EXO FanFiction Indonesia

EXO's Imagination Here!

Ha-Na (Part 6)

15 Komentar

page

 

Title                 : Ha-Na (Part 6)

Author             : Lucky Cupcake

Rating             : PG-13

Lenght             : Chapter

Genre              : Romance, Friendship

Cast                 : Xi Luhan (EXO) Kim Ha Na (OC)

Support cast    : Na Eun (A Pink) Sandeul (B1A4) Jong Hun (FT Island)

Disclaimer       : Dapet inspirasi dari komik, novel, MV, sama lagu^^

 

Luhan POV

            Lampu ruang operasi masih menyala. Aku, Sandeul, Ibu Lee dan teman-teman yang lain menunggu diluar. Kejadian ini benar-benar buruk sekali. Seharusnya aku yang tertabrak bukan Ha Na. Ha Na sudah menyelamatkan nyawaku. Aku harap operasinya berjalan dengan lancar.

            Aku tengah sibuk berbicara dengan polisi. Aku memohon agar polisi segera menangkap penjahat yang sudah menabrak Ha Na. Hanya berbekal sedikit petunjuk dariku, polisi mulai melacak kendaraan penjahat itu. Ibu Lee terus mencoba menghubungi ibunya Ha Na, namun tak kunjung dijawab. Sandeul tak henti-hentinya menggigit kuku jari tangannya. Kakinya tak henti melangkah kesana kemari. Dia tidak sabar menunggu operasi selesai. Begitu pula teman-teman lain yang datang menjenguk. Mereka terus berdoa agar operasi Ha Na berhasil.

            Satu jam sudah aku menunggu. Seorang suster keluar dari pintu ruang operasi dengan keadaan sangat panik. Aku yang tidak kalah paniknya dengan dia langsung menghentikan langkah suster itu dan menanyakan keadaan Ha Na.

            “Suster, bagaimana Ha Na? Apa dia baik-baik saja? Tolong jawab aku!!! Apa dia bisa sembuh? Yaaahhh!!! Jawab!!!”

            Suster itu ketakutan untuk berbicara. Sandeul mencoba menenangkanku. Tapi kali ini aku tidak bisa tenang. Aku butuh penjelasannya sekarang. Aku ingin Ha Na baik-baik saja. Aku tidak ingin dia meninggalkan impiannya begitu saja hanya karena menyelamatkan aku. Harusnya aku yang melindunginya bukan dia. Aku merasa sangat tidak berguna sama sekali.

            “Ma-maaf tuan, keadaan pasien saat ini sedang kritis. Saya sedang sibuk tolong jangan ganggu saya.” Suster itu pun pergi dengan terburu-buru kemudian kembali dengan membawa beberapa kantong darah. Sebenarnya apa yang terjadi? Sekarang aku benar-benar takut. Sepertinya Ha Na kehilangan banyak darah. Aku melihat baju yang kukenakan, merah, berlumuran darahnya. Aku sudah tidak bisa lagi menahan air mataku. Aku menangis tanpa henti. Naeun yang baru saja tiba di rumah sakit langsung memelukku yang terlihat sangat kacau. Dia turut menangis, begitu pula dengan yang lain. Saat itu, rumah sakit penuh dengan tangisan kami.

            Kemudian seorang suster keluar lagi. “Maaf, apa disini ada keluarga dari pasien?” semua menggeleng. Aku yang benar-benar panik saat itu langsung menarik tangan suster itu.

            “Yaah!! Sebenarnya Ha Na kenapa? Apa yang terjadi? Dia baik-baik saja kan?”

            “Anda keluarganya?”

            “Yah! Jawab dulu pertanyaanku!”

            “Pasien saat ini sedang berjuang dengan hidupnya. Dia membutuhkan banyak sekali darah. Tapi kantong darah di rumah sakit ini tidak cukup untuknya. Jadi kami membutuhkan donor darah sekarang juga untuk pasien”

            Kebetulan sekali. Aku dan Ha Na sama-sama bergolongan darah O. Langsung saja tanpa basa-basi lagi, aku langsung mengajukan diri. “Biar aku saja! Golongan darah kami sama. Aku akan berikan semua darahku kalau perlu!”

