[1/2] Please, Make Me Believe!

pleasemakemebelieve

Title: Please, Make Me Believe

Author: MeydaaWK

Cast:

Byun Baekhyun

-Min Hyosun

Genre: Romance

Length: Twoshoot

Rating: PG13

Poster: Art Factory (wemakeartfactory.wordpress.com)

Author note:

Annyeong ^^

Author baru nih ^^

Semoga suka ya sama this ff! 🙂

DON’T FORGET TO COMMENT AND LIKE!

SIDER? GET OUT!

Check It Out!

Happy Reading~

___________________

Author POV

 

Sesaat, Hyosun mengira dirinya bermimpi. Betapa tidak, di hadapannya sekarang—sebenarnya di depan kelas—berdiri seorang namja yang sedang memperkenalkan dirinya dengan sikap angkuh yang dingin. Sudah lama dia tidak merasakan perasaan yang seperti ini. Ada apa dengan dirinya? Benarkah dirinya jatuh cinta lagi?

Hyosun menggeleng-gelengkan kepalanya.

Dia sudah berjanji dua tahun yang lalu, bahwa dia tidak akan jatuh cinta lagi, kepada siapapun. Tidak peduli semenarik apa namja itu. Dia hanya berpikir bahwa dia sanggup menepati janjinya itu karena namja yang bersekolah di SMU-nya rata-rata adalah orang yang menganggapnya aneh. Itu saja. Dan karena itu, mereka tidak punya alasan untuk jatuh cinta kepada Hyosun yang dingin dan aneh. Tapi namja ini… Dia tidak yakin apakah dia sanggup melewatkan namja itu…

“Selesai. Apa aku sudah boleh duduk?!” Tanya namja itu, yang tak lain adalah Baekhyun dengan dingin.

Songsaenim yang mengajar mengangguk. “Kau boleh duduk di samping yeoja berambut bergelombang itu. Iya, disana. Di pojok.” Katanya.

Refleks, Hyosun mendongak. Apa yang Park Songsaenim bilang? Yeoja dengan rambut bergelombang?! Hanya dia dan Haera yang memiliki rambut ikal bergelombang di kelas. Dan, Haera duduk di barisan paling depan dan bukannya pojok. Berarti, yeoja yang dimaksud Park Songsae adalah dirinya…

“Yeoja itu?” Tanya Baekhyun lagi sambil menunjuk Hyosun yang masih terdiam.

“Ya.” Kata Park Songsaenim sambil tersenyum. “Namanya Hyosun, Min Hyosun. Dia adalah yeoja yang—”

“ANEEEH!” Teriak seisi kelas, kecuali Baekhyun dan tentu saja, Hyosun.

Park Songsae mendelik, “Tidak benar apa yang dikatakan mereka tadi. Hyosun itu sangat pintar dan pendiam. Jadi mereka menganggapnya aneh.”

Baekhyun menatap Hyosun sekilas, lalu mengangkat bahu dan menyeret ranselnya ke kursi pojok. Setelah meletakkan ranselnya di laci, Baekhyun menatap Hyosun intens. Lalu beralih ke beberapa buku tulis dan buku teks yang ditata dengan rapi di atas meja. “Sepertinya kau memang benar-benar aneh.” Katanya datar lalu berbalik menatap ke depan, tidak menatap Hyosun yang terlihat seakan ingin meledak.

Hyosun mendorong pensilnya ke tengah, lalu berkata, “Kalau kau tidak ingin duduk dengan orang aneh sepertiku, silakan cari tempat duduk yang lain.”

“Kau ini buta ya? Apa kau tidak bisa melihat? Hanya kursi ini yang kosong! Lagipula siapa yang ingin duduk denganmu.”

