EXO FanFiction Indonesia

EXO's Imagination Here!

Truly I Love You (Chapter 3)

28 Komentar

truly-i-love-you-kanemin-storyline

Title : Truly, I love You

Author : Kanemin

Main cast : Do Kyung Soo (D.O), Sakura (OC)

Support Cast : Exo-K member, Chen (Exo-M), EunYeol

Length : chapter

Genre : Romance, Married Life

Poster by : http://cafeposterart.wordpress.com

Disclaimer: semua cast sesungguhnya adalah milik Tuhan, saya hanya sebatas meminjam J

Sorry for the typo, haha saya hanya manusia biasa yang terkadang banyak salah. Enjoy everyone.

Chapter-3

 

“aku tidak menyukainya, aku hanya sekedar sering merindukannya”- Sakura.

-0-

Sakura mengusap air matanya  yang sejak tadi tak kunjung henti. Di luar suho masih mencoba mengetuk pintu kamarnya untuk memastikan sakura baik-baik saja. “gwenchana oppa.” Teriak sakura dari dalam kamar dengan suara yang dia usahakan senormal mungkin.

“jinjja?” Tanya lagi suho. Ada nada khawatir dalam suaranya.

“Ne.”

“mungkin kalau kau kyungsoo yang mengatakannya, mungkin aku benar-benar akan baik-baik saja.” Ujar sakura dalam hatinya.

Tak ada ketukan ataupun teriakan lagi dari luar. Mungkin mereka sudah pergi, pikir sakura. Sakura masih berusaha menenangkan dirinya. Dia tidak menyangka perasaannya akan menjadi seterguncang itu mendengar ucapan D.O. Selama ini memang sifat D.O yang tidak pernah mau bersahabat dengannya sudah menjelaskan banyak hal, bahwa laki-laki itu benar-benar membenci pernikahan ini. Namun, ketika mendengar bahwa D.O bahkan sampai menginginkan berpisah dengannya, hati sakura benar-benar terasa seperti tertusuk. Dia juga tidak tahu apa alasannya, yang jelas benar-benar sakit.

Air matanya masih tidak juga berhenti mengalir, dia memandangi  layar handphonenya. Dengan satu kali tekan maka sakura akan langsung terhubung dengan orang tuanya di Indonesia. Sakura tiba-tiba saja merasa begitu ingin pulang, kembali ke kehidupannya yang lama. Kehidupan tanpa D.O

“sakura?” begitu sambungan telepon antar Negara itu tersambung, orang di seberang sana langsung berbicara.

Mendengar suara bunda-nya, sakura sampai harus menutup mulutnya untuk menahan suara tangisnya yang seperti akan meledak.

sakura? Kamu ga apa-apa kan? sakura baik-baik aja kan?”

Kali ini sakura sampai harus menggigit tangannya sendiri untuk menahan isaknya. Dan dengan gerakan cepat dia memutus sambungan telepon antar Negara tersebut. selang beberapa detik, nomor Indonesia itu menelpon lagi. sakura menarik nafasnya dalam, dia tahu bunda-nya akan menjadi sangat khawatir dengan sikapnya tadi.

“ya bunda? Tadi jaringannya error.” Dengan suara yang dibuat seceria mungkin sakura berbicara begitu ia mengangkat telepon.

“serius? Tapi kamu benar-benar lagi baik-baik aja kan? kenapa tiba-tiba telepon bunda?”

“sakura Cuma.. tiba-tiba kangen. Bunda apa kabar?”

Dan mengalirlah percakapan antara ibu dan anak yang  di timpali sakura dengan banyak kebohongan. Sebenarnya tujuannya menghubungi orang tuanya adalah ingin meminta pulang ke Indonesia, tapi tadi begitu mendengar suara bundanya sakura menjadi segan untuk membuat orang rumahnya menjadi khawatir dengan keadaannya. Pertama kali datang dia senang di korea, dan mungkin sekarang tidak lagi.

“salam buat keluarga Do semua ya sayang, dan yang paling special buat kyungsoo, bunda baru liat fotonya lagi ketika dia sudah  besar dan dia lebih tampan dari ketika kecil dulu ya? Kamu baik-baik ya sama dia. Kalau mau apa-apa langsung telepon bunda aja ya. Bye sayang. Bunda selalu sayang sakura.”

‘tut’

“sakura mau pulang bunda.” Katanya pada sambungan yang sudah terputus itu. air matanya kembali mengalir. Sakura semakin merindukan rumah.

-0-

D.O menikmati makan malamnya sendirian. Ada yang sedikit aneh memang, biasanya ada sakura yang bertanya apa yang ingin di makannya atau hanya sekedar berceloteh sementara dia menikmati makanannya . suasanya menjadi sedikit sunyi. Dulu itu sangat baik baginya, tapi belakangan ini sesunyi itu tidak begitu mengenakkan lagi. Walau masih belum mau mengakuinya tapi D.O mulai terbiasa dengan keberadaan sakura di sekitarnya dan mengganggu hidupnya. dia hanya belum sadar.

Setelah makan malam, D.O segera naik ke kamarnya dan berhenti sedikit lama di depan pintu kamar sakura. Dia mengingat apa yang terjadi sore tadi.

#flashback on

Saat dia mengikuti arah pandang suho, dia mendapati sakura yang tengah berdiri mematung dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu benar-benar mendengar dengan jelas apa yang di katakannya. Dan dia hanya mampu menatap sakura, tanpa bisa mengatakan apapun. Lagi.