            “Kalau begitu, ikuti saya, kita harus cepat” aku pun mengikuti suster itu menuju ruang pengambilan darah. Aku sangat berharap semoga darah dari orang yang tidak berguna ini dapat menolongnya.

 

Ha Na POV

            Gelap. Tidak ada siapapun disini. Aku ada dimana? Aku takut. Aku tidak tahu aku ada dimana. Aku terus berjalan mencari orang-orang, tapi tidak ada siapa pun. Hingga aku melihat sebercak cahaya dari kejauhan. Aku berlari menuju cahaya tersebut. Ternyata cahaya itu berasal dari sebuah api unggun. Disana aku melihat seseorang duduk membelakangiku. Aku merasa seperti mengenal orang tersebut. Aku mencoba mendekatinya dan menepuk pundaknya.

            “Permisi, ini dimana ya?” orang itu berbalik. Dia adalah seorang laki-laki paruh baya yang wajahnya sangat aku kenal. Orang itu adalah orang yang selama ini aku rindukan. Dia adalah ayahku yang sudah lama meninggal ketika aku masih kecil.

            “Ayah!? Ke-kenapa ayah bisa ada disini?  Apa aku.. a-apa aku ada di–?”

            Ayah tersenyum. Sudah lama aku tidak melihat senyuman hangatnya. Dulu saat ibu selalu sibuk dengan pekerjaannya, ayah dengan keadaan tengah sakit pun masih suka bermain bersamaku. Aku senang sekali bisa bertemu lagi dengannya. Berarti sekarang aku sudah mati? Lalu bagaimana dengan ibu? Bagaimana juga dengan Luhan?

            “Ha Na, ayo duduk disamping ayah, ada banyak sekali yang ingin ayah dengar tentang masa-masa sekolahmu” aku mengangguk. Waktu pertama kali aku masuk sekolah, ayah sudah pergi meninggalkanku untuk selamanya, jadi tidak salah ayah bertanya mengenai kehidupanku di sekolah. Aku pun menceritakan dari awal yang menyedihkan hingga yang membahagiakan. Ayah sangat senang mendengar perubahan yang terjadi padaku. Beliau berkata ingin sekali melihatku tampil diatas panggung.Tentu saja aku menceritakan tentang Luhan padanya. Beliau juga bilang kalau ia ingin sekali bertemu dan mengucapkan terima kasih pada Luhan. Tapi tidak bisa. Kita tidak bisa bertemu lagi. Tak kusangka aku meninggalkan Luhan begitu cepatnya. Baru saja kami bersama, ternyata Tuhan sudah memisahkan kami lagi untuk selamanya.

            Tiba-tiba ditengah serunya pembicaraan kami, terdengar bunyi lonceng. Ayah kemudian berdiri dan bersiap-siap seperti mau pergi.

            “Ayah mau kemana? Jangan pergi!” ayah hanya menjawabnya dengan tersenyum. Dia pun melambaikan tangannya, mengucapkan selamat tinggal.

            “Ayah! Jangan pergi! Biarkan aku ikut bersama ayah!”

            “Ha Na…. ini belum waktunya. Kamu harus kembali” ayah semakin menjauh. Aku pun berlari mengikutinya namun sebuah tangan menghentikan lariku.

            “Lu-luhan ke-kenapa kamu ada disini?” Luhan tidak menjawab. Ia terus menarikku, menjauhkan aku dari ayah.

            “Luhan, biarkan aku pergi bersama ayah, kamu tidak boleh ada di tempat seperti ini! Ayo cepat kembali!”

            “Yah! Kamu yang seharusnya tidak ada di tempat seperti ini!” dia terus menarikku. Dari kejauhan aku melihat ayah tersenyum padaku dan berangsur-angsur menghilang.

            “Ayah!!!” ayah pergi lagi. Aku belum puas berbicara dan melepas kerinduanku dengannya.