Hyosun menghela napasnya. Namja di sampingnya ini benar-benar mengesalkan. Tapi, Hyosun harus menahan amarahnya yang menggebu dengan menarik napas dalam. Setelah merasa sedikit lega, Hyosun menulis di buku catatannya dan akhirnya, sibuk dengan dunianya sendiri. Seperti biasanya…

Diam-diam Baekhyun menatap Hyosun yang sudah sibuk mencatat, pandangannya tertumbuk pada rambut Hyosun yang cokelat ikal bergelombang, hanya satu yang dapat disimpulkannya tentang yeoja ini, yaitu: benar-benar tidak modis! Memangnya gadis itu tidak pernah melihat model-model di televisi yang memiliki rambut panjang bewarna pirang lurus yang sedang tren?!

Baekhyun mendecih pada yeoja itu dengan pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke arah papan tulis.

_____________________

Bel terdengar beberapa kali, tanda istirahat. Suara lega terdengar di penjuru kelas yang dihuni oleh Hyosun. Dia menatap teman-temannya yang ribut memasukkan buku-buku ke dalam tas dan langsung melesat keluar kelas. Sebenarnya dia iri pada yeoja-yeoja yang memiliki teman. Tidak seperti dirinya…

Tanpa sadar, Hyosun menghela napasnya keras.

Dia benar-benar lelah menjadi pendiam begini. Lalu dengan berat tangannya memasukkan buku teks dan catatan tadi ke dalam tas dan mengeluarkan kotak makanan. Dia memang selalu memasak untuk dibawa ke sekolah. Lalu Hyosun sadar bahwa ada orang di sampingnya. Dan orang itu belum keluar dari kelas seperti teman-temannya yang lain.

“Kau tidak istirahat?” Tanya Hyosun memberanikan dirinya sendiri. “Tadi itu bel istirahat, kalau kau tidak tahu.”

“Kau kira aku bodoh?!” Tanya Baekhyun sinis. “Aku tahu itu bel apa. Tapi aku tidak tahu jalan menuju kantin.”

“Ah, sudah kutebak. Tapi sayangnya aku tidak bisa mengantarmu. Aku selalu membawa bekal. Hmmm, kau lapar tidak?”

Baekhyun menatap Hyosun yang tampak bersungguh-sungguh. “Lumayan,” katanya akhirnya. Percuma berbohong pada yeoja aneh seperti Hyosun.

“Baiklah, ini.” Hyosun menyodorkan sandwich kepada Baekhyun. “Aku membawa lebih. Untukmu saja.”

Baekhyun memandangi sandwich di atas kotak bekal itu. Memang ada tiga.

“Aku tidak menaburkan racun, kok, kalau kau ragu.”

Diam-diam Baekhyun tersenyum. Yeoja ini benar-benar aneh dan polos. Dia bukannya curiga, tapi meyakinkan dirinya apa tidak terlihat memalukan memakan bekal milik seseorang yang beberapa jam lalu dibentaknya.

“Kenapa lagi?” Tanya Hyosun.

“Baiklah, gomawo.”

“Nde.” Hyosun melahap sandwich miliknya. “Kalau besok kau belum dekat dengan teman-teman, kau bawa bekal saja untuk dimakan. Karena aku tidak mungkin mengantarmu.”

“Wae?”

“Wae? Apa maksudmu?”

“Kenapa kau tidak mungkin mengantarku?” Tanya Baekhyun. “Kau tidak lumpuh kan?”

“Tentu saja tidak,” Hyosun terkekeh. “Aku ini selalu dihina. Kau jelas tahu itu, makanya aku tidak ingin keluar dari kelas. Aku pernah keluar sekali, dan hasilnya, seseorang menyiram jus di baju dan rambutku.”

Diam-diam Baekhyun merasa kasihan kepada Hyosun. Dulu dia juga begitu, ketika masih bersekolah di Amerika. Itulah sebab kenapa dia menjadi dingin seperti ini.

“Kau membuat ini sendiri?” Tanya Baekhyun, setelah dua kali menggigit sandwich milik Hyosun.

“Tentu saja.”

“Kalau begitu, kau pintar memasak.”