Sakura segera berlari masuk ke kamarnya dan suho berusaha mengejarnya. Suho mengetuk pintu kamar sakura, bertanya mengenai keadaannya.

“dia pasti tidak baik-baik saja hyung.” kata D.O kemudian, ketika mendengar sakura berteriak baik-baik saja dari dalam. Suaranya berubah. Batin D.O.

Suho menghampiri D.O yang masih duduk diam di sofa. “bukankah seharusnya kau yang melakukan hal ini? menanyakan keadaannya. apa kau tidak sadar apa yang sudah kau katakan tadi, hah?” suho yang biasanya sangat tenang, menjadi sedikit gusar karena menurutnya sikap D.O sudah sangat keterlaluan. Tidak seharusnya dia memperlakukan sakura dengan sebegitu buruknya.

D.O tidak menanggapi. Dia tahu dia salah, dia juga tidak benar-benar berniat bertanya hal tersebut pada suho. Karena dengan jelas D.O sudah punya jawabannya sendiri. “dia saja yang terlalu serius menanggapinya hyung. lagipula sekalipun aku ingin berpisah, memangnya aku bisa? Aku hanya iseng bertanya dan dia berada pada situasi yang salah. Itu saja.”

Suho menghela nafasnya. “dan ‘dia’ itu punya nama kyungsoo-ssi. Dia itu sakura, belajarlah menyebutnya dengan namanya. Kurasa dewi fortuna sangat jahat gadis kecil ini, dia harus menghabiskan hari-harinya bersamamu.” Setelah berkata demikian, suho langsung berlalu dari hadapan D.O. dia tidak menyangka D.O akan membentangkan tamengnya selebar itu pada orang baru seperti sakura.

#flashback off

D.O menghela nafasnya panjang. Menyentuh lehernya sebentar kemudian masuk ke kamarnya.

 

“nona sakura sudah berangkat sejak pagi-pagi sekali tadi tuan.” Kata Kang ahjumma, begitu D.O duduk di mejanya dan menatap bingung gelas susu di seberang meja yang sudah di minum seperempatnya. D.O hanya mengangguk samar, itu lebih baik. Sepertinya akan menjadi sangat canggung  jika mereka langsung bertemu pagi ini.

Siang itu sakura memilih untuk tinggal di kelas selama jam istirahat makan siang. Eunyeol tadi mengajaknya ke kantin, tapi sakura sedang tidak ingin melakukan apapun. “apa kau baik-baik saja?” Tanya eunyeol khawatir begitu kembali lagi ke kelas dan melihat sakura hanya memandangi halaman sekolah lewat kaca jendela kelasnya dengan tatapan kosong.

Sakura mengangguk dan memberikan sedikit senyuman pada eunyeol agar gadis itu tidak lagi khawatir. “baiklah. Jangan sungkan untuk cerita padaku kalau kau ada masalah ya nona Indonesia.” Kata eunyeol riang dan kembali duduk di bangkunya.

Sakura segera pulang ke rumah begitu sekolah selesai. Pikirannya masih saja melayang-layang ke Indonesia setiap dia melakukan apapun, bahkan kameranya yang selalu dengan setia tergantung di lehernya tidak bisa membantu banyak. Belum genap dua bulan dia tinggal di korea, sakura seperti sudah mulai menemui kejenuhan. Karena tidak ada lagi hal menyenangkan yang bisa di lakukannya. Dulu ada tapi sekarang tidak lagi. benak sakura.

Ketika memasuki rumah, meja makan kosong dan itu menandakan D.O belum pulang dari sekolah. Karena sesuai dengan kebiasaan yang sudah sangat sakura hafal, D.O akan selalu pulang tepat waktu kecuali hari selasa, kamis, dan jumat – hingga saat ini sakura masih belum tahu apa alasannya—, dan dia akan langsung duduk dengan manis di meja makan, menikmati makan malamnya dengan tenang, D.O tidak pernah makan di atas jam 6 sore—sepengetahuan sakura.

Hari ini bukan jadwal D.O untuk pulang terlambat. Dia mulai menebak-nebak beberapa kemungkinan di dalam otaknya ketika tiba-tiba kemudian dia terhenyak. “aduh, kenapa kau harus peduli sakura. Berpura-pura lah tidak peduli.” Katanya pada dirinya sendiri. sejak kejadian itu sakura memang mulai bertekad untuk sedikit atau banyak(?) menjaga jarak dengan D.O, mungkin D.O memang begitu membencinya dan dia tidak mau membuat laki-laki itu menjadi semakin membencinya karena sifatnya yang selalu ingin tahu. Dia juga bertekad untuk ‘mulai’ tidak peduli dengan hal-hal yang D.O lakukan dan dia yakin hal itu akan menjadi sangat sulit. Buktinya tadi, sakura bahkan harus menyadarkan dirinya sendiri yang spontan ingin tahu kenapa D.O pulang telat hari ini.