            “Sudahlah Ha Na, ayahmu sudah bahagia disana, sebaiknya kita harus cepat, tidak ada waktu lagi” dia menarikku dengan kencang dan mengajakku berlari menuju sebuah cahaya yang sangat terang. Perlahan-lahan kami pun semakin dekat dengan cahaya itu. Dan kemudian…. blitz.

            Aku terbangun. Aku memperhatikan sekeliling dan tersadar ternyata aku ada disebuah kamar di rumah sakit. Apa tadi aku sedang bermimpi? Jadi aku belum meninggal? Aku masih hidup!?

 Luhan tengah tertidur disampingku. Dia tidur dengan posisi duduk dan menjadikan tangannya sebagai bantal kemudian diletakkan diatas kasur tidurku. Wajahnya terlihat sangat lemah.

            “Nona Ha Na, anda sudah sadar?” seorang suster masuk ke kamar sambil membawa beberapa makanan serta obat.

            “I-iya, se-sebenarnya apa yang terjadi?”

            Sambil meletakkan benda-benda yang dibawanya, suster itu berkata “Kemarin nona mengalami kecelakaan, pacar nona membawa nona ke rumah sakit. Saat itu keadaan nona sangat parah, sempat kritis tapi pacar nona menyumbangkan banyak darah sehingga nona dapat diselamatkan” Nona benar-benar beruntung.

            Benar juga. Kemarin aku mencoba menolong Luhan dari mobil yang bermaksud menabraknya. Yang terakhir aku ingat, orang yang ada dimobil itu sempat berpikir Sial! Ada saja pengganggu! Pasti aku akan dimarahi. Ada seseorang yang mengirim bawahannya untuk mencelakai Luhan. Kenapa dia ingin membunuh Luhan? Apa salahnya?

            “Setelah sarapan, minum obatnya ya nona” aku mengangguk. “Kalau begitu, saya permisi dulu”

            Suster itu pun pergi. Luhan masih lelap tertidur. Aku mengelus-elus rambutnya dan membiarkannya istirahat. Sempat terpikir kembali mengenai orang yang ingin membunuh Luhan itu. Untuk apa dia berencana ingin membunuh orang sebaik Luhan? Semakin banyak aku berpikir, semakin sakit pula kepalaku. Aku mencoba melupakan apa yang terjadi kemarin tapi kata-kata orang itu terus terngiang-ngiang dikepalaku. Aku yang sangat gelisah itu membuat Luhan yang tidur disampingku terbangun.

            “Ma-maaf, apa aku membangunkanmu?” Luhan terlihat kebingungan. Dia seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

            “Ha Na, kamu sudah sadar????”

            Aku mengangguk dengan kencang untuk meyakinkan dia kalau aku baik-baik saja. Dia langsung memelukku dengan erat.

            “Aku pikir kamu akan pergi meninggalkan aku….”

            “…..Tidak akan Luhan… tidak akan…”

Luhan POV

            Aku sempat berpikir tidak akan bisa melihat Ha Na lagi. Tidak bisa melihat tawa dan senyumnya, tidak bisa mendengarnya bernyanyi, tidak bisa memeluknya lagi. Tuhan sudah sering kali memberi kami banyak cobaan, tapi yang kali ini sungguh sangat berat. Untung saja kami berdua bisa melewati ini semua. Ha Na benar-benar perempuan yang sangat kuat.

            “Luhan………”

            “Iya, ada apa Ha Na?”

            “Apa……. ibuku tahu aku ada disini?…..”

            Aku tidak tahu akan menjawab apa. Sejak kemarin, ibu Ha Na tidak bisa dihubungi. Tapi kalau aku menjawab demikian, aku takut Ha Na akan kecewa. Aku sudah mendengar dari Sandeul mengenai masalah antara Ha Na dengan ibunya. Sekarang aku mengerti kenapa Ha Na sering terlihat kesepian.

            “Eh-eh Ha Na, kamu lapar? Waah lihat sarapan yang dibuat disini kelihatannya enak, lebih baik dimakan sekarang nanti keburu dingin, mau aku suapi?” aku mengalihkan pembicaraan. Aku mengambil makanan yang dibawa suster dan menawarkannya pada Ha Na. Ha Na tertawa dengan cantiknya.