Hyosun menggeleng, rambutnya yang digerai bergerak mengikuti kepalanya. “Tidak pintar, tapi lumayan.” Katanya.

“Terserah sajalah.” Ujar Baekhyun sambil menggigit sandwich yang tersisa lalu membersihkan meja dari rempah-rempah. “Siapa namamu tadi? Aku lupa.”

Hyosun menatap Baekhyun sebentar. “Min Hyosun. Kau siapa? Tadi aku sedang membaca,”

“Byun Baekhyun.”

“Oke. Kita teman sekarang?”

Baekhyun mengangguk. Lalu mereka ber-high five.

___________

“Kau benar-benar ingin mengantarku?” Tanya Hyosun sambil menatap Baekhyun yang sedang mengeluarkan mobilnya dari parkir.

“Sekali lagi kau bilang begitu, aku akan membatalkan rencana baikku.”

“Tapi kau kan tidak tahu rumahku.” Bodoh! Rutuk Hyosun dalam hati. Memangnya Baekhyun tidak bisa bertanya padanya?! Aisssh, Hyosun ppabo!

Baekhyun tidak mendengar kata terakhir Hyosun dan memutuskan untuk mengabaikannya. “Cepat naik.”  Perintahnya sambil memandangi Hyosun yang tampak bingung. “Kau tunggu apa lagi?!”

“Arra arra,” ujar Hyosun cepat-cepat, lalu segera membuka pintu mobil dan hampir duduk di kursi belakang.

“Dan, aku bukan sopir. Jadi, kau duduk di depan atau tawaran baikku batal.”

“Cih,” decih Hyosun, lalu kembali menutup pintu dan masuk ke kursi depan. Dia memandangi Baekhyun yang tampak santai menjalankan mobilnya.

“Dimana rumahmu?” Tanya Baekhyun saat mobilnya sudah memasuki jalan utama.

Hyosun menyebutkan rumahnya dengan ragu, lalu memutuskan bahwa dia adalah teman Baekhyun, dan karena hal itu, dia harus percaya pada temannya.

“Ah, disana rupanya. Kalau begitu, rumahmu searah dengan rumahku.” Kata Baekhyun sambil menyalakan lampu sen dan membelokkan mobilnya dengan gesit. “Kita bisa berangkat dan pulang bersama.”

“Memangnya tidak merepotkan ya?” Tanya Hyosun ragu.

“Tentu saja tidak.” Ucap Baekhyun santai. “Aku ini sudah lama tinggal di Amerika, jadi kadang-kadang aku lupa jalan di Korea. Dan karena hal itu, kau pasti bisa membantuku.”

Hyosun merasa aneh dengan dirinya. Kenapa saat Baekhyun mengatakan itu, dia merasa kecewa? Memangnya apa yang diharapkannya? Baekhyun jatuh cinta padanya dan rela mengantar-jemputnya? Ppabo!

“Ah, ne. Pasti aku akan membantumu mengingat.” Ujar Hyosun dengan pelan. “Tapi itu jika masih dalam lingkup Seoul, kalau di luar, aku sudah lupa.”

Baekhyun terkekeh, lalu kembali membelokkan mobilnya. “Rumahmu masuk kompleks mana?” Tanyanya sambil menyalakan radio tape di dalam mobilnya. Dia menyalakan lagu SNSD, Baby Maybe. Pas sekali, karena itu adalah lagu kesukaan Hyosun.

“Kedua,” jawab Hyosun. “Aku sangat suka dengan lagu ini.”

“Aku juga suka. Tapi menurutku, musiknya terlalu manja.”

“Memangnya ada musik yang manja? Kau ini bagaimana?!”

Baekhyun merengut. Terkadang Hyosun bisa sangat bodoh sampai membuatnya kesal. “Ya! Selera orang kan berbeda-beda.” Tandasnya dengan cepat.

“Arra, aku tahu itu. Tapi, itu hal yang—”

Baekhyun langsung mengeraskan volume lagu itu sehingga suara Hyosun dan suaranya sendiri tenggelam.