Semua berjalan menjadi sangat statis, sakura berangkat lebih pagi dan berusaha sampai ke rumah sebelum D.O. Dia masih belum bisa bertemu laki-laki itu. sampai akhirnya genap satu minggu mereka berdua tidak pernah saling bertatap muka. Dan sakura mulai merasakan ada sesuatu yang hilang, sore itu dia sedang bersantai-santai di kamarnya. Sebenarnya tadi pagi dia sangat ingin berangkat ketika D.O juga akan berangkat. Tapi dia masih tidak tahu bagaimana harus bersikap bila bertemu dengan D.O. “dia menyebalkan tapi aku ingin melihatnya. Sial.” Umpat sakura seraya menatap foto D.O yang sempat dia abadikan di kameranya. Seperti ada yang hilang dari skema kehidupannya. Rasanya seperti ada yang tidak benar setelah seminggu ini dia tidak berecengkrama dengan D.O. “harusnya kan aku membencimu. Kau juga tidak minta maaf padaku, apa kau tahu perasaanku, hah?” Sakura tidak tahu kenapa dia sangat ingin melihat D.O, tiba-tiba saja keinginannya untuk pulang menjadi kalah jauh besarnya dengan keinginannya untuk bertemu dengan D.O.

Sudah satu minggu ini juga D.O menikmati makan malamnya sendirian, Kang ahjumma sedang bersiap-siap untuk pulang. Rasanya benar-benar seperti ada yang salah tidak bertemu gadis  berisik itu selama satu minggu ini. pikir D.O. “tuan muda.” Panggil Kang ahjumma. D.O menoleh.

“apa nona sakura akan baik-baik saja?” Tanyanya.

D.O mengernyitkan kening mendengar pertanyaan Kang ahjumma yang begitu ambigu. “apa dia kelihatan tidak baik?” tanyanya. Masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan ahjumma.

“tidak. Tapi—“

“kalau begitu dia baik-baik saja.” Simpulnya, dan kembali melanjutkan makannya.

“sudah satu minggu ini nona tidak menyentuh makanannya tuan.” Dengan cepat kang ahjumma berkata kemudian. D.O menghentikan suapan nasinya. “dan dia selalu hanya meminum seperempat dari susunya ketika sarapan.”

“mungkin dia makan di sekolah.”

“saya rasa sepertinya tidak tuan. Apa anda tidak melihat nona sakura sekarang terlihat lebih kurus dibandingkan dengan awal ketika dia datang dulu. saya takut nona akan jatuh sakit.”

D.O mengelap mulutnya. Dan meminum airnya. “kalau begitu, besok kau paksa dia makan.” Dan D.O segera beranjak naik ke kamarnya. Tepat ketika dia melewati kamar sakura, gadis itu keluar. Dengan memakai celana pendek dan kaos putih yang kebesaran sakura memang terlihat lebih kurus dari biasanya.

Tatapan mereka bertemu, sakura mematung di tempatnya, begitu juga D.O. Mereka berdua sama-sama tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba saja dengan jelas D.O dapat melihat semburat merah di pipi sakura yang tirus. “kyungsoo.” Setelah sekian lama terdiam hanya itu kata-kata yang dikeluarkan sakura yang kemudian hanya  menggaung di udara.

Sakura tidak dapat menyembunyikan betapa senangnya ia begitu melihat D.O ketika dia keluar dari kamar. Dia ingin meminta obat pada Kang ahjumma karna tadi dipegangnya keningnya sedikit lebih panas dari suhu normal. Sakura menyunggingkan senyum tipis sebelum kemudian melangkah lagi, kalau aku lebih lama memandanginya siapa yang akan menjamin aku tidak akan tiba-tiba memeluknya. Batin sakura. Sakura bahkan tidak menyadari pipinya yang masih saja bersemu sejak tadi. Dia melangkah dan dirasanya semua benda di hadapannya menjadi ada dua, dua detik kemudian segalanya menjadi gelap dan sebelum sakura terjerembab jatuh di tangga D.O sudah menahan tubuh sakura yang lunglai.

“ya! Ireona.” Sebelah tangannya menopang kepala sakura, dan sebelah yang lain menepuk lembut pipi sakura. Dan ini pertama kalinya dia bersentuhan dengan gadis itu, rasanya sedikit ada yang tergelitik. “sa..” D.O terhenti di tengah, dia menatap gadis yang matanya tertutup dengan sempurna dalam pegangannya. “sa-kura.” Kali ini benar-benar terasa seperti ada kupu-kupu di perutnya ketika—walaupun dengan terbata—dia  menyebut nama sakura lagi setelah 10 tahun. D.O kembali menepuk lembut pipi sakura, “ireona.” Dan gadis itu tetap terdiam dalam pangkuannya.

D.O membopong sakura kembali ke kamar. Dan kupu-kupu kembali menggelitik perutnya begitu dia dapat mencium dengan jelas aroma yang selama seminggu ini hilang dari indra penciumannya, strawberry manis yang menyegarkan. D.O merebahkan sakura di tempat tidur, dan menyelimutinya. “ahjumma, panggilkan dokter Jo. Cepat.” Teriaknya dari tangga. Kang ahjumma sedikit tersentak Karena itu pertama kalinya D.O mengeluarkan suara sekeras itu.

Setelah di periksa di beberapa bagian, dokter Jo segera memasangkan infus di tangan sakura. Kemudian dia mengajak D.O keluar untuk berbicara beberapa hal. “apa kalian sedang bertengkar?” Tanya nya begitu mereka sudah berada di luar kamar sakura. Dokter Jo merupakan salah satu kerabat keluarga Do yang ketika pesta pernikahan D.O dan sakura di undang.

“oh? Ergh, ani.” Jawabnya ragu.