            “Hahaha, aku bukan anak kecil lagi, tidak usah disuapi pun aku akan makan”

            “Tidak..Tidak..Biar aku suapi, badanmu sedang lemah, sini buka mulutmu” Ha Na tersenyum ragu. Dan pada akhirnya ia pun membuka mulutnya dan mengunyah makanan yang aku beri. Semenjak resmi menjadi pasangan kekasih, kami belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Sedikit canggung tapi kami berdua menikmatinya.

            Namun keasyikan kami pun berhenti oleh suara gebrakan pintu yang sangat keras. Braakkk.

            “Ha Na!!! Kamu tidak apa-apa sayang? Kamu baik-baik saja kan???” seorang wanita lengkap dengan pakaian kantornya masuk dengan panik.

                “Ibu…..?!” Ha Na yang baru saja selesai menelan makanannya langsung menangis melihat wanita itu datang. Wanita itu ternyata ibunya Ha Na, aku sedikit kecewa dengannya. Kenapa dia baru datang sekarang? Kemana saja dia selama ini? Kenapa dia lebih memilih pekerjaannya ketimbang anaknya? Tapi melihat Ha Na menangis terharu akan kedatangan ibunya itu, aku tahu dibalik kekesalannya, dia masih menyayangi ibunya itu. Mereka berdua berpelukan dengan eratnya. Ibunya Ha Na berulang kali meminta maaf sedangkan Ha Na tak henti-hentinya menangis di pelukan ibunya. Aku jadi ingat kenangan-kenanganku bersama ibu sewaktu aku kecil. Melihat kedekatan mereka sedikit membuat aku iri. Karena tidak ingin menganggu mereka berdua, aku pun keluar untuk mencari udara segar.

            Bruukk. Aku bertabrakan dengan seorang pria.

            “Ah maaf tuan…” aku menunduk berulang kali memohon maaf. Tapi kupikir aku bakal dimarah tapi yang ada pria itu melihatku dengan wajah yang terlihat sangat kaget. Seperti melihat hantu. Dia tidak menjawab permohonan maafku dan lari begitu saja. Aneh.

Ha Na POV

            Senang sekali melihat ibu datang. Aku pikir ia tidak akan kemari sebelum urusan bisnisnya usai tapi ternyata ia akhirnya datang. Ibu kali ini terlihat sangat perhatian, aku jadi teringat sedikit dengan ayah yang juga begitu perhatian padaku. Ibu menyuapiku makanan yang tadi Luhan berikan. Ngomong-ngomong Luhan kemana? Apa dia pulang? Mungkin sedang jalan-jalan keluar begitu pikirku.

            “Hei Ha Na, apa laki-laki tadi itu pacarmu?” wajahku memerah. Aku mengangguk sambil menahan malu. Ibu hanya tertawa melihatku seperti itu.

            “Hahaha, Ha Na, kamu beruntung sekali punya pacar yang sangat tampan dan perhatian seperti dia” aku tidak bisa berhenti tersenyum mendengar ibu memuji Luhan. Ibu terus menggodaku yang membuat wajahku merah seperti tomat. Pembicaraan antara anak dan ibu inilah yang jarang sekali bisa aku dapatkan. Bercanda gurau bersama ibu seperti ini membuatku sangat senang. Aku berharap semoga hubunganku dengan ibu akan terus seperti ini.

            “Hmm ibu tidak bersama Tuan Choi?”

            “Tadi aku tinggal ia diparkiran, mungkin sebentar lagi dia akan kesini”

            Sebenarnya aku sama sekali tidak setuju dengan hubungan ibu dengan Tuan Choi. Karena menurutku Tuan Choi itu punya sifat yang sangat buruk jadi aku takut dia akan mempengaruhi ibu untuk berbuat yang tidak baik. Ditambah lagi usia Tuan Choi yang jauh lebih muda dari ibu. Itu benar-benar membuatku tidak nyaman. Siapa yang mau punya calon ayah yang beda usianya hanya empat tahun dari anak calon istrinya!? Lebih baik aku jadikan dia kakak bukan sebagai ayah.

