GDA. Ada yang tau ga? Itu lucu banget si Kai tau-tau limbung gitu aja terus wajahnya inosen abis hahaha. Nah, jadi kepikiran bikin ff ini deh. Komen ditunggu 🙂

21 tanggapan untuk “Dance, Kai.”

  1. Woah Kai km keren bgt, tp Kai kasihan bgt kena penyakit Multiple Schlerosis, jd dia gak bisa nari lagi? Keren chingu, kata” km simple tp keren.

  2. FF ini keren, banget malah..
    Tapi aku takut, takut cerita di ff ini menjadi kenyataan, takut kai memiliki penyakit yg sama di ff ini, sekarang banyak rumor beredar, kai punya penyakit dg ciri2 hampir sama kayak ff ini.. :”(

  3. Woahh…… DAEBAKK!!! aku seneng chingu….. Kai oppanya disini kasian banget…. Tissue dirumah abis gara-gara baca nih ff :’) I VERY VERY LIKE YOUR FF ^0^/
    Bisa gak buat FF yang Romance, tapi terakhirnya Nyesekin sang Yeoja?? aku mau baca klo bisa ya…..

  4. Ih bagus ffnyaaa. Suka deh suka. Bahasa kamu simpel tapi ngena banget. Percakapannya singkat tapi padet.
    Dan cerita yang kamu angkat, unpredictable banget. Well done

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s