“aku bukan bermaksud untuk ikut campur urusan kalian, tapi…” dokter Jo menghentikan ucapannya. Dia menatap D.O yang sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri dengan sayang, “sakura sedikit mengalami depresi, sedikit. Aku tidak tahu apa yang dipikirkannya, yang jelas hal itu sangat mengganggunya dan memengaruhi kinerja bagian tubuhnya yang lain. Sepertinya juga sudah beberapa hari tidak ada makanan yang masuk ke tubuhnya sehingga aku sampai harus menginfusnya agar tubuhnya kembali mendapatkan nutrisi. Dan aku sudah memberinya obat tidur, karena sepertinya juga dia tidak tidur dengan baik beberapa hari belakangan ini. Mungkin tengah malam nanti dia akan bangun, awasi terus ya kyungsoo-ssi.”

“kamsahamnida ahjussi.” Ucap D.O ketika dokter Jo beranjak pulang.

Satu jam kemudian ahjumma Kang juga pamit untuk pulang. Setelah memastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci dengan baik, D.O masuk ke kamar sakura. Dia menutup dengan sangat pelan pintu di belakangnya. Kemudian mengambil kursi belajar sakura untuk duduk di sisi ranjangnya. D.O mengambil nafas panjang dan menghembuskannya. “pabo.” Ucapnya.

Dia menatap sakura yang tidur dengan nafas yang teratur, ahjumma Kang sudah mengganti baju sakura dengan baju tidur yang lebih panjang. D.O meletakkan kompres yang sudah disiapkan ahjumma di kening sakura. D.O menghela nafasnya lagi, “apa kau tahu rasanya jadi aku?” katanya. Tatapannya melembut, bukan tatapan D.O seperti biasanya.

Hening.

“gadis yang harus kunikahi itu ternyata kau, gadis yang datang setelah 10 tahun dengan tidak ada sedikitpun ingatan tentangku. Lalu aku harus bersikap bagaimana denganmu?”

D.O mengulurkan tangannya lagi, otaknya menyadari itu dan memerintahkan D.O untuk berhenti, tapi tubuhnya tidak. Beberapa inci lagi dan dia akan sukses menggenggam tangan sakura, handphone nya berdering.

Sehun.

D.O beranjak keluar kamar. “wae?” katanya.

“jangan lupa pertandingan besok hyung. kau kan sering sekali lupa membawa barang-barang kebutuhanmu untuk pertandingan, aku hanya mau mengingatkan. Hehe”

“itu saja?”

“iya itu saja. Oh iya, salam untuk istrimu yang manis itu ya. Bye hyung-ee.”

D.O menatap layar handphone-nya yang sudah gelap. “dasar bocah.” Ujarnya.

D.O kembali masuk ke kamar sakura, dan duduk kembali di tempatnya. Dia menatap sakura sebentar dan kemudian dia membuka-buka sesuatu di handphonnya untuk menyibukkan diri, sebelum satu jam kemudian dia jatuh tertidur dengan posisi duduknya.

-0-

Sakura’s POV

Aku merasa ada yang berkedut di tanganku, dan kepalaku yang terasa pusing. Eh ngomong-ngomong aku kenapa? Aku membuka mataku pelan, lampu kamarku sudah menyala berarti sudah malam. Aku merasa sesuatu yang dingin menempel di kepalaku, handuk kompres. Aku melepasnya dan meletakkannya sembarang. Aku menoleh dan mendapati wajah malaikat yang sedang duduk di kursi sambil tertidur. Eh? Dia siapa? Aku mengucek lagi mataku. “kyungsoo?” ujarku langsung. Sedang apa dia disini? Dikamarku? Duduk di kursi belajarku dan tertidur?

Aku melihat infus yang tersambung di tanganku, oh jadi karna ini makanya berkedut. Aku melihat wajah kyungsoo yang sangat damai dalam tidurnya, apa enaknya tidur dengan posisi seperti itu? tapi sungguh aku sangat penasaran kenapa dia bisa ada disini. Aku mengulurkan tanganku dan menyentuh kakinya. “kyungsoo-ya..” aku menggoyang-goyangkan kakinya.

“kyungsoo-ssi..” panggilku lagi.

Kepalanya bergerak dan perlahan dia membuka matanya, aku pernah bilang kan kalau dia itu tampan. Dan sungguh ia memang tampan bahkan dengan wajah mengantuknya itu. Eh? Ah kenapa aku malah jadi memujinya? Dia juga tidak akan pernah peduli dengan pujianku.

Setelah matanya dengan sempurna telah terbuka, mata kami bertemu. Dan wajahku tiba-tiba saja memanas. “oh kau sudah bangun?” tanyanya. Dia membenarkan duduknya.

“naega wae?” tanyaku.

“tadi kau pingsan, jadi kau disini.” Jawabnya. Itu jawaban? Sesingkat itu? “panasmu sudah turun?”

Aku memegang keningku. “sepertinya sudah tidak sepanas tadi sore. Kyungsoo-ya, kau disini .. ehm.. menjagaku ya?”

Jawab iya dan aku akan melupakan apa yang kau katakan pada suho oppa waktu itu. kumohon.

“hm.” Singkat disertai anggukan.

Aku tidak bisa menutupi rasa senangku, aku langsung tersenyum dengan lebarnya. “gomawo.” Rasanya aku ingin berteriak. Tapi tubuhku masih terasa lemas.

“aku, akan kembali ke kamarku.” Dia berdiri, menatapku sekilas, dan beranjak kepintu.

Saat pintu sudah terbuka dan dia bersiap keluar. Aku memanggilnya. “kyungsoo-ya.” Dia menoleh, “selamat malam.” Walau samar aku dapat melihat anggukannya. Dan aku tidak mengerti kenapa aku bisa merasa sesenang ini, padahal aku kan sedang sakit. Sepertinya sakitku kali ini amat menyenangkan.