            Kemudian seorang dokter dan beberapa suster masuk ke kamar dengan membawa alat-alat pemeriksaannya.

            “Selamat siang Ha Na, bagaimana keadaanmu saat ini?”

            “Hmmm, ba-baik dok”

            “Benarkah? Coba saya periksa dulu” Dokter pun mulai mengecek mulai dari suhu tubuhku hingga tekanan darahku. Suhu tubuh normal, lukanya juga sudah mulai mengering, tensinya bagus, anak ini cepat sekali pulihnya.Tapi bagaimana dengan pi—

            “Jadi dokter apa aku boleh pulang dari rumah sakit?” Tanpa basa-basi lagi, setelah mendengar pikiran dokter yang mengatakan aku sudah pulih, aku menanyakan kapan aku akan pulang. Aku tidak bisa lama-lama disini. Masih banyak latihan yang harus aku jalani. Babak final akan diadakan beberapa hari lagi, aku tidak mungkin membiarkan waktuku untuk tidur.

            “Hmmm, Ha Na…… aku dengar kamu adalah penyanyi di sekolahmu dan akan mengikuti babak final, tapi….. mungkin kamu harus menyerah dengan impianmu itu?” Hal ini benar-benar sulit untuk dikatakan, mau gimana lagi. Apa maksudnya? Menyerah katanya!?

            “Akibat benturan keras yang kamu dapat mengakibatkan adanya kerusakan pada pita suaramu, sehingga untuk beberapa waktu kamu harus berhenti menyanyi dan mengikuti terapi serta pembedahan”

            “Haha, ini lelucon kan dok? Pita suaraku baik-baik saja kan? Aku merasa tidak ada yang aneh dengan suaraku”

            “Kalau kamu menggunakan suaramu secara berlebihan, kamu akan merasakannya. Jadi, demi kebaikanmu juga, istirahatkan dulu suaramu.” Maafkan kami, Ha Na. Ini untuk kesehatanmu.

            Ibu terlihat menunduk sedih dan tidak berani menjawab apa-apa. Dokter pun pergi membawa satu berita buruk. Mungkin air mataku akan habis menangisi berita ini. Apa tidak cukup penderitaan yang kudapat selama ini? Kapan hari bahagia itu akan tiba!?

Luhan POV

            Menguping pembicaraan orang memang sangat buruk. Apa lagi kalau menguping hal yang membuat jantung seperti mau meledak ini. Apa yang aku dengar itu benar? Pita suara Ha Na rusak!? Dokter yang keluar dari pintu kamar Ha Na pun menepuk-nepuk pundakku yang terlihat sangat syok.

            “Dia akan baik-baik saja, ayo cepat masuk dan hibur dia”

            Aku mengangguk dengan mulut yang masih terbuka. Kecelakaan dan sekarang ditambah dengan ini. Aku mungkin akan segera punya penyakit jantung di usia muda. Aku masuk ke dalam dan menemukan ibu Ha Na sedang menenangkan Ha Na yang tidak kalah syoknya denganku. Ibunya Ha Na pun memberikan isyarat melalui matanya, memberi tahuku untuk mencoba berbicara dengan Ha Na. Kami pun ditinggal berdua. Ha Na mengusap matanya yang terus mengeluarkan air mata.

            “Ha Na, kamu pasti akan sembuh. Aku tahu itu. Kamu perempuan yang sangat kuat. Kamu pasti bisa melalui ini semua” aku mengelus-elus rambutnya dan tersenyum padanya.

            “…..Menyanyi adalah segalanya bagiku. Suaraku adalah segalanya bagiku. Tapi sekarang sudah pergi”

            “Suaramu belum hilang, Ha Na. Kamu masih bisa sembuh. Jangan pesimis” Ha Na diam. Pandangannya kosong. Dia pun berhenti menangis dan menarik selimutnya.

            “Aku ingin tidur, sebaiknya kamu pulang dan istirahat….”