“Dasar menyebalkan!” Sungut Hyosun. “Nah, itu rumahku. Yang bercat hijau!”

“Mana?” Baekhyun menatap kedepan, lupa dengan kekesalannya sedetik yang lalu. “Ah, yang memiliki bunga di pelatarannya?”

“Itu bukan bunga. Itu pohon.”

Baekhyun mengecilkan volume lagu itu, supaya dia bisa mendengar ucapan Hyosun dengan jelas. Lalu menghentikan mobilnya di depan rumah bercat hijau yang tampak sederhana itu.

“Benar disini?” Tanya Baekhyun sambil membuka kunci pintu mobil.

“Arra. Kau pikir aku lupa dengan rumahku sendiri? Ayo masuk. Kau pasti haus. Seoul sangat panas pada jam seperti ini.”

Baekhyun menatap arloji Rolex di tangannya. “Mianhae, tapi aku ada urusan. Lain kali aku pasti mampir.” Katanya. “Besok kujemput,”

Hyosun mematung cukup lama sampai dia tidak sadar bahwa Baekhyun sudah menghilang dengan mobil sport-nya. DIa lalu tersenyum lebar. Lalu dengan semangat dia memasuki rumahnya sendiri dan bergoyang kesana kemari dengan senang.

Semenit kemudian, Hyosun tersadar.

Bolehkah dia jatuh cinta pada Baekhyun? Lalu melanggar sumpahnya? Hyosun mematung di depan pintu rumahnya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya, melepas sepatu dan kaus kakinya, lalu memasuki rumahnya yang sepi. Dia memang tinggal sendirian karena orangtua dan saudara-saudaranya tinggal di Jepang dan dia tidak boleh pulang ke Jepang sebelum sekolahnya selesai.

Hyosun menaiki tangga pendek untuk menuju kamarnya. Rumahnya hanya satu lantai, tapi dia membuat tangga kecil yang pendek untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia memutar kunci, lalu masuk ke dalam kamarnya yang bernuansa biru cerah. Biasanya dia selalu mengutuk diri karena warna cerah di kamarnya sangat kontras dengan perjalanan hidupnya, tapi kali ini, Hyosun mreasa senang telah memilih warna itu.

Benarkah dia sudah jatuh cinta?

MWO?!

____________________

Baekhyun memarkir mobilnya di garasi rumahnya yang besar dan megah. Ada tiga mobil berderet di depan mobilnya. Dengan malas, Baekhyun keluar dari mobil dan meraih ranselnya lalu menggantungkannya di bahu.

“Selamat datang, tuan.” Sambut seorang pembantu muda yang selalu berjaga di depan rumahnya setiap harinya.

Baekhyun hanya mengangkat alis angkuh dan masuk ke kamar. Para pembantu berebut ingin melepaskan sepatu, jas, dan membawakan tasnya. Tapi Baekhyun menolak itu semua. Dia suka hidup mandiri, bukannya manja seperti yang dikehendaki oleh kedua orangtuanya yang berlebihan.

Nyonya Byun—ibu Baekhyun—menatap pembantu-pembantu yang mengikuti Baekhyun dan memberi isyarat agar mereka semua pergi. Ruangan jadi senyap seketika.

“Apa sekolahmu menyenangkan?”

“Lumayan,”

“Itu sekolah terbaik, Byun Baekhyun. Seharusnya kau mengatakan ya!”

Baekhyun menghela napasnya kesal. “Aku lelah, suruh pembantu-pembantu itu pergi dari kamarku dan suruh mereka melakukan hal yang lebih penting.” Katanya dan langsung meninggalkan ibunya yang menghela napas kesal.

“Aissh, jinjja!” Seru Nyonya Byun sambil turun dari tangga dan kembali ke lantai satu.