-0-

Author’s POV

 

Setelah pintu kamar di belakangnya tertutup dengan sempurna, D.O memegangi dadanya, ada yang berdenyut sedikit lebih kencang dari biasanya disana. D.O menggelang, dan mendengus. “apa dia tidak sadar semua isi hatinya dapat dengan jelas terbaca di wajahnya? Pabo.” Katanya dan dia segera kembali ke kamarnya.

 

D.O merapikan dasinya pagi itu, dia sudah membawa banyak barang dalam tas olahraganya, sore ini akan ada pertandingan penting dengan sekolah lain. Saat ia keluar kamar, dia tidak dapat menghentikan gerakan kakinya yang berbelok menuju kamar sakura. Setidaknya aku melihat apa gadis itu sudah bangun atau belum. Katanya dalam hati. Ketika tangannya akan memegang kenop pintu, “kau ingin mencariku kyungsoo-ya?” sebuah suara nyaring terdengar di belakangnya. D.O mengepalkan tangannya dan menariknya kembali. Dia menoleh.

“oh. Erg, ne.”

Sakura yang sedang memegang segelas susu di tangannya hanya mampu tersenyum malu, semburat merah kembali muncul di pipinya. Dia tidak menyangka D.O akan menjadi seperhatian ini padanya, sedangkan sakura yang sibuk dengan pikirannya. D.O memandangi sakura dengan tatapan bingung yang bermakna ‘kenapa-dia-tersenyum-seperti-itu?’

“aku ingin sarapan. Tapi tiba-tiba saja kehilangan selera, jadi aku hanya meminum ini. ahjumma bilang aku belum boleh sekolah, ah apa yang bisa kulakukan seharian ini coba? Oh iya infusnya sudah kulepas,” sakura memperlihatkan tangannya yang sedikit merah dengan bekas suntikan disana. “sakit.”

D.O bahkan lupa apa dia pernah bertanya sesuatu atau tidak, tapi sakura sudah menjawab semua pertanyaan yang mungkin saja, hanya mungkin saja, akan dia tanyakan. Tidak tahu harus menanggapi apa D.O hanya memberikan anggukan kecil, dan segera beranjak turun untuk sarapan.

Sakura memandangi punggung D.O yang perlahan menghilang di tangga. “masih pelit suara. Tapi, dia sedikit berbeda. Apa aku sebaiknya sakit setiap hari ya?” dan dia tertawa kecil mendengar perkataannya sendiri.

-0-

 

Seperti biasa, mereka berlima dan suho akan merayakan kemenangan di tempat makan langganan mereka. Kai dan sehun yang memilih makanan, dan mereka sudah memesan banyak sekali menu. Pertandingan sore tadi berjalan lancar dan sukses, bukan suatu tantangan besar bagi kelompok baseball mereka mengalahkan lawan. “membosankan sekali, aku hanya merasa seperti bermain-main bukan bertanding.” Keluh baekhyun yang  mulai memanggang daging.

“iya. Apa-apaan mereka, kenapa sekolah mereka bisa masuk ke babak 10 besar?” timpal chanyeol, mereka sedang memperbincangkan sekolah lawan yang baru saja mereka kalahkan sore tadi.

“sudah lah, lagipula pertandingan selanjutnya lawan kalian kudengar sangat tangguh. Sekolah dari busan itu kan D.O-ya?” Tanya suho pada D.O yang sedang melamun.

“oh? Ne. aku sempat berlatih disana dan mereka seperti bukan manusia ketika dilapangan.” Komentar D.O, sebenarnya ia hanya ingin segera pulang setelah bertanding dan makan di rumah. Entahlah apa alasannya tapi sepertinya makan di rumah terasa lebih baik.

Kai melirik D.O yang sejak tadi terlihat tidak bersemengat. Dia memberikan kode pada sehun dan juga baekyun. Kai melingkarkan tangannya di bahu D.O, “kau lesu sekali hyung. kita kan sedang merayakan kemenangan, apa karena istrimu tidak ada disini?” godanya, sehun dan baekhyun segera menyauti dengan siulan.

D.O berdecak kesal. Lagi-lagi, batinnya. “kudengar sakura tidak masuk hari ini, kemana dia?” Tanya suho tiba-tiba.

“sakit.”

Mendengar jawaban D.O. sehun, baekhyun, dan kai semakin melebarkan cengiran mereka. “oooooohhh jadi Karena itu kau ingin segera pulang dan merawat sakura noona ya?” sehun kali ini yang menggoda.

“kenapa kau memanggilnya noona? kalian kan masih satu umur.” Sambung chanyeol.

“iya. Tapi kan sekarang dia sudah jadi  kakak iparku, iya kan hyung-ee.” Sehun yang duduk di samping D.O mendekat dan melingkarkan tangannya di lengan D.O, dia bergelayut manja pada hyungnya itu.

“haish! Sudahlah aku duluan.” D.O sudah kehilangan kesabaran menghadapi teman-temannya yang sekarang mulai sering berkomplot untuk menggodanya.

“hyung, sebenarnya bagaimana sudah hubungan dia dengan sakura?” Tanya chanyeol sepeninggal D.O yang menghilang di balik pintu restoran.

Suho mengangkat bahunya. “entahlah, anak itu kan selalu misterius dan kadang penuh kejutan.”

Mereka tergelak mendengar jawaban suho, penuh kejutan apanya? Kehidupan D.O kan amat statis sampai gadis itu datang. benak chanyeol. Dan Mereka tetap melanjutkan acara makan-makan mereka.