            “Aku… tidak akan pergi kemana-mana. Aku tidak akan meninggalkanmu” Ha Na memejamkan matanya. Aku tidak tahu apakah dia mendengarku atau tidak. Aku pun kembali keluar mencoba menenangkan pikiranku. Kulihat ibunya Ha Na sedang sibuk menerima telepon dari seseorang.

            “Iya, aku akan segera kesana… baik.. baik..” sepertinya itu panggilan penting karena wajahnya terlihat sangat serius.

            “Eh Luhan, tolong jaga Ha Na sebentar ya, tante harus pergi ke kantor karena ada keperluan penting, tante akan segera kembali” aku mengangguk. Ia pun pergi dengan langkah yang cepat sambil terus memerhatikan jam tangan yang ia kenakan. Lagi-lagi ibunya Ha Na pergi begitu saja disaat keadaan anaknya sedang tertekan. Aku tidak habis pikir.

            Aku terus berjalan dan terus berjalan tidak tentu arah. Aku bingung memikirkan apa yang mesti aku lakukan untuk menghibur Ha Na. Kemudian aku mendengar alunan musik piano tidak jauh dari tempat aku berdiri. Aku mencari sumber bunyi tersebut dan tibalah aku disebuah teras rumah sakit yang dipenuhi lansia dan anak-anak kecil yang tengah asyik mendengarkan seorang nenek memainkan piano dengan indah.

            Semua orang bertepuk tangan setelah nenek itu selesai. Tiba-tiba muncul sebuah ide. Dan untuk menjalankan ide ini aku membutuhkan mereka. Jadi aku pergi mengambil mikrofon untuk menyampaikan rencanaku ini.

            “Ha-halo kakek, nenek, dan adik-adik semua, aku Luhan, aku ada permintaan, apa kalian mau membantuku?”

Ha Na POV

            Tidak terasa aku tertidur cukup lama. Hari sudah mulai gelap. Luhan dan ibu tidak ada dikamar. Mereka kemana? Aku mulai kesepian. Apa Luhan kesal karena aku sempat menyuruhnya pulang? Apa ibu pergi ke Jepang lagi?

            “Noonaaa!!! Noonaa!!!” Sandeul tiba-tiba datang dengan paniknya.

            “Lee Sandeul? Ada apa??”

                “Luhan hyung kecelakaan!!” Ayo noona kagetlah, rencana ini harus berhasil! Sandeul berbohong pada orang yang salah. Dia harusnya tidak berbohong dengan aku yang bisa membaca pikiran orang ini. Pikirannya nakalnya itu sudah merusak rencananya sendiri. Tapi tidak ada salahnya meladeni rencana apa yang ia dan Luhan buat untukku.

            “Sekarang Luhan ada dimana?”

            Reaksi noona kok seperti itu, tidak kaget sama sekali. Apa noona sudah tahu rencanaku? “Hyung sekarang di rumah sakit ini, sedang dioperasi, ayo noona kita harus cepat!!” aktingnya Sandeul benar-benar daebak. Kalau dia jadi aktor, ia mungkin akan memenangkan banyak penghargaan. Dengan membawa infus, aku berjalan menuju tempat yang ditunjukan oleh aktor hebat ini. Benar saja, bukan ruang operasi yang kami tuju melainkan teras rumah sakit yang dipenuhi oleh orang-orang.  Kemudian tokoh utama dari rencana ini berada disebuah panggung kecil ditemani dengan seorang nenek yang sedang bersiap akan memulai permainan pianonya.

            “Yah, apa-apaan ini Sandeul!?”

            “Kejutaaaan!!” Sandeul kemudian memberikan isyarat pada orang-orang.

            Kakek, nenek, dan anak-anak kecil pun mengangkat sebuah kertas gambar yang berisikan tulisan-tulisan penyemangat untukku. Kamu pasti bisa, Ha Na. Ha Na Hwaitingg!!! Suaramu yang paling indah di dunia! Aku tidak tahu akan berkata apa. Ini benar-benar kejutan yang paling mengharukan selama hidupku.