Baekhyun memasukkan nomor kombinasi kamarnya dan menguncinya. Benar-benar rumah yang berlebihan. Seluruh ruangan diberi kunci kombinasi. Dan itu membuat Baekhyun kesal karena dia tidak hapal nomor-nomor itu. Dia baru bisa masuk dapur setelah memasukkan nomor kombinasi, masuk ke ruang keluarga setelah memasukkan nomor, blah blah blah. Baekhyun melemparkan tasnya ke lemari untuk ransel-ransel mahalnya, membuat suara gedebukan yang memekakkan telinga. Setelah melihat ranselnya tersungkur bersama beberapa ransel kulit pemberian ibunya, Baekhyun tersenyum puas dan masuk ke kamar ganti.

Di kamarnya, ada lima ruangan. Yaitu: kamarnya sendiri—sekaligus privasinya—yang berisi kasur dan beberapa nakas dan meja belajar; kamar ganti, yang berisi baju-bajunya, jas, celana, dan pakaiannya lainnya; kamar mandi; ruang perlengkapan, yang berisi seperti lemari ransel, aksesori, sepatu, dan lain-lain, dan yang terakhir; ruang kerja. Di umurnya yang kurang dari dua puluh, dia harus mengurus pekerjaan.

Setelah mengganti seragamnya dengan celana training dan kaus biasa, Baekhyun menyalakan mesin jukebox di ruang kerja. Sedetik kemudian, lagu milik EXO, yaitu Machine, terdengar di seisi ruangan kerjanya yang kedap suara. Baekhyun memeriksa berkas yang pagi-pagi tadi dikirim oleh pembantu-pembantunya. Ada banyak sekali dokumen-dokumen penting yang harus di tanda tanganinya. Beberapa menit kemudian, Baekhyun sudah tenggelam dalam berkas-berkas itu.

_______________

Hyosun menatap arlojinya dengan sabar. Dia sedang duduk di dapur, menanti kedatangan Baekhyun. Dia tidak punya nomor ponsel Baekhyun, jadi dia tidak bisa mengirim pesan pada namja itu. Lagipula, sejak setahun yang lalu, dia tidak pernah memegang ponsel. Dia punya ponsel, hanya tidak menggunakannya. Entah dimana ponsel itu sekarang.

Terdengar suara klakson mobil yang memekakkan telinga dari depan, Hyosun langsung berlari menuju pintu dan melihat Baekhyun tengah duduk di samping mobilnya.

“Chamkamman, apa kau sudah makan?!” Teriak Hyosun.

Baekhyun mengangguk, menghampiri Hyosun yang memberi isyarat agar dia segera masuk.

“Ah, kalau begitu tunggu disini ya. Aku lupa tidak membawa kaus olahraga,” ujar Hyosun sambil berlari masuk ke dalam rumah, membiarkan Baekhyun duduk di teras rumahnya yang nyaman. Beberapa menit kemudian, Hyosun sudah keluar. Kali ini dia memakai sepatu kets bewarna putih, menguncir rambutnya, dan menjinjing ranselnya.

“Kau bawa bekal?” Tanya Baekhyun, ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil.

Hyosun mengangguk. “Kau sendiri?” Tanyanya.

“Aku lupa menyuruh pembantu menyiapkannya.”

“Sudah kutebak. Tapi tenang saja, aku membawa dua bekal kok.”

Mata Baekhyun membulat. Hyosun terkadang sangat baik, dan perhatian. Baekhyun sendiri heran, terbuat dari apakah hati gadis itu. Tapi Baekhyun menendang jauh-jauh pemikiran itu, bisa saja itu karena dia telah mengantar-jemput yeoja itu. Itu saja.

“Berapa nomor ponselmu?” Tanya Baekhyun tiba-tiba, membuat Hyosun sedikit tersentak karena sedari tadi dia melamun.

“Ah—aku lupa dimana aku menaruh ponselku.” Jawab Hyosun. “Mungkin nanti aku akan mencarinya.”