-0-

Sudah pukul 8 malam ketika D.O memarkirkan mobilnya di depan rumah. Gerbang sudah di tertutup secara ototmatis. Ketika dia memasuki rumah, dilihatnya sakura sedang menonton tv bersama Yui (?). D.O melanjutkan langkahnya menuju dapur, dan mengambil sebuah apel di kulkas, dan ketika dia berbalik setelah menutup kulkas didapatinya sakura sudah berdiri di belakangnya. D.O sedikit tersentak.

“aku kan menunggumu, kenapa kau masuk diam-diam?” gumamnya, dengan tangan yang terlipat di depan dadanya. Sakura sudah menggerai rambut panjangnya, dan dia meniup poninya membuatnya terlihat seperti anak-anak.

“ye? Oh eng, aku..” D.O bingung bagaimana harus menjelaskan pada gadis itu, dia juga tak kalah bingung kenapa dia merasa harus memberikan penjelasan pada sakura. D.O melirik noona nya yang sudah ada di ruang makan bersamanya dan sakura. Dan menatapnya dengan tatapan yang agak sulit untuk di jelaskan.  “kau sudah makan kan?” Tanya D.O mengalihkan pembicaraan. Jangan sampai dia pingsan lagi. batin D.O.

“sudah, ahjumma bilang aku harus makan atau dia akan di marahi olehmu, kau jahat sekali sampai mengancamnya seperti itu.”

“aku tidak pernah mengancamnya.”  D.O beralih duduk di meja makan, agak sedikit risih dengan sakura yang berdiri tepat di hadapannya. Dan Yui yang semakin menatapnya serius dengan senyuman anehnya itu.

“kau darimana? Kenapa pulang semalam ini?” Tanya sakura, sepertinya dia sudah melupakan perkataan D.O tempo hari yang bahkan sampai membuatnya sedih berhari-hari. Sekarang dia sedang merasakan kebahagiaan Karena perubahan sikap D.O yang sangat tiba-tiba dan malah terkesan ajaib. Sakura kembali pada dirinya yang selalu ingin bertanya dan selalu ingin tahu.

“bertanding.” D.O meminum airnya dan beranjak ke tangga, sakura mengikutinya dengan langkah kecilnya.

“bertanding apa? Kau ikut pertandingan apa?” Tanya nya masih sambil mengikuti D.O dari belakang.

Dan D.O tetap bungkam sampai di depan kamar sakura, dia membuka pintunya dan mendorong sakura masuk. “tidurlah, sudah malam. Aku lelah dan aku benci sekali pertanyaan. Besok kau masih belum boleh sekolah.” Sebelum sakura bertanya lagi banyak hal, D.O sudah menutup pintu tersebut dan berjalan santai menuju kamarnya.

Saat D.O akan membuka pintu, sakura juga membuka pintunya. “selamat malam kyungsoo.” Dan menutup lagi pintu kamarnya. Tanpa sakura lihat, ada senyum tipis yang tersungging di bibir D.O. senyuman yang langsung hilang ketika dia menyadari Yui sudah berdiri di sampingnya dan menyunggingkan senyuman licik yang terlihat menyebalkan di mata D.O

“mau berbincang sebentar denganku tuan muda?”

Tanpa menanti jawaban D.O Yui langsung menarik adiknya untuk sama-sama duduk di sofa. “kenapa sakura bisa sakit, hah? Jelaskan padaku.”

D.O menghela nafasnya malas. “tentu saja bisa, dia kan manusia.” jawab D.O sekenanya.

“bukan jawaban itu yang kumau bodoh. Kau apakan sakura sampai dia tidak makan berhari-hari, sampai dokter Jo yang kutemui kemarin mengatakan kalau dia sampai harus menginfus sakura. Jawab.”

Hening.

“ya! Kyungsoo bodoh, cepat jelaskan padaku atau semua cerita ini sampai ke telinga eomma atau abeoji.” Ancamnya.

D.O berdecak kesal, dia merutuki dirinya sendiri yang lupa mengingatkan dokter Jo untuk tidak mengatakan apapun pada keluarganya, apalagi Yui noona. “pokoknya ada suatu hal, aku tidak bisa menceritakannya padamu, rahasia.” Saat D.O hendak berdiri Yui menahan tangan adiknya membucat D.O duduk kembali.

Yui menghembuskan nafasnya kesal. “jangan terlalu dingin padanya, kau kan sudah pernah kuingatkan. Dan tadi kulihat, sikapmu melembut padanya, tidak seperti yang sering di ceritakan ahjumma kang padaku. Oh, aku tahu semua yang terjadi di rumah ini dari ahjumma, haha.” Saat Yui masih sibuk tergelak. D.O merutuki ahjumma yang ternyata menjadi mata-mata Yui selama ini.

“jangan marah pada ahjumma, aku yang memaksanya untuk bercerita, aku khawatir pada gadis kecil itu mengingat sikapmu yang sangat dingin sekaligus menyebalkan, dan aku yakin kau tidak akan mau bercerita apapun padaku. Apa kau sudah mulai terbiasa dengannya?”

D.O diam.

“argh! Susah sekali berbicara denganmu,” Yui semakin frustasi dengan sikap D.O yang sangat dingin. “begini saja ya tuan es, sakura bukanlah orang asing bagimu, kenangan sepuluh tahun yang lalu itu aku yakin masih dengan jelas tergambar dalam ingatanmu. Jadi, janganlah bersikap seperti monster, kalaupun kau masih tidak tahu bagaimana harus bersikap pada seorang gadis, maka buatlah pengecualian pada dirinya. Dulu juga seperti itu kan, sakura selalu jadi gadis satu-satunya kan? dan selang waktu sepuluh tahun itu kurasa tidak pernah merubah apapun kecuali ingatannya akan dirimu.”

D.O terdiam mendengar kata-kata noonanya, bahkan sampai Yui sudah pulang D.O masih terpaku di tempatnya. Dan benar kata Yui, ingatan sepuluh tahun yang lalu itu memang masih dan selalu terekam dengan sangat jelas dalam ingatannya. Selama ini D.O memang hanya bingung pada dirinya sendiri, sakura datang lagi dengan tiba-tiba, memasuki kehidupannya dan segalanya menjadi tak sama. Mungkin sedikit salah memperlakukan sakura sekejam itu kemarin-kemarin. D.O bukanlah laki-laki yang bisa dengan mudah bersikap lembut pada seorang wanita, tidak dulu tidak juga sekarang.

-0-

Sakura’s POV

Aku benar-benar bosan hanya menghabiskan waktu seharian untuk berdiam di rumah. Ini sudah hari kedua aku tidak masuk sekolah, dan tadi eunyeol menelponku karena khawatir. Akhirnya sore ini ia akan main ke rumahku, daripada dia cerewet bertanya banyak hal sebaiknya aku membuatnya melihat sendiri keadaanku yang memang sudah sangat baik-baik saja. Tadi pagi juga saat aku sarapan aku sempat bertanya pada kyungsoo apa aku boleh sebentaaaaarrr saja jalan-jalan, dan jawabannya singkat padat dan jelas. Tidak. Dia sangat Tidak asik.

Tapi mungkin ada baiknya juga aku tidak keluar, aku kan tidak tahu apa-apa tentang jalan-jalan di seoul. Tadi juga aku sempat ke halaman belakang yang baru saja di bersihkan oleh tukang kebun kenalan ahjumma. Rumput-rumput liarnya sudah hilang, tapi sekarang malah terlihat sedikit gersang, mungkin nanti aku akan menanam beberapa tumbuhan disana agar terlihat lebih cantik. Mungkin aku akan menanam pohon sakura.

Ketika aku sedang mengganti-ganti channel tv suara bel berbunyi, aku menghentikan ahjumma yang ingin membukakan pintu, “biar aku saja.” Kataku. Aku beranjak ke pintu dan mendapati eunyeol tengah berdiri disana. Dan dia langsung memelukku dengan eratnya.

“sakuraa, apa kau tahu aku begitu merindukanmu?” teriaknya tepat di telingaku.

Aku melepaskan pelukannya sebelum aku mati Karena kehabisan nafas, “dasar kau. Kau tidak tersesat kan menemukan alamat ini?” eunyeol menggeleng, ketika aku akan membawanya masuk mobil kyungsoo memasuki halaman rumah dan terparkir dengan sukses di tempat biasanya.

Ketika kyungsoo  keluar dari mobil, eunyeol langsung memekik. Kulihat ia kaget menatap kyungsoo begitupun sebaliknya. Air muka kyungsoo berubah menjadi sedikit, erg bagaimana ya aku menjelaskannya, yang jelas menjadi terlihat aneh. “kau sudah pulang kyungsoo-ya?” Tanyaku santai, Karena melihat mereka berdua yang terlalu tegang.

“kalian satu rumah?” dengan suara yang juga terdengar aneh eunyeol bertanya padaku atau pada aku dan kyungsoo mungkin.

“iya.” Jawabku enteng.

Kyungsoo menatapku tidak percaya dan merapatkan giginya. Dia kesal ya? Kenapa? Aku bertanya-tanya dalam benakku. Dia segera melengos dan masuk kedalam. Aku menyuruh eunyeol untuk menunggu sebentar dan mengejar kyungsoo. “wae geurae? Ada yang salah ya?” Tanyaku setelah berhasil menjegatnya.

Dia menatapku dan menghela nafasnya keras. “eopseo!” katanya singkat, dan kembali berjalan melewatiku. Aku menjegatnya lagi.

“aku salah apa lagi kyungsooooooooo??”

Dia menghela nafasnya lagi. “terserah kau sajalah.” Aku membiarkannya berlalu kali ini, seraya mengangkat bahu. Sudahlah, aku juga kan tidak melakukan sesuatu yang salah.

Aku mengajak eunyeol ke kamarku, wajahnya masih terlihat menyiratkan kebingungan. Aku sendiri tidak tahu apa yang membuatnya kebingungan seperti itu. perasaan tidak ada yang salah.

“KALIAN SUDAH MENIKAH?” aku menutupi telingaku dengan tanganku Karena teriakan eunyeol yang sangat berlebihan itu. Tadi dia bertanya banyak sekali padaku, yang intinya kenapa aku dan kyungsoo bisa satu rumah. Kujawab apa adanya dan dia berteriak dengan kencangnya seperti itu. Aneh sekali. “kalau pihak sekolah tahu bagaimana? Itu kan sangat terlarang bodoh. Lalu bagaimana kalau gadis-gadis disekolah tahu, kau tidak akan selamat.”

“kenapa aku tidak akan selamat?” Tanyaku.

“ah besok saja kalau kau sudah disekolah akan aku jelaskan. yang penting apa kau tidak khawatir akan ketahuan pihak sekolah?”

Aku berpikir sebentar, aku tidak pernah berpikir sampai sejauh itu. iya juga ya, memangnya di umur sekolah ku seperti ini aku boleh melakukan pernikahan? Menyadari hal itu aku langsung menatap eunyeol penuh harap. Semoga saja dia tidak akan bocor sehingga pihak sekolah akan tahu.

“tenang saja, kau bisa mengandalkanku kalau urusan merahasiakan sesuatu.” Katanya seolah mengerti arti tatapanku.

Aku menatapnya senang, kemudian dia malah menatapku serius. “geundae sakura-ssi, sejak tadi ada yang mengganggu pikiranku.”

“mwo?” tanyaku, aku sudah menghadap meja belajarku dan membolak-balik buku catatan yang diberikan eunyeol, sepertinya aku ketinggalan banyak sekali.

“kau kan sudah lama tinggal bersama dengannya, apa kau sudah merasakan luapan-luapan perasaan cinta saat kau bersamanya?”

Aku masih sibuk menekuni catatan eunyeol dan mencatatnya beberapa, “perasaan cinta itu seperti apa aku juga tidak tahu.” Kataku jujur.

“kau belum pernah jatuh cinta?”

Aku diam, berpikir sebentar, “belum.” Jawabku pendek.

Eunyeol membalik kursi belajarku yang memang sejak tadi kududuki, membuatku berhadapan dengannya, “kau benar-benar belum pernah jatuh pernah jatuh cinta?” Tanyanya dan menatapku dengan tatapan tidak percaya, aku mengangguk yakin.

“memang rasanya seperti apa?”

Kali ini eunyeol yang menatapku bingung, “bagaimana aku menjelaskannya ya, ya yang jelas kau suka dengannya, merasa senang bila di dekatnya, menyukai segala hal yang ada pada dirinya, pokoknya seperti itulah.”

Aku menyipitkan mataku membuat eunyeol yakin kalau aku mulai sedikit berpikir. “kalau menuruti apa yang kau jelaskan tadi, ehm benar aku tidak menyukainya, aku hanya sekedar sering merindukannya.” Dan aku kembali membalik kursiku dan melanjutkan kegiatanku menyalin catatan.

Author’s POV

Mendengar apa yang sakura katakan. Eunyeol kehabisan kata-kata dan hanya mampu menatap punggung temannya itu “sepertinya penjelasanku kurang.” Desahnya.

-0-

 

Akhirnya kelar juga, fiuh!! Ini lebay banget panjangnya ga ketulungan.. sorry ya kalo bacanya bikin bosen dan bikin mau muntah ._.v , dan jeongmal mianhae, chen chen nya belom nongol di part yang ini, hehe *ngerasa bersalah* but I’m swear he’ll be on next part.. hehe

Oh iya sekalian curhat ya, ini uda di rombak parah karena jalan cerita yang menurut saya aneh. Hehe.

Enjoy everyone, dan jangan lupa comment saran atau kritiknya, :D

*salam sayang dari kyungsoo* ^_^

 

 

 

 

 

About these ads

Penulis: Genie

i write because imagination can't stop showing up in my head.

28 thoughts on “Truly I Love You (Chapter 3)

  1. Lanjut dong min

  2. Naahhh, ninggalin jejak walaupun telat pake banget, gapapa kan Kak. Daebak akan masuk salah satu ff favorit

  3. DO sedikit mencair ya^^ enak deh lebih ‘sedikit agak romantis’ ketimbang yang kemaren..
    Ohya emang kejadian DO sama Sakura 10 tahun yang lalu kenapa?
    Daebak^^ next Thor ;)

  4. chapter selajutnya please

  5. Chapter selanjutnya ditungguuuu^^

  6. hua d.o dah berubah dikit …. keren keren keren,..

    thor jangan lama2 dong ngelanjutinnya yayya…

  7. Next thor jgn lama2…

  8. Daebakk! >< cerita nya seru. Feel nya juga dapet/? Penasaran kelanjutan nya nih. Lanjut ya min :3

  9. waaaa…. daebakkk thor….
    aku harap ff nya sampe chap 4.000.000

    #Plak *di tampar D.O*

    di jamin gak bakalan bosan bacanya… ^ ^

  10. thor, kok gak bisa ya ke wp nya author? 0.0

  11. thor,, part selanjutny cpetin dong thor,, jgn lama lama.. udh ngebet nihh…

  12. Saya baru baca part ini, critanya kerenn menarik.. Saya tunggu part slanjutnya trimakasi

  13. anyeong author :)
    aku baru comment di chap ini nih *mianhe -.-V
    sumpah thor, aku suka bnget pas liat nma OC nya, soalnye sakura tu nma jepangku *curhat :D
    aku jarang bngt bca ff dngn main cast D.O, tp pas bca ff ini aku jadi suka bngt =D
    next jngn lma” ne? keep writing ! ^^

  14. kurang bnyk moment serunya thor,, agk datar aja jalan critanya,, hwaiting thorr

  15. Keren unn, do makin lembut sama perhatian.lanjutnya jgn lama2 ne ^^

  16. Thor, bisa ksh tau web lengkap exoworldff nya ga? Aku cari2 ga ada

  17. Ini FF terfavoritku thor,,,,, XD aaaahahahahahahaha daebakkk jeongmal!! Akhirnyaaaa sejak tahun 45 nunggu eh* ini ff keluar jugaaaaa,,, pliss chapter 4 jangan lama-lama nee? Kamsaaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 22.200 pengikut lainnya.