            “Lagu ini akan aku persembahkan buat perempuan yang sedang berdiri disana” Luhan menunjukku dan tersenyum padaku. Nenek itu pun mulai memainkan pianonya.

Baby don’t cry, tonight.

Eodumi geochigo namyeon.

Baby don’t cry, tonight.

Eobseotdeon iri doel geoya. Mulgeopumi doeneun geoseun niga aniya, . Kkeutnae molla ya hae deon. So baby don’t cry, cry. Nae sarangi neol jikilteni.

            Ia menyanyikan lagu itu dengan dua bahasa. Korea dan mandarin. Keduanya ia nyanyikan dengan indah. Aku mengerti kenapa dia menyanyikan lagu ini untukku. Dia tidak ingin melihat aku menangis lagi.

            “Ha Na…. jangan menangis lagi… kita akan lalui semua ini bersama-sama” Kata-kata itu menjadi penutup dari penampilannya. Semua orang bertepuk tangan sembari ikut menyemangatiku.

            Ibu yang baru saja tiba menepuk pundakku dan tersenyum. “Kamu beruntung sekali memiliki Luhan, Ha Na….”

            “Iya… tentu saja….dia hadiah terbaik yang Tuhan berikan untukku”

            Setelah kejutan yang manis itu, para lansia dan anak-anak bernyanyi dengan riang bersama Luhan dan Sandeul. Mereka menari kesana kemari, menggoyang-goyangkan tubuh mereka mengikuti alunan musik yang ada. Aku yang masih lemas hanya bisa menonton keakraban mereka, ditemani ibu yang juga ikut menikmati.

            “Ibu, aku membeli minuman sebentar yaa…”

            “Biar ibu saja yang belikan untukmu”

            “Ah tidak usah, aku juga ingin jalan-jalan”

            “Mau ibu temani?”

            Aku menggeleng. Akhirnya ibu pun membiarkan aku pergi sendirian. Walau dengan langkah yang lunglai, aku pergi menuju mesin minuman otomatis. Aku masukkan uang kedalam mesin dan menekan tombol minuman yang aku pilih.

            “Yaaah!! Membunuh satu orang saja kamu tidak becus!? Dasar bodoh!!!” Sial! Dasar tidak berguna!!

            “Maaf bos, waktu itu ada penganggu, saya janji untuk rencana kedua akan saya lakukan dengan baik”

            Aku mendengar seseorang berteriak marah-marah. Membunuh? Sepertinya ada pembicaraan antara penjahat dengan penjahat. Penasaran. Aku pun menguping dan mengintip orang tersebut yang tengah berdiam diri disebuah ruangan kecil. Dan ternyata orang yang melakukan pembicaraan kejam itu adalah Tuan Choi. Dia sedang menerima telepon dari seseorang yang suaranya benar-benar aku kenal. Suara orang itu mirip sekali dengan suara orang yang akan menabrak Luhan.

            Mencoba untuk sedikit lebih dekat agar dapat mendengar dengan jelas tapi yang ada malah aku menyenggol tempat sampah yang menimbulkan bunyi sangat keras. Hal itu membuat Tuan Choi menghentikan pembicaraannya dan keluar dari ruangan. Ia menemukan aku yang berdiri tepat diruangan itu dengan wajah panik.

            Mata kami saling bertemu. Kontak itulah yang membuatku mendapatkan penglihatan yang benar-benar mengejutkan.

Flashback

Author POV

            Tuan Choi sedang menunggu hasil keputusan dari seorang pengacara dan notaris mengenai warisan ayahnya.

            “Baiklah, sesuai dengan pesan almarhum, seluruh harta dan kekayaan yang dimiliki Tuan Choi Jin Hyuk akan diwarisi kepada…….Tuan muda Xi Luhan”

            “Hah? Luhan kau bilang? Bukan aku? Apa ayahku sudah gila? Mewariskan hartanya pada anak itu!? Yaaah!! Dia bukan anggota resmi keluarga Choi!! Yang benar saja!!”

            “Maaf Tuan Choi Min Soo, ini yang tertulis di surat wasiat dan ini tidak bisa diganggu gugat lagi”

            Tuan Choi yang tidak bisa menerima hasil keputusan itu pun keluar dari ruangan. Dia melemparkan semua benda yang berada didekatnya untuk melampiaskan kekesalannya. Dia memegang kepalanya dengan erat sepertinya sedang menahan rasa sakit kepala yang ia alami. Ia terlihat berpikir sangat keras. Hingga munculah rencana jahat. Dengan cepat, Tuan Choi mengambil handphonenya dan menelpon seseorang.

            “Yah Jong Suk, aku dengar kau butuh uang”

            “Iya, saat ini aku benar-benar butuh banyak uang, depkolektor terus mencariku, apa kamu mau meminjamkan aku uang?”

            “Aku akan memberikanmu uang itu dengan cuma-cuma, hanya saja… ada hal yang harus kamu lakukan…”

            “Apa?”

            “Bunuh adik tiriku….”

End flashback

Ha Na POV

            Apa anak ini mendengar pembicaraanku tadi? Gawat! Tuan Choi terlihat takut dan panik melihat aku berada didepannya.

            “Sedang apa kau disini, cepat kembali atau ibumu akan mencarimu”

            “Eh-eh aku hanya ingin membeli minuman”

             Sebaiknya aku harus pergi dari sini, atau anak ini akan curiga denganku. Tuan Choi pun pergi dengan terburu-buru. Aku tidak menyangka ternyata kekasih ibuku adalah seorang penjahat. Jadi yang mencelakakan aku dan Luhan adalah bawahan dari Tuan Choi. Tuan Choi dan Luhan ternyata saudara beda ibu!? Dan Tuan Choi berniat ingin membunuh Luhan!? Ini tidak bisa dibiarkan!

 

TBC

Oh ya kalau kalian punya saran atau request buat FF bisa comment atau kirim via email lucky.cupcake@rocketmail.com Makasi banyak buat yg udah kasi comment sama yang ngirim email :D Jangan jadi silent readers yaaL Yg komen mulai sepi, jadi gak semangat bikin FFnyaL Tetep komen apa aja yaa:D Maaf kalo ada salah atau typo, author juga manusiaa, kkkkk~

           

About these ads

Penulis: EXO FanFiction Indonesia

WE ARE ONE!

15 thoughts on “Ha-Na (Part 6)

  1. dasar c choi gila harta tega bgt mw bunuh luhan demi warisan… smoga eomma ha na sadar akan c choi itu jahat…
    uugghh…
    pnasaran endingnya… bikin degdegan bcanyaa… >_<

  2. Author semanggaaaaaat :),wah wah wah kurang ajar niih CHOI >:(, bagus thorr baguss kok. Nggak ada yg salah:)

  3. lanjut thor!! Kurang ajar si choi ! bisa-bisanya mau ngebunuh LUHAN!

  4. If I post my snail mail address to the blogger, can you please ask the author of this web
    site to mail me additional similar info or book resources
    relating to this post?

  5. Keren!!
    Lanjut .. Lanjut ..

  6. Loh kok jahat sih
    Lanjutt

  7. mau dinyanyiin lagu baby dont cry juga sama luhaann ♥♥ hahahahaha -_-v

  8. Next .. next .. next author ..
    Hm .. good job .. ^^

  9. Ceritanya bagus thor, awal baca bikin tegang :D tp keren. Keep writing author ^^

    lanjutnya jangan lama lama ne author?:D

  10. lanjut next chap nya :D
    part 4nya aq cari di
    readfanfiction.wordpress.com kok gk ada?

  11. makin daebaak thorrr,ditunggu kelanjutannya:D
    keep writing^^

  12. huaaa, seru seru dan makin seru..
    Trus ngapain yak kaka nya luhan deketin ibunya hana?
    Tidaktidaktidak..
    Authornya tetep semangat doongg, aku berusaha bgt jd reader yg baik, aku terus komen kok dr tiap part nya..
    Jadi, HWAITING^^9
    Kutunggu next partnya^^

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 22.168 pengikut lainnya.