Dasar gadis aneh. Batin Baekhyun sambil memandangi Hyosun yang tengah memandangi jalanan yang ramai. Sesampainya mereka di dekat sekolah, Hyosun meminta turun di tikungan sekolah.

“Wae?” Tanya Baekhyun heran.

“Mmm, aku tidak mau kau ikut-ikutan dibenci karena berteman denganku. Nanti kau tidak bisa berteman dengan mereka. Sana jalan, terima kasih ya.” Jelas Hyosun sambil tersenyum tipis, getir tepatnya.

Baekhyun hanya mengangguk dan menjalankan mobilnya setelah Hyosun keluar.

Hyosun menatap debu-debu halus yang ditinggalkan mobil Baekhyun di jalanan, entah kenapa, dia punya firasat bahwa dia tidak boleh dekat dengan Baekhyun. Entah kenapa.

______________

“Lempar yang benar, Hyosun-ssi!” Seru seorang yeoja angkuh yang bernama Min Young dengan kasar.

Hyosun berusaha menservis bola voli tersebut, tapi sepertinya bola itu tidak mau menurut dengannya dan malah keluar dari garis lapangan.

“Aaah. Dasar sial. Kenapa kita bisa satu kelompok dengan yeoja aneh sepertinya?!” Seru Haera, temannya yang lain.

Hyosun mengela napasnya. Dicaci-maki sudah menjadi kebiasaannya jika pelajaran olahraga.

“Ayo, kita mulai lagi. Awas kau, Hyosun-ah! Sekali lagi, kau membuat kesalahan, aku akan menamparmu!” Seru Naeri dengan kesal.

Kembali Hyosun menghela napas. Lelah sekali. Dia kembali mengeratkan kuncir rambutnya yang melorot, lalu kembali menyiapkan tangannya untuk menservis bola.

Hyosun kembali gagal. Dia sudah lelah sekali hingga otot tangannya terasa ngilu. Dia menjatuhkan bola itu sebelum melampaui net.

Dengan kesal Min Young menservis bola, kali ini, tujuannya adalah wajah Hyosun. Dan, DDUK! Bola itu terbang dan tepat mengena ke kepala Hyosun membuat gadis itu limbung sejenak, sebelum akhirnya, pingsan.

Baekhyun melihat keramaian di lapangan voli yang berjejer dengan lapangan basket yang saat ini diinjaknya. Kim Songsaenim, guru pelajaran olahraga, menghentikan permainan mereka dan berjalan menuju ke lapangan voli.

“Apa yang dilakukan mereka?” Tanya seorang namja, yang baru tadi pagi mengajak Baekhyun berkenalan.

“Aniya, aku juga tidak tahu.” Sahut Baekhyun. “Menurutmu, apa mereka biasa begini?”

Chanyeol mengangguk, “Biasanya, gadis-gadis itu mencelakai Hyosun—gadis aneh yang sebangku denganmu itu.” Jelasnya dengan nada datar.

Baekhyun membulatkan matanya, menatap Chanyeol heran, “Dan kau hanya biasa saja?!” Serunya.

Well, aku tidak tahu harus melakukan apa.”

Baekhyun merasa dadanya tiba-tiba sesak, dia merasa rasa cemas—rasa yang tidak pernah dirasakannya—membuncah di dadanya. Dia bergegas melihat ke lapangan voli dan dia hanya melihat sekelompok yeoja sedang tertawa bersama-sama sambil ber-high-five, pandangan Baekhyun tertuju pada noda darah di lapangan itu. Tiba-tiba pandangan Baekhyun mengabur.

BRUK.

“Baekhyun-ssi!” Teriak Chanyeol begitu melihat tubuh Baekhyun ambruk. Chanyeol segera memanggil teman-temannya dan berusaha menggotong Baekhyun ke UKS.

T B C

Hehe, gimana? Baguskah?

Kalo commentnya banyak, ntar min post cepet2 lanjutannya ^^

Oke?

Annyeong ^^

17 tanggapan untuk “[1/2] Please, Make Me Believe!